Thursday, November 27, 2008

PETUAH BIJAK DARI TEGAL

“Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus.” (Filemon 1:6)

Dalam sebuah kesempatan, saya menyaksikan tayangan singkat tentang aktifitas sebuah gereja di Tegal yang ingin berbuat sesuatu bagi kotanya. Pdt. John Ruslie, gembala gereja itu, ‘turun gunung’ memimpin langsung jemaatnya untuk membersihkan selokan dan gorong-gorong di depan gereja yang menjadi simpul banjir ketika musim penghujan tiba. Lalu apa istimewanya kerja bakti yang dilakukan warga gereja itu? Bukankah jemaat gereja lain bisa melakukannya, bahkan dengan aktifitas lain yang lebih besar?

Yang istimewa adalah dampaknya! Kerja bakti itu telah menarik perhatian seseorang untuk meliput beritanya dan memasukkannya ke sebuah surat kabar lokal. Alhasil, berita jemaat gereja yang membersihkan selokan untuk mengatasi banjir itu sampai ke meja pemerintah kota. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, muncul sebuah instruksi untuk membersihkan selokan di seantero kota. Gerakan kecil warga jemaat itu telah menginspirasi pemerintah dan unsur masyarakat untuk melakukan gerakan yang sama. Jadilah selokan dan gorong-gorong di Tegal bersih dan bebas dari mampet. Banjir berlalu, keindahan kota dituai.

Dari kisah di atas kita belajar bahwa Tuhan acap memakai kita untuk menjadi jawaban doa. Air yang menggenang di depan gereja itu ternyata tidak cukup dihadapi dengan seruan di ruang (menara) doa. Ada aksi nyata yang harus dilakukan untuk sebuah perubahan segera sesudah doa-doa dinaikkan. Dalam konteks ini, berdoa dan bekerja mendapatkan ‘tempat pertemuan’. Ada kalanya kita cukup hanya berdoa karena memang tanpa daya. Tetapi Tuhan lebih banyak mengajar kita untuk mulai mengayunkan langkah sebagai tindakan iman. Apakah Anda belum mendapat jawaban doa? Jangan-jangan karena Anda belum bekerja… [JP]

No comments: