Wednesday, March 28, 2007

ALLAH YANG TURUN TANGAN

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinganmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Sepeninggal suaminya, Sontiar Manurung diliputi duka dan kecewa. Bagaimana tidak? Sementara tidak ada warisan yang ditinggalkan suaminya, ia harus membesarkan dan membiayai hidup keempat orang anaknya. “Bingung, ada sedikit putus asa dan tidak tahu bagaimana lagi,” ujarnya. Kesedihan bertambah ketika harus terusir dari rumah kontrakkannya. Ia sudah memohon kepada si pemilik rumah, tetapi hasilnya nihil.
Hidup harus tetap dijalani dan dihadapi. Dengan tekad menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin, ia kemudian menjadi pedagang buah di bilangan Cililitan, Jakarta. Dengan berjualan buah, meski sering menghadapi usiran petugas tramtib, ternyata cukup untuk menyambung hidup. Pelan namun pasti, jalan hidupnya mulai berubah. Ia terus berdoa dan melibatkan Allah dalam pekerjaannya itu. Akhirnya rumah pun berhasil didapatkan. Putra-putrinya diantarnya menjadi sarjana. Semuanya adalah hasil dari ketekunan, kerja keras dan tentu saja penyerahannya kepada Tuhan.
Kita tentu sering mendengar ungkapan pengkhotbah, “Jika kita turun tangan, maka Allah angkat tangan. Tetapi jika kita angkat tangan, Allah turun tangan.” Maknanya jelas, bahwa kita harus melibatkan Allah dalam setiap perkara yang kita alami. Usaha dan perjuangan tanpa penyertaan-Nya tidak akan menghasilkan buah yang berarti. Tidak jarang bahkan kita tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Sahabat, dalam setiap profesi yang Anda jalani sekarang, libatkanlah Allah. Ia mampu memberikan arahan jitu dan pertolongan sempurna atas apa yang harus kita lakukan. [JP]

No comments: