Tuesday, December 16, 2008

LIA EDAN, EH... EDEN DAN AGAMA KITA

Lia Eden bikin heboh (lagi). Mantan perangkai bunga yang membaiat diri menjadi Jibril Ruhul Kudus ini kembali berurusan dengan polisi dengan sangkaan penodaan agama. Ia dan komunitas God's Kingdom-nya menyerukan pembubaran agama-agama yang ada. Seperti biasa, pro-kontra lantas menyeruak.

Barangkali kasus Lia Eden ini mewakili kegelisahan beberapa orang terhadap realitas hidup beragama yang selama ini dipraktekkan pemeluknya. Wajah agama yang seharusnya penuh kasih dan menjadi pengayom, telah berubah menjadi sangar dan cenderung bengis. Orang beragama untuk kemudian membenci kelompok lain. Umat lain selalu dianggap keliru, sesat dan layak menghuni neraka. Eksklusif. Jika perlu umat lain dibinasakan.

Ini memang pekerjaan rumah bagi agama-agama yang hingga kini belum terselesaikan. Rohaniwan perlu mendengungkan lebih kencang perihal kedewasaan beragama bagi siapa yang menganutnya. Berpadunya ajaran dalam ranah teoritis dengan aplikasinya dalam dunia nyata perlu ditekankan kembali dengan garis bawah tebal.

Inilah koreksi yang pernah dilakukan Yesus ketika melihat praktek beragama Ahli Taurat dan Orang Farisi. Yesus yang tidak datang untuk mendirikan agama menyatakan bahwa kemunafikan telah membekap kehidupan beragama kaum yang dianggap rohaniwan pada zamannya itu. Itu sebabnya Yesus merevolusi praktek demikian dengan ANUGRAH KESELAMATAN yang ditawarkan melalui karya penebusanNya yang amat mulia itu.

Lia Eden dengan kerajaan Tuhan yang diklaimnya itu bukanlah esensi permasalahannya. Yang jauh lebih penting adalah apakah dengan beragama kita bisa mengasihi Tuhan dan sesama? Paket ini tidak terpisahkan. Mengasihi Allah dan sesama adalah dua sisi mata uang. Kalau kita mengaku membela kebenaran tetapi menggebuk sesama yang berbeda keyakinan, itu namanya inkonsisten.

Mari beragama dengan elegan, egaliter, toleran...

No comments: