Sunday, March 30, 2008

HUJAN ES

Sejak bermukim di Bandung hampir delapan tahun lalu, ini hujan es keempat yang pernah kulihat. Sepulang gereja, aku dan Fenty menyusuri Jl. Statsion Selatan, Viaduct, Braga dan tembus ke Lembong. Mendung memang sudah menggantung di langit Bandung.

Sampai di samping Grand Preanger, gerimis jatuh. Lalu disusul suara-suara seperti lemparan kerikil di atap mobil gereja yang kukemudikan. "Kayanya hujan es nih. Tuh liat butiran-butiran putih berjatuhan," kata Fenty sambil mencoba menengadah.

Sampai di Jl. Lengkong Besar hujan es berhenti diganti dengan hujan lebat yang mengguyur disertai angin. Ketakutan akan pohon tumbang lalu menghinggapi. Maklum, di sepanjang Lengkong banyak pohon besar di sisi jalan. Herannya, mobil-mobil di depanku malah melambatkan lajunya. Kecemasan menghilang begitu berbelok ke Jl. Pungkur. Tak lama kami sampai di asrama.


Baru saja turun dari mobil, hujan kembali menggila. Derasnya minta ampun dan kali ini kembali disertai tiupan angin kencang. Sejurus kemudian butiran-butiran es kembali menghujam dari langit. Kanopi asrama yang kutinggali bolong-bolong dihajar es batu. Apalagi yang di lantai dua karena plastiknya lebih tipis.

Jeremy tampak ketakutan. Erat-erat ia peluk mamanya. Anak sekecil itu sudah punya ekspresi ketakutan juga rupanya. Kucoba kutenangkan dan tampaknya berhasil. Listrik sementara aku padamkan, takut terjadi konsleting.

Ehmmm... manusia itu kecil! Kalau sudah berhadapan dengan alam, ia tak mampu berbuat banyak. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Sang Pencipta alam...

Wednesday, March 12, 2008

BUNG LEO

Pada medio 1995 aku pertama kali bertemu dengan Leonardo Pattipeilohy. Waktu itu pada acara P3K Awam yang diselenggarakan kampus di Kaliurang. Kebetulan aku jadi salah satu panitia dan Leo adalah salah seorang pesertanya. Beberapa bulan kemudian Leo 'nyantrik' sekampus denganku. Jadilah dia adik tingkatku.

Kesan pertama tentang Leo... Ah, suer... aku lupa. Hanya sepeda onthel, tas punggung dan topi Om Pasikom yang membekas. Selebihnya gelap, sama seperti warna kulit Nyong Ambon yang fasih berbahasa jawa itu. Pertemananku dengan Leo menjadi lebih intens ketika musim demo tiba. Kami sering mondar-mandir Bundaran UGM dan Gejayan yang waktu itu menjadi pusat demonstrasi mahasiswa Jogja.

Kini Leo bermukim di negeri seribu pura dan mengabdikan diri bagi Injil di sana. Sampai hari ini, kebiasaan nyentriknya belum hilang. Salah satu hal yang selalu dilakukannya adalah membawakanku oleh-oleh yang lain dari biasanya. Sebuah mug Bali berbentuk ...tiitttt... (sensor), lalu kacang Bali, kopi dan pasta gigi dari Korea.

Leo, terima kasih untuk waktu yang telah kita lalui bersama...

Monday, March 10, 2008

BERKAT DI BALIK PERGUMULAN

Ingat Takeshi Castle? Games asal Jepang ini mengajarkan unsur-unsur positif dalam kehidupan sesungguhnya. Untuk mendapatkan hadiah, setiap pesertanya harus melewati serangkaian rintangan. Terdapat banyak jebakan yang muncul di setiap sesi perlombaan. Semakin dekat kepada hadiah, semakin berat tantangan yang harus dihadapi. Jika peserta tak berhati-hati, teledor dan asal-asalan bermain, bisa dipastikan bahwa hadiah tak akan mereka bawa pulang. Apalagi bagi yang menyerah di tengah jalan.

Dalam dunia nyata, Tuhan acap ‘menyimpan’ berkat-Nya di balik pergumulan-pergumulan hidup. Maksud dari semuanya adalah agar kita sebagai orang percaya tidak meremehkan pemberian itu. Sesuatu yang kita dapatkan secara gampang, biasanya cenderung tidak kita hargai. Kalau Tuhan mengijinkan pergumulan-pergumulan hidup mendahului berkat-Nya, maksudnya adalah agar kita menghargai berkat Tuhan, bukan sebaliknya, menyepelekannya.

Sahabat, nilai berikutnya dari apa yang Tuhan lakukan tersebut adalah agar kita bertekun. Tuhan mau agar kita menjadi orang percaya yang tak gampang menyerah. Ketika menghadapi permasalahan lantas ‘melempar handuk putih’ tanda menyerah. Alkitab berkali-kali menegaskan bahwa kita harus menjadi orang percaya dengan daya juang dan semangat tinggi. Musuh tidak pernah mengendorkan intensitas serangan, demikian pula perjuangan kita haruslah tanpa henti.

Ketika pergumulan datang, tak sedikit orang percaya yang menyalahkan Tuhan. “Tuhan, kapan berhentinya? Koq terus-terusan begini pergumulannya? Kapan Tuhan menyatakan berkat?” protesnya. Apakah ini yang sering kita tanyakan pula? Jika ya, sabarlah untuk sementara waktu, karena pergumulan-pergumulan itu pada gilirannya akan berubah menjadi berkat bagi kita. Tetaplah bertahan, hadapi setiap pergumulan, dan raihlah berkat-Nya.*** (joko prihanto)
MURID SEJATI

Hubungan kita dengan Allah memang digambarkan dengan berbagai macam analogi di dalam Alkitab. Ada hubungan Bapa-Anak, Tuan-Hamba, Guru-Murid, dan juga hubungan persahabatan. Masing-masing gambaran hubungan memiliki penekanannya masing-masing. Hubungan Bapa-Anak misalnya, memberi penjelasan tentang dalamnya relasi kita dengan Tuhan. Kita yang berdosa dan layak dimurkai, malah diangkat dan dianggap layak menjadi anak-anak-Nya. Relasi Tuan-Hamba adalah pelajaran berharga tentang pelayanan yang harus kita berika kepada Allah.

Bagaimana dengan hubungan Guru-Murid? Kebenaran mendasar yang ingin ditegaskan di sini adalah bagaimana kita sebagai murid bisa mencapai keserupaan dengan Sang Guru Agung itu. Jika demikian, menjadi murid adalah sebuah perjalanan hingga kita benar-benar sampai pada titik di mana Sang Guru menganggap kita layak ‘diwisuda’ dan menerima 'gelar’ serupa dengan Dia. Apa panggilan seorang murid sejati?

MEMIKUL KUK
Ada dua lambang penyerahan diri dalam kekristenan: salib dan kuk. Kuk melambangkan sebuah penyerahan diri terhadap ‘aturan’ atau ‘ketentuan’ yang ditetapkan. Pada kerbau atau sapi yang digunakan untuk membajak, kuk adalah beban pengatur agar mendapat hasil bajakan yang prima. Demikian juga dengan kemuridan kita di hadapan Tuhan. Kristus sendiri telah menentukan bahwa sebagai murid, kita harus mau memikul kuk-Nya. Semua itu bukan untuk memberatkan kita, tetapi untuk mengarahkan kita kepada tujuan yang tepat.

MERENDAHKAN DIRI
Bagi murid sejati, tidak ada tempat sedikitpun untuk kesombongan di relung hidupnya. Seorang murid akan menundukkan diri sepenuhnya kepada Gurunya. Segala keinginan dan kehendak ditundukkan kepada otoritas Sang guru. Kalau seorang murid memiliki kemampuan tertentu, sumbernya jelas bukan dari dirinya sendiri. Sebaliknya, hal itu adalah karena Sang Guru telah mengajarkannya.

Inilah panggilan kita sebagai murid sejati. Menjalani sebuah proses dan menjalani serangkaian disiplin agar Sang Guru berkenan kepada kita.*** (joko prihanto)
MENJADI PRIBADI BERPRESTASI

David Beckham dikenal orang di seantero jagad karena prestasinya di lapangan hijau. Ruth Sahanaya menjadi diva pop ternama karena suara emas yang dimilikinya. Siapa juga yang tak kenal Agnes Monica? Artis remaja berbakat itu berkali-kali mengukir prestasi di dunianya. Mereka adalah sedikit di antara banyak orang-orang terkenal yang menunjukkan prestasi dalam hidupnya.

Tetapi, adilkah membandingkan diri kita dengan mereka? Apakah prestasi harus selalu berkaitan dengan lomba-lomba, penghargaan dan mungkin juga polling sms? Mereka berkesempatan mengikuti kompetisi ini dan itu sehingga peluang untuk menjadi yang terbaik terbuka lebar. Sedangkan kita jarang sekali, atau bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Habiskah kesempatan kita untuk menjadi pribadi berprestasi?

Jangan minder dulu. Prestasi bukanlah sesuatu yang hanya bisa ditorehkan dan didapat dalam dunia olah raga dan selebritas. Jika saja kita memperluas kaca mata pandang yang kita pakai, kemungkinan berprestasi dalam bidang apapun terbuka lebar.

Mungkin Anda seorang karyawan dengan gaji pas-pasan. Atau mungkin Anda seorang ibu rumah tangga. Bahkan jika Anda sudah lanjut usiapun, prestasi adalah sesuatu yang bisa Anda tunjukkan. Kunci untuk mendapatkan semua itu adalah kesukaan dan ketekunan. Kesukaan seseorang kepada sesuatu, entah itu hoby, pekerjaan atau apapun, akan membawanya kepada ketekunan. Ruth Sahanaya suka bernyanyi dan karena kesukaannya itu, ia menekuni dunia tarik suara. Beckham suka si kulir bundar, lalu ia tekun berlatih dan menjadi pemain top dunia.

Awalilah semuanya dengan mencintai apa yang Anda kerjakan, lalu tekunilah apa yang Anda kerjakan itu dan pada akhirnya raihlah prestasi yang Anda dambakan.*** (joko prihanto)

Wednesday, March 05, 2008

UNTUNG WIYONO

“Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.” (Roma 16:12)

Tidak terlalu mudah mengubah wajah sebuah kabupaten. Tetapi Untung Wiyono, Bupati Sragen, telah melakukan lompatan kecil untuk mengubah tanah kelahirannya itu. Dengan usaha kerasnya ia membuat sebuah sistem manajemen satu pintu di kabupaten yang akhir tahun lalu sebagian wilayahnya dilanda banjir Bengawan Solo.

Untuk memangkas birokrasi yang kompleks dan rawan korupsi, Untung melayani warga Sragen dengan kebijakan kantor terpadu. Program lain yang dilakukannya adalah menciptakan sebuah ‘pemerintahan elektronik’. Tadinya di kantor kabupaten Sragen hanya ada tiga unit komputer, tetapi Untung lantas menyiapkan sumber daya manusia untuk membenahi hal ini. Kini, Sragen bahkan punya website sendiri. Untung juga menetapkan denda 100 juta atau penjara 10 tahun untuk mereka yang menangkap ikan dengan racun dan 50 juta atau kurungan 5 tahun untuk penembak burung.

Apa yang dilakukan Untung itu membuatnya menyabet penghargaan Citra Pelayanan Prima 2004 dari Presiden RI. Kabupaten Sragen pun ‘kecipratan berkah’ dengan mendapat 34 penghargaan dalam berbagai bidan dari berbagai instansi. Masyarakat Sragen khususnya, dan juga Indonesia secara umum, beruntung memiliki sosok Untung. Ia memelopori pelayanan yang menginspirasi orang lain.

Sahabat, Untung adalah cermin yang baik bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pelayanan. Dalam tanggung jawab pelayanan yang kita emban, hendaknya semangat memberikan yang terbaik sehingga menjadi berkat kita miliki. Orang lain, dan tentu saja Tuhan yang kita layani, akan merasa puas dengan apa yang kita lakukan. [JP]
PEDANG BERMATA DUA

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Pada dekade 80-an pendengar radio di tanah air akrab dengan sandiwara bertajuk ‘Saur Sepuh’. Demam sandiwara radio itu menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang tua. Kisah sandiwara itu sendiri bertutur tentang Kerajaan Madangkara yang coba ‘dicangkokkan’ ke dalam sejarah beberapa kerajaan yang pernah ada di nusantara seperti Majapahit dan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh Brahma Kumbara sebagai rajanya.
Tokoh utama lain yang mewarnai cerita sandiwara itu adalah Mantili, yang tidak lain adik Brahma. Senjata ampuh yang dimiliki oleh Mantili adalah Pedang Setan. Musuh-musuhnya dibuat kelimpungan bukan hanya oleh karena ketajamannya, tetapi juga karena bau busuk yang keluar dari pedang itu setiap kali dihunus. Dengan pedang itu, Mantili menjadi sosok wanita yang ditakuti.
Dalam ranah kehidupan rohani, setiap orang percaya terpanggil untuk menghadapi peperangan. Peperangan rohani orang percaya, seperti yang dituliskan Paulus, adalah untuk menghadapi penguasa-penguasa di udara. Ketika memerintahkan kita masuk dalam peperangan, Tuhan menyertakan juga senjata-senjata rohani yang bisa kita pergunakan. Salah satu senjatanya adalah pedang roh: firman Allah.
Penulis Ibrani juga menegaskan bahwa firman Allah ibarat pedang yang bermata dua. Dengan firman jugalah Yesus mengalahkan pencobaan iblis. Yesus memakai firman sebagai senjata rohani. Untuk menggunakan sebuah senjata tertentu, kita harus tahu persis bagaimana caranya. Demikian pula dengan senjata rohani ini, kita harus semakin mendalami Firman, tertanan di dalamnya, sehingga kita tidak salah menggunakannya. [JP]

Wednesday, February 13, 2008

JEREMY, ‘DOSEN’ DALAM SEKOLAH KEHIDUPANKU

27 Juli 2002 aku mengakhiri masa lajang dengan mempersunting Fenty Inggriani. Seperti kebanyakan pasangan suami-istri yang lain, kami merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga baru kami. Hanya saja, niat itu terganjal oleh kista berdiameter 4,6cm yang bersarang di indung telur istriku. Gumpalan itu amat mengganggu terjadinya proses kehamilan. Bukan itu saja, beberapa kali Fenty mengalami pendarahan karenanya.

Beberapa dokter spesialis obstetry dan ginekologi (SpOG) yang kami sambangi, memiliki suara beragam tentang kista itu. Sebagian memvonisnya harus dioperasi, sebagian lagi menyatakan tidak perlu dilakukan operasi. Kebingungan lantas menggelayuti kami. Penyerahan kepada Tuhanlah yang akhirnya membuat hati kami tenang.

Dalam penyerahan itu, Tuhan menyatakan anugerah-Nya. Ketika suatu saat kami mengunjungi dokter, pemeriksaan USG menunjukkan bahwa kista itu sudah lenyap. Kami bersyukur Tuhan menjawab doa kami. Secercah harapan muncul dan akhirnya Fenty hamil dalam tahun keempat pernikahan kami.

MUNCUL MASALAH BARU
Minggu demi minggu dan bulan demi bulan kehamilan, kami lewati dengan sukacita. Sebentar lagi harapan menimang seorang bayi akan menjadi kenyataan. Bulan Desember 2006, dalam bulan keenam kehamilan Fenty, masalah baru muncul. Sesaat setelah mandi, Fenty mengalami pendaharan hebat. Waktu itu ia ada di rumah sendirian. Aku segera pulang dan melarikannya ke rumah sakit. Menurut dokter, letak plasenta yang ada di bawah rahimlah yang menyebabkan pendarahan itu. Sejak itu Fenty harus bedrest. Ia juga disarankan untuk banyak makan es krim oleh suster agar berat badan bayi bertambah, berjaga-jaga bila harus terjadi proses persalinan lebih awal. Kekuatiran lantas datang. Alih-alih menikmati Natal, bulan itu harus kami lewati dengan rasa was-was.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Fenty pada masa bedrest itu. Ia hanya turun dari tempat tidur untuk keperluan ke kamar mandi atau makan. Suatu kali Fenty keluar dari kamar mandi dan mengalami pecah ketuban. Ia segera menghubungi dokter untuk meminta saran tentang tindakan apa yang harus diambil. Dokter mendorong untuk langsung ke rumah sakit. Karena air ketuban yang terus mengalir, tidak ada pilihan lain keculai bedrest total. Fenty sama sekali tidak bisa turun dari tempat tidurnya. Semua aktifitas berlangsung di situ.

LAHIR PREMATUR
Kondisi itu tak bertahan lama. Karena air ketuban yang tak bisa dihentikan, dokter meminta persetujuan kepada kami untuk mendorong terjadinya persalinan melalui proses induksi. “Silakan dokter melakukan apapun yang terbaik buat anak kami sebisa yang dokter lakukan. Kami akan mengambil bagian kami dengan berserah kepada Tuhan,” jawabku diikuti anggukan dokter tanda setuju. Setelah diperiksa, ternyata memang telah terjadi pembukaan setelah proses induksi itu. “Saya usahakan lahir normal, tetapi jika karena induksi ini detak jantung bayi jadi tidak normal, tidak ada pilihan lain kecuali bedah caesar,” papar dokter. Aku mengangguk, meski dalam hati terbersit keraguan. “Harus bayar dengan apa kalau harus operasi? Aku tidak punya persiapan uang yang cukup,” gumamku dalam hati. Tetapi, sekali lagi, penyerahan kepada Allah memberi kekuatan khusus kepadaku.
Setelah melewati proses beberapa jam, akhirnya jabang bayi terlahir normal meski prematur dalam usia 7,5 bulan. Bayi seberat 1,4 kg itu kami beri nama Jeremy Graciano. Karena beratnya di bawah normal, ia harus dihangatkan di inkubator. Selama sebulan ia harus menghuni ‘aquarium’ itu dengan kabel-kabel dan selang di tubuhnya. Kekuatiran akan biaya rumah sakit mulai membayang. Angkanya hampir menembus 40 juta. Perasaan saya jadi campur aduk. Melihat Fenty yang terus menangis karena tak bisa menggendong Jery, bayi yang baru dilahirkannya. Melihat Jery di dalam inkubator yang membuat trenyuh. Membayangkan bagaimana dan dengan apa saya harus melunasi biaya rumah sakit. Dalam berbagai kesempatan saya menyendiri dan menyerahkan pergumulan berat ini kepada Tuhan.

SEMPAT DINYATAKAN MENINGGAL
Secara ajaib Tuhan mencukupkan kebutuhan dana yang kami perlukan untuk melunasi biaya rumah sakit. Dengan bantuan berbagai pihak, akhirnya kami bisa membawa pulang Jeremy sesudah sebulan dirawat. Tetapi masalah baru muncul ketika jam memberikan susu bagi Jeremy tiba. Beberapa menit sesudah mendapat susu melalui selang yang terhubung dengan lambungnya, ia muntah. Sebagian susu keluar melalui mulut dan hidungnya, sebagian lagi tertelan kembali. Rupanya ada juga susu yang mengaspirasi paru-parunya. Cairan itu membuatnya megap-megap dan kesulitan bernafas. Sekujur tubuhnya lantas membiru. Kepanikan kami rasakan di tengah malam buta itu. Akhirnya, belum genap sehari di rumah, Jeremy kami larikan kembali ke rumah sakit.

Dokter dan perwat segera menanganinya di UGD. Selain dokter jaga, ada juga dokter anak yang menangani Jeremy. Setelah difoto rontgen, tampak jelas paru-parunya dipenuhi bercak-bercak cairan. Dokter memutuskan untuk merawatnya kembali di rumah sakit. Setelah administrasi dibereskan dan pertolongan pertama diberikan, Jeremy segera dibawa ke ruang rawat. Sesaat menjelang masuk lift, tubuhnya kembali membiru. Akhirnya ia harus kembali ditolong di ruang UGD. Bantuan oksigen diberikan, tetapi tidak ada respon. “Maaf, tidak tertolong lagi,” kata dokter sambil melepas stetoskop dari kupingnya. Seperti adegan sebuah sinetron, peristiwa itu sangat membuatku shock. Aku tidak siap menerima kenyataan itu. Mertua, Bapak dan Fenty menangis. Aku masih bengong seperti kehilangan pegangan.

MUJIZAT DINYATAKAN
Aku mencoba menguasai diri. Dalam kondisi lemah, aku berseru lirih, “Tuhan tolong! Tuhan tolong! Nyatakan kuasaMu…!” Selang beberapa saat Bapak keluar dari ruang UGD itu lalu memegang pundakku. Satu tangannya terkepal sambil berkata, “Thole nangis… dia hidup lagi… haleluya!” Ada luapan sukacita karena pertolongan Allah yang ajaib itu. Jeremy hidup lagi setelah dinyatakan tak tertolong.

Jeremy kecil telah menjadi berkat tersendiri bagi keluarga kami. Ia telah mengajar kami tentang arti bergantung kepada Allah dan hidup di dalam iman kepadaNya. Kini, ia tumbuh sehat dan ‘sedang lucu-lucunya’ sebagai seorang anak. Terima kasih telah menjadi ‘dosen’ dalam sekolah kehidupanku.*** (dimuat di BAHANA edisi Februari 2008, dapat diakses di www.bahana-magazine.com)

Monday, January 28, 2008

SELAMAT JALAN PAK HARTO
(Emang mau jalan ke mana Pak?)

Matur nuwun, panjenengan sudah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini. Kami semua menghargai apa saja yang sudah panjenengan torehkan untuk kemajuan republik. Kebanyakan wong cilik memang merindukan pemimpin bangsa seperti panjenengan. Menurut mereka, waktu panjenengan berkuasa, republik dalam kondisi gemah ripah lohjinawi. Mereka tidak perlu antri minyak dan beras, bahkan panjenengan membawa republik berswasembada pangan. Singkatnya, nama panjenengan mengharum di seantero negeri.

Sayang ya, anak-anak dan kroni-kroni panjenengan malah membuat apa yang panjenengan hasilkan selama ini dijadikan bancakan sama mereka. Panjenengan terlalu memberi kemudahan dan fasilitas bagi mereka. Jadilah mereka pemonopoli yang dapat proyek tanpa tender. Hampir semua bidang yang berpengaruh terhadap hitam-putihnya negeri ini dicaplok oleh nafsu mereka yang rakus. (panganen kabeh negarane... hehehe...)

Sekarang setelah panjenengan mangkat, mungkinkah anak-anak dan para penjilat itu tadi jadi keder dengan jerat hukum? Kami sendiri tidak tahu. Seberapa banyak duit yang mereka punya untuk menyuap aparat hukum yang menurut kami tak kalah rakusnya, masih akan menjadi episode lanjutan dalam perjalanan republik ke kedewasaan. Kami hanya bisa menanti.

Pak Harto, sekali lagi selamat jalan. Panjenengan akan menghadapi sebuah pengadilan yang kata teman kami, pengadilan yang tidak mencla-mencle....***

Thursday, December 20, 2007

PRACIMANTORO SUATU KETIKA

Tiga belas tahun lalu, Pracimantoro adalah wilayah kering susah air. Mungkin kini masih sama. Tanah putih berpadas yang licin saat diguyur hujan, tapi penuh dengan daun-daun jati yang meranggas kala kemarau tiba. Orang-orangnya yang ramah bertutur dengan bahasa Jawa yang sedialek dengan Gunung Kidul.

Mengabdikan diri bagi Injil di bumi Pracimantoro, mencatatkan kisah-kisah menawan. Atas dawuh Pak John Eddy (gembala kami), saya dan Pak Saiman ketiban sampur untuk menyiapkan acara Natal. Biasanya Natal dirayakan di gereja pusat, lalu juga di pos-pos PI di Mudal, Lebak dan Eromoko. Ke Mudal dan Eromoko, sarana transportasi relatif mudah didapat. Tapi ke Lebak, saya dan Pak Saiman lebih sering berjalan kaki menyusuri ladang-ladang berpadas. Jadilah ular, belalang dan tikus ladang yang kami jumpai. Kalaupun ada tumpangan, biasanya truk warga sepulang mengangkut sapi.

Saya bikin dekorasi sederhana dan seadanya. Selembar background kain dengan tema yang terpajang, lalu pohon terang dari pucuk cemara yang dihiasi kapas dan kertas emas. Waktu acara berlangsung, tetangga dan aparat desa diundang. Pak Lurah memberi kata sambutan. Kala itu Pemilu 1997 menjelang dan Pak Lurah menggunakannya sebagai kesempatan 'curi start' kampanye. Dia bilang, "Saya mendukung orang Kristen, karena orang Kristen mendukung pemerintah. Buktinya, setiap Natal selalu ada pohon terang yang menyerupai beringin." Tepuk tangan membahana. Tapi Pak Lurah kebangetan ngawurnya. Apa hubungan antara cemara dan beringin? Yang satu 'lancip' menjulang, satunya lagi kan 'kribo' mirip rambut Ahmad Albar? Ah, namanya juga kampanye, pasti semua dihubung-hubungkan. Jangan-jangan tidak menyikat gigi juga dianjurkan, karena gigi kuning sama dengan warna kebanggaan Golkar... Aya-aya wae...

Hidangan khas seusai acara adalah nasi dengan oseng tempe dan secuil ayam goreng yang dibungkus daun jati. Sensasi gurihnya tidak kalah dengan ayam goreng Ny. Suharti. Serius. Sesudahnya menyeruput teh manis hangat yang menambah 'mak nyusss..' Pracimantoro, suatu kali aku kan datang lagi...

Tuesday, December 18, 2007

DEUS ADVENTUS, DEUS REVELATUS

Ketika musim Natal tiba, apa yang paling menyita waktu Anda? Membongkar kembali pohon terang di dalam dus yang tersimpan di sudut gudang? Mengeluarkan kaset-kaset atau CD lagu-lagu Natal dari tempatnya dan memutarnya lagi? Memasang perhiasan-perhiasan berbentuk kaos kaki, bulatan daun atau pernak-pernik bernuansa merah-hijau? Atau apa?

Suatu ketika, Seniman Jadug Ferianto sempat melontarkan uneg-unegnya mengenai cara orang merayakan Natal di era modern ini. "Telah terjadi pengkhianatan terhadap pesan kesederhanaan yang ditinggalkan Natal yang pertama," ujarnya bermaksud mengoreksi perayaan Natal yang kental dengan hura-hura. Apa yang dinyatakan adik Butet Kartaredjasa itu ada benarnya. Sekarang Natal memang telah bersentuhan dengan modernitas dengan segala konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Ia telah menjadi ladang subur bagi konsumerisme dan menjadi bancakan bagi kapitalisme yang rakus. Natal adalah komoditi tahunan untuk mendatangkan keuntungan yang sayang jika dilewatkan. Apa boleh buat...

Natal pada awalnya adalah sebuah berita sederhana yang agung. Sederhana karena apa yang disampaikan malaikat kepada Maria tidak kompleks seperti perkataan filsuf yang mbulet. Agung karena isi berita itu merupakan proklamasi tentang Yesus yang akan menjadi Raja atas umat-Nya. Berita itu menyatakan tentang Allah yang, meminjam istilah Katon Bagaskara, sudi turun ke bumi (Deus Adventus) dan juga Allah yang mau menyatakan-menyingkapkan diri-Nya (Deus Revelatus) kepada manusia. Di hiruk-pikuk perayaan Natal tahun ini, pesan itu jangan sampai bergeser... SELAMAT NATAL!

Monday, December 17, 2007


Raden Ngabei Pawiro Wikarto & Ny.

Perkenalkan... ini kakek dan nenek saya. Di seantero Purwomarto, Pak Iluk (demikian ia akrab disapa) dikenal sebagai seorang anggota LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Beliau memang aktif sebagai tenaga medis kala perang kemerdekaan berkecamuk. Pak Iluk kini berjualan jadah, makanan khas dari ketan yang rasanya gurih. Mungkin ia satu-satunya penjual jadah di kecamatan Sedayu.
Ia masih gemar bola seperti dulu. Semasa kecil, aku langganan diajak menyaksikan PS Argomulyo, kesebelasan kebangaannya ke beberapa tempat. Stadion Dwi Windu di Bantul, Trikoyo di Klaten, bahkan sempat ke Temanggung dan Jepara. Belum lagi ke lapangan-lapangan kelas kampung. Menikmati pertandingan sembari mengunyah kacang godog dan bakpao menjadi kenangan tersendiri.
Mbah Kakung adalah Soehartois sejati. Ia selalu berapi-api ketika membicarakan mantan presiden itu. Bapak pernah didukani ketika memutuskan berhenti sebagai kepala dusun dan beralih mendukung Megawati. "Bapakmu ki piye to? Wis penak-penak melu Golkar kok malah mundur barang," paparnya kala itu. Ia yakin bahwa presiden selain Soeharto tidak, atau setidaknya belum menyejahterakan rakyatnya seperti dulu.
Mbah, saya kangen pengin nonton bola bareng lagi. Kapan bisa ya Mbah?

Thursday, November 29, 2007

MEDAN PERANG YANG SEBENARNYA

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Filipi 3:2)

Anthony de Mello menuliskan kisah klasik tentang telur rajawali yang dierami induk ayam. Akhirnya telur itu menetas, dan jadilah anak rajawali itu anggota komunitas ayam. Karena dia berpikir bahwa dirinya ayam, ia berperilaku layaknya ayam. Meskipun jelas bahwa struktur fisiknya berbeda, tetap saja ia merasa bahwa dirinya ayam. Mengais tanah dengan cakarnya untuk mencari makan. Berciap-ciap layaknya anak-anak ayam yang lain. Demikianlah ia bertumbuh dalam ‘keyakinan diri’ sebagai ayam.

Hingga suatu kali ia bertemu dengan anak rajawali yang lain yang sedang belajar terbang. “Hai, apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya. “Oh, sebagai anak rajawali aku sedang belajar terbang. Bagaimana dengan engkau kawan, apakah engkau sudah bisa terbang?” timpalnya. “Terbang?? Aku adalah ayam. Kehidupan kami di darat, jadi tidak perlu terbang dan memang aku tidak bisa terbang” jawabnya mantap. Sontak sesamanya itu terkekeh karena jawaban itu. Ia kemudian berusaha meyakinkan anak rajawali itu tentang posisinya sebenarnya. Ia berusaha keras dan kemudian berhasil mengajaknya untuk sama-sama belajar terbang. Ia mengubah pola pikir anak rajawali yang merasa ayam itu.

Cerita itu bertutur tentang pikiran sebagai medan perang yang sebenarnya. Kemenangan atau kekalahan terletak dalam wilayah ini. Tidak jarang orang Kristen ‘bermasalah’ dalam bidang ini. Mereka sering berpikir tentang kekalahan, kegagalan dan hal-hal negatif yang lain. Karena itu kedamaian pikiran tidak pernah dialami. Mulai hari ini, mari kita taklukkan pikiran agar kita tidak kalah sebelum bertanding menghadapi banyaknya tantangan di depan kita. [JP]
BUKU BUTUT PAK RIS

Sesudah dia bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. (Hakim-hakim 3:31)

Pak Ris adalah guru Bahasa Jerman semasa saya SMA. Seperti kebanyakan guru lainnya, sosoknya sederhana dan bersahaja. Ia juga dikenal sebagai guru yang tegas dan berdisiplin tinggi. Karakter itu pulalah yang berusaha ditransferkannya ke setiap murid dalam berbagai kesempatan, di dalam maupun di luar kelas.

Saya teringat dengan kisah buku bututnya. Apa yang menarik? Setiap berdiri di depan kelas, ia tak pernah meninggalkan buku pelajaran Bahasa Jerman yang telah usang. Boleh dikata, buku itu adalah ‘jimat’nya. Warnanya sudah lusuh, covernya pun sudah tak ada lagi. Hanya halaman-halamannya yang masih utuh, itupun dengan robekan kecil di sana-sini. Pak Ris mengisahkan bahwa buku itulah yang berjasa mengantarkannya sebagai sarjana. Buku itu juga yang membuatnya fasih berbahasa Jerman dan menjadikannya pemandu wisata di waktu senggangnya. Bahkan, buku itu juga yang membawanya terbang berkali-kali untuk berkunjung ke negeri Adolf Hitler itu.

Makanya ia getol untuk menanamkan kecintaan terhadap buku kepada kami murid-muridnya. “Karena Bapak berhasil melalui buku ini, Bapak ingin agar kalian juga mengalami keberhasilan karena mencintai buku,” begitu ia berpetuah.

Keterbatasan tidak menghalangi Pak Ris untuk bisa hidup di atas rata-rata. Sebaliknya, ia malah menggunakan keterbatasan itu untuk kehidupan yang lebih berarti. Karena itu Sahabat NK, inilah waktunya berhenti memberi alasan tidak memberi yang terbaik karena berbagai keterbatasan yang kita miliki. Buktinya, dengan buku bututnya Pak Ris bisa… [JP]
HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan,… (Kejadian 50:20)

Seorang pemuda merasa sangat bahagia lantaran keinginannya akan segera terkabul. Sebentar lagi ia akan tergabung dengan ratusan pemuda yang lain untuk membela negara dengan mengikuti wajib militer. Setiap hari dia berolah fisik untuk mempersiapkannya. Dengan disiplin tinggi ia menjalani latihan-latihan ditunjang dengan perubahan pola makan. Sebutir telur dan segelas susu di pagi hari dan menu makanan sehat di siang dan malam hari.

Suatu kali ketika sedang jogging di jalan raya, ia mengalami kecelakaan. Ia menjadi korban tabrak lari dari sebuah mobil yang dikemudikan sopir ugal-ugalan. Luka-lukanya tergolong parah dan ia harus menginap di rumah sakit beberapa hari. Terdapat patah tulang yang serius di kaki kanan dan tangan kirinya. Betapa ia menyesal dengan nasibnya itu. Bahkan berkali-kali ia menyalahkan Tuhan. “Mengapa kesempatan untuk membela bangsa Kauambil dariku dengan kecelakaan ini, ya Tuhan?” serunya. Dan ia terus mengisi hari-harinya dengan ratap dan sumpah-serapah.

Hari berganti, bulan berlalu. Rekan seangkatan pemuda itu yang sudah masuk wajib militer dijadwalkan berlatih terjun payung. Naas, pesawat yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya jatuh di sebuah lembah. Awak pesawat dan seluruh penumpangnya tewas. Berita tentang keceleakaan itu segera tersebar ke seantero negeri. Dan pemuda yang kaki dan lengannya masih terbalut gip itu mendengar kabar tersebut. Lalu ia mulai mengubah sungutannya dengan ucapan syukur. Jika saja ia jadi ikut wajib militer, mungkin nasibnya akan sama dengan rekan-rekannya yang celaka itu.

Tuhan acap mengijinkan sesuatu terjadi di dalam hidup umat-Nya. Terkadang tidak semuanya bisa dipahami seketika dan memerlukan proses seperti kisah di atas. Yang diperlukan adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak mencelakai kita dan pasti merencanakan segala yang baik. [JP]

Monday, November 19, 2007

DARI HYPER SQUARE KE BANJARBARU

Ini pengalaman pertama naik 'burung besi' sesudah tiga puluh tahun lebih hidup di dunia (halah..). Pengalaman ini menjadi istimewa karena pertemuan dengan beberapa mahasiswa yang pernah kuajar di Banjarbaru, Kalsel. Ada Wiwitro yang kini jadi dosen di sebuah STT. Hebat juga kau Wit... Lalu ketemu dengan Daud Tua Pattinaya (semoga tidak salah tulis nama) yang kini jadi Pol PP di kantor walikota Banjarbaru. Awalnya sempat kuciwa karena kayaknya ga ada hubungan antara sekolah teologi dengan Pol PP. Tapi mendengarnya menjadi ketua pemuda di gereja membawa kelegaan tersendiri. Bertemu Livingstone selalu menyegarkan. Batu hidup yang kecil itu memang masih kocak, sama seperti ketika ngabodor di kelas atau asrama. Terima kasih karena menemaniku tidur beberapa malam. Living bercerita tentang mantan-mantan murid yang pernah kuajar, yang kini tersebar di ladang pelayanan belantara Borneo. Sungguh membanggakan.

Seminggu sebelumnya, ada wisudaan di Hyper Square. Duduk di meja hijau menyaksikan 40 lebih wisudawan/wati membuatku tak kuasa menahan tangis. Sebait doa kunaikkan untuk mereka yang sudah lulus. Selamat berjuang dan melayani. Setidaknya aku sudah menginvestasikan sesuatu dalam hidup kalian. See you all at the top!

Sunday, November 18, 2007

MENYERET DAN MEMIKAT

Yakobus 1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

“Ayo ikut lomba mancing!” ajak teman saya suatu ketika. Sebenarnya saya tidak hobby memancing. Tetapi karena ajakan teman saya itu bertepatan dengan hari libur, akhirnya saya berangkat menenaminya. Peristiwanya sudah lebih dari sepuluh tahun lalu. Kala itu, lomba diadakan untuk memeringati 50 tahun Indonesia merdeka. Seekor Gurame sebesar bantal bayi diperebutkan puluhan peserta. Siapa yang berhasil mendapatkannya akan dinobatkan sebagai juara.

Pemenangnya adalah seorang bapak yang menggunakan umpan yang lain daripada yang lain. Jika orang lain menggunakan cacing atau pelet, ia menggunakan donat sebagai pemikat ikan yang akan dipancingnya. Dan ia berhasil. Waktu bertanya di dalam hati mengapa akhirnya ia memenangi lomba itu, imajinasi saya mulai berjalan.

Saya membayangkan gurame itu sedang berenang kian-kemari di bawah permukaan kolam. Tiba-tiba perhatiannya tertuju kepada benda-benda yang masuk ke dalam kolam. Ia mulai mendekati salah satunya. “Ehmmm… cacing. Ah, kemarin teman yang lain mendadak hilang ketika mencaploknya,” katanya dalam hati. Ia memutuskan untuk meninggalkannya. Hal yang sama ia lakukan ketika mengampiri pelet. Tetapi ia mulai terseret dan terpikat ketika yang dijumpainya adalah donat. Ia lalu mencoba mencaploknya dan hasil akhirnya bisa ditebak: ia terperangkap.

Iblis juga jago dalam hal jebak-menjebak begini. Ia tahu persis di mana letak kelemahan kita, lalu mengolahnya menjadi bahan yang setiap saat dilontarkan untuk menyeret dan memikat kita. Yang perlu kita lakukan adalah untuk sadar dan berjaga senantiasa menghadapi segala kemungkinan jebakan. Waspadalah… Waspadalah… (JP)
MUNDUR DUA LANGKAH, MAJU TIGA LANGKAH

Markus 6:31 “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahat seketika!”

Rutinitas yang dikerjakan setiap hari dapat menimbulkan kebosanan. Jika tidak disiasati, kondisi ini biasanya berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Produktivitas kemudian menurun, dan pada tingkat tertentu, kebosanan bisa mendatangkan stress. Solusinya?

Ada kalanya ‘mundur’ adalah sebuah pilihan. Dalam istilah yang lain, kita membutuhkan retreat. Dari satu sisi, mungkin retreat adalah sebuah langkah mundur. Kesibukan pekerjaan ditinggalkan, urusan-urusan kantor dilupakan (sejenak) dan otak sebagai ‘mesin berpikir’ didinginkan untuk sementara waktu.

Retreat tentu tidak harus selalu dipahami sebagai sebuah kegiatan menyewa sebuah villa di dataran tinggi tertentu, dikoordinir sejumlah panitia dan menghadirkan pembicara tertentu sesuai jadwal yang tersusun. Jika begini, jangan-jangan retreat juga sudah menjadi rutinitas? Mengundurkan diri sejenak bahkan dapat dilakukan di tempat kita bekerja. Sekedar melakukan relaksasi di tempat duduk, melihat lalu-lintas dari ketinggian jendela kantor, memutar musik kegemaran atau melanjutkan games di ponsel pada level berikutnya.

Orang mungkin menilainya sebagai dua langkah kemunduran. Tetapi kekuatan baru yang didapat sesudahnya justru akan membuatnya menjadi maju tiga langkah. Kalau retreat adalah sebuah kebutuhan, mengapa Anda tidak memilihnya kini? (JP)
KEKUATAN UNTUK BERTAHAN

Yakobus 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Ada mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah bagi setiap orang yang bertahan dalam pencobaan. Kata ‘bertahan’ berasal dari istilah ‘hupomone’ yang menggambarkan sebuah ketenangan di tengah situasi yang kacau balau. Bisa juga berarti kemampuan memikul beban hingga titik atau tujuan tertentu. Dari pemahaman itu, setidaknya kita bisa merenungkan beberapa hal dalam menghadapi pencobaan;

Pertama, ketenangan. Kepanikan mungkin adalah respon yang wajar sesaat setelah pencobaan kita alami. Tetapi membiarkannya menguasai kita dalam kondisi seperti itu jelas tidak menguntungkan. Kejernihan berpikir untuk mencari jalan keluar atau berdiam diri mendengar solusi dari Tuhan, bisa jadi akan jauh dari kenyataan. Secara negatif, tidak menutup kemungkinan juga kita akhirnya mengambil sebuah keputusan yang salah. Bagaimana kita bisa menghadapi dan mengalahkan pencobaan jika begitu?

Kedua, ketekunan. Berbeda dengan bermain sulap, menghadapi pencobaan adalah melewati realitas hidup. Untuk menyelesaikannya tidak bisa hanya dengan menggunakan rumus simsalabim abrakadabra! Dibutuhkan ketekunan dan keuletan seperti seseorang yang sedang memikul beban sampai tujuan tertentu. Di sanalah kemudian beban itu diletakkan. Artinya, memang ada waktu yang harus dilalui.

Ketiga, harapan. Tidak selamanya pencobaan itu akan menjadi pergumulan kita. Pasti ada saat untuk berhenti dan kita selesaikan. Malah Tuhan sendiri menjanjikan mahkota kehidupan sebagai hasil akhirnya. Dan harapan itulah yang turut menyuntikkan kekuatan baru bagi kita. (JP)
BATU SANDUNGAN

Matius 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Konon, minuman energi paling laris terjual di kompleks pelacuran dan klub-klub malam. Karena itu Dadang (sebut saja begitu) aktif mengunjungi tempat-tempat itu. Tentu bukan untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh, tetapi profesinya sebagai sales minuman energi mengharuskannya bertindak demikian. Saking seringnya Dadang mengunjungi lokalisasi dan tempat hiburan malam itu, ia sampai hafal dengan para pengunjungnya. Beberapa bahkan telah dikenalnya.

Di sisi lain, Dadang adalah seorang di ‘persimpangan jalan’ dan sedang mempertimbangkan untuk memeluk Kristen. Ia rajin mempelajari kekristenan dari buku-buku dan kaset khotbah, meskipun belum memberanikan diri berkunjung ke gereja. Sampai suatu kali ia memutuskan untuk pergi ke gereja di suatu hari Minggu karena keyakinan imannya yang semakin menebal.

Tetapi kenyataan berbicara lain dan malah terjadi antiklimaks. Ia malah kemudian memutuskan untuk urung menjadi pengikut Kristus. Pasalnya, orang-orang yang dijumpai dan dikenalnya di lokalisasi itu, adalah orang-orang yang sama yang ditemuinya di gereja. Astaga!

Sayang sekali… Karena tersandung dengan perbuatan orang-orang Kristen yang tidak berubah itu, satu jiwa terhilang. Kisah di atas tentu menjadi warning bagi kita semua agar dalam setiap segi hidup selalu memancarkan terang Kristus. Dengan begitu tidak ada orang yang tersandung ketika melihat kehidupan kita, sebaliknya mereka malah terberkati. [JP]

Wednesday, October 31, 2007

LEPAS DARI BELENGGU ‘PAS-PASAN’

“…engkau tidak dingin dan tidak panas… Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Wahyu 3:14-16)

Banyak orang yang puas dengan hasil yang pas-pasan. Jika dia adalah pelajar, maka dia puas jika sudah lulus, meski dengan nilai ‘mepet’. Jika dia adalah karyawan, mentalitas Asal Bapak Senang (ABS) biasanya yang menjadi semangat kerjanya. Tidak terlalu penting apakah hasil karyanya memuaskan atau tidak. Dari sinilah kemudian semangat ‘asal’ itu berasal. Asal selesai, asal lulus, asal dikerjakan, asal…. asal…

Tetapi, mestikah semangat ini juga terbawa dalam kekristenan kita? Sepanjang yang kita pelajari, tidak pernah satu kalipun Alkitab mengajarkan kepada kita tentang setengah hati, sekenanya, apalagi asal-asalan. Sebaliknya kita justru sering menjumpai istilah segenap hati, segenap kekuatan, dan seterusnya. Singkatnya, apa yang kita kerjakan haruslah yang terbaik, lebih dari yang diharapkan banyak orang.

Kita tidak dapat membayangkan kalau Tuhan juga mengerjakan semua karya-Nya secara asal-asalan. Apa jadinya jika keselamatan yang dianugerahkan kepada kita dikerjakan-Nya setengah-setengah? Bagaimana jadinya jika mujizat yang dilakukan-Nya tidak sempurna? Kita beruntung memiliki Tuhan yang tidak melakukan sesuatu dengan sembarangan, tetapi selalu mengerjakan yang terbaik dan sempurna.

Jika demikian Sahabat, kita tentu juga harus memiliki tekad untuk tidak mengerjakan sesuatu, entah itu pelayanan atau pekerjaan kita, dengan pas-pasan. Tuhan menghendaki hasil terbaik sebagaimana telah Ia teladankan. Ia mau supaya kita lepas dari belenggu ‘pas-pasan’ karena yang terbaik bisa kita berikan. [JP]
PENYEMBUH YANG KREATIF

“Tetapi Yesus menegor roh jahat itu dengan keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.” (Lukas 9:42b)

Pak Diman, sebut saja begitu, sudah lama menderita penyakit paru-paru yang kronis. Segala cara sudah ditempuh untuk mengupayakan kesembuhan. Dokter sudah didatangi, orang pintar juga dikunjungi, juga dengan terapi pengobatan alternatif. Alih-alih mendapat kesembuhan, Pak Diman malah semakin menderita karena kondisi keuangannya yang semakin terkuras. Tenaganya juga terforsir karena masing-masing ahli penyembuh itu memberikan syarat-syarat tertentu untuk dipenuhi.

Berbeda dengan Tuhan Yesus, Dia hanya menekankan satu syarat sebelum seseorang disembuhkan: beriman dan percaya. Ketika seorang lumpuh memiliki iman di dalam hatinya, Tuhan menyembuhkannya (Luk 5:20-25). Dalam catatan Alkitab, Yesus adalah Penyembuh kreatif yang tidak terpaku pada satu metode tertentu saja. Ia menggunakan berbagai macam cara untuk membuat seseorang celik dari kebutaannya, berjalan dari kelumpuhannya dan mendengar dari ketuliannya.

Di sinilah letak perbedaan antara Yesus dengan para penyembuh yang lain. Sementara orang lain lebih banyak menekankan syarat tanpa menjamin kesembuhan, sebaliknya Yesus justru menuntut satu syarat dipenuhi. Sesudah itu karya ajaib kesembuhan ilahi akan dikerjakan-Nya.
Dengan demikian Sahabat, kita bisa belajar bahwa untuk mendapat kesembuhan ilahi, hal paling mendasar yang harus dimiliki seseorang adalah percaya dan beriman kepada-Nya sebagai Penyembuh yang kreatif. [JP]
YANG TERPENTING JUSTRU BUKAN MUJIZATNYA

“Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak… Dan makin lama bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan…” (Kisah Para Rasul 5:12, 14)

Peter Youngren suatu kali memimpin sebuah KKR bertajuk Bandung Festival. Orang banyak telah memadati stadion tempat berlangsungnya acara. Sebagian dari mereka bahkan berasal dari luar kota Bandung. Meski sempat menuai kontroversi, tetapi banyak orang yang disembuhkan dari penyakitnya ketika mengikuti KKR itu. Orang-orang yang datang dengan tongkat penyangga, tiba-tiba berdiri tanpa bantuan alat itu. Belasan kursi roda tampak dikumpulkan di sudut panggung karena penggunanya sudah bisa berjalan. Lebih banyak orang lagi bersaksi ke atas panggung, menyatakan bahwa mereka telah bebas dari kebutaan, kebisuan dan telinga yang tak mendengar.

Singkatnya, Allah bekerja dengan luar biasa untuk membebaskan orang-orang yang menderita. Masalah mengerjakan kesembuhan ilahi dan juga mujizat yang lain, Allah memang ‘ahli’nya. Tidak ada pribadi lain yang semahakuasa Dia. Hanya Yesus satu-satunya. Tetapi bagaimanapun mujizat kesembuhan itu sendiri adalah sarana untuk menyatakan misi-Nya yang sesungguhnya: agar lebih banyak orang lagi percaya kepada-Nya.

Sahabat, mujizat adalah karya kreatif Allah yang dinyatakan kepada manusia. Melaluinya Allah memberi penegasan bahwa bagi-Nya tidak ada sesuatupun yang tidak bisa dikerjakan. Hanya saja, manusia sering lupa dan memberi penekanan berlebih kepada mujizat itu sehingga mengesampingkan hal yang terpenting yaitu agar manusia percaya kepada-Nya.
Mujizat adalah sebuah momentum awal bagi orang yang tidak percaya agar`kemudian mengenal Yesus dan menyembah-Nya. Amat disayangkan jika kita hanya menekankan mujizat, tetapi lupa fokus utamanya. [JP]

Tuesday, August 14, 2007

WAKTUNYA AGUSTUSAN...

Merah-Putih harus dikibarkan, umbul-umbul dinaikkan. Tapi, masihkah perayaan kemerdekaan ini punya makna bagi kita?

Setidaknya sejak National Prayer Conference (NPC) 2003, orang Kristen terlihat mulai intens mendoakan Indonesia. Dikoordinir Jaringan Doa Nasional (JDN), gerakan doa ini kemudian juga merambah skala yang lebih kecil dengan dibentuknya JDS, Jaringan Doa Sekota. Bahkan, NPC kembali digelar 2005 lalu. Inti permohonannya seragam: agar bangsa ini dipulihkan dan mengalami transformasi. Dan hingga kini, kita masih terus menunggu.

Belajar dari Nehemia
Cukupkah hanya doa-doa yang dinaikkan? Nehemia segera duduk dan menangis serta berkabung demi mendengar Yerusalem yang porak poranda (Neh 1:4). Ia menjadi wakil yang menghadap Tuhan untuk memohonkan transformasi bagi kotanya. Dan, di Yerusalem belum terjadi apa-apa setelah Nehemia berdoa. Kota itu bertahap berubah ketika Nehemia menggalang solidaritas untuk mulai melakukan sesuatu.

Koordinasi dan networking segera dilakukan. Deskripsi kerja dibagikan kepada orang-orang yang tepat. Delegasi tugas dinyatakan dengan jelas. Pekerjaan segera dimulai. Bukan tanpa tantangan, proyek itu ternyata tak berlangsung mulus. Ada usaha-usaha untuk menggagalkannya. Tetapi niat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kotanya telanjur membuncah di dada. Nehemia maju tak gentar.

Seberapa Berartikah?
Tidak semua kita dipanggil untuk pelayanan ‘pembangunan tembok’ seperti Nehemia. Namun bukan berarti bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Agar air mata kita tak sia-sia tercucur ketika menangisi bangsa ini, kita perlu memikirkan langkah-langkah praktisnya. Tak perlu muluk-muluk, sebab perbuatan sekecil apapun lebih berarti daripada bualan pidato.

Bangsa ini kelewat besar. Populasinya telah menembus angka 220 juta. Ribuan pulau-pulau yang menyusunnya. Banyak suku yang menghuni wilayahnya. Tapi kenyataan pahit sedang dialami. Prestasi jarang diraih, malah bencana, teror, dan kemiskinan yang terus didapat. Tak mungkin segala persoalan ini diselesaikan segelintir orang di pemerintahan Jakarta.

Nah, bukankah ini sebuah kesempatan bagi kita? Kita tidak hanya mengisi bulan kemerdekaan ini dengan ‘makan kerupuk’ dan ‘panjat pinang’. Bendera yang kita kibarkan mustinya seiring dengan semangat yang kita kobarkan untuk membangun kembali Indonesia.

Doa-doa harus terus dilanjutkan. Permohonan kepada Allah agar berbuat sesuatu musti terus dijalankan. Tentu ditambah dengan karya nyata yang kita lakukan. Kita tidak rindu tepuk tangan atau penghargaan. Bukan juga sebuah podium sebagai bukti ketenaran. Motivasinya satu: agar nama Bapa di Surga dipermuliakan melalui perbuatan baik yang kita lakukan. Waktunya untuk berhenti dari banyak bicara, saatnya untuk mulai bekerja. Merdeka!!!***

Wednesday, August 08, 2007

SALAH KAPRAH

Tempo hari saya nonton sebuah debat publik di salah satu stasiun TV. Ada sebuah kalimat menggelitik yang terlontar, "Hal itu sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, jika calon kepala daerah itu bla...bla...bla..." Sepintas mungkin kalimat itu tidak janggal, tetapi jika dicermati mendalam akan membuat kita mengernyitkan dahi. Mungkin yang dimaksud adalah "sudah bukan rahasia lagi" alias "sudah menjadi rahasia umum." Kalau sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, jadi rahasia siapa donk?

Seorang pemimpin ibadah suatu kali mengucapkan kalimat undangan bagi seseorang untuk menutup kebaktian. "Dengan hormat, kami undang Ibu Ilsye untuk menutup kita dalam doa." Saya yang sedang khusyuk jadi sedikit terganggu karena mendengar frase yang saya cetak tebal itu. Sampai selesai ibadah saya masih berpikir bagaimana caranya Ibu Ilsye menutup kita dalam doa. Bukankah lebih pas kalau undangan itu berbunyi, "Dengan hormat, kami undang Ibu Ilsye untuk menaikkan doa penutup dalam ibadah ini."?

Salah kaprah lain yang masih sering terdengar adalah tentang "waktu dan tempat, kami persilakan." Mustinya, "waktu dan tempat, kami serahkan." Ah, masih banyak daftar yang bisa dibuat tentang hal itu. Apa mau dilanjutkan? Cape deh....!***

Tuesday, August 07, 2007



Nak...
Terima kasih untuk senyum lebarmu
Tahukah kau, itu menghapus memori biru
beberapa bulan yang lewat berlalu
Saat kabel dan selang-selang itu membelitmu

Nak...
Terima kasih untuk tajam tatapmu
Yang menusuk menembus kalbu
Meluruhkan penat menepiskan bebanku

Nak...
Terima kasih untuk lantang tangismu
Membangunkan buai lelap tidurku
Menuntunku untuk menjagamu s'lalu

Nak...
Kini aku menantangmu
Teruslah tumbuh dalam hari ceriamu
Meniti indah masa depanmu

Sunday, August 05, 2007

ADA CINTA DI MAPIA

“…tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (Yeremia 1:7)

Charles Faidiban (53) adalah potret seorang pendidik yang penuh pengabdian. Ia tak pernah membayangkan jika harus menjadi seorang kepala sekolah sekaligus guru yang hanya memiliki satu murid. Ya, Anda tidak salah baca: hanya satu murid! Ia adalah seorang guru di Kepulauan Mapia, sebuah gugus kepulauan terluar di atas wilayah Manokwari, Papua. Awalnya memang ada lima orang murid yang diajarnya, namun keempat diantaranya ‘mengundurkan diri’ karena ikut pindah orang tuanya ke luar pulau itu. Tinggalah Alen (6), satu-satunya murid yang ia ajar kini.
Hari-hari Charles pun menjadi sepi. Tapi ia tak hendak meninggalkan profesinya itu. Segala upaya untuk tetap bisa mengabdi di dunia pendidikan ia jalani. Ia membujuk masyarakat yang menyekolahkan anaknya di luar Mapia untuk mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada Charles. Bagi Charles sekolah itu adalah masa depan Mapia. Makanya ia mati-matian mempertahankan kelangsungannya.
Dalam dunia pelayanan kepada Tuhan, kiranya kisah di atas adalah sebuah cermin bahwa untuk mengabdi, ada harga yang harus dibayar. Tak jarang harga yang mahal yang musti diberikan. Nabi Yeremia misalnya. Bertahun-tahun ia mengabdi untuk menyelamatkan Israel bangsanya. Tetapi tak satupun orang yang mau mendengar nubuatannya. Semuanya dianggap angin lalu. Tetapi karena sudah terpanggil, Yeremia tetap setia di jalur pengabdiannya.
Dalam bentuk dan wilayah yang berbeda, kita masing-masing terpanggil untuk melayani dan mengabdikan diri kepada Tuhan. Ada pertanyaan yang menggelayuti kita: pengabdian macam apakah yang sudah kita berikan bagi-Nya? [JP]
KEDISIPLINAN BUNG HATTA

“Inilah yang kami megahkan,… bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan dengan kamu, diwarnai ketulusan dan kemurnian dari Allah…” (2 Korintus 1:12)

Bung Hatta, proklamator kemerdekaan RI, dikenal sebagai negarawan dan pendiri bangsa yang yang berwatak jujur dan disiplin. Ialah yang pertama-tama memperkenalkan koperasi kepada masyarakat, sehingga ia dijuluki Bapak Koperasi Indonesia. Menurutnya sebuah perkumpulan akan berjalan lancar jika ada iuran anggotanya. Selanjutnya, sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin itulah yang menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta. Konon, Hatta rela tak membeli sepatu baru demi kelancaran membayar iuran lembaga yang dirintisnya.
Kedisiplinan amat berkaitan dengan konsistensi. Orang yang disiplin adalah orang yang konsisten terhadap apa yang telah disepakati bersama. Ia memegang teguh setiap aturan, meskipun tidak selalu harus berarti kaku (sakleg). Apalagi kalau sudah berbicara tentang aturan yang ditetapkan Tuhan.
Harus diakui bahwa kita hidup dan tinggal di tengah-tengah masyarakat yang tingkat kedisiplinannya sangat rendah. Ketidakdisiplinan itu telah membudaya. Inilah yang kemudian semakin memperparah keadaan. Kalau kita mengambil pilihan untuk mendisiplin diri, malah menjadi bahwan tertawaan. Aneh rasanya kalau tak melanggar lampu lalu-lintas. Aneh rasanya menyeberang di zebra cross atau jembatan penyeberangan. Dan sekian lagi keanehan-keanehan yang lain…
Adalah sebuah masalah besar jika ‘budaya’ itu kita bawa-bawa ke dalam ladang pelayanan. Alih-alih memperbaiki keadaan, kita malah akan mengulang dan menyebarluaskan kejelekan itu dalam pelayanan. Bukankah seharusnya sebaliknya Sahabat? Di tengah dunia yang benkok ini, kedisiplinan Bung Hatta layak kita teladani. [JP]
SALAH INVESTASI, RUGI MENANTI

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6)

Sahabat, salah satu cara untuk mengelola keuangan dengan baik adalah dengan memilih investasi yang tepat. Cara ini pulalah yang dipilih banyak orang untuk mengamankan masa depan dengan uangnya.
Menurut Eko Endarto, seorang konsultan perencana keuangan, ada banyak jenis investasi yang bisa dipilih. “Dalam hukum investasi dikenal adanya perbandingan lurus antara risiko dan hasil yang dijanjikan. Jadi jika janji hasil yang diberikan sangat tinggi, biasanya risiko yang menyertai investasi itu juga tinggi,” ungkap Eko. Selanjutnya, pengelola situs http://www.perencanakeuangan.com/ itu mendorong agar setiap kita berhati-hati berinvestasi.
Seorang kerabat baru saja mendapat uang hasil penjualan rumah. Sedianya ia akan menggunakannya untuk mencicil rumah baru di tempat yang lebih strategis. Dalam prosesnya ia kemudian berubah pikiran. Sekali waktu ketika berjalan-jalan, ia tertarik dengan seperangkat home theater seri terbaru yang sedang didiscount harganya. Iapun memutuskan untuk membelinya dan segera memajang di rumah kontrakannya. Dan hingga kini, ia tak juga bisa mencicil rumah idamannya.
Memiliki uang dan membelanjakannya untuk kesenangan pribadi tentu tak salah. Hanya saja ia telah salah memilih berinvestasi. Jika kelak dijual, harga barang elektronik cenderung mengalami penurunan yang cukup drastis dari harga belinya. Tuhan melimpahkan berkat agar kita bisa mempertanggungjawabkannya. Investasikanlah berkat itu secara benar agar dengan cara demikian kita dapati sebagai penatalayan yang setia. [JP]
TERTIPU AJARAN PALSU

“Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.” (Matius 24:23)

Masa depan Reno menjadi tak jelas gara-gara terlibat dengan aliran miring yang menyatakan tentang kedatangan Kristus pada 10 November 2003. Daripada melanjutkan sekolahnya, Reno lebih memilih bergabung dengan 280an orang yang lain di Baleendah, Bandung Selatan untuk diangkat Tuhan. Ketika hari yang ditunggu tiba, Reno memang benar-benar diangkat. Sayangnya bukan oleh Tuhan Yesus, tetapi ‘diangkat’ polisi ke sebuah truk dan dibawa ke panti rehabilitasi. Tragis betul nasib pemuda yang belum juga menyelesaikan SMU-nya itu.
Peristiwa penyesatan yang berhubungan dengan kedatangan Yesus adalah ‘sejarah yang berulang.’ Sudah puluhan kali banyak nabi palsu yang muncul dan menubuatkan hari kedatangan Tuhan. Tak satupun diantara nubuat itu yang menjadi kenyataan, semuanya meleset. Memang mengherankan jika kemudian masih ada orang yang mencoba meramalkannya lagi. Anehnya lagi, selalu saja ada orang yang percaya dan tersesat. Rapuhnya iman dan minimnya pemahaman terhadap Kitab Suci adalah faktor utama mengapa penyesatan terjadi. Orang yang rapuh imannya dan tak banyak mengerti kebenaran mudah sekali diombang-ambingkan angin pengajaran yang sumbang.
Untuk itulah sikap dan pemahaman yang benar tentang kedatangan-Nya kedua kali menjadi penting. Berkali-kali Yesus sendiri mengungkapkan bahwa kita harus berjaga-jaga terhadap penyesatan yang akan mendahului kedatangan-Nya. Pada bagian lain Dia mengisyaratkan perlunya pelayanan terbaik dari kita agar pada waktunya ‘gelar’ sebagai hamba yang setia itu melekat pada kita. Tak perlu pusing dan sibuk mengutak-atik waktu kedatangan-Nya. Lebih baik waktu yang ada digunakan untuk memberikan persiapan terbaik dalam menyambut-Nya. Setuju? [JP]
MENGHUNUS PEDANG ROH

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun;...” (Ibrani 4:12)

Senjata yang sangat familiar bagi para pejuang di era penjajahan adalah bambu runcing. Kelengkapan perang tradisional ini kemudian menjadi simbol heroisme di tanah air. Di beberapa tempat diabadikan menjadi monumen, mengisi koleksi pajangan ruang-ruang musium dan ‘digunakan kembali’ pada peringatan kemerdekaan RI pada bulan Agustus.
Sahabat, kita sudah bisa membayangkan apa jadinya jika seseorang masuk dalam medan pertempuran tanpa senjata. Kemungkinan terbesar adalah dia akan menjadi bulan-bulanan musuh dan tewas mengenaskan. Kita tahu bahwa senjata, sekecil dan sesederhana apapun itu, adalah piranti yang tidak boleh ditinggalkan dalam berperang. Jadi, dalam peperangan, senjata adalah hal yang wajib hukumnya.
Alkitab menyebut sebuah senjata yang sangat ampuh dalam peperangan rohani. Senjata itu adalah pedang Roh; firman Allah. Bahkan keampuhannya telah dibuktikan sendiri oleh Tuhan Yesus saat menghadapi pencobaan iblis. Dia tidak menggunakan senjata lain kecuali rangkaian kata, “Ada tertulis…” Tiga kali pencobaan datang, tiga kali pula Yesus menggunakan ‘jurus’ yang sama itu.
Bagaimana agar kita bisa menggunakan senjata itu? Tidak ada cara lain kecuali kita memiliki ketekunan untuk mendalami dan menelitinya. Bukan itu saja, firman itu harus hidup dan kita hidupi. Dengan cara itu kita memiliki kesiapan dan kelengkapan untuk menghadapi musuh dalam peperangan rohani. [JP]
MENJADI HAMBA SETIA

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia;…” (Matius 25:21)

Tersebutlah seorang profesor di Jepang yang memiliki seekor anjing kesayangan. Hubungan pemilik dan hewan peliharaan itu sudah terjalin cukup lama. Profesor itu tinggal sendiri dan tak memiliki keluarga lagi. Hanya anjing itulah yang menjadi teman hidup mengisi hari tuanya.
Setiap hari, profesor itu tugas mengajar di kampus yang terletak di kota lain. Karena jarak yang cukup jauh, ia selalu menggunakan jasa angkutan kereta api. Pagi-pagi benar ia sudah berangkat dari rumahnya diantar anjingnya itu. Hingga sore hari ketika sang profesor pulang, anjing itu tak beranjak dari stasiun. Ia setia menunggu tuannya di sana. Begitulah kejadian itu selalu berulang setiap hari.
Hingga suatu hari, sang profesor mendapat serangan jantung mendadak ketika mengajar. Meski sudah dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Meninggallah profesor tua itu. Anehnya, anjing kesayangannya masih menunggunya di stasiun. Sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan mondar-mandir di stasiun itu untuk menunggu kedatangan tuannya. Akhirnya, anjing itupun mati di stasiun. Tentu ini sebuah pelajaran berharga tentang kesetiaan bagi kita. Konon, di stasiun itu lalu dibangun patung anjing untuk mengingatkan harga kesetiaan kepada setiap pengunjungnya.
Kadang memang kita ‘diberi pelajaran’ oleh binatang. Salah satunya ketika berbicara mengenai kesetiaan. Anjing dalam kisah di atas tak mudah berpaling dan berubah setia. Ia setia meskipun sebenarnya harapan untuk bertemu tuannya sudah tidak ada lagi. Bagaimana kadar kesetiaan kita sebagai hamba kepada Tuhan, Sang Pemilik hidup? [JP]
PECEL LELE

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, …” (Pengkhotbah 9:10)

Karena gemar dengan pecel lele, makanan khas Jawa Timur itu, saya kerap berkeliling di seantero kota untuk berwisata kuliner. Saya mencoba membandingkan masakan dan cara penyajian makanan yang murah meriah ini dari masing-masing warung tenda yang saya sambangi. Hasilnya? Tidak terlalu jauh berbeda menurut saya. Rasa dan cara menyajikannya pun terkesan begitu-begitu saja, hampir tidak ada variasi sama sekali.
Namun dari sekian banyak warung pecel lele yang pernah saya datangi, ada satu yang cukup berkesan. Sampai hari ini saya masih menjadi salah satu pelanggannya. Apa pasal? Jawabnya singkat: karena pelayanan terbaiknya. Penjual warung itu selalu menuruti permintaan setiap pembelinya, termasuk saya. Ada kalanya saya ingin sambel yang lebih pedas dari biasanya. Di waktu lain, saya ingin bumbu yang agak asin. Di warung itu saya selalu mendapatkan apa yang saya minta. Pokoknya 'mak nyuusus...' Sementara di warung yang lain, tak jarang omelan penjual yang saya terima. Pemilik warung itu tak pernah terlihat mengeluh karena keinginan saya. Yang selalu dia lakukan adalah melayani, melayani dan melayani. Itu saja. Barangkali ia memegang teguh prinsip dalam dunia dagang bahwa pembeli adalah raja. Tak heran kalau warung itu menjadi begitu laris.
Bagaimana dengan pelayanan kita, Sahabat? Godaan untuk melayani sekenanya memang sering muncul dan menggangu. “Ah, begini saja sudah cukup. Untuk gereja dan sesama yang biasa-biasa saja lah…” demikian kita sering bergumam dalam hati. Tak pelak banyak jemaat yang menjadi kecewa karena aksi tidak simpatik tersebut. Kita acap melayani setengah hati dan tanpa persiapan matang. Sudah waktunya kita memberi pelayanan terbaik di dalam gereja, agar setiap orang (terutama jiwa-jiwa baru) menjadi kerasan untuk beribadah di dalamnya. Kalau tukang pecel lele saja bisa, mengapa kita tidak? [JP]

Thursday, June 07, 2007

SPANDUK

Apalah arti sebuah spanduk? Hanya beberapa meter kain yang dibentangkan di sisi-sisi jalan. Dari segi keawetan, pastilah spanduk tak bakal bertahan lama. Karena terpaan panas dan deraan hujan, ia menjadi kain yang begitu rentan. Lusuh lantas robek begitu saja.

Beberapa teman sekampung -entah karena kreatif atau karena miskin, tipis sekali batasnya- sering memanfaatkan spanduk sebagai bahan celana pendek. Tetangga yang lain menggunakannya untuk menutup kedai mie ayamnya.


Spanduk, bagi sebagai orang adalah sarana penyaluran ekspresi. Setidaknya jika kita melihatnya pada peristiwa demonstrasi. Tulisan-tulisan pada spanduk yang terbentang merupakan ekspresi tuntutan dan aspirasi. Meskipun kadang-kadang melanggar keharusan berbahasa yang baik dan benar, sudah sah rasanya demonstrasi digulirkan dengan spanduk sebagai aksesoris utamanya.

Spanduk juga menjadi wadah pelampiasan kemarahan. Di sudut-sudut kota saya lihat spanduk-spanduk terpampang berbunyi, "JANGAN ANCAM AMIEN RAIS!" Kita tentu mahfum, bahwa kejadian ini merupakan buntut lakon gelut yang dimainkan Amien Rais dan Presiden SBY. Karena tidak tahu harus marah kepada siapa, ya sudah... pasang spanduk saja. Ehmm, mungkin suatu kali Anda sedang marahan dengan istri atau suami. Apakah terpikir dalam benak Anda untuk membentangkan spanduk di pagar depan rumah? Bunyinya bagaimana?

Yang lain menggunakan spanduk sebagai ajang promosi. Yang satu ini isinya lebih informatif, bahkan tak jarang ditambah dengan bualan-bualan semanis kembang gula untuk menarik peminat. Bagi para calon pemimpin yang narsis, spanduk dipakai sebagai tempat memampang foto dirinya dibumbui dengan janji-janji. Maaf, kalau yang ini sangat memuakkan! Geuleuh... Ndessso!

Sudahlah... wong mereka bikin spanduk juga ngga minta duit dari kita koq. Biarkan saja. Asal jangan mereka tidak mendikte kita untuk memasang spanduk di atas pohon. Selain karena tidak etis, ya... karena kita memang tidak bisa memanjat pohon. Lho?***

Wednesday, May 09, 2007

ANGER MANAGEMENT

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” (Amsal 20:3)

Suatu ketika saya sedang menikmati nasi uduk di sebuah kedai di Bandung. Sementara saya makan, seseorang di meja sebelah sedang melakukan pembicaraan melalui telepon genggamnya. Awalnya nada bicaranya datar dan biasa-biasa saja. Entah mengapa kemudian nada bicaranya berangsur meninggi. Ia tampak marah dengan lawan bicaranya di ujung telepon. “Sudah, sekarang begini saja. Kamu pilih aku atau sahabatmu itu? Putuskan sekarang! Aku ngga mau nunggu lama-lama!” ujarnya geram. Sejurus kemudian, praaangggg…. Ia membanting gelas yang sejak tadi dipegangnya.
Semua mata kemudian tertuju kepada pria yang marah itu. Tak ketinggalan pemilik kedai yang meminta agar ia mengganti gelas miliknya yang pecah dibanting. Pria itu nampak merogoh uang dari sakunya dan kemudian ngeloyor pergi. Mukanya merah, mungkin menahan malu bercampur marah.
Kita tentu pernah mengalami kemarahan yang memenuhi hati. Tak jarang bahkan sampai meluap-luap. Dan dengan kemarahan itu, kita menjadi ‘bodoh’ dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan. Lalu tibalah penyesalan yang selalu datang belakangan.
Kemarahan memang merupakan salah satu emosi negatif dalam diri kita yang perlu dikendalikan. Diperlukan ‘manajemen kemarahan’ agar kita tidak terjebak dalam tindakan-tindakan bodoh yang memalukan. Dibutuhkan kelemahlembutan ilahi untuk mengatasi ledakan amarah yang kadang datang mengunjungi kita. Selamat mengatur kemarahan! [JP]
PELAJARAN DARI CHARLOTTE’S WEB

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat…” (Yohanes 15:15)

Charlotte’s Web adalah sebuah film layar lebar yang pernah diangkat oleh rumah produksi Hanna-Barbera Production pada 1973. Kini film yang berkisah tentang seekor babi yang menawarkan persahabatan sejati itu, dirilis kembali. Kisahnya dimulai dengan seorang anak kecil bernama Fern yang menyelamatkan babi yang baru saja lahir. Fern memberi nama babi kecil itu Wilbur. Sejak saat itu Fern selalu memandikan Wilbur, memberinya susu, bahkan mendongengkan kisah sebelum Wilbur tidur.
Seiring waktu berjalan, Wilbur menjadi semakin besar dan harus tinggal di dalam kandang selayaknya binatang yang lain. Ia kemudian tinggal dengan sepasang angsa, sepasang sapi, 5 ekor kambing dan seekor tikus. Di antara binatang-binatang itu, tersebutlah Charlotte, seekor laba-laba yang sangat dijauhi oleh binatang yang lain. Terinspirasi oleh pengalamannya diterima oleh Fern, hanya Wilbur-lah yang mau menerima dan bersahabat dengan Charlotte. Dengan segala upaya, Wilbur mencoba memberi pengertian kepada binatang yang lain agar mau menerima Charlotte. Singkat cerita, laba-laba itu diterima kehadirannya oleh semua binatang di kandang itu. Semuanya terjadi berkat kegigihan Wilbur untuk menjadi mediator.
Persahabatan adalah sebuah nilai luhur yang ditekankan Alkitab. Suatu ketika, Yesus menyatakan sebuah hubungan ‘baru’ antara diri-Nya dengan murid-murid-Nya. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, “ kata-Nya “Tetapi Aku menyebut kamu sahabat!” Ia telah memberi teladan bahwa salah satu peranan seorang sahabat akan muncul menjadi juru damai. Kita yang berdosa akhirnya memiliki persahabatan dengan Allah sebagai dampak persahabatan kita dengan Kristus. Sungguh sebuah kehormatan untuk menjadi seorang sahabat Allah. [JP]
MENGHORMATI ORANG TUA

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

Pengalaman menunggui isteri yang melahirkan, membekaskan pengalaman bathin yang mendalam bagi saya. Ada sebuah perjuangan antara hidup dan mati dalam peristiwa itu. Imajinasi saya segera melayang kembali ke puluhan tahun silam ketika ibu melahirkan saya. Meski hanya bisa membayangkan, tetapi tergambar jelas betapa beratnya perjuangan seorang ibu ketika melahirkan anaknya. Dari sana, sikap hormat saya terhadap orang tua semakin bertumbuh. Saya sadar bahwa kehadiran saya di muka bumi, selain karena faktor kehendak Tuhan, adalah karena jasa mereka juga.
Pada saat yang lain saya juga teringat akan kisah-kisah tragis seorang anak yang tega menganiaya, bahkan hingga membunuh orang tuanya. Ironisnya, kebanyakan dari kasus itu bermula dari permasalahan yang sepele. Dari masalah meminta uang sekolah, minta dibelikan motor atau juga permintaan terhadap hal-hal lain yang sebenarnya sekunder. Hanya dengan alasan-alasan itu, jiwa orang-orang yang dikasihi bisa melayang.
Almarhum Pdt. Eka Darmaputera pernah berujar, “Bagaimanapun mereka adalah orang tua kita. Bukan saja tatkala kita masih bayi lemah yang belum dewasa, tetapi karena kini juga ketika tubuh mereka telah berangsur-angsur melemah dan berbalik bergantung kepada kasih dan pemeliharaan kita.” Kita tidak pernah behenti menjadi anak dari orang tua kita. Merekapun tidak pernah bisa lari dari kenyataan bahwa ita adalah anak-anaknya. Tidak ada pilihan lain.
Sahabat, orang tua, seburuk apapun mereka, adalah pribadi-pribadi yang layak dihormati. Bukan karena usia dan jasa mereka, tetapi karena Tuhan menghendakinya. Anda sudah melakukannya? [JP]
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

“Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7)

Menurut UU No. 23 tahun 2004, yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga adalah “perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.” Menurut sebuah survey, kasus kekerasan dalam rumah tangga memang terus merangkak naik angkanya dari tahun ke tahun. Apakah hal itu terjadi dalam rumah tangga Kristen? Meski tak dapat dipastikan jumlahnya, tentu saja hal itu terjadi dalam keluarga Kristen.
Beberapa tahun lalu, penyanyi Nur Afni Octavia melaporkan suaminya -yang notabene hamba Tuhan- ke pihak kepolisian. Pasalnya, bukannya mendapat perlindungan, ia malah sering ketiban bogem mentah dari orang yang seharusnya mengasihinya itu. Waktu melapor pun, sudut-sudut wajahnya masih tampak lebam membiru. Ironisnya, peristiwa penganiayaan itu terjadi seusai perayaan ulang tahunnya. Ternyata, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di manapun dan kapanpun.
Sahabat, menurut Petrus istri adalah ‘teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.’ Sejak awal, Alkitab tidak pernah memosisikan istri sebagai ‘sparing partner’ dalam bertinju. Ia tidak dihadirkan di dalam rumah tangga untuk dianiaya, melainkan untuk dihormati sebagai kaum yang lebih lemah.
Karena itu jika suami tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, alasan utamanya bukan karena takut terjerat undang-undang. Tetapi karena ketaatan kepada perintah Allah melalui firman-Nya. Bukankah begitu? [JP]