Perjumpaanku dengan pribadi-pribadi dan permenunganku atas rentetan peristiwa...
Wednesday, September 03, 2008
“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4:14b)
Urip mung mampir ngombe (hidup ibarat mampir minum), begitu kata pepatah bijak Jawa. Tekanan utama yang ingin disampaikan di sini adalah untuk mengingatkan kepada manusia mengenai kesementaraan hidup di dunia. Sesungguhnya ada sebuah kehidupan lain yang akan dijalani dalam kekekalan.
Senada dengan itu, Donald Coggan (uskup Agung Canterbury) menyatakan, “Saya menjalani hidup ini sebagai seorang yang mengadakan perjalanan menuju kekekalan, seorang yang diciptakan menurut gambar Allah, tetapi gambar itu telah hilang kemuliaannya hingga saya perlu belajar cara bermeditasi, beribadah, dan berpikir.”
Orang yang tidak melihat kepada kekekalan cenderung untuk menghabiskan energi pada hal-hal yang sebenarnya bersifat sementara. Fokus hidup mereka adalah mengumpulkan kekayaan. Waktu banyak dihabiskan untuk mengejar kedudukan. Dan untuk mendapatkan itu semua, sebuah jurus dilakukan. Jurus itu adalah injak ke bawah, sikut ke samping dan jilat ke atas. Dengan cara yang culas orang berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya, padahal hanya bersifat temporal. Orang tega menginjak orang di bawahnya, berani menyikut rekan-rekan sekerjanya dan hobi menjilat orang-orang di atasnya.
Sahabat, kita perlu mengingat kembali tentang betapa sementaranya hidup kita ini. Semuanya berlalu begitu cepat. Alangkah sayangnya kalau kita justru berfokus pada hal-hal kekinian yang tidak ada hubungannya dengan kekekalan sama sekali. Kata Rick Warren, sekarang ini kita baru berlatih menuju kekekalan. Karena itu manfaatkan sebaik mungkin waktu yang kita miliki untuk perkara-perkara abadi. [JP]
note: thanks to Ps. Gideon Rusli untuk inspirasi judulnya...
“Allah telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia...” (Kisah Para Rasul 17:24)
Suatu kali saya mengantar (alm) Dr. Wagiyono Sumarto, seorang dosen dari Institut Injil Indonesia Malang untuk melihat gamelan di beberapa tempat di Jogja. Ia seorang dosen yang kala itu menggunakan budaya Jawa sebagai sarana kesaksian. Menurutnya tradisi bisa dipakai sebagai sarana komunikasi Injil yang efektif. Tetapi apakah semudah itu?
Ternyata tidak. Akar budaya di Indonesia telah bersinggungan dengan kepercayaan dan praktek agama suku yang sebagian besar menganut animisme. Menyembah batu besar, pohon-pohon keramat, tempat-tempat angker dan sejenisnya. Tidak jarang kemudian terjadi percampuran (sinkretisme) dan akhirnya kalau kita mendengar ‘tradisi’, kita mengidentikkannya dengan hal-hal yang magis dan mistis. Lalu tradisi menjadi semakin jauh dengan kekristenan, bahkan telah dianggap musuh oleh kalangan tertentu. Harus se-ekstrim itu kah?
Sebagai orang percaya yang hidup di Indonesia, bersinggungan dengan tradisi yang sudah lebih lama ada adalah sebuah keniscayaan. Mau atau tidak, suka atau tidak, kita akan mengalaminya. Kita perlu menyadari bahwa budaya sebagai hasil dari peradaban manusia adalah netral sifatnya. Ia seperti sebilah pisau yang bisa digunakan untuk maksud yang baik (memasak misalnya), tetapi juga bisa menjadi alat kejahatan (membunuh, merampok, dll).
Kebudayaan pun bisa dimanfaatkan untuk maksud pelayanan, tetapi juga bisa dipakai iblis untuk melaksanakan maksudnya. Jadi bukan senjatanya yang penting, tetapi siapa yang menggunakannya. Yang mendesak untuk dilakukan sekarang adalah bagaimana kita bisa memilih dan memilah, mana tradisi yang bisa kita lestarikan dan manfaatkan; dan mana tradisi yang perlu dibuang. Bukankah begitu? [JP]
“...janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.” (2 Yohanes 1:10-11)
Beberapa tahun belakangan marak terjadi kasus penculikan anak. Modus operandinya beragam. Dari yang menyamar sebagai pembantu rumah tangga, berpura-pura sebagai sosok yang baik dan menyayangi anak, hingga modus kekerasan. Tetapi ujung-ujungnya selalu untuk mencelakai si anak dan kemudian mendapatkan keuntungan materi dari orang tuanya dengan meminta tebusan sejumlah uang. Untuk menghadapi problem ini, orang tua pasti punya batas-batas keramahan terhadap orang-orang tak dikenal yang mendekati anaknya. Masalahnya bukan tidak punya kasih, tetapi kalau jiwa anak terancam pasti lain urusannya.
Sahabat, sejak sejarah gereja mula-mula penyesatan telah menjadi masalah yang pelik bagi para rasul. Penyesatan adalah bahaya terbesar bagi sebuah keyakinan iman dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepintas, kalau kita amati bacaan ayat di atas, Yohanes bisa terkesan kejam. Tidak bolehkah sekedar memberi salam? Asalkan tidak menerima ajarannya, bukankah tidak menjadi soal? Apalagi bagi kita orang Timur yang mengedepankan sopan santun dan keramah-tamahan; sulit rasanya untuk melaksanakan ayat di atas.
Dari sebuah buku yang saya baca, ada penjelasan menarik terhadap ayat di atas. Keramah-tamahan Kristen harus dihentikan jika bahaya penyesatan kemudian mengancam. Memberi salam dalam konteks Timur Tengah memang berbeda dengan bersalaman dalam budaya Indonesia. Memberi salam bisa berarti mempersilakan mereka masuk, menjamu mereka di meja makan dan membiarkan guru palsu itu mengajarkan ajarannya yang menyimpang. Itulah alasan mengapa memberi salam pun merupakan sebuah bagian dari perbuatannya yang jahat.
Tidak ada larangan untuk bergaul dengan orang yang sesat asal jangan kita menjadi terpengaruh. Kita tidak membenci orangnya, yang kita tolak dengan tegas adalah ajarannya. [JP]
Wednesday, August 27, 2008
Kolose 1:23 – Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengahrapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.
Dalam Paskah tahun ini saya berkesempatan menyampaikan firman Tuhan di sebuah persekutuan wanita di Jakarta. Saya diberkati oleh kesaksian Ibu Louisa Indrawati, wanita yang dicatat MURI sebagai wanita terpendek di Indonesia. Tinggi badannya tak lebih dari 70cm. Tetapi justru karena kekurangan fisiknya itu, mujizat Tuhan dinyatakan.
Ia memiliki suami, selayaknya wanita lain yang dikaruniai tubuh yang sempurna. Ajaibnya lagi, ia juga bisa memiliki keturunan, meski untuk hal itu perjuangan antara hidup dan mati harus ia lakoni.
Tahun lalu ketika saya mendengar kesaksiannya, ia masih berkisah tentang seputar pengalaman awalnya sesudah berjumpa Kristus secara pribadi. Juga tentang bagaimana ia menjalani hidupnya sebagai petobat baru. Tetapi setelah setahun berselang, ada lompatan-lompatan berarti yang ia lakukan.
Jauh di dasar hatinya ia mendengar suara Tuhan memanggilnya untuk membaktikan diri dalam ladang pelayanan. Sebuah panggilan yang awalnya ditolaknya, sebab ia sadar diri bahwa kelemahan fisiknya pasti akan menjadi penghambat utama. Sebuah penolakan yang wajar layaknya Musa atau Yeremia ketika mendapat panggilan senada. Ketiadaan kemampuan berbicara dan usia yang muda menjadi alasan.
Kalau Tuhan memanggil, Ia meneguhkan. Hal yang sama dialami Louisa. Berkali-kali peneguhan Tuhan Ia terima, dan ia tak bisa mengelak. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab ‘ya’. Dari perjumpaan hidup dengan Tuhan lalu menyerahkan hidup kepada Tuhan. Inilah sebuah kehidupan yang dinamis, yang saya harap menjadi ciri hidup kita semua. (JP)
Thursday, July 31, 2008
Bill Britton mencatat tentang 10 kesanggupan Kristus berkaitan erat dengan karakter Kristus. Salah satu diantaranya adalah kesanggupan untuk menjadi miskin tanpa mengeluh. Kemiskinan, sebagaimana dipaparkan Bill, bukanlah sebuah dosa dan juga bukan hal yang terlalu luar biasa. Kemiskinan juga bukan sebuah bukti kurangnya iman seperti banyak dikatakan orang. Yang paling penting adalah bagaimana berjalan dalam kemenangan meskipun sedang mengalami kemiskinan.

Dari segi posisi, Yesus Kristus jelas memiliki segala-galanya. Ia “memiliki kesetaraan dengan Allah” seperti dicatat Paulus dalam Filipi 2. Tetapi alih-alih mempertahankannya, Yesus lebih mentaati Bapa-Nya dan mengambil rupa seorang manusia yang miskin pula. Tetapi Ia tak pernah mengeluh akan apa yang Ia sudah putuskan sesuai kehendak Bapa-Nya.
Saya jadi ingat niat Presiden SBY untuk menyamar menjadi rakyat biasa agar bisa menumpas pungli yang masih saja terjadi di departemen perhubungan. Ia ingin mengenakan kacamata hitam dan kumis palsu, lalu menumpang sebuah truk yang sering terkenan pungli di berbagai tempat. Malah, SBY ingin naik truk itu dari Surabaya hingga Jakarta. Niat ini sungguh mulia, tetapi apa daya hanya berhenti pada batas wacana. Kalaupun itu jadi dilakukan SBY, ia hanya merasakan sejenak jadi orang miskin.
Tentu berbeda dengan apa yang dilakukan Yesus. Ia tidak gemar berwacana, sebaliknya Ia lebih suka berkarya nyata. Ia rela meninggalkan kemuliaan-Nya untuk menjadi miskin tanpa mengeluh demi keselamatan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Ia mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang banyak. Dicari: orang yang mau meneladani Kristus dalam hal ini! Andakah orangnya? [JP]
YB Mangunwijaya adalah sosok pastor fenomenal yang pernah dimiliki umat Katholik di Indonesia. Tapi, rohaniwan yang menulis roman “Burung-burung Manyar” itu bukan hanya milik umat Katholik. Ia telah menjadi milik semua golongan karena pelayanan sosial yang dilakukannya tanpa pandang bulu.
Ia mendirikan sekolah dasar murah di bilangan Kalasan, Jogjakarta. Dengan itu orang-orang miskin bisa mengerti bagaimana rasanya sekolah. Ia mengubah wajah bantaran kali Code yang kumuh menjadi kawasan layak huni. Sebelumnya, wilayah pinggir kali itu tak ubahnya tempat pembuangan sampah yang kotor dan rentan wabah penyakit. Ia juga yang membela or
ang-orang lemah di Kedung Ombo ketika hak atas tanah mereka dirampas oleh pemerintah Orde Baru yang rakus. Singkatnya, ia adalah figur yang ‘memanusiakan manusia.’Karena itu waktu Romo Mangun, demikian ia biasa dipanggil, tutup usia; ribuan orang berdiri di pinggir jalan untuk memberi penghormatan terakhir di jalanan kota Jogjakarta. Pastor kelahiran Ambarawa ini telah menunjukkan keberpihakannya kepada orang-orang lemah dan tertindas, meneladani Yesus yang dipercayainya dalam hidupnya. Belas kasihan Yesus yang ditunjukkan-Nya bagi orang-orang miskin, telah menginspirasinya untuk berbuat sesuatu bagi kemaslahatan orang banyak. Hidupnya berguna bukan hanya bagi orang seagama, tetapi bagi sesamanya manusia.
Sahabat, kita bisa melihat sebuah kehidupan yang digerakkan oleh belas kasihan dalam diri Romo Mangun. Di tengah-tengah lingkungan dengan tingkat egoisme yang tinggi, kisah hidupnya bak oase di padang pasir yang amat menyejukkan. Apakah dengan cara pandang yang sama kita melihat orang-orang di sekitar kita? Apakah kesan orang terhadap kita ketika kita dipanggil Tuhan pada saatnya nanti?
Kerinduan kita adalah agar hidup kita berguna bagi semua orang, memberkati semua orang. Dan itu hanya bisa terjadi kalau di dalam hati kita melimpah dengan belas kasihan Yesus. [JP]
“Atau tidak tahukah kamu bahwa, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,…” (1 Korintus 6:19)
Ada prosedur pengaman yang baku bagi presiden dan wakil presiden, beserta seluruh keluarganya di Indonesia. Mereka akan dilindungi oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) dalam setiap kesempatan, resmi ataupun tidak.

Suatu kali istri saya pergi ke sebuah toko perlengkapan anak untuk membeli pakaian buat anak kami. Di toko sederhana itu ia bertemu dengan Anisa Larasati Pohan, menantu Presiden SBY yang sedang hamil. Rupanya ia sedang membeli perlengkapan bayi untuk persiapan kelahiran anak pertamanya. Suaminya sedang bertugas sebagai anggota pasukan perdamaian PBB di Timur Tengah, jadi tidak bisa menemaninya. Tetapi ia dikawal oleh dua laki-laki berbadan tegap anggota Paspampres meski tidak terlalu mencolok dari segi protokoler. Kehadiran dua orang itu sudah cukup membuat Anisa merasa aman.
Perjalanan kehidupan orang percaya juga mendapat jaminan kehadiran-Nya, meski kadang tidak disadari oleh orang Kristen. Tak sedikit pula yang malah dikuasai ketakutan dalam kehidupannya, padahal yang menyertai adalah Raja di atas segala raja, Pemilik dan Pencipta semesta ini.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan, menumbuhkan keberanian untuk melangkah dan menghadapi tantangan. Sadhu Sundar Singh, seorang tokoh Kristen di India, bahkan secara ekstrim menyatakan, “Saya rela tinggal di neraka asalkan ada hadirat Yesus. Sebab neraka dengan kehadiran Yesus akan berubah menjadi surga.” Tentu tak perlu ke neraka untuk mengalami kehadiran Yesus. Dia ada di sekitar Anda dan setia menyertai. Lebih dari itu, Dia bahkan berdiam di dalam Anda. [JP]
KESADARAN AKAN HADIRAT TUHAN MENUMBUHKAN KEBERANIAN UNTUK MELANGKAH DAN MENGHADAPI TANTANGAN
“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22)
Yulia Girsang mengidap insomnia (penyakit susah tidur) sepeninggal suaminya, Ferry Silalahi. Suaminya yang seorang hakim, tewas ditembak ketika pulang kebaktian di Palu, Sulawesi Tengah. Peristiwa yang terjadi depan matanya itu tak pelak membuat Yulia depresi dan menjadi susah tidur. Untuk mengatasinya, ia kemudian memutuskan untuk menjalani konseling. Beberapa waktu lamanya ia dibimbing Julianto Simanjuntak dan Roswita, pasangan hamba Tuhan yang mendalami konseling Kr
isten.Ada sesuatu yang istimewa dalam jawaban Yulia ketika ditanya tentang responnya terhadap pembunuh suaminya. “Dari dasar hati yang terdalam, saya sudah mengampuninya,” jawabnya tegas. Bahkan dia punya kerinduan agar bertemu langsung dengan pembunuh suaminya agar bisa mengungkapkan pengampunannya itu. Tuhan mengabulkan keinginannya. Suatu kali ia bertemu dengan penembak suaminya. Sambil memegang pundak terdakwa, Yulia berujar, “Kawan, Tuhan masih memberi kesempatan untuk hidup bagi Anda. Isilah dengan sesuatu yang berguna!”
PENGAMPUNAN ADALAH ‘PEMBERIAN’ BAGI DIRI KITA SENDIRI, BUKAN UNTUK ORANG LAIN
Wednesday, July 23, 2008
Ki-Ka: Makmur Noor, Hilman Rosyad, Nurul Iman, Tiurlan, Siti Soeparmi
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI “KHARISMA” Bandung mendapatkan kehormatan atas kunjungan Komisi VIII DPR RI pada 23 Juli 2008 silam. Rombongan dipimpin H. Hilman Rosyad Syihab (F-PKS) dan beranggotakan Dra. Chairunnisa, MA., Zulkarnaen Djabar, MA., Drs. H. Mohammad Ichwan Syam (F-PG), Drs. Abdul Hakam Naja, M.Si. (F-PAN), Drs. H. Widada Bujowiryono, Dra. Hj. Siti Soeparmi (F-PDIP), KH. Makmur Noor, H. Safriansah, BA (F-PPP), H. Nurul Iman Mustopa, SH., MA. (F-PD), dan Tiurlan Basaria Hutagaol, S.Th., MA. (F-PDS). Anggota dewan tersebut melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat selama masa reses. Selain lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan keagamaan, STT Kharisma adalah satu-satunya lembaga pendidikan teologi yang disinggahi rombongan.
Dalam sambutannya terhadap kunjungan tersebut, Ketua STT Kharisma Pdt. Rubin Adi Abraham, Th.D. menyatakan bahwa kunjungan ini adalah sebuah bentuk kepedulian anggota dewan terhadap rakyat yang diwakilinya. Selain untuk melihat kondisi riil di lapangan, diharapkan para wakil rakyat tersebut dapat menyerap aspirasi yang berkembang di akar rumput.
Sehari sebelumnya (22/7), Ketua STT Kharisma juga diundang ke Kantor Gubernur Jawa Barat di Gedung Sate untuk mendampingi Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Gubernur dan Wagub Jabar) saat mengadakan audiensi dengan rombongan Komisi VIII DPR RI dengan pimpinan lembaga-lembaga yang akan dikunjungi. ***
Sunday, July 13, 2008
Masa kecil adalah keniscayaan dalam perjalanan hidup seseorang. Mengenangnya kembali membuncahkan rasa yang... gimana gitu... Ada getir, lucu, tak sedikit keindahan bahkan olok-olok yang memberi kesempatan kembali untuk berkaca dan menatap masa depan. Sepanjang yang saya ingat, beberapa hal ini identik dan menjadi bagian masa kecil saya...
1. SEPAK BOLA (Jawa: bal-balan). Yang satu ini harus diletakkan di posisi pertama, hehe... Entah bagaimana asalnya, saya jadi amat menggemari bola. Halaman kantor kecamatan Sedayu menjadi tempat biasa saya merumput dengan kawan-kawan setiap sore. Ada Totok, Yanto, Sugiharto, Mas Bowo, Hendri, Ari, Agung, Wahyu dan Ruseno.
2. RENANG (Jawa: adus kali). Tidak ada kolam renang di kampung saya. Jadi jangan membayangkan kolam dengan air jernih dan menyegarkan. Kolam renang terdekat di Umbang Tirto (Kridosono) berjarak 15 km. Karena tidak mungkin berenang di sana, jadilah kali di belakang rumah menjadi medianya. Aktifitas favorit sambil mandi di kali adalah memandikan kerbau Pakdhe Karto, 'polo air' ala cah ndeso atau lomba bertahan tak bernafas di dalam air. Tidak jarang pohon pisang liar di pinggir kali kami jadikan rakit dan kemudian menaikinya dengan berlagak Joko Tarub.
3. KETAPEL (Jawa: plintheng). Ini adalah salah satu jenis alutsista wajib yang dimiliki bocah kecil di kampung saya. Selain untuk berburu burung, bisa juga dipake nyolong mangga tetangga. Pelurunya dari kerikil-kerikil kecil yang mudah didapati di kali atau pinggiran jalan desa. Kebanyakan ketapel kami terbuat dari dahan pohon jambu yang berbentuk huruf 'Y', atau bisa juga dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa. Dilengkapi dengan karet pentil dan juga kulit potongan sepatu usang yang tak terpakai.
4. LAYANG-LAYANG (Jawa: layangan). Saya pantas berbangga sedikit untuk yang satu ini. Layang-layang saya hampir tidak pernah kalah diadu dengan milik teman saya. Rahasianya: benang gelasan yang saya miliki made in Kadipiro yang terkenal. Jadi, meski lawan-lawan bermain layangan menggunakan senar sekalipun, layangan saya jarang terkalahkan. Pematang sawah di pinggir kampung menjadi tempat bermain layang-layang yang menyenangkan.
5. ES PUTER (Jawa: es thong-thong). Hampir tidak ada jajanan yang berkeliling di kampung kami kecuali es puter ini. Waktu itu harganya Rp. 25,- jika menggunakan sempe, atau Rp 50,- dengan roti tawar tipis. Saya ingat Suryadi kalau membicarakan es puter. Tetangga sebelah rumah ini suka licik menghabiskan es puternya lebih dulu, lalu meminta sedikit demi sedikit dari es milik teman-temannya yang masih tersisa.
6. MAIN SEPEDA (Jawa: pit-pitan). Saya dan Mas Bowo, sepupu saya, punya sepeda BMX kembar kala itu. Kalau berkesempatan naik sepeda bersama, kami sering berlagak seperti film seri CHIP's di TVRI. Meski tak terlalu jago, tapi bisa juga saya melakukan jumping atau standing waktu bersepeda. Yuli Subagyo, teman SD saya, malah bikin track balap sederhana di samping rumahnya di pinggir kali. Lintasan yang mengitari pepohonan jambu itu tanpa aspal, tetapi asli tanah. Sesudah main sepeda bisa langsung mandi di kali.
Sunday, June 22, 2008
gan cantik peran mereka meski dibelit tuntutan mengedepankan nasionalisme.
Thursday, June 12, 2008
Thursday, June 05, 2008
Kita tentu pernah mendengar kelakar tentang otak orang Amerika, Jepang dan Indonesia yang dijual. Ketika dipajang di etalase, otak orang Indonesialah yang kelihatan paling bersih dan relatif lebih ‘sempurna.’ Usut punya usut, ternyata karena otak orang Amerika dan Jepang lebih sering dipakai daripada otak orang Indonesia.

Lupakan olok-olok sarkastis itu. Anak-anak muda Indonesia terbukti tidak kalah dari mereka yang berasal dari negara maju. Pada gelaran Olimpiade Fisika Asia (Asian Physics Olympiad – Apho), Adam Badra Cahaya (SMUN 1 Jember), Ruddy Handoko (SMU Sutomo 1 Medan) dan Kevin Winata (SMUK BPK Penabur 1 Jakarta) meraih medali emas. Penghargaan tidak berhenti di situ karena beberapa orang muda yang lain meraih medali perak dan juga bentuk penghargaan yang lain. Bahkan dalam Olimpiade Fisika Internasional tahun lalu, remaja-remaja Indonesia juga berhasil menyabet medali emas.
Di tengah ruwetnya penuntasan kasus korupsi yang seakan tak berujung, kita masih menaruh harapan untuk perbaikan negeri ini ke depan. Masih ada orang-orang yang meraih prestasi dalam kondisi yang serba susah ini. Masih muncul anak-anak bangsa yang membersitkan harapan di tengah keterpurukan.
Bagaimana dengan kekristenan kita? Kiranya semangat anak-anak muda di atas menginspirasi kita juga untuk membuat bangsa ini lebih baik. Kita memang hanya ‘mampir sementara’ di negeri ini. Tetapi kalau Tuhan mengijinkan demikian, pasti ada sebuah rencana yang diberikan kepada kita. Kita merindukan lebih banyak lagi anak-anak Tuhan yang tampil menjadi saksi dengan prestasi di masing-masing bidang kehidupan. [JP]
Siapa tak kenal Ir. Soekarno? Salah satu founding father republik ini dikenal sebagai seorang orator yang andal. Setiap berpidato di depan massa, semangat yang berkobar seolah bisa ia transferkan ke sanubari pendengarnya. Ia dikenal juga sebagai penulis buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ yang legendaris itu.
Buku itu ternyata tidak lahir dari meja kantornya. Beberapa bagian tulisan di dalamnya ternyata ditulis di Penjara Banceuy – Bandung, nun di 1930. Di selnya terdapat sebuah kaleng yang berfungsi ganda, tempat buang hajat sekaligus tempat menuangkan pikiran. Setiap pagi ia membersihkan kaleng pesing itu dan setelah kering menggunakannya untuk papan atau landasan menuliskan ide-ide cemerlangnya. Lalu lahirlah sebuah karya pembelaan yang menuturkan penderitaan bangsanya setelah tiga setengah abad dijajah Belanda. Pledoi itu lantas diberi tajuk: Indonesia Menggugat!

Siapa bilang keterbetasan membunuh kreativitas? Dalam kasus Soekarno di atas, keterbatasan malah memantik api kreativitas. Kita kadang-kadang membuat keterbatasan sebagai alasan untuk tidak menghasilkan sesuatu. Yang paling sering justru meratapi keterbatasan itu, dan celakanya, kita lantas mencari kambing hitam.
Bercermin dari pengalaman Soekarno di era revolusi tadi, kita banyak belajar tentang bagaimana caranya memanfaatkan apa yang ada untuk menghasilkan karya. Karena itu daripada meratapi nasib, adalah jauh lebih baik kalau kita menggunakan keterbatasan kita sebagai energi yang besar untuk berkarya nyata. [JP]
Tahukah Anda bahwa dalam tahun 2008 ini saja, diselenggarakan 159 pilkada di 13 provinsi, 112 kabupaten dan 35 kota di Indonesia? Itu artinya jika dirata-rata, dalam setahun ini setiap tiga hari, orang Indonesia mengikuti pilkada yang digelar di berbagai daerah. Besarnya proses pesta domokrasi ini tentu berujung pada membengkaknya biaya penyelenggaraannya. Wakil Presiden Jusuf K
alla bahkan menyatakan bahwa pemilu di Indonesia adalah pemilu termahal di dunia. Untuk ongkos pilkada saja, uang yang ‘dibuang’ telah mencapai angka Rp 45 trilyun. Wuiihhh…. Belum lagi nanti akan disambung dengan Pemilu 2009. Dana itu biasanya paling banyak tersedot untuk kepentingan kampanye.Negeri ini memang penuh ironi. Di tengah terpuruknya kondisi perekonomian, uang dihamburkan dengan hasil yang kadang-kadang tidak jelas juntrungannya. Pemimpin yang terpilih dengan ongkos yang mahal itu, belum lagi kalau harus ditambah korban jiwa, belum tentu sesuai harapan pemilihnya. Ongkos yang mahal ternyata tidak selalu menjamin kualitas yang didapatkan.
Dalam kondisi serba sulit seperti ini, Tuhan memberi kita hikmat agar tidak mengunakan uang dengan sembarangan. Penggunaan uang untuk mendapatkan sesuatu, tidak hanya berdasarkan mahalnya sebuah barang. Mungkin yang paling tepat adalah meletakkan kebutuhan pada priorotas utama. Jika memang itu dibutuhkan, dengan harga yang mahal pun akan kita usahakan. Jangan sampai terjebak pada keinginan sementara yang biasanya cenderung menjadi awal dari penyesalan kita. Di atas itu semua, jika kita prioritaskan Tuhan dan kerajaan-Nya, Dia akan memenuhi kebutuhan hidup kita. [JP]
Sunday, June 01, 2008
Thursday, May 22, 2008
Memancing di air keruh! Barangkali pameo ini tepat untuk menggambarkan sepak terjang Jendral (Purn) Wiranto belakangan ini. Wajahnya kerap menghiasi halaman media cetak dan elektronik untuk mempertanyakan komitmen kerakyatan SBY karena berencana menaikkan harga BBM.

Sudah menjadi rahasia umum kalau pendiri Hanura ini mau maju di Pilpres 2009. Sebagai warga negara, tentu dia berhak melakukannya. Jauh-jauh hari tentu ia harus mengoleksi dukungan. Tak pelak, baliho-baliho raksasa yang memajang foto mantan Pangab ini tersebar di seantero negeri. "Saya bersumpah mengabdikan sisa hidup... bla..bla..bla..." begitu komitmennya. Sampai di situ kita bisa melihat sebuah dedikasi anak bangsa.

Tetapi begitu black campaign terhadap SBY dilakukannya menjelang kenaikan harga BBM, rasanya simpati terhadap Wiranto justru memudar. Bagi saya ini blunder. Wiranto mencari simpati dengan aksi yang tidak simpatik sama sekali. Meskipun SBY (dan Kalla) mengingkari janji, membongkar aib secara terang-terangan juga bukan tindakan terpuji. Kita tidak bisa membayangkan jika ke depan bangsa ini dipimpin oleh sosok yang hanya bisa memanfaatkan kelemahan orang lain demi kepentingan pribadi.
Yang lebih 'soft' mempromosikan diri kepada khalayak mungkin Sutrisno Bachir dan Prabowo. Trisno memanfaatkan momentum seabad harkitnas untuk 'jual diri' menjelang Pilpres 2009 dengan "Hidup adalah Perbuatan"-nya. Sedang Prabowo mengusung 'pesan' dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. Tapi ya itu tadi, semuanya dalam rangka unjuk gigi untuk sesuatu yang tidak jelas juntrungannya.

Tentu Wiranto, Sutrisno dan Prabowo harus merogoh kocek untuk pasang iklan di media itu. Seandainya uang itu diberikan saja untuk Pak Min dan Mbok Yem yang sedang membutuhkannya, tidakkah itu lebih menolong? Mereka butuh beras dan tambahan biaya sekolah untuk anak mereka. Bukankah lebih elegan jika popularitas didapatkan dari sebuah aksi nyata, meskipun kecil kelihatanya, daripada popularitas karena menohok lawan politik? Apa yang kau cari????***
Thursday, May 08, 2008
(Photo by: Elton & Thato)
Dengan jarak tempuh yang relatif panjang dan melelahkan, akhirnya aku berkesempatan juga melongok Pulau Umang. Di pulau yang tak terlalu jauh dengan kawasan konservasi badak Ujung Kulon ini, suasana menjelang senja amat memesona. Memandang air laut dengan ombak yang tenang dan berujung pandang di lintasan cakrawala. Matahari yang bergegas beranjak pulang meninggalkan semburat jingganya (cieee... koq jadi penyair gini...). Tapi, jujur... suasana yang begini memang menetramkan hati. Kalau sudah begitu, benak kemudian dijejali banyak inspirasi.
Di Umang yang jauh dari kebisingan, berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkan langkah, mendapatkan porsi sesungguhnya. Tidak ada keinginan belanja, melupakan aktifitas kerja dan tak harus dibuat keki oleh ulah nakal sopir angkot. Merendam diri dalam Jacuzzi dengan semburan air yang memijat punggung. Ah... semoga ada kesempatan kedua untuk ke Umang lagi...
Friday, April 25, 2008
Akhirnya Pak Bambang mengembuskan nafas terakhir. Penyakit liver yang menggerogotinya, membuatnya kolaps, Senin (21/4) pagi. Selepas makan dua suap misoa bikinan sang isteri, ia tiba-tiba pamitan. Titip anak-anak ke isteri, demikian juga titip isteri ke anak-anak. Sehari kemudian, Bambang Erawan Sastroredjo dipanggil pulang...
Pak Bambang adalah sosok yang cukup gigih melawan penyakitnya. Yang selalu dibilangnya adalah, "Saya orang paling sehat se-Indonesia!" untuk menghadapi rasa sakitnya. Kelemahan fisik itu juga tak membuatnya kehilangan semangat beribadah. Sepanjang masih kuat, ia selalu 'memaksakan diri' pergi ke gereja. Pak Bambang juga bersemangat untuk melakukan mission trip. Kami duduk sebangku dalam perjalanan menuju Sidareja kala itu.
Selamat jalan Pak Bambang... Sampai ketemu di 'reuni besar' semua orang percaya pada pesta pernikahan Anak Domba.***
Wednesday, April 16, 2008
Masih ingat slogan iklan sebuah produk meubel, “Kalau sudah duduk lupa berdiri?” Realitas inilah yang kini tengah dihadapi gereja. Reformasi yang dipelopori Marthin Luther abad ke-XVI itu barangkali hanya pemantik awal dari gerakan pembaharuan yang akan terus berlangsung di dalam gereja selama berabad-abad.
Kita sepakat dengan Hieraclitus yang mengatakan bahwa tidak ada yang konstan di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Ya. Hanya perubahanlah satu-satunya hal yang tidak berubah di dunia ini. Dan ini adalah sebuah peringatan. Bahwa kemudian ada orang yang tidak setuju dan tidak mau berubah, itu masalah yang berbeda.
Allah yang Dinamis
Berbeda dengan konsep kepercayan paganisme (penyembah berhala), Allah dalam kekristenan adalah Pribadi yang dinamis. Ia bukan Allah yang tinggal diam sebagaimana patung atau benda sesembahan lainnya. Tuhan kita adalah Allah yang dinamis.
Karena Ia Allah yang dinamis, ia menyukai proses. Kehidupan manusia sebagai ciptaan termulia pun merupakan sebuah proses. Dibentuk di dalam kandungan, dilahirkan, menjadi kanak-kanak, remaja, pemuda dan seterusnya sampai dewasa. Allah tidak menghendaki umatNya berhenti pada satu titik dan berkata ‘cukup’ atau ‘puas’ kemudian tidak mau bertumbuh lagi.
Lihatlah bahwa Ia menuntut kita untuk, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2). Itu berarti Ia adalah Allah yang tidak menghendaki stagnasi. Kemandegan dalam penjara kemapanan bukanlah ide yang berasal dari Allah.
Gereja dan Reformasi
Tanpa bermaksud menghakimi, ada banyak gereja masa kini yang puas dengan apa yang telah dialami dan dihasilkan. Pada titik tertentu, kepuasan itu memang penting untuk mensyukuri pertolongan Tuhan. Eben Haezer. Tetapi jika kepuasan itu membuat gereja berhenti, pada gilirannya kepuasan itu justru akan menjadi mesin penghancur yang efektif bagi gereja sendiri. Kehancuran, boleh jadi, bukanlah sebuah usaha sistematis dari luar. Tetapi justru sebuah proses pembusukan yang datangnya dari dalam.
Itu sebabnya gereja perlu mengikuti pergerakan Tuhan. Apa yang menjadi kehendak dan rencanaNya bagi gereja harus terus-menerus dicari. Goal akhir menjadi seperti Kristus akan dilewati dalam babak demi babak oleh gereja. Jika bagian demi bagian itu tak diikuti, bukan mustahil gereja akan menjadi institusi yang tidak saja ketinggalan zaman, tetapi juga akan ditinggalkan pengikutnya.
Seberapa Cepat Prosesnya?
Jawaban untuk pertanyaan ini tentu relatif. Cepat atau tidaknya akan bergantung pada respon gereja itu sendiri. Semakin gereja memahami ‘kehendak Allah pada zamannya’, semakin cepat pula proses pertumbuhan ke arah kedewasaannya.
Sebagian orang mungkin menjadi tidak sabar dan menghendaki revolusi. Entahlah, apakah kerinduan ini akan terwujud atau tidak? Agaknya Tuhan memang memiliki waktu tersendiri untuk melakukannya. Kita tidak punya kuasa apa-apa untuk mengusiknya.
Yang perlu dipersiapkan gereja, --dalam pengertian ‘orang’, bukan hanya institusi— adalah sikap sedia untuk menghadapi setiap perubahan. Kesiapan itu meliputi pemahaman seutuhnya mengenai kehendak Allah. Bukan sekedar ‘latah’ mengikuti arah angin tanpa memahami latar belakang permasalahannya. Kerinduan berubah yang berasal dari sekedar ‘latah’ dan dibumbui suasana emosional belum tentu berasal dari Tuhan. Salah-salah malah akan membuktikan bahwa gereja memang tidak siap berubah.
John Stott, seorang teolog Inggris mengatakan, “Yang paling penting dalam kehidupan ini adalah mengetahui kehendak Tuhan dan berjalan dalam kehendakNya itu!” Pemahaman kita akan kehendak Tuhan sangat dipengaruhi oleh hubungan yang kita bangun denganNya. Semakin intim dengan Tuhan, semakin kita mengenal kehendakNya.
Itu sebabnya, daripada Tuhan membongkar kemapanan kita, ada baiknya kita yang lebih dulu menyelaraskan diri dengan pergerakanNya.***
Thursday, April 10, 2008
Matur nuwun Gusti, karena diberi kesempatan menjejaki tahun ke-32 dalam kehidupan saya. Masih sedikit dan belum cukup berarti apa yang saya lakukan. Kesempatan yang membentang di depan, ingin saya gunakan untuk sesuatu yang berarti bagi-Mu.
Terima kasih untuk perhatian yang diberikan. Di bawah ini, mengekor apa yang dilakukan Mr. Argo, saya sertakan wujud perhatian mereka melalui sandek yang mampir di telepon seluler saya:
"Yakob Nahuway, Rubin Adi, Ir. Niko, Gilbert, Benny Hinn dan saya, Icha Sianturi, mngucpkan HAPPY B'DAY to P'JOKO, jadilah pemenang bersama Sang Pemenang. Jb" (Icha Sianturi - 085294335XXX)
"Shalom, Yudhi mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN kpd. Bpk. JOKO P, M.Th. Mazmur 21:4-5. GBU" (Yudhi - 081322761XXX)
"Shlm n happy B'Day pa! Kirax Thn trus membri kekutn dlm melakukan sgala aktfts yg diprcykan ps Bp n sks slalu. GBU" (Tak Dikenal - 081321663XXX)
"Shalom, met pgi pak... Met "ULTAH" Tuhan Yesus M'berkati, Tq, aris'halawa" (Aris Halawa - 085222954XXX)
"no card, no gift, no parcel, just sms, represent everything... just want to say: Happy b'day Mr. Joko P. Numbers 6:24-26, From: Ribka" (Ribka - 081349068XXX)
"Shalom, hr ini usia p Joko ditambahkan 1th. Biarlah Tuhan yang menyertai segala sesuatu. Tuhan Yesus memberkati pelayanan, keluarga maupun kesehatan. Jonathan n fam." (Ko Jonathan)
"Slmt pagi n slmt Ulang Tahun p.Joko, biarlah berkat n pengurapan Tuhan terus melimpah dlm hidup kelg n pely bp.Gbu." (Pak Jusuf)
"Happy Birthday! Semoga panjang umur & sukses selalu. Biar berkat Tuhan terus limpah buat Pa Joko & keluarga. GBU" (Tak Dikenal)
(Ada banyak sms lagi yang sengaja tak saya tampilkan, terlalu banyak untuk saya tuliskan...)
Saya amati, seluruh sandek di atas adalah doa. Harapan saya, Tuhan mengabulkan setiap permintaan yang ada di dalamnya. Sekali lagi... matur nuwun untuk semuanya
Wednesday, April 09, 2008
“Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal”.
Kalimat di atas adalah pernyataan Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria. Maknanya teramat dalam. Yang dibicarakan di sini adalah soal hidup kekal, termasuk di dalamnya masalah “rahasia” yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang percaya. Rahasia besar tentang kepastian kemenangan dalam mengikut panggilan Tuhan.
Adalah si Asep, perjaka yang dua tahun lalu berlutut dan menyerahkan dirinya kepada Kristus dalam sebuah KKR. Hidupnya berubah total. Dulunya dia adalah pemuda brandalan, kini telah berubah menjadi pemuda gereja pujaan. Dulu tidur di pos ronda, sekarang tiap malam tidur di gereja. Tapi di pihak lain, di tempat kerja bossnya jadi kurang simpati. Iapun digeser dari posisinya yang strategis. Konsekuensinya, sumber-sumber finansialnya menyusut. Seperti hendak menambah runyam situasi, pacarnya yang hendak dinikahinya, mendadak memutuskan hubungan.
Ditambah lagi dengan sakitnya sang ibu di kampung yang tak kunjung sembuh. Komplit.Awalnya si Asep tegar. Tetapi hal itu hanya bertahan sebentar. Sukacitanya mulai mengering. Gairah kerja, apalagi ibadah berkurang drastis. Tak lama, Asep ditemukan tewas gantung diri di kamar kostnya. Seutas tali jemuran telah mengakhiri hidupnya.
Kembali ke ayat yang kita kutip di atas, menegaskan bahwa karunia keselamatan merupakan jawaban atas kebutuhan manusia yang paling mendasar. Anugrah Allah telah menyegarkan dahaga jiwa kita, sama seperti air yang menyegarkan kehausan jasmani. Menurut Injil Yohanes, inilah yang terjadi ketika seorang menerima Kristus sebagai Juru Selamat, menerima anugrah keselamatan. Bagaimana dengan si Asep? Apakah air hidup itu telah diterimanya? Rahasia besar menyelimuti kisah pemuda tadi. Bukan perkara mudah untuk menjawabnya.
Memang manfaat “segelas air” dengan “mata air” sangatlah berbeda. Yang pertama menekankan hal yang sementara, tetapi yang terakhir berbicara tentang sumber yang tak pernah habis. Kekuatan dan usaha manusia dapat menghasilkan kepuasan, tetapi pastilah untuk sementara. Narkoba memang menciptakan “kepuasan”. Sayangnya, ia tak melenyapkan kepedihan, hanya sekedar mengelabui. Itu sebabnya para penggunanya harus mengkonsumsinya lagi, dan lagi, dan lagi. Begitu seterusnya, semakin sering dan semakin banyak. Tiba saatnya, benda haram itu tak memberi kenikmatan lagi, tetapi menyisakan kehancuran.
Tuhan tak pernah bermaksud menjadikan aliran-aliran air hidup yang memberi kemenangan hidup bagi manusia itu untuk segelintir orang saja. Kesempatan ini diberikan kepada kita semua. Selain keselamatan, dikaruniakanNya juga kemampuan untuk hidup sebagai umatNya.
Sayangnya pengalaman sehari-hari memang tidak selalu mencerminkan kebenaran di atas. Yang kalah lebih banyak daripada yang menang. Tuhan mengingatkan bahwa air itu akan “terus-menerus” memancar. Kemenangan seharusnya menjadi pengalaman setiap kali, bukan sekali-kali. Jadi toh kalau kita maih jatuh juga dalam kekalahan, di mana letak kesalahannya?
Faktornya bisa beragam. Pertama, kita sering menganggap bahwa pencobaan yang kita alami amatlah berat dan melampaui kekuatan kita. Seakan-akan kita ditakdirkan untuk kalah. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita sudah punya perlengkapan rohani untuk menghadapi peperangan melawan iblis. Untuk setiap godaan iblis, Tuhan telah menyiapkan jurus tandingan yang dikaruniakan bagi kita.***
TERANGNYA BERSINAR DI NEGERI ORANG
”Kita tidak dipanggil untuk menjadi terang di Kecamatan! Kita dipanggil menjadi saksi sampai ke ujung bumi, ke seluruh dunia,” papar Pdt. Barnabas dalam sebuah khotbahnya. Panggilan utama orang Kristen untuk bangkit dan bersinar ini memang berulangkali ditekankannya. Tak heran kalau ia berkesempatan untuk melanglang buana ke empat benua untuk memberitakan Injil.
Kini, ia menetap di negeri Kangguru, Australia, juga dengan kerinduan yang sama: agar Injil sampai kepada semua bangsa. Hal itu didasari pada keyakinan bahwa panggilan Kristus adalah memberkati dunia secara global. Globalisasi ternyata merupakan panggilan Kristus sejak dari mulanya. Orang Kristen yang berada di luar negeri merasa yakin bahwa keberadaannya di luar tanah air haruslah menjadi berkat.

Bahkan misi Indonesia di Australia sudah menetapkan sasaran-saran yang jelas. Pertama, mereka harus memberitakan Injil kepada orang-orang Indonesia yang tinggal di Australia. Kedua, Injil harus diberitakan kepada masyarakat pendatang di Australia. Ketiga, yang paling penting dari semuanya adalah memenangkan bangsa Australia.
Meski memiliki keterbatasan fisik dalam penglihatan, Dr. Barnabas tak pernah surut untuk tetap memberitakan Injil. Ia bertekad bahwa cacat fisik bukan halangan untuk terus maju. Dengan tekadnya pula ia kemudian merintis sebuah wadah pendidikan teologi di negeri orang Aborigin itu. Maka berdirilah Indonesian Mission Institute (IMI) atas kerja sama dengan Allan Walkers College of Evangelism (Sydney) dan Sekolah tinggi Teologi Kharisma (Bandung). Melalui lembaga ini diharapkan pemimpin-pemimpin gereja Indonesia di Australia akan lebih mantap bertumbuh dan berkembang dalam penginjilan. Dan harapan menghasilkan pemimpin itu menjadi kenyataan ketika pada bulan Oktober 2002, IMI dan STT Kharisma telah berhasil mengadakan wisuda yang pertama. Ada enam mahasiswa yang mencapai gelar Master of Arts (MA) dan lima mahasiswa Diploma Teologi.
Tak mudah memimpin jemaat di luar negeri. Dr. Barnabas mencatat beberapa syarat khusus seperti mampu berbahasa Inggris, mengenal budaya setempat, kuat dalam kepemimpinan dan semangat dalam penginjilan. Hal inilah yang dilakoni dan diajarkannya kepada mahasiswanya.
Demikianlah Dr. Barnabas menghidupi panggilannya di negeri Darlene Zschech ini. Ia, paling tidak, telah mematahkan asumsi bahwa Injil adalah berita yang dibawa orang-orang Barat ke Timur. Injil adalah berita bahagia untuk semua bangsa dan bukan bagian dari budaya Barat. Terang Injil harus menjadi bagian semua bangsa. Berdasarkan pemahaman itu, sudah waktunya Injil dibawa kembali dari Timur ke Barat. (jp)
Wednesday, April 02, 2008
TERHADAP ETIKA KRISTEN
Rapture menjadi isu penting dalam pembahasan mengenai Eskatologi. Karena pentingnya, masalah ini sering diberi porsi yang lebih oleh para penafsir dan peneliti Alkitab ketika mengemukakan opininya tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan akhir zaman. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang rapture atau “pengangkatan” dari sisi etimologis (pencarian tentang makna dan arti dari sisi bahasa), tetapi lebih bertekanan kepada aspek praktis dan mencari implikasi dari istilah rapture itu sendiri. Juga tidak sedang mencari jawaban atas pertanyaan kapan peristiwa itu akan terjadi, karena masih banyak perdebatan dalam hal ini.

Sesungguhnya, apakah memang ada hubungan antara etika Kristen dengan rapture? Pertanyaan itu memang lebih sering mengemuka dan mendesak untuk dijawab. Sepintas, kedua masalah itu tidak saling berhubungan. Rapture berbicara tentang tindakan Kristus dalam sebuah titik waktu pada masa yang akan datang untuk memberikan kepada gereja-Nya hakikat dan posisi baru. Mengangkat gerejaNya untuk menjadi mempelai wanita dan kemudian berlangsung pesta perjamuan kawin Anak Domba. Sedangkan Etika Kristen bersangkut paut dengan keputusan dan tindakan orang Kristen di dalam proses hidupnya pada masa kini. Orang Kristen diperhadapkan pada keputusan-keputusan tentang benar dan salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dan semua itu terjadi pada masa kini.
Keyakinan awal yang hendak kita kembangkan di sini adalah bahwa tindakan dan perilaku orang Kristen pada masa kini akan berdampak pada kehidupannya pada masa mendatang. Tidak ada satu perilakupun yang akan terlepas dari penilaian dan penghakiman Tuhan. Tentu saja kita semua tahu bahwa perbuatan seseorang tidak akan berpengaruh terhadap keselamatannya. Maksudnya, segala perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Bukan untuk menjadi dasar penilaian apakah ia layak masuk sorga atau tidak, tetapi untuk mengukur seberapa besar mahkota yang akan diterimanya.
Pada masa kini, orang Kristen menghadapi banyak sekali pergumulan etis kontemporer. Dunia yang terus berkembang membawa kesulitan-kesulitan baru bagi kita untuk mengambil keputusan etis. Sikap terhadap aborsi (pengguguran bayi), ketaatan pada pemerintah, peperangan dan isu-isu tentang pernikahan dan perceraian, mungkin telah selesai dirumuskan, meski tidak steril dari pro dan kontra. Tetapi kesulitan yang baru muncul ketika di beberapa negara kaum gay mulai dengan lantang menyuarakan haknya. Para lesbian dan homoseks menuntut haknya untuk bisa diberkati ‘pernikahannya’ secara legal di dalam gereja. Kemudian masalah kloning yang juga masih menjadi kontroversi publik. Bagaimana gereja harus menentukan sikapnya? Sampai saat ini, belum ada sikap yang seragam di dalam gereja terhadap kasus ini. Belum lagi problem-problem kontemporer lain semacam eutanasia, isu-isu biomedis dan sikap orang Kristen terhadap pemeliharaan ekologi (lingkungan). Orang Kristen masih terus mencari rumusan sikap dan tindakan yang harus diambil menghadapi masalah-masalah baru ini.
Hubungannya dengan rapture? Kepada jemaat di Tesalonika, Paulus menegaskan bahwa hendaknya rapture disampaikan sebagai berita penghiburan bagi jemaat (1 Tes. 4:16-18). Tak terelakkan bahwa saat pengangkatan tersebut adalah saat-saat yang membahagiakan orang Kristen. Ketika gerejanya diberi tubuh baru dalam sekejap dan dilepaskan dari segala bentuk penderitaan dunia. Tubuh kemuliaan yang tidak lagi mengenal sakit penyakit, penderitaan dan air mata. Berangkat dari keyakinan ini, kita termotivasi untuk terus berjuang menghadapi segala problem etis yang terjadi. Semua yang harus terjadi pada masa kini bukanlah peristiwa-peristiwa yang tidak akan berakhir. Akan ada saat-saat di mana pergumulan etis semacam ini akan dihentikan. Keputusan-keputusan etis yang diambil orang Kristen setiap hari harus dilihat sebagai kewajiban yang tak terelakkan. Merupakan ‘salib’ yang harus dipanggul setiap hari sebagai konsekuensi hidup di dunia, meskipun kadang berat dan sulit.
Peristiwa rapture tidak hanya berhenti pada sebatas penggantian tubuh baru semata-mata, tetapi akan diikuti dengan serangkain peristiwa yang lain. Pernikahan Anak Domba dengan gereja sebagai mempelai perempuan-Nya, ‘reuni’ besar orang-orang yang ditebus-Nya dan pembagian mahkota, akan mengikuti peristiwa rapture. Kita kembali kepada keyakinan semula bahwa setiap perbuatan dan tingkah laku manusia (yang sebenarnya merupakan sebuah keputusan etis) akan dipertanggungjawabkan di hadapan takhta pengadilan Kristus. Kalau kita melihat hal ini, tentu saja kita dimotivasi untuk melakukan apa saja yang terbaik bagi Tuhan. Semangat asal-asalan dan tanpa dasar yang benar dalam mengambil sebuah keputusan etis, sudah waktunya untuk ditinggalkan. Dasar kita untuk menilai dan menyikapi sesuatu harus dikembalikan kepada kebenaran Firman Tuhan, sambil terus menantikan saat-saat membahagiakan tersebut, di mana Tuhan mengatakan, “baik sekali perbuatanmu, hai hamba-Ku yang setia!”***
Sunday, March 30, 2008
Sejak bermukim di Bandung hampir delapan tahun lalu, ini hujan es keempat yang pernah kulihat. Sepulang gereja, aku dan Fenty menyusuri Jl. Statsion Selatan, Viaduct, Braga dan tembus ke Lembong. Mendung memang sudah menggantung di langit Bandung.
Sampai di samping Grand Preanger, gerimis jatuh. Lalu disusul suara-suara seperti lemparan kerikil di atap mobil gereja yang kukemudikan. "Kayanya hujan es nih. Tuh liat butiran-butiran putih berjatuhan," kata Fenty sambil mencoba menengadah.
Sampai di Jl. Lengkong Besar hujan es berhenti diganti dengan hujan lebat yang mengguyur disertai angin. Ketakutan akan pohon tumbang lalu menghinggapi. Maklum, di sepanjang Lengkong banyak pohon besar di sisi jalan. Herannya, mobil-mobil di depanku malah melambatkan lajunya. Kecemasan menghilang begitu berbelok ke Jl. Pungkur. Tak lama kami sampai di asrama.

Baru saja turun dari mobil, hujan kembali menggila. Derasnya minta ampun dan kali ini kembali disertai tiupan angin kencang. Sejurus kemudian butiran-butiran es kembali menghujam dari langit. Kanopi asrama yang kutinggali bolong-bolong dihajar es batu. Apalagi yang di lantai dua karena plastiknya lebih tipis.
Jeremy tampak ketakutan. Erat-erat ia peluk mamanya. Anak sekecil itu sudah punya ekspresi ketakutan juga rupanya. Kucoba kutenangkan dan tampaknya berhasil. Listrik sementara aku padamkan, takut terjadi konsleting.
Ehmmm... manusia itu kecil! Kalau sudah berhadapan dengan alam, ia tak mampu berbuat banyak. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Sang Pencipta alam...
Wednesday, March 12, 2008
Kesan pertama tentang Leo... Ah, suer... aku lupa. Hanya sepeda onthel, tas punggung dan topi Om Pasikom yang membekas. Selebihnya gelap, sama seperti warna kulit Nyong Ambon yang fasih berbahasa jawa itu. Pertemananku dengan Leo menjadi lebih intens ketika musim demo tiba. Kami sering mondar-mandir Bundaran UGM dan Gejayan yang waktu itu menjadi pusat demonstrasi mahasiswa Jogja.Monday, March 10, 2008
Ingat Takeshi Castle? Games asal Jepang ini mengajarkan unsur-unsur positif dalam kehidupan sesungguhnya. Untuk mendapatkan hadiah, setiap pesertanya harus melewati serangkaian rintangan. Terdapat banyak jebakan yang muncul di setiap sesi perlombaan. Semakin dekat kepada hadiah, semakin berat tantangan yang harus dihadapi. Jika peserta tak berhati-hati, teledor dan asal-asalan bermain, bisa dipastikan bahwa hadiah tak akan mereka bawa pulang. Apalagi bagi yang menyerah di tengah jalan.
Dalam dunia nyata, Tuhan acap ‘menyimpan’ berkat-Nya di balik pergumulan-pergumulan hidup. Maksud dari semuanya adalah agar kita sebagai orang percaya tidak meremehkan pemberian itu. Sesuatu yang kita dapatkan secara gampang, biasanya cenderung tidak kita hargai. Kalau Tuhan mengijinkan pergumulan-pergumulan hidup mendahului berkat-Nya, maksudnya adalah agar kita menghargai berkat Tuhan, bukan sebaliknya, menyepelekannya.

Sahabat, nilai berikutnya dari apa yang Tuhan lakukan tersebut adalah agar kita bertekun. Tuhan mau agar kita menjadi orang percaya yang tak gampang menyerah. Ketika menghadapi permasalahan lantas ‘melempar handuk putih’ tanda menyerah. Alkitab berkali-kali menegaskan bahwa kita harus menjadi orang percaya dengan daya juang dan semangat tinggi. Musuh tidak pernah mengendorkan intensitas serangan, demikian pula perjuangan kita haruslah tanpa henti.
Ketika pergumulan datang, tak sedikit orang percaya yang menyalahkan Tuhan. “Tuhan, kapan berhentinya? Koq terus-terusan begini pergumulannya? Kapan Tuhan menyatakan berkat?” protesnya. Apakah ini yang sering kita tanyakan pula? Jika ya, sabarlah untuk sementara waktu, karena pergumulan-pergumulan itu pada gilirannya akan berubah menjadi berkat bagi kita. Tetaplah bertahan, hadapi setiap pergumulan, dan raihlah berkat-Nya.*** (joko prihanto)
Hubungan kita dengan Allah memang digambarkan dengan berbagai macam analogi di dalam Alkitab. Ada hubungan Bapa-Anak, Tuan-Hamba, Guru-Murid, dan juga hubungan persahabatan. Masing-masing gambaran hubungan memiliki penekanannya masing-masing. Hubungan Bapa-Anak misalnya, memberi penjelasan tentang dalamnya relasi kita dengan Tuhan. Kita yang berdosa dan layak dimurkai, malah diangkat dan dianggap layak menjadi anak-anak-Nya. Relasi Tuan-Hamba adalah pelajaran berharga tentang pelayanan yang harus kita berika kepada Allah.

Bagaimana dengan hubungan Guru-Murid? Kebenaran mendasar yang ingin ditegaskan di sini adalah bagaimana kita sebagai murid bisa mencapai keserupaan dengan Sang Guru Agung itu. Jika demikian, menjadi murid adalah sebuah perjalanan hingga kita benar-benar sampai pada titik di mana Sang Guru menganggap kita layak ‘diwisuda’ dan menerima 'gelar’ serupa dengan Dia. Apa panggilan seorang murid sejati?
MEMIKUL KUK
Ada dua lambang penyerahan diri dalam kekristenan: salib dan kuk. Kuk melambangkan sebuah penyerahan diri terhadap ‘aturan’ atau ‘ketentuan’ yang ditetapkan. Pada kerbau atau sapi yang digunakan untuk membajak, kuk adalah beban pengatur agar mendapat hasil bajakan yang prima. Demikian juga dengan kemuridan kita di hadapan Tuhan. Kristus sendiri telah menentukan bahwa sebagai murid, kita harus mau memikul kuk-Nya. Semua itu bukan untuk memberatkan kita, tetapi untuk mengarahkan kita kepada tujuan yang tepat.
MERENDAHKAN DIRI
Bagi murid sejati, tidak ada tempat sedikitpun untuk kesombongan di relung hidupnya. Seorang murid akan menundukkan diri sepenuhnya kepada Gurunya. Segala keinginan dan kehendak ditundukkan kepada otoritas Sang guru. Kalau seorang murid memiliki kemampuan tertentu, sumbernya jelas bukan dari dirinya sendiri. Sebaliknya, hal itu adalah karena Sang Guru telah mengajarkannya.
Inilah panggilan kita sebagai murid sejati. Menjalani sebuah proses dan menjalani serangkaian disiplin agar Sang Guru berkenan kepada kita.*** (joko prihanto)
David Beckham dikenal orang di seantero jagad karena prestasinya di lapangan hijau. Ruth Sahanaya menjadi diva pop ternama karena suara emas yang dimilikinya. Siapa juga yang tak kenal Agnes Monica? Artis remaja berbakat itu berkali-kali mengukir prestasi di dunianya. Mereka adalah sedikit di antara banyak orang-orang terkenal yang menunjukkan prestasi dalam hidupnya.
Tetapi, adilkah membandingkan diri kita dengan mereka? Apakah prestasi harus selalu berkaitan dengan lomba-lomba, penghargaan dan mungkin juga polling sms? Mereka berkesempatan mengikuti kompetisi ini dan itu sehingga peluang untuk men
jadi yang terbaik terbuka lebar. Sedangkan kita jarang sekali, atau bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Habiskah kesempatan kita untuk menjadi pribadi berprestasi?Jangan minder dulu. Prestasi bukanlah sesuatu yang hanya bisa ditorehkan dan didapat dalam dunia olah raga dan selebritas. Jika saja kita memperluas kaca mata pandang yang kita pakai, kemungkinan berprestasi dalam bidang apapun terbuka lebar.
Mungkin Anda seorang karyawan dengan gaji pas-pasan. Atau mungkin Anda seorang ibu rumah tangga. Bahkan jika Anda sudah lanjut usiapun, prestasi adalah sesuatu yang bisa Anda tunjukkan. Kunci untuk mendapatkan semua itu adalah kesukaan dan ketekunan. Kesukaan seseorang kepada sesuatu, entah itu hoby, pekerjaan atau apapun, akan membawanya kepada ketekunan. Ruth Sahanaya suka bernyanyi dan karena kesukaannya itu, ia menekuni dunia tarik suara. Beckham suka si kulir bundar, lalu ia tekun berlatih dan menjadi pemain top dunia.
Awalilah semuanya dengan mencintai apa yang Anda kerjakan, lalu tekunilah apa yang Anda kerjakan itu dan pada akhirnya raihlah prestasi yang Anda dambakan.*** (joko prihanto)
Wednesday, March 05, 2008
“Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.” (Roma 16:12)
Tidak terlalu mudah mengubah wajah sebuah kabupaten. Tetapi Untung Wiyono, Bupati Sragen, telah melakukan lompatan kecil untuk mengubah tanah kelahirannya itu. Dengan usaha kerasnya ia membuat sebuah sistem manajemen satu pintu di kabupaten yang akhir tahun lalu sebagian wilayahnya dilanda banjir Bengawan Solo.
Untuk memangkas birokrasi yang kompleks dan rawan korupsi, Untung melayani warga Sragen dengan kebijakan kantor terpadu. Program lain yang dilakukannya adalah menciptakan sebuah ‘pemerintahan elektronik’. Tadinya di kantor kabupaten Sragen hanya ada tiga unit komputer, tetapi Untung lantas menyiapkan sumber daya manusia untuk membenahi hal ini. Kini, Sragen bahkan punya website sendiri. Untung juga menetapkan denda 100 juta atau penjara 10 tahun untuk mereka yang menangkap ikan dengan racun dan 50 juta atau kurungan 5 tahun untuk penembak burung.
Apa yang dilakukan Untung itu membuatnya menyabet penghargaan Citra Pelayanan Prima 2004 dari Presiden RI. Kabupaten Sragen pun ‘kecipratan berkah’ dengan mendapat 34 penghargaan dalam berbagai bidan dari berbagai instansi. Masyarakat Sragen khususnya, dan juga Indonesia secara umum, beruntung memiliki sosok Untung. Ia memelopori pelayanan yang menginspirasi orang lain.
Sahabat, Untung adalah cermin yang baik bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pelayanan. Dalam tanggung jawab pelayanan yang kita emban, hendaknya semangat memberikan yang terbaik sehingga menjadi berkat kita miliki. Orang lain, dan tentu saja Tuhan yang kita layani, akan merasa puas dengan apa yang kita lakukan. [JP]
“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)
Pada dekade 80-an pendengar radio di tanah air akrab dengan sandiwara bertajuk ‘Saur Sepuh’. Demam sandiwara radio itu menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang tua. Kisah sandiwara itu sendiri bertutur tentang Kerajaan Madangkara yang coba ‘dicangkokkan’ ke dalam sejarah beberapa kerajaan yang pernah ada di nusantara seperti Majapahit dan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh Brahma Kumbara sebagai rajanya.
Tokoh utama lain yang mewarnai cerita sandiwara itu adalah Mantili, yang tidak lain adik Brahma. Senjata ampuh yang dimiliki oleh Mantili adalah Pedang Setan. Musuh-musuhnya dibuat kelimpungan bukan hanya oleh karena ketajamannya, tetapi juga karena bau busuk yang keluar dari pedang itu setiap kali dihunus. Dengan pedang itu, Mantili menjadi sosok wanita yang ditakuti.
Dalam ranah kehidupan rohani, setiap orang percaya terpanggil untuk menghadapi peperangan. Peperangan rohani orang percaya, seperti yang dituliskan Paulus, adalah untuk menghadapi penguasa-penguasa di udara. Ketika memerintahkan kita masuk dalam peperangan, Tuhan menyertakan juga senjata-senjata rohani yang bisa kita pergunakan. Salah satu senjatanya adalah pedang roh: firman Allah.
Penulis Ibrani juga menegaskan bahwa firman Allah ibarat pedang yang bermata dua. Dengan firman jugalah Yesus mengalahkan pencobaan iblis. Yesus memakai firman sebagai senjata rohani. Untuk menggunakan sebuah senjata tertentu, kita harus tahu persis bagaimana caranya. Demikian pula dengan senjata rohani ini, kita harus semakin mendalami Firman, tertanan di dalamnya, sehingga kita tidak salah menggunakannya. [JP]
Wednesday, February 13, 2008
27 Juli 2002 aku mengakhiri masa lajang dengan mempersunting Fenty Inggriani. Seperti kebanyakan pasangan suami-istri yang lain, kami merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga baru kami. Hanya saja, niat itu terganjal oleh kista berdiameter 4,6cm yang bersarang di indung telur istriku. Gumpalan itu amat mengganggu terjadinya proses kehamilan. Bukan itu saja, beberapa kali Fenty mengalami pendarahan karenanya.
Beberapa dokter spesialis obstetry dan ginekologi (SpOG) yang kami sambangi, memiliki suara beragam tentang kista itu. Sebagian memvonisnya harus dioperasi, sebagian lagi menyatakan tidak perlu dilakukan operasi. Kebingungan lantas menggelayuti kami. Penyerahan kepada Tuhanlah yang akhirnya membuat hati kami tenang.
Dalam penyerahan itu, Tuhan menyatakan anugerah-Nya. Ketika suatu saat kami mengunjungi dokter, pemeriksaan USG menunjukkan bahwa kista itu sudah lenyap. Kami bersyukur Tuhan menjawab doa kami. Secercah harapan muncul dan akhirnya Fenty hamil dalam tahun keempat pernikahan kami.
MUNCUL MASALAH BARU
Minggu demi minggu dan bulan demi bulan kehamilan, kami lewati dengan sukacita. Sebentar lagi harapan menimang seorang bayi akan menjadi kenyataan. Bulan Desember 2006, dalam bulan keenam kehamilan Fenty, masalah baru muncul. Sesaat setelah mandi, Fenty mengalami pendaharan hebat. Waktu itu ia ada di rumah sendirian. Aku segera pulang dan melarikannya ke rumah sakit. Menurut dokter, letak plasenta yang ada di bawah rahimlah yang menyebabkan pendarahan itu. Sejak itu Fenty harus bedrest. Ia juga disarankan untuk banyak makan es krim oleh suster agar berat badan bayi bertambah, berjaga-jaga bila harus terjadi proses persalinan lebih awal. Kekuatiran lantas datang. Alih-alih menikmati Natal, bulan itu harus kami lewati dengan rasa was-was.
Tidak banyak yang bisa dilakukan Fenty pada masa bedrest itu. Ia hanya turun dari tempat tidur untuk keperluan ke kamar mandi atau makan. Suatu kali Fenty keluar dari kamar mandi dan mengalami pecah ketuban. Ia segera menghubungi dokter untuk meminta saran tentang tindakan apa yang harus diambil. Dokter mendorong untuk langsung ke rumah sakit. Karena air
LAHIR PREMATUR
Kondisi itu tak bertahan lama. Karena air ketuban yang tak bisa dihentikan, dokter meminta persetujuan kepada kami untuk mendorong terjadinya persalinan melalui proses induksi. “Silakan dokter melakukan apapun yang terbaik buat anak kami sebisa yang dokter lakukan. Kami akan mengambil bagian kami dengan berserah kepada Tuhan,” jawabku diikuti anggukan dokter tanda setuju. Setelah diperiksa, ternyata memang telah terjadi pembukaan setelah proses induksi itu. “Saya usahakan lahir normal, tetapi jika karena induksi ini detak jantung bayi jadi tidak normal, tidak ada pilihan lain kecuali bedah caesar,” papar dokter. Aku mengangguk, meski dalam hati terbersit keraguan. “Harus bayar dengan apa kalau harus operasi? Aku tidak punya persiapan uang yang cukup,” gumamku dalam hati. Tetapi, sekali lagi, penyerahan kepada Allah memberi kekuatan khusus kepadaku.
Setelah melewati proses beberapa jam, akhirnya jabang bayi terlahir normal meski prematur dalam usia 7,5 bulan. Bayi seberat 1,4 kg itu kami beri nama Jeremy Graciano. Karena beratnya di bawah normal, ia harus dihangatkan di inkubator. Selama sebulan ia harus menghuni ‘aquarium’ itu dengan kabel-kabel dan selang di tubuhnya. Kekuatiran akan biaya rumah sakit mulai membayang. Angkanya hampir menembus 40 juta. Perasaan saya jadi campur aduk. Melihat Fenty yang terus menangis karena tak bisa menggendong Jery, bayi yang baru dilahirkannya. Melihat Jery di dalam inkubator yang membuat trenyuh. Membayangkan bagaimana dan dengan apa saya harus melunasi biaya rumah sakit. Dalam berbagai kesempatan saya menyendiri dan menyerahkan pergumulan berat ini kepada Tuhan.
SEMPAT DINYATAKAN MENINGGAL
Secara ajaib Tuhan mencukupkan kebutuhan dana yang kami perlukan untuk melunasi biaya rumah sakit. Dengan bantuan berbagai pihak, akhirnya kami bisa membawa pulang Jeremy sesudah sebulan dirawat. Tetapi masalah baru muncul ketika jam memberikan susu bagi Jeremy tiba. Beberapa menit sesudah mendapat susu melalui selang yang terhubung dengan lambungnya, ia muntah. Sebagian susu keluar melalui mulut dan hidungnya, sebagian lagi tertelan kembali. Rupanya ada juga susu yang mengaspirasi paru-parunya. Cairan itu membuatnya megap-megap dan kesulitan bernafas. Sekujur tubuhnya lantas membiru. Kepanikan kami rasakan di tengah malam buta itu. Akhirnya, belum genap sehari di rumah, Jeremy kami larikan kembali ke rumah sakit.
Dokter dan perwat segera menanganinya di UGD. Selain dokter jaga, ada juga dokter anak yang menangani Jeremy. Setelah difoto rontgen, tampak jelas paru-parunya dipenuhi bercak-bercak cairan. Dokter memutuskan untuk merawatnya kembali di rumah sakit. Setelah administrasi dibereskan dan pertolongan pertama diberikan, Jeremy segera dibawa ke ruang rawat. Sesaat menjelang masuk lift, tubuhnya kembali membiru. Akhirnya ia harus kembali ditolong di ruang UGD. Bantuan oksigen diberikan, tetapi tidak ada respon. “Maaf, tidak tertolong lagi,” kata dokter sambil melepas stetoskop dari kupingnya. Seperti adegan sebuah sinetron, peristiwa itu sangat membuatku shock. Aku tidak siap menerima kenyataan itu. Mertua, Bapak dan Fenty menangis. Aku masih bengong seperti kehilangan pegangan.
MUJIZAT DINYATAKAN
Aku mencoba menguasai diri. Dalam kondisi lemah, aku berseru lirih, “Tuhan tolong! Tuhan tolong! Nyatakan kuasaMu…!” Selang beberapa saat Bapak keluar dari ruang UGD itu lalu memegang pundakku. Satu tangannya terkepal sambil berkata, “Thole nangis… dia hidup lagi… haleluya!” Ada luapan sukacita karena pertolongan Allah yang ajaib itu. Jeremy hidup lagi setelah dinyatakan tak tertolong.
Jeremy kecil telah menjadi berkat tersendiri bagi keluarga kami. Ia telah mengajar kami tentang arti bergantung kepada Allah dan hidup di dalam iman kepadaNya. Kini, ia tumbuh sehat dan ‘sedang lucu-lucunya’ sebagai seorang anak. Terima kasih telah menjadi ‘dosen’ dalam sekolah kehidupanku.*** (dimuat di BAHANA edisi Februari 2008, dapat diakses di www.bahana-magazine.com)
Monday, January 28, 2008
SELAMAT JALAN PAK HARTO(Emang mau jalan ke mana Pak?)
Matur nuwun, panjenengan sudah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini. Kami semua menghargai apa saja yang sudah panjenengan torehkan untuk kemajuan republik. Kebanyakan wong cilik memang merindukan pemimpin bangsa seperti panjenengan. Menurut mereka, waktu panjenengan berkuasa, republik dalam kondisi gemah ripah lohjinawi. Mereka tidak perlu antri minyak dan beras, bahkan panjenengan membawa republik berswasembada pangan. Singkatnya, nama panjenengan mengharum di seantero negeri.
Sayang ya, anak-anak dan kroni-kroni panjenengan malah membuat apa yang panjenengan hasilkan selama ini dijadikan bancakan sama mereka. Panjenengan terlalu memberi kemudahan dan fasilitas bagi mereka. Jadilah mereka pemonopoli yang dapat proyek tanpa tender. Hampir semua bidang yang berpengaruh terhadap hitam-putihnya negeri ini dicaplok oleh nafsu mereka yang rakus. (panganen kabeh negarane... hehehe...)
Sekarang setelah panjenengan mangkat, mungkinkah anak-anak dan para penjilat itu tadi jadi keder dengan jerat hukum? Kami sendiri tidak tahu. Seberapa banyak duit yang mereka punya untuk menyuap aparat hukum yang menurut kami tak kalah rakusnya, masih akan menjadi episode lanjutan dalam perjalanan republik ke kedewasaan. Kami hanya bisa menanti.
Pak Harto, sekali lagi selamat jalan. Panjenengan akan menghadapi sebuah pengadilan yang kata teman kami, pengadilan yang tidak mencla-mencle....***
Thursday, December 20, 2007
Tiga belas tahun lalu, Pracimantoro adalah wilayah kering susah air. Mungkin kini masih sama. Tanah putih berpadas yang licin saat diguyur hujan, tapi penuh dengan daun-daun jati yang meranggas kala kemarau tiba. Orang-orangnya yang ramah bertutur dengan bahasa Jawa yang sedialek dengan Gunung Kidul.
Mengabdikan diri bagi Injil di bumi Pracimantoro, mencatatkan kisah-kisah menawan. Atas dawuh Pak John Eddy (gembala kami), saya dan Pak Saiman ketiban sampur untuk menyiapkan acara Natal. Biasanya Natal dirayakan di gereja pusat, lalu juga di pos-pos PI di Mudal, Lebak dan Eromoko. Ke Mudal dan Eromoko, sarana transportasi relatif mudah didapat. Tapi ke Lebak, saya dan Pak Saiman lebih sering berjalan kaki menyusuri ladang-ladang berpadas. Jadilah ular, belalang dan tikus ladang yang kami jumpai. Kalaupun ada tumpangan, biasanya truk warga sepulang mengangkut sapi.
Saya bikin dekorasi sederhana dan seadanya. Selembar background kain dengan tema yang terpajang, lalu pohon terang dari pucuk cemara yang dihiasi kapas dan kertas emas. Waktu acara berlangsung, tetangga dan aparat desa diundang. Pak Lurah memberi kata sambutan. Kala itu Pemilu 1997 menjelang dan Pak Lurah menggunakannya sebagai kesempatan 'curi start' kampanye. Dia bilang, "Saya mendukung orang Kristen, karena orang Kristen mendukung pemerintah. Buktinya, setiap Natal selalu ada pohon terang yang menyerupai beringin." Tepuk tangan membahana. Tapi Pak Lurah kebangetan ngawurnya. Apa hubungan antara cemara dan beringin? Yang satu 'lancip' menjulang, satunya lagi kan 'kribo' mirip rambut Ahmad Albar? Ah, namanya juga kampanye, pasti semua dihubung-hubungkan. Jangan-jangan tidak menyikat gigi juga dianjurkan, karena gigi kuning sama dengan warna kebanggaan Golkar... Aya-aya wae...
Hidangan khas seusai acara adalah nasi dengan oseng tempe dan secuil ayam goreng yang dibungkus daun jati. Sensasi gurihnya tidak kalah dengan ayam goreng Ny. Suharti. Serius. Sesudahnya menyeruput teh manis hangat yang menambah 'mak nyusss..' Pracimantoro, suatu kali aku kan datang lagi...
Tuesday, December 18, 2007
Ketika musim Natal tiba, apa yang paling menyita waktu Anda? Membongkar kembali pohon terang di dalam dus yang tersimpan di sudut gudang? Mengeluarkan kaset-kaset atau CD lagu-lagu Natal dari tempatnya dan memutarnya lagi? Memasang perhiasan-perhiasan berbentuk kaos kaki, bulatan daun atau pernak-pernik bernuansa merah-hijau? Atau apa?

Suatu ketika, Seniman Jadug Ferianto sempat melontarkan uneg-unegnya mengenai cara orang merayakan Natal di era modern ini. "Telah terjadi pengkhianatan terhadap pesan kesederhanaan yang ditinggalkan Natal yang pertama," ujarnya bermaksud mengoreksi perayaan Natal yang kental dengan hura-hura. Apa yang dinyatakan adik Butet Kartaredjasa itu ada benarnya. Sekarang Natal memang telah bersentuhan dengan modernitas dengan segala konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Ia telah menjadi ladang subur bagi konsumerisme dan menjadi bancakan bagi kapitalisme yang rakus. Natal adalah komoditi tahunan untuk mendatangkan keuntungan yang sayang jika dilewatkan. Apa boleh buat...
Natal pada awalnya adalah sebuah berita sederhana yang agung. Sederhana karena apa yang disampaikan malaikat kepada Maria tidak kompleks seperti perkataan filsuf yang mbulet. Agung karena isi berita itu merupakan proklamasi tentang Yesus yang akan menjadi Raja atas umat-Nya. Berita itu menyatakan tentang Allah yang, meminjam istilah Katon Bagaskara, sudi turun ke bumi (Deus Adventus) dan juga Allah yang mau menyatakan-menyingkapkan diri-Nya (Deus Revelatus) kepada manusia. Di hiruk-pikuk perayaan Natal tahun ini, pesan itu jangan sampai bergeser... SELAMAT NATAL!
Monday, December 17, 2007
Raden Ngabei Pawiro Wikarto & Ny.
