Wednesday, March 28, 2007

KEMBALI KE SIKAP HATI

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Orang benar yang bersih kelakuannya - berbahagialah keturunannya. (Amsal 20:6-7)

Manakah yang lebih ‘rohani’ menurut Anda: menghitung uang di bank atau menghitung uang persembahan di gereja? Membereskan aula RT sesudah rapat selesai atau membereskan ruang gereja seusai ibadah? Memasak untuk pesanan catering atau memasak untuk menyediakan konsumsi kerja bakti di gereja? Silakan mengambil waktu sejenak untuk merenungkannya. Anda sudah mendapat jawaban?
Kita sering menilai spiritualitas berdasarkan tempatnya. Kalau seseorang dan aktivitasnya dikaitkan dengan gereja atau pelayanan, kita langsung memastikan bahwa itu ‘rohani’. Sebaliknya jika tidak ada hubungannya dengan gereja, kita sebut sebagai ‘duniawi – sekuler – jahat’. Apakah memang harus ada pembedaan semacam itu?
Tuhan Yesus mengajar bahwa segala sesuatu berkaitan erat dengan hati. Itulah sumber dari setiap hal yang kita katakan dan lakukan. Berdoa tentu hal yang baik, tetapi jika berdoa kemudian menjadi ajang pamer, masalahnya akan jadi lain. Tuhan Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat yang berdoa di pinggir-pinggir jalan. Memberi sedekah juga hal yang baik. Tetapi jika memberi sedekah dipakai sebagai alat untuk menyombongkan diri akan jadi tidak rohani sama sekali. Sebaliknya jika kita menghitung uang di bank dengan jujur, membereskan aula RT dengan tidak bersungut-sungut dan memasak yang paling enak sesuai dengan pesanan pelanggan, Tuhan dipermuliakan melaluinya.
Rohani tidaknya apa yang kita lakukan tidak ditentukan oleh tempatnya. Yang paling baik untuk menguji semuanya adalah dikembalikan kepada hati nurani masing-masing. [JP]

No comments: