Sunday, March 30, 2008

HUJAN ES

Sejak bermukim di Bandung hampir delapan tahun lalu, ini hujan es keempat yang pernah kulihat. Sepulang gereja, aku dan Fenty menyusuri Jl. Statsion Selatan, Viaduct, Braga dan tembus ke Lembong. Mendung memang sudah menggantung di langit Bandung.

Sampai di samping Grand Preanger, gerimis jatuh. Lalu disusul suara-suara seperti lemparan kerikil di atap mobil gereja yang kukemudikan. "Kayanya hujan es nih. Tuh liat butiran-butiran putih berjatuhan," kata Fenty sambil mencoba menengadah.

Sampai di Jl. Lengkong Besar hujan es berhenti diganti dengan hujan lebat yang mengguyur disertai angin. Ketakutan akan pohon tumbang lalu menghinggapi. Maklum, di sepanjang Lengkong banyak pohon besar di sisi jalan. Herannya, mobil-mobil di depanku malah melambatkan lajunya. Kecemasan menghilang begitu berbelok ke Jl. Pungkur. Tak lama kami sampai di asrama.


Baru saja turun dari mobil, hujan kembali menggila. Derasnya minta ampun dan kali ini kembali disertai tiupan angin kencang. Sejurus kemudian butiran-butiran es kembali menghujam dari langit. Kanopi asrama yang kutinggali bolong-bolong dihajar es batu. Apalagi yang di lantai dua karena plastiknya lebih tipis.

Jeremy tampak ketakutan. Erat-erat ia peluk mamanya. Anak sekecil itu sudah punya ekspresi ketakutan juga rupanya. Kucoba kutenangkan dan tampaknya berhasil. Listrik sementara aku padamkan, takut terjadi konsleting.

Ehmmm... manusia itu kecil! Kalau sudah berhadapan dengan alam, ia tak mampu berbuat banyak. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Sang Pencipta alam...

Wednesday, March 12, 2008

BUNG LEO

Pada medio 1995 aku pertama kali bertemu dengan Leonardo Pattipeilohy. Waktu itu pada acara P3K Awam yang diselenggarakan kampus di Kaliurang. Kebetulan aku jadi salah satu panitia dan Leo adalah salah seorang pesertanya. Beberapa bulan kemudian Leo 'nyantrik' sekampus denganku. Jadilah dia adik tingkatku.

Kesan pertama tentang Leo... Ah, suer... aku lupa. Hanya sepeda onthel, tas punggung dan topi Om Pasikom yang membekas. Selebihnya gelap, sama seperti warna kulit Nyong Ambon yang fasih berbahasa jawa itu. Pertemananku dengan Leo menjadi lebih intens ketika musim demo tiba. Kami sering mondar-mandir Bundaran UGM dan Gejayan yang waktu itu menjadi pusat demonstrasi mahasiswa Jogja.

Kini Leo bermukim di negeri seribu pura dan mengabdikan diri bagi Injil di sana. Sampai hari ini, kebiasaan nyentriknya belum hilang. Salah satu hal yang selalu dilakukannya adalah membawakanku oleh-oleh yang lain dari biasanya. Sebuah mug Bali berbentuk ...tiitttt... (sensor), lalu kacang Bali, kopi dan pasta gigi dari Korea.

Leo, terima kasih untuk waktu yang telah kita lalui bersama...

Monday, March 10, 2008

BERKAT DI BALIK PERGUMULAN

Ingat Takeshi Castle? Games asal Jepang ini mengajarkan unsur-unsur positif dalam kehidupan sesungguhnya. Untuk mendapatkan hadiah, setiap pesertanya harus melewati serangkaian rintangan. Terdapat banyak jebakan yang muncul di setiap sesi perlombaan. Semakin dekat kepada hadiah, semakin berat tantangan yang harus dihadapi. Jika peserta tak berhati-hati, teledor dan asal-asalan bermain, bisa dipastikan bahwa hadiah tak akan mereka bawa pulang. Apalagi bagi yang menyerah di tengah jalan.

Dalam dunia nyata, Tuhan acap ‘menyimpan’ berkat-Nya di balik pergumulan-pergumulan hidup. Maksud dari semuanya adalah agar kita sebagai orang percaya tidak meremehkan pemberian itu. Sesuatu yang kita dapatkan secara gampang, biasanya cenderung tidak kita hargai. Kalau Tuhan mengijinkan pergumulan-pergumulan hidup mendahului berkat-Nya, maksudnya adalah agar kita menghargai berkat Tuhan, bukan sebaliknya, menyepelekannya.

Sahabat, nilai berikutnya dari apa yang Tuhan lakukan tersebut adalah agar kita bertekun. Tuhan mau agar kita menjadi orang percaya yang tak gampang menyerah. Ketika menghadapi permasalahan lantas ‘melempar handuk putih’ tanda menyerah. Alkitab berkali-kali menegaskan bahwa kita harus menjadi orang percaya dengan daya juang dan semangat tinggi. Musuh tidak pernah mengendorkan intensitas serangan, demikian pula perjuangan kita haruslah tanpa henti.

Ketika pergumulan datang, tak sedikit orang percaya yang menyalahkan Tuhan. “Tuhan, kapan berhentinya? Koq terus-terusan begini pergumulannya? Kapan Tuhan menyatakan berkat?” protesnya. Apakah ini yang sering kita tanyakan pula? Jika ya, sabarlah untuk sementara waktu, karena pergumulan-pergumulan itu pada gilirannya akan berubah menjadi berkat bagi kita. Tetaplah bertahan, hadapi setiap pergumulan, dan raihlah berkat-Nya.*** (joko prihanto)
MURID SEJATI

Hubungan kita dengan Allah memang digambarkan dengan berbagai macam analogi di dalam Alkitab. Ada hubungan Bapa-Anak, Tuan-Hamba, Guru-Murid, dan juga hubungan persahabatan. Masing-masing gambaran hubungan memiliki penekanannya masing-masing. Hubungan Bapa-Anak misalnya, memberi penjelasan tentang dalamnya relasi kita dengan Tuhan. Kita yang berdosa dan layak dimurkai, malah diangkat dan dianggap layak menjadi anak-anak-Nya. Relasi Tuan-Hamba adalah pelajaran berharga tentang pelayanan yang harus kita berika kepada Allah.

Bagaimana dengan hubungan Guru-Murid? Kebenaran mendasar yang ingin ditegaskan di sini adalah bagaimana kita sebagai murid bisa mencapai keserupaan dengan Sang Guru Agung itu. Jika demikian, menjadi murid adalah sebuah perjalanan hingga kita benar-benar sampai pada titik di mana Sang Guru menganggap kita layak ‘diwisuda’ dan menerima 'gelar’ serupa dengan Dia. Apa panggilan seorang murid sejati?

MEMIKUL KUK
Ada dua lambang penyerahan diri dalam kekristenan: salib dan kuk. Kuk melambangkan sebuah penyerahan diri terhadap ‘aturan’ atau ‘ketentuan’ yang ditetapkan. Pada kerbau atau sapi yang digunakan untuk membajak, kuk adalah beban pengatur agar mendapat hasil bajakan yang prima. Demikian juga dengan kemuridan kita di hadapan Tuhan. Kristus sendiri telah menentukan bahwa sebagai murid, kita harus mau memikul kuk-Nya. Semua itu bukan untuk memberatkan kita, tetapi untuk mengarahkan kita kepada tujuan yang tepat.

MERENDAHKAN DIRI
Bagi murid sejati, tidak ada tempat sedikitpun untuk kesombongan di relung hidupnya. Seorang murid akan menundukkan diri sepenuhnya kepada Gurunya. Segala keinginan dan kehendak ditundukkan kepada otoritas Sang guru. Kalau seorang murid memiliki kemampuan tertentu, sumbernya jelas bukan dari dirinya sendiri. Sebaliknya, hal itu adalah karena Sang Guru telah mengajarkannya.

Inilah panggilan kita sebagai murid sejati. Menjalani sebuah proses dan menjalani serangkaian disiplin agar Sang Guru berkenan kepada kita.*** (joko prihanto)
MENJADI PRIBADI BERPRESTASI

David Beckham dikenal orang di seantero jagad karena prestasinya di lapangan hijau. Ruth Sahanaya menjadi diva pop ternama karena suara emas yang dimilikinya. Siapa juga yang tak kenal Agnes Monica? Artis remaja berbakat itu berkali-kali mengukir prestasi di dunianya. Mereka adalah sedikit di antara banyak orang-orang terkenal yang menunjukkan prestasi dalam hidupnya.

Tetapi, adilkah membandingkan diri kita dengan mereka? Apakah prestasi harus selalu berkaitan dengan lomba-lomba, penghargaan dan mungkin juga polling sms? Mereka berkesempatan mengikuti kompetisi ini dan itu sehingga peluang untuk menjadi yang terbaik terbuka lebar. Sedangkan kita jarang sekali, atau bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Habiskah kesempatan kita untuk menjadi pribadi berprestasi?

Jangan minder dulu. Prestasi bukanlah sesuatu yang hanya bisa ditorehkan dan didapat dalam dunia olah raga dan selebritas. Jika saja kita memperluas kaca mata pandang yang kita pakai, kemungkinan berprestasi dalam bidang apapun terbuka lebar.

Mungkin Anda seorang karyawan dengan gaji pas-pasan. Atau mungkin Anda seorang ibu rumah tangga. Bahkan jika Anda sudah lanjut usiapun, prestasi adalah sesuatu yang bisa Anda tunjukkan. Kunci untuk mendapatkan semua itu adalah kesukaan dan ketekunan. Kesukaan seseorang kepada sesuatu, entah itu hoby, pekerjaan atau apapun, akan membawanya kepada ketekunan. Ruth Sahanaya suka bernyanyi dan karena kesukaannya itu, ia menekuni dunia tarik suara. Beckham suka si kulir bundar, lalu ia tekun berlatih dan menjadi pemain top dunia.

Awalilah semuanya dengan mencintai apa yang Anda kerjakan, lalu tekunilah apa yang Anda kerjakan itu dan pada akhirnya raihlah prestasi yang Anda dambakan.*** (joko prihanto)

Wednesday, March 05, 2008

UNTUNG WIYONO

“Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.” (Roma 16:12)

Tidak terlalu mudah mengubah wajah sebuah kabupaten. Tetapi Untung Wiyono, Bupati Sragen, telah melakukan lompatan kecil untuk mengubah tanah kelahirannya itu. Dengan usaha kerasnya ia membuat sebuah sistem manajemen satu pintu di kabupaten yang akhir tahun lalu sebagian wilayahnya dilanda banjir Bengawan Solo.

Untuk memangkas birokrasi yang kompleks dan rawan korupsi, Untung melayani warga Sragen dengan kebijakan kantor terpadu. Program lain yang dilakukannya adalah menciptakan sebuah ‘pemerintahan elektronik’. Tadinya di kantor kabupaten Sragen hanya ada tiga unit komputer, tetapi Untung lantas menyiapkan sumber daya manusia untuk membenahi hal ini. Kini, Sragen bahkan punya website sendiri. Untung juga menetapkan denda 100 juta atau penjara 10 tahun untuk mereka yang menangkap ikan dengan racun dan 50 juta atau kurungan 5 tahun untuk penembak burung.

Apa yang dilakukan Untung itu membuatnya menyabet penghargaan Citra Pelayanan Prima 2004 dari Presiden RI. Kabupaten Sragen pun ‘kecipratan berkah’ dengan mendapat 34 penghargaan dalam berbagai bidan dari berbagai instansi. Masyarakat Sragen khususnya, dan juga Indonesia secara umum, beruntung memiliki sosok Untung. Ia memelopori pelayanan yang menginspirasi orang lain.

Sahabat, Untung adalah cermin yang baik bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pelayanan. Dalam tanggung jawab pelayanan yang kita emban, hendaknya semangat memberikan yang terbaik sehingga menjadi berkat kita miliki. Orang lain, dan tentu saja Tuhan yang kita layani, akan merasa puas dengan apa yang kita lakukan. [JP]
PEDANG BERMATA DUA

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Pada dekade 80-an pendengar radio di tanah air akrab dengan sandiwara bertajuk ‘Saur Sepuh’. Demam sandiwara radio itu menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang tua. Kisah sandiwara itu sendiri bertutur tentang Kerajaan Madangkara yang coba ‘dicangkokkan’ ke dalam sejarah beberapa kerajaan yang pernah ada di nusantara seperti Majapahit dan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh Brahma Kumbara sebagai rajanya.
Tokoh utama lain yang mewarnai cerita sandiwara itu adalah Mantili, yang tidak lain adik Brahma. Senjata ampuh yang dimiliki oleh Mantili adalah Pedang Setan. Musuh-musuhnya dibuat kelimpungan bukan hanya oleh karena ketajamannya, tetapi juga karena bau busuk yang keluar dari pedang itu setiap kali dihunus. Dengan pedang itu, Mantili menjadi sosok wanita yang ditakuti.
Dalam ranah kehidupan rohani, setiap orang percaya terpanggil untuk menghadapi peperangan. Peperangan rohani orang percaya, seperti yang dituliskan Paulus, adalah untuk menghadapi penguasa-penguasa di udara. Ketika memerintahkan kita masuk dalam peperangan, Tuhan menyertakan juga senjata-senjata rohani yang bisa kita pergunakan. Salah satu senjatanya adalah pedang roh: firman Allah.
Penulis Ibrani juga menegaskan bahwa firman Allah ibarat pedang yang bermata dua. Dengan firman jugalah Yesus mengalahkan pencobaan iblis. Yesus memakai firman sebagai senjata rohani. Untuk menggunakan sebuah senjata tertentu, kita harus tahu persis bagaimana caranya. Demikian pula dengan senjata rohani ini, kita harus semakin mendalami Firman, tertanan di dalamnya, sehingga kita tidak salah menggunakannya. [JP]

Wednesday, February 13, 2008

JEREMY, ‘DOSEN’ DALAM SEKOLAH KEHIDUPANKU

27 Juli 2002 aku mengakhiri masa lajang dengan mempersunting Fenty Inggriani. Seperti kebanyakan pasangan suami-istri yang lain, kami merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga baru kami. Hanya saja, niat itu terganjal oleh kista berdiameter 4,6cm yang bersarang di indung telur istriku. Gumpalan itu amat mengganggu terjadinya proses kehamilan. Bukan itu saja, beberapa kali Fenty mengalami pendarahan karenanya.

Beberapa dokter spesialis obstetry dan ginekologi (SpOG) yang kami sambangi, memiliki suara beragam tentang kista itu. Sebagian memvonisnya harus dioperasi, sebagian lagi menyatakan tidak perlu dilakukan operasi. Kebingungan lantas menggelayuti kami. Penyerahan kepada Tuhanlah yang akhirnya membuat hati kami tenang.

Dalam penyerahan itu, Tuhan menyatakan anugerah-Nya. Ketika suatu saat kami mengunjungi dokter, pemeriksaan USG menunjukkan bahwa kista itu sudah lenyap. Kami bersyukur Tuhan menjawab doa kami. Secercah harapan muncul dan akhirnya Fenty hamil dalam tahun keempat pernikahan kami.

MUNCUL MASALAH BARU
Minggu demi minggu dan bulan demi bulan kehamilan, kami lewati dengan sukacita. Sebentar lagi harapan menimang seorang bayi akan menjadi kenyataan. Bulan Desember 2006, dalam bulan keenam kehamilan Fenty, masalah baru muncul. Sesaat setelah mandi, Fenty mengalami pendaharan hebat. Waktu itu ia ada di rumah sendirian. Aku segera pulang dan melarikannya ke rumah sakit. Menurut dokter, letak plasenta yang ada di bawah rahimlah yang menyebabkan pendarahan itu. Sejak itu Fenty harus bedrest. Ia juga disarankan untuk banyak makan es krim oleh suster agar berat badan bayi bertambah, berjaga-jaga bila harus terjadi proses persalinan lebih awal. Kekuatiran lantas datang. Alih-alih menikmati Natal, bulan itu harus kami lewati dengan rasa was-was.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Fenty pada masa bedrest itu. Ia hanya turun dari tempat tidur untuk keperluan ke kamar mandi atau makan. Suatu kali Fenty keluar dari kamar mandi dan mengalami pecah ketuban. Ia segera menghubungi dokter untuk meminta saran tentang tindakan apa yang harus diambil. Dokter mendorong untuk langsung ke rumah sakit. Karena air ketuban yang terus mengalir, tidak ada pilihan lain keculai bedrest total. Fenty sama sekali tidak bisa turun dari tempat tidurnya. Semua aktifitas berlangsung di situ.

LAHIR PREMATUR
Kondisi itu tak bertahan lama. Karena air ketuban yang tak bisa dihentikan, dokter meminta persetujuan kepada kami untuk mendorong terjadinya persalinan melalui proses induksi. “Silakan dokter melakukan apapun yang terbaik buat anak kami sebisa yang dokter lakukan. Kami akan mengambil bagian kami dengan berserah kepada Tuhan,” jawabku diikuti anggukan dokter tanda setuju. Setelah diperiksa, ternyata memang telah terjadi pembukaan setelah proses induksi itu. “Saya usahakan lahir normal, tetapi jika karena induksi ini detak jantung bayi jadi tidak normal, tidak ada pilihan lain kecuali bedah caesar,” papar dokter. Aku mengangguk, meski dalam hati terbersit keraguan. “Harus bayar dengan apa kalau harus operasi? Aku tidak punya persiapan uang yang cukup,” gumamku dalam hati. Tetapi, sekali lagi, penyerahan kepada Allah memberi kekuatan khusus kepadaku.
Setelah melewati proses beberapa jam, akhirnya jabang bayi terlahir normal meski prematur dalam usia 7,5 bulan. Bayi seberat 1,4 kg itu kami beri nama Jeremy Graciano. Karena beratnya di bawah normal, ia harus dihangatkan di inkubator. Selama sebulan ia harus menghuni ‘aquarium’ itu dengan kabel-kabel dan selang di tubuhnya. Kekuatiran akan biaya rumah sakit mulai membayang. Angkanya hampir menembus 40 juta. Perasaan saya jadi campur aduk. Melihat Fenty yang terus menangis karena tak bisa menggendong Jery, bayi yang baru dilahirkannya. Melihat Jery di dalam inkubator yang membuat trenyuh. Membayangkan bagaimana dan dengan apa saya harus melunasi biaya rumah sakit. Dalam berbagai kesempatan saya menyendiri dan menyerahkan pergumulan berat ini kepada Tuhan.

SEMPAT DINYATAKAN MENINGGAL
Secara ajaib Tuhan mencukupkan kebutuhan dana yang kami perlukan untuk melunasi biaya rumah sakit. Dengan bantuan berbagai pihak, akhirnya kami bisa membawa pulang Jeremy sesudah sebulan dirawat. Tetapi masalah baru muncul ketika jam memberikan susu bagi Jeremy tiba. Beberapa menit sesudah mendapat susu melalui selang yang terhubung dengan lambungnya, ia muntah. Sebagian susu keluar melalui mulut dan hidungnya, sebagian lagi tertelan kembali. Rupanya ada juga susu yang mengaspirasi paru-parunya. Cairan itu membuatnya megap-megap dan kesulitan bernafas. Sekujur tubuhnya lantas membiru. Kepanikan kami rasakan di tengah malam buta itu. Akhirnya, belum genap sehari di rumah, Jeremy kami larikan kembali ke rumah sakit.

Dokter dan perwat segera menanganinya di UGD. Selain dokter jaga, ada juga dokter anak yang menangani Jeremy. Setelah difoto rontgen, tampak jelas paru-parunya dipenuhi bercak-bercak cairan. Dokter memutuskan untuk merawatnya kembali di rumah sakit. Setelah administrasi dibereskan dan pertolongan pertama diberikan, Jeremy segera dibawa ke ruang rawat. Sesaat menjelang masuk lift, tubuhnya kembali membiru. Akhirnya ia harus kembali ditolong di ruang UGD. Bantuan oksigen diberikan, tetapi tidak ada respon. “Maaf, tidak tertolong lagi,” kata dokter sambil melepas stetoskop dari kupingnya. Seperti adegan sebuah sinetron, peristiwa itu sangat membuatku shock. Aku tidak siap menerima kenyataan itu. Mertua, Bapak dan Fenty menangis. Aku masih bengong seperti kehilangan pegangan.

MUJIZAT DINYATAKAN
Aku mencoba menguasai diri. Dalam kondisi lemah, aku berseru lirih, “Tuhan tolong! Tuhan tolong! Nyatakan kuasaMu…!” Selang beberapa saat Bapak keluar dari ruang UGD itu lalu memegang pundakku. Satu tangannya terkepal sambil berkata, “Thole nangis… dia hidup lagi… haleluya!” Ada luapan sukacita karena pertolongan Allah yang ajaib itu. Jeremy hidup lagi setelah dinyatakan tak tertolong.

Jeremy kecil telah menjadi berkat tersendiri bagi keluarga kami. Ia telah mengajar kami tentang arti bergantung kepada Allah dan hidup di dalam iman kepadaNya. Kini, ia tumbuh sehat dan ‘sedang lucu-lucunya’ sebagai seorang anak. Terima kasih telah menjadi ‘dosen’ dalam sekolah kehidupanku.*** (dimuat di BAHANA edisi Februari 2008, dapat diakses di www.bahana-magazine.com)

Monday, January 28, 2008

SELAMAT JALAN PAK HARTO
(Emang mau jalan ke mana Pak?)

Matur nuwun, panjenengan sudah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini. Kami semua menghargai apa saja yang sudah panjenengan torehkan untuk kemajuan republik. Kebanyakan wong cilik memang merindukan pemimpin bangsa seperti panjenengan. Menurut mereka, waktu panjenengan berkuasa, republik dalam kondisi gemah ripah lohjinawi. Mereka tidak perlu antri minyak dan beras, bahkan panjenengan membawa republik berswasembada pangan. Singkatnya, nama panjenengan mengharum di seantero negeri.

Sayang ya, anak-anak dan kroni-kroni panjenengan malah membuat apa yang panjenengan hasilkan selama ini dijadikan bancakan sama mereka. Panjenengan terlalu memberi kemudahan dan fasilitas bagi mereka. Jadilah mereka pemonopoli yang dapat proyek tanpa tender. Hampir semua bidang yang berpengaruh terhadap hitam-putihnya negeri ini dicaplok oleh nafsu mereka yang rakus. (panganen kabeh negarane... hehehe...)

Sekarang setelah panjenengan mangkat, mungkinkah anak-anak dan para penjilat itu tadi jadi keder dengan jerat hukum? Kami sendiri tidak tahu. Seberapa banyak duit yang mereka punya untuk menyuap aparat hukum yang menurut kami tak kalah rakusnya, masih akan menjadi episode lanjutan dalam perjalanan republik ke kedewasaan. Kami hanya bisa menanti.

Pak Harto, sekali lagi selamat jalan. Panjenengan akan menghadapi sebuah pengadilan yang kata teman kami, pengadilan yang tidak mencla-mencle....***

Thursday, December 20, 2007

PRACIMANTORO SUATU KETIKA

Tiga belas tahun lalu, Pracimantoro adalah wilayah kering susah air. Mungkin kini masih sama. Tanah putih berpadas yang licin saat diguyur hujan, tapi penuh dengan daun-daun jati yang meranggas kala kemarau tiba. Orang-orangnya yang ramah bertutur dengan bahasa Jawa yang sedialek dengan Gunung Kidul.

Mengabdikan diri bagi Injil di bumi Pracimantoro, mencatatkan kisah-kisah menawan. Atas dawuh Pak John Eddy (gembala kami), saya dan Pak Saiman ketiban sampur untuk menyiapkan acara Natal. Biasanya Natal dirayakan di gereja pusat, lalu juga di pos-pos PI di Mudal, Lebak dan Eromoko. Ke Mudal dan Eromoko, sarana transportasi relatif mudah didapat. Tapi ke Lebak, saya dan Pak Saiman lebih sering berjalan kaki menyusuri ladang-ladang berpadas. Jadilah ular, belalang dan tikus ladang yang kami jumpai. Kalaupun ada tumpangan, biasanya truk warga sepulang mengangkut sapi.

Saya bikin dekorasi sederhana dan seadanya. Selembar background kain dengan tema yang terpajang, lalu pohon terang dari pucuk cemara yang dihiasi kapas dan kertas emas. Waktu acara berlangsung, tetangga dan aparat desa diundang. Pak Lurah memberi kata sambutan. Kala itu Pemilu 1997 menjelang dan Pak Lurah menggunakannya sebagai kesempatan 'curi start' kampanye. Dia bilang, "Saya mendukung orang Kristen, karena orang Kristen mendukung pemerintah. Buktinya, setiap Natal selalu ada pohon terang yang menyerupai beringin." Tepuk tangan membahana. Tapi Pak Lurah kebangetan ngawurnya. Apa hubungan antara cemara dan beringin? Yang satu 'lancip' menjulang, satunya lagi kan 'kribo' mirip rambut Ahmad Albar? Ah, namanya juga kampanye, pasti semua dihubung-hubungkan. Jangan-jangan tidak menyikat gigi juga dianjurkan, karena gigi kuning sama dengan warna kebanggaan Golkar... Aya-aya wae...

Hidangan khas seusai acara adalah nasi dengan oseng tempe dan secuil ayam goreng yang dibungkus daun jati. Sensasi gurihnya tidak kalah dengan ayam goreng Ny. Suharti. Serius. Sesudahnya menyeruput teh manis hangat yang menambah 'mak nyusss..' Pracimantoro, suatu kali aku kan datang lagi...

Tuesday, December 18, 2007

DEUS ADVENTUS, DEUS REVELATUS

Ketika musim Natal tiba, apa yang paling menyita waktu Anda? Membongkar kembali pohon terang di dalam dus yang tersimpan di sudut gudang? Mengeluarkan kaset-kaset atau CD lagu-lagu Natal dari tempatnya dan memutarnya lagi? Memasang perhiasan-perhiasan berbentuk kaos kaki, bulatan daun atau pernak-pernik bernuansa merah-hijau? Atau apa?

Suatu ketika, Seniman Jadug Ferianto sempat melontarkan uneg-unegnya mengenai cara orang merayakan Natal di era modern ini. "Telah terjadi pengkhianatan terhadap pesan kesederhanaan yang ditinggalkan Natal yang pertama," ujarnya bermaksud mengoreksi perayaan Natal yang kental dengan hura-hura. Apa yang dinyatakan adik Butet Kartaredjasa itu ada benarnya. Sekarang Natal memang telah bersentuhan dengan modernitas dengan segala konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Ia telah menjadi ladang subur bagi konsumerisme dan menjadi bancakan bagi kapitalisme yang rakus. Natal adalah komoditi tahunan untuk mendatangkan keuntungan yang sayang jika dilewatkan. Apa boleh buat...

Natal pada awalnya adalah sebuah berita sederhana yang agung. Sederhana karena apa yang disampaikan malaikat kepada Maria tidak kompleks seperti perkataan filsuf yang mbulet. Agung karena isi berita itu merupakan proklamasi tentang Yesus yang akan menjadi Raja atas umat-Nya. Berita itu menyatakan tentang Allah yang, meminjam istilah Katon Bagaskara, sudi turun ke bumi (Deus Adventus) dan juga Allah yang mau menyatakan-menyingkapkan diri-Nya (Deus Revelatus) kepada manusia. Di hiruk-pikuk perayaan Natal tahun ini, pesan itu jangan sampai bergeser... SELAMAT NATAL!

Monday, December 17, 2007


Raden Ngabei Pawiro Wikarto & Ny.

Perkenalkan... ini kakek dan nenek saya. Di seantero Purwomarto, Pak Iluk (demikian ia akrab disapa) dikenal sebagai seorang anggota LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Beliau memang aktif sebagai tenaga medis kala perang kemerdekaan berkecamuk. Pak Iluk kini berjualan jadah, makanan khas dari ketan yang rasanya gurih. Mungkin ia satu-satunya penjual jadah di kecamatan Sedayu.
Ia masih gemar bola seperti dulu. Semasa kecil, aku langganan diajak menyaksikan PS Argomulyo, kesebelasan kebangaannya ke beberapa tempat. Stadion Dwi Windu di Bantul, Trikoyo di Klaten, bahkan sempat ke Temanggung dan Jepara. Belum lagi ke lapangan-lapangan kelas kampung. Menikmati pertandingan sembari mengunyah kacang godog dan bakpao menjadi kenangan tersendiri.
Mbah Kakung adalah Soehartois sejati. Ia selalu berapi-api ketika membicarakan mantan presiden itu. Bapak pernah didukani ketika memutuskan berhenti sebagai kepala dusun dan beralih mendukung Megawati. "Bapakmu ki piye to? Wis penak-penak melu Golkar kok malah mundur barang," paparnya kala itu. Ia yakin bahwa presiden selain Soeharto tidak, atau setidaknya belum menyejahterakan rakyatnya seperti dulu.
Mbah, saya kangen pengin nonton bola bareng lagi. Kapan bisa ya Mbah?

Thursday, November 29, 2007

MEDAN PERANG YANG SEBENARNYA

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Filipi 3:2)

Anthony de Mello menuliskan kisah klasik tentang telur rajawali yang dierami induk ayam. Akhirnya telur itu menetas, dan jadilah anak rajawali itu anggota komunitas ayam. Karena dia berpikir bahwa dirinya ayam, ia berperilaku layaknya ayam. Meskipun jelas bahwa struktur fisiknya berbeda, tetap saja ia merasa bahwa dirinya ayam. Mengais tanah dengan cakarnya untuk mencari makan. Berciap-ciap layaknya anak-anak ayam yang lain. Demikianlah ia bertumbuh dalam ‘keyakinan diri’ sebagai ayam.

Hingga suatu kali ia bertemu dengan anak rajawali yang lain yang sedang belajar terbang. “Hai, apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya. “Oh, sebagai anak rajawali aku sedang belajar terbang. Bagaimana dengan engkau kawan, apakah engkau sudah bisa terbang?” timpalnya. “Terbang?? Aku adalah ayam. Kehidupan kami di darat, jadi tidak perlu terbang dan memang aku tidak bisa terbang” jawabnya mantap. Sontak sesamanya itu terkekeh karena jawaban itu. Ia kemudian berusaha meyakinkan anak rajawali itu tentang posisinya sebenarnya. Ia berusaha keras dan kemudian berhasil mengajaknya untuk sama-sama belajar terbang. Ia mengubah pola pikir anak rajawali yang merasa ayam itu.

Cerita itu bertutur tentang pikiran sebagai medan perang yang sebenarnya. Kemenangan atau kekalahan terletak dalam wilayah ini. Tidak jarang orang Kristen ‘bermasalah’ dalam bidang ini. Mereka sering berpikir tentang kekalahan, kegagalan dan hal-hal negatif yang lain. Karena itu kedamaian pikiran tidak pernah dialami. Mulai hari ini, mari kita taklukkan pikiran agar kita tidak kalah sebelum bertanding menghadapi banyaknya tantangan di depan kita. [JP]
BUKU BUTUT PAK RIS

Sesudah dia bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. (Hakim-hakim 3:31)

Pak Ris adalah guru Bahasa Jerman semasa saya SMA. Seperti kebanyakan guru lainnya, sosoknya sederhana dan bersahaja. Ia juga dikenal sebagai guru yang tegas dan berdisiplin tinggi. Karakter itu pulalah yang berusaha ditransferkannya ke setiap murid dalam berbagai kesempatan, di dalam maupun di luar kelas.

Saya teringat dengan kisah buku bututnya. Apa yang menarik? Setiap berdiri di depan kelas, ia tak pernah meninggalkan buku pelajaran Bahasa Jerman yang telah usang. Boleh dikata, buku itu adalah ‘jimat’nya. Warnanya sudah lusuh, covernya pun sudah tak ada lagi. Hanya halaman-halamannya yang masih utuh, itupun dengan robekan kecil di sana-sini. Pak Ris mengisahkan bahwa buku itulah yang berjasa mengantarkannya sebagai sarjana. Buku itu juga yang membuatnya fasih berbahasa Jerman dan menjadikannya pemandu wisata di waktu senggangnya. Bahkan, buku itu juga yang membawanya terbang berkali-kali untuk berkunjung ke negeri Adolf Hitler itu.

Makanya ia getol untuk menanamkan kecintaan terhadap buku kepada kami murid-muridnya. “Karena Bapak berhasil melalui buku ini, Bapak ingin agar kalian juga mengalami keberhasilan karena mencintai buku,” begitu ia berpetuah.

Keterbatasan tidak menghalangi Pak Ris untuk bisa hidup di atas rata-rata. Sebaliknya, ia malah menggunakan keterbatasan itu untuk kehidupan yang lebih berarti. Karena itu Sahabat NK, inilah waktunya berhenti memberi alasan tidak memberi yang terbaik karena berbagai keterbatasan yang kita miliki. Buktinya, dengan buku bututnya Pak Ris bisa… [JP]
HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan,… (Kejadian 50:20)

Seorang pemuda merasa sangat bahagia lantaran keinginannya akan segera terkabul. Sebentar lagi ia akan tergabung dengan ratusan pemuda yang lain untuk membela negara dengan mengikuti wajib militer. Setiap hari dia berolah fisik untuk mempersiapkannya. Dengan disiplin tinggi ia menjalani latihan-latihan ditunjang dengan perubahan pola makan. Sebutir telur dan segelas susu di pagi hari dan menu makanan sehat di siang dan malam hari.

Suatu kali ketika sedang jogging di jalan raya, ia mengalami kecelakaan. Ia menjadi korban tabrak lari dari sebuah mobil yang dikemudikan sopir ugal-ugalan. Luka-lukanya tergolong parah dan ia harus menginap di rumah sakit beberapa hari. Terdapat patah tulang yang serius di kaki kanan dan tangan kirinya. Betapa ia menyesal dengan nasibnya itu. Bahkan berkali-kali ia menyalahkan Tuhan. “Mengapa kesempatan untuk membela bangsa Kauambil dariku dengan kecelakaan ini, ya Tuhan?” serunya. Dan ia terus mengisi hari-harinya dengan ratap dan sumpah-serapah.

Hari berganti, bulan berlalu. Rekan seangkatan pemuda itu yang sudah masuk wajib militer dijadwalkan berlatih terjun payung. Naas, pesawat yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya jatuh di sebuah lembah. Awak pesawat dan seluruh penumpangnya tewas. Berita tentang keceleakaan itu segera tersebar ke seantero negeri. Dan pemuda yang kaki dan lengannya masih terbalut gip itu mendengar kabar tersebut. Lalu ia mulai mengubah sungutannya dengan ucapan syukur. Jika saja ia jadi ikut wajib militer, mungkin nasibnya akan sama dengan rekan-rekannya yang celaka itu.

Tuhan acap mengijinkan sesuatu terjadi di dalam hidup umat-Nya. Terkadang tidak semuanya bisa dipahami seketika dan memerlukan proses seperti kisah di atas. Yang diperlukan adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak mencelakai kita dan pasti merencanakan segala yang baik. [JP]

Monday, November 19, 2007

DARI HYPER SQUARE KE BANJARBARU

Ini pengalaman pertama naik 'burung besi' sesudah tiga puluh tahun lebih hidup di dunia (halah..). Pengalaman ini menjadi istimewa karena pertemuan dengan beberapa mahasiswa yang pernah kuajar di Banjarbaru, Kalsel. Ada Wiwitro yang kini jadi dosen di sebuah STT. Hebat juga kau Wit... Lalu ketemu dengan Daud Tua Pattinaya (semoga tidak salah tulis nama) yang kini jadi Pol PP di kantor walikota Banjarbaru. Awalnya sempat kuciwa karena kayaknya ga ada hubungan antara sekolah teologi dengan Pol PP. Tapi mendengarnya menjadi ketua pemuda di gereja membawa kelegaan tersendiri. Bertemu Livingstone selalu menyegarkan. Batu hidup yang kecil itu memang masih kocak, sama seperti ketika ngabodor di kelas atau asrama. Terima kasih karena menemaniku tidur beberapa malam. Living bercerita tentang mantan-mantan murid yang pernah kuajar, yang kini tersebar di ladang pelayanan belantara Borneo. Sungguh membanggakan.

Seminggu sebelumnya, ada wisudaan di Hyper Square. Duduk di meja hijau menyaksikan 40 lebih wisudawan/wati membuatku tak kuasa menahan tangis. Sebait doa kunaikkan untuk mereka yang sudah lulus. Selamat berjuang dan melayani. Setidaknya aku sudah menginvestasikan sesuatu dalam hidup kalian. See you all at the top!

Sunday, November 18, 2007

MENYERET DAN MEMIKAT

Yakobus 1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

“Ayo ikut lomba mancing!” ajak teman saya suatu ketika. Sebenarnya saya tidak hobby memancing. Tetapi karena ajakan teman saya itu bertepatan dengan hari libur, akhirnya saya berangkat menenaminya. Peristiwanya sudah lebih dari sepuluh tahun lalu. Kala itu, lomba diadakan untuk memeringati 50 tahun Indonesia merdeka. Seekor Gurame sebesar bantal bayi diperebutkan puluhan peserta. Siapa yang berhasil mendapatkannya akan dinobatkan sebagai juara.

Pemenangnya adalah seorang bapak yang menggunakan umpan yang lain daripada yang lain. Jika orang lain menggunakan cacing atau pelet, ia menggunakan donat sebagai pemikat ikan yang akan dipancingnya. Dan ia berhasil. Waktu bertanya di dalam hati mengapa akhirnya ia memenangi lomba itu, imajinasi saya mulai berjalan.

Saya membayangkan gurame itu sedang berenang kian-kemari di bawah permukaan kolam. Tiba-tiba perhatiannya tertuju kepada benda-benda yang masuk ke dalam kolam. Ia mulai mendekati salah satunya. “Ehmmm… cacing. Ah, kemarin teman yang lain mendadak hilang ketika mencaploknya,” katanya dalam hati. Ia memutuskan untuk meninggalkannya. Hal yang sama ia lakukan ketika mengampiri pelet. Tetapi ia mulai terseret dan terpikat ketika yang dijumpainya adalah donat. Ia lalu mencoba mencaploknya dan hasil akhirnya bisa ditebak: ia terperangkap.

Iblis juga jago dalam hal jebak-menjebak begini. Ia tahu persis di mana letak kelemahan kita, lalu mengolahnya menjadi bahan yang setiap saat dilontarkan untuk menyeret dan memikat kita. Yang perlu kita lakukan adalah untuk sadar dan berjaga senantiasa menghadapi segala kemungkinan jebakan. Waspadalah… Waspadalah… (JP)
MUNDUR DUA LANGKAH, MAJU TIGA LANGKAH

Markus 6:31 “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahat seketika!”

Rutinitas yang dikerjakan setiap hari dapat menimbulkan kebosanan. Jika tidak disiasati, kondisi ini biasanya berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Produktivitas kemudian menurun, dan pada tingkat tertentu, kebosanan bisa mendatangkan stress. Solusinya?

Ada kalanya ‘mundur’ adalah sebuah pilihan. Dalam istilah yang lain, kita membutuhkan retreat. Dari satu sisi, mungkin retreat adalah sebuah langkah mundur. Kesibukan pekerjaan ditinggalkan, urusan-urusan kantor dilupakan (sejenak) dan otak sebagai ‘mesin berpikir’ didinginkan untuk sementara waktu.

Retreat tentu tidak harus selalu dipahami sebagai sebuah kegiatan menyewa sebuah villa di dataran tinggi tertentu, dikoordinir sejumlah panitia dan menghadirkan pembicara tertentu sesuai jadwal yang tersusun. Jika begini, jangan-jangan retreat juga sudah menjadi rutinitas? Mengundurkan diri sejenak bahkan dapat dilakukan di tempat kita bekerja. Sekedar melakukan relaksasi di tempat duduk, melihat lalu-lintas dari ketinggian jendela kantor, memutar musik kegemaran atau melanjutkan games di ponsel pada level berikutnya.

Orang mungkin menilainya sebagai dua langkah kemunduran. Tetapi kekuatan baru yang didapat sesudahnya justru akan membuatnya menjadi maju tiga langkah. Kalau retreat adalah sebuah kebutuhan, mengapa Anda tidak memilihnya kini? (JP)
KEKUATAN UNTUK BERTAHAN

Yakobus 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Ada mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah bagi setiap orang yang bertahan dalam pencobaan. Kata ‘bertahan’ berasal dari istilah ‘hupomone’ yang menggambarkan sebuah ketenangan di tengah situasi yang kacau balau. Bisa juga berarti kemampuan memikul beban hingga titik atau tujuan tertentu. Dari pemahaman itu, setidaknya kita bisa merenungkan beberapa hal dalam menghadapi pencobaan;

Pertama, ketenangan. Kepanikan mungkin adalah respon yang wajar sesaat setelah pencobaan kita alami. Tetapi membiarkannya menguasai kita dalam kondisi seperti itu jelas tidak menguntungkan. Kejernihan berpikir untuk mencari jalan keluar atau berdiam diri mendengar solusi dari Tuhan, bisa jadi akan jauh dari kenyataan. Secara negatif, tidak menutup kemungkinan juga kita akhirnya mengambil sebuah keputusan yang salah. Bagaimana kita bisa menghadapi dan mengalahkan pencobaan jika begitu?

Kedua, ketekunan. Berbeda dengan bermain sulap, menghadapi pencobaan adalah melewati realitas hidup. Untuk menyelesaikannya tidak bisa hanya dengan menggunakan rumus simsalabim abrakadabra! Dibutuhkan ketekunan dan keuletan seperti seseorang yang sedang memikul beban sampai tujuan tertentu. Di sanalah kemudian beban itu diletakkan. Artinya, memang ada waktu yang harus dilalui.

Ketiga, harapan. Tidak selamanya pencobaan itu akan menjadi pergumulan kita. Pasti ada saat untuk berhenti dan kita selesaikan. Malah Tuhan sendiri menjanjikan mahkota kehidupan sebagai hasil akhirnya. Dan harapan itulah yang turut menyuntikkan kekuatan baru bagi kita. (JP)
BATU SANDUNGAN

Matius 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Konon, minuman energi paling laris terjual di kompleks pelacuran dan klub-klub malam. Karena itu Dadang (sebut saja begitu) aktif mengunjungi tempat-tempat itu. Tentu bukan untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh, tetapi profesinya sebagai sales minuman energi mengharuskannya bertindak demikian. Saking seringnya Dadang mengunjungi lokalisasi dan tempat hiburan malam itu, ia sampai hafal dengan para pengunjungnya. Beberapa bahkan telah dikenalnya.

Di sisi lain, Dadang adalah seorang di ‘persimpangan jalan’ dan sedang mempertimbangkan untuk memeluk Kristen. Ia rajin mempelajari kekristenan dari buku-buku dan kaset khotbah, meskipun belum memberanikan diri berkunjung ke gereja. Sampai suatu kali ia memutuskan untuk pergi ke gereja di suatu hari Minggu karena keyakinan imannya yang semakin menebal.

Tetapi kenyataan berbicara lain dan malah terjadi antiklimaks. Ia malah kemudian memutuskan untuk urung menjadi pengikut Kristus. Pasalnya, orang-orang yang dijumpai dan dikenalnya di lokalisasi itu, adalah orang-orang yang sama yang ditemuinya di gereja. Astaga!

Sayang sekali… Karena tersandung dengan perbuatan orang-orang Kristen yang tidak berubah itu, satu jiwa terhilang. Kisah di atas tentu menjadi warning bagi kita semua agar dalam setiap segi hidup selalu memancarkan terang Kristus. Dengan begitu tidak ada orang yang tersandung ketika melihat kehidupan kita, sebaliknya mereka malah terberkati. [JP]