Thursday, March 29, 2007

KESETIAAN SEORANG PENATALAYAN

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)

Jika Allah memberikan keluarga yang harmonis, kehidupan yang nyaman, teman-teman yang baik dan bisnis yang lancar; itu semua adalah anugrah yang tak terkira. Dalam kondisi serba kecukupan seperti itu, kesetiaan kemudian diuji. Manusia cenderung –meskipun tidak selalu- melupakan Tuhan jika kondisi kehidupannya baik-baik saja.
Banyak orang mengalami ketika naik sampai di puncak justru kehilangan kendali dan keseimbangan. Siklusnya biasanya diawali dengan kesombongan. Dilanjutkan dengan perselingkuhan atau mengonsumsi obat-obat terlarang. Kemudian keluarga berantakan, jatuh sakit dan terpuruk kembali ke titik paling rendah. Harta hasil bisnis bertahun-tahun bukannya dinikmati, sebaliknya ‘disetorkan’ secara rutin ke rumah sakit. Entah itu untuk menebus obat, perawatan berkala atau cuci darah.
Apa yang kita miliki hanyalah titipan. Kita ingat satu prinsip: Allah adalah Pemilik, kita adalah pengelola. Kita sering tidak bertanggung jawab atas harta kita karena kita merasa sebagi pemiliknya. Kita berpikir bahwa kita bisa membeli segala-galanya. Harta tak akan bisa membeli kesehatan, keharmonisan keluarga dan persahabatan; sebanyak apapun kita mengumpulkannya.
Sahabat, suatu kali kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita buat dengan harta titipan itu. Jika waktu itu tiba, sudah siapkah kita memberikan laporan kepada ‘Tuan Sang Pemilik harta?’ [JP]

No comments: