Tuesday, June 14, 2011

EQUAL RELATIONSHIP

 “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus  6:4)

Sebuah penelitian tentang hubungan anak – orang tua menunjukkan bahwa kecerdasan emosional anak sangat dipengaruhi oleh pola hubungan tersebut. Salah satu pola hubungan terbaik antara orang tua – anak adalah Equal Relationship.
Dalam Equal Relationship, orang tua memperlakukan anak bukan sebagai individu yang kedudukannya lebih rendah melainkan sebagai individu yang setara. Dengan demikian, seorang anak mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap segala perilakunya, termasuk dalam hal mengendalikan emosi.
Di sini anak belajar dari pengalaman berinteraksi dengan orang tuanya bahwa selama ini ia diberi kesempatan untuk bersaing ataupun bekerjasama dengan orang tuanya pada situasi tertentu sehingga ia akan belajar mengenali kelebihan dankekurangannya sekaligus belajar untuk mengendalikan emosinya. Melalui proses belajar dari pengalaman sendiri, tanpa terlalu didominasi maupun terlalu didukung, maka seorang anak akan menjadi lebih matang secara emosional. 
Dalam pola hubungan yang lain, anak biasanya ditempatkan lebih rendah dari orang tuanya. Atau sebaliknya, mungkin juga anak selalu mendapatkan support dari orang tuanya, padahal mestinya mereka melakukan sendiri tanpa bantuan orang tua. Bahkan juga ada orang tua yang terlalu dominan terhadap anaknya, sehingga anak-anak merasa tertekan.
Ketika anak-anak mendapatkan rasa aman dan nyaman, mereka akan berkembang secara sehat di dalam segala aspek kehidupan mereka. Jika bukan kita sebagai orang tua, siapa lagi yang akan menolong mereka? [JP]
CERDIK MENGATUR KEUANGAN

 “Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta.”  (Amsal  29:3)

Seorang pria Tionghoa pergi ke suatu bank di New York City dan berniat untuk meminjam uang $5000 untuk kepentingan perjalanan bisnis ke China selama 2 minggu. Si pegawai mengatakan bahwa bank tersebut membutuhkan suatu jaminan untuk melakukan pinjaman. Kemudian si pria bermata sipit itu membawa mobil Ferrari baru dan diparkir di depan bank sebagai jaminan. Pegawai bank setuju menggunakan mobil mewah itu sebagai jaminan.

Setelah pria Tionghoa tersebut pergi, pemimpin dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawakannya karena menggunakan mobil Ferrari baru seharga $250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar $5000. Petugas bank kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage  (garasi bawah tanah) milik bank tersebut. 

Dua minggu kemudian, pria itu kembali dan membayar hutang sebesar $5000 berikut bunganya sebesar $15.41.  Pegawai bank berkata, “Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan Anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek siapa Anda dan mengetahui bahwa Anda adalah seorang miliarder. Mengapa anda repot-repot meminjam uang sebesar $5000?” Si pria membalas, “Di mana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41?” Dan pegawai bank pun mengakui kelihaian pengusaha kaya itu...

Sahabat, Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita untuk mengatur berkat yang dipercayakanNya. Gunakanlah dengan bijak setiap rupiah yang diberikan Tuhan kepada kita, karena suatu kali kelak kita akan mempertanggungjawabkannya. [JP]

PERAN VITAL AYAH

“Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya.” (1 Yohanes 2:13, 14)

Dalam buku “Father’s Connection” Josh McDowell mencatat hasil penelitian Dr. Armand Nicholi’s yang menemukan bahwa seorang ayah yang absen secara emosional atau fisik memberi kontribusi negatif kepada seorang anak.  Anak-anak cenderung memiliki: (a) motivasi rendah untuk berprestasi, (b) ketidakmampuan untuk menunda kepuasan langsung demi ganjaran di kemudian hari, (c) harga diri yang rendah, dan (d) kerentanan terhadap pengaruh kelompok dan kenakalan anak-anak. 

Sebaliknya, pada saat yang sama penelitian lain menunjukkan bahwa kaum muda yang “sangat dekat” dengan orang tua mereka kemungkinan besar: (a) Merasa lebih puas dengan hidup mereka, (b) Tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah, (c) Mendukung standar-standar kebenaran dan moralitas Alkitabiah, (d) Pergi ke gereja, (e) Membaca Alkitab dengan konsisten, dan (f) Berdoa setiap hari.

Dari dua penelitian di atas kita dapat membaca sebuah data bahwa ayah memiliki peranan yang sangat vital di dalam perkembangan anak secara mental maupun spiritual. Anak-anak membutuhkan kehadiran seorang ayah lebih dari sekedar uang yang telah diberikan kepadanya. Anak-anak mengeja kata K-A-S-I-H dengan W-A-K-T-U; karena bagi mereka kasih hanya dapat dibuktikan dengan seberapa banyak waktu yang diberikan oleh orang tuanya.

Karena itu Sahabat, alokasikan lebih banyak waktu untuk bercengkerama dengan anak-anak Anda. Bangunlah sebuah komunikasi yang lebih sehat dengan buah hati Anda dan miliki kedekatan yang kian meningkat setiap hari. Halo para Ayah... Anda ingin anak-anak Anda menjadi perkasa di bumi bukan? [JP]

Tuesday, May 24, 2011


SALAH SANGKA

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:18-19)

Dengan berkacak pinggang seorang istri menunggu suaminya yang sebentar lagi pulang. Ia jengah mendengar isu tentang perselingkuhan suaminya yang dihembuskan teman-teman arisannya. Gosip suaminya main api itu telah berhasil membakarnya.
Terdengar suara motor suaminya yang melaju kian mendekat ke depan rumahnya. Ia semakin terbakar emosi ketika melihat bahwa footstep sepeda motor sebelah kanan terlipat, sementara sisi kiri terbuka seperti sehabis digunakan. “Ia pasti baru saja membonceng perempuan lain dengan posisi duduk menyamping,” gumamnya dalam hati. Begitu suaminya turun dan melepas helm, ia langsung memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan bernada kecurigaan. Nadanya pun kian lama kian meninggi. “Benar kan kata teman-temanku… Papa selingkuh. Main api. Lihat footstep ini. Setiap pulang kerja, selalu posisinya begini.  Apalagi kalau bukan habis ngebonceng perempuan lain?”
“Mama ini apa-apaan sih? Suami pulang bukannya disambut dengan mesra, malah dihujani kecurigaan yang engga-engga…” jawab suaminya. “Papa tuh tiap pulang kerja ngebonceng seorang Bapak yang cacat. Kaki kanannya sudah diamputasi. Jadi wajar lah kalau footstep sebelah kiri saja yang terbuka,” timpalnya lagi.
Sang istri lantas malu. Apa yang menjadi kecurigaannya selama ini ternyata tak berdasar. Ia malah mendapatkan kenyataan bahwa suaminya adalah sosok yang suka menolong orang yang membutuhkan. Sejak itu ia tak ingin lagi dibakar api cemburu tanpa dasar.
Sahabat, salah satu kunci untuk mengatasi konflik di dalam keluarga adalah dengan membangun sebuah kepercayaan terhadap pasangan dan tidak mudah percaya kepada gosip yang tidak jelas sumbernya. Jika suami dan isteri memegang prinsip ini, niscaya keharmonisan rumah tangga menjadi bagian hidup kita. [JP]

Monday, May 23, 2011

NASIB NELANGSA PAHLAWAN DEVISA

 
“...dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga,” (Filipi 2:4)
Dalam sebuah penerbangan dari Amman (Yordania) ke Dubai (Uni Emirat Arab), saya duduk bersebelahan dengan dengan seorang TKW asal Indramayu. Sebelum duduk di bangku kabin pesawat, ia tampak sibuk membereskan barang-barang bawaannya untuk dimasukkan ke locker. Tetapi ada satu barang yang terpaksa ditaruh di bawah bangku karena locker tak lagi mencukupi.

“Barang bawaannya banyak juga ya Mba?” tanya saya mengawali pembicaraan. “Sudah tiga tahun tidak pulang, bawa keperluan untuk keluarga di rumah. Saya bawa banyak barang. Tidak tahu kalau ada batas bagasi sampai 30kg saja. Tadi juga sempat ada satu tas yang terpaksa ditinggalkan di bandara, padahal isinya semua mainan untuk anak saya satu-satunya. Gimana lagi ya Mas, harus ada yang dikorbankan, yang penting saya bisa ketemu anak…” paparnya pilu.

Ia juga berkisah, sepeninggal suaminya karena kecelakaan, ia harus berjuang untuk menghidupi anak dan mertuanya. Ia lantas memutuskan untuk mengadu nasib menjadi TKW. Ia berkorban dengan harus berpisah jarak dengan anaknya, bekerja di negeri orang yang belum tentu menjamin pendapatan dan juga keselamatannya.

Sahabat NK, berkorban untuk kepentingan orang lain itu memang membutuhkan perjuangan. Nilai inilah yang juga ditekankan Alkitab agar kita tidak mementingkan keperluan kita sendiri. Kita mungkin tidak akan langsung menuainya kini, tetapi kelak dalam kekekalan kita akan menerima upahnya.***

Friday, January 28, 2011

ANDA BEGITU BERHARGA...

Ketenaran yang membunuh! Mungkin kisah hidup Kurt Donald Cobain, pendiri dan vokalis band grunge, Nirvana, dapat digambarkan dengan kalimat itu. Betapa tidak, sementara orang lain merasa puas dengan ketenaran, ia malah muak dengan hal itu dan kemudian mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Sebenarnya Cobain hanya ingin bermusik untuk menyalurkan rasa marah dan depresinya. Sejak kecil ia mengalami peristiwa traumatis karena perceraian orang tuanya. Di sekolah ia juga sering mengalami perlakuan kasar dari guru dan teman-temannya. Cobain diejek dan dipukul karena dianggap culun dan bego. Ia merasa tidak berharga.

Ironis memang. Di tengah-tengah popularitas yang diraihnya, ia malah banyak melakukan kegilaan. Ia beberapa kali menggubah lagu dengan lirik-lirik yang sukar dimengerti. Ia manggung dengan menggunakan gaun baby doll. Pernah menantang Axl Rose, vokalis Guns N Roses untuk berkelahi tanpa sebab. Ia juga mengajak Courtney Love, istrinya yang tengah hamil, untuk mengkonsumsi heroin. Cobain ngotot mengusulkan lagunya I Hate My Self dan I Want To Die sebagai judul album ketiga Nirvana. Terang saja usulan ini ditolak mentah-mentah oleh rekan-rekannya.

Puncak kegilaannya terjadi ketika ia mencoba merealisasikan rencana bunuh dirinya dengan menenggak 50 butir pil painkiller yang disiran sampagne. Upaya ini rupanya gagal. Ia hanya koma dan kemudian menjalani rehabilitasi. Tetapi belum sampai sembuh, ia kabur dari rumah sakit. Bulan berikutnya ia ditemukan tewas dengan kepala berlubang . Sepucuk pistol masih menempel di dekat dagunya, juga dengan sebuah catatan terhadap orang-orang yang dicintainya. “Aku sudah tidak tahan menjadi pusat perhatian…” tulisnya.

Sahabat NK, perasaan tidak berharga memang acap menjadi sumber persoalan di dalam kehidupan seseorang. Jika hal ini mencengkeram seseorang, banyak ha-hal negatif yang kemudian mengekor di belakangnya. Orang semacam ini bisa minder, tidak berguna, salah pergaulan, tidak berkembang, hingga mengakhiri hidup dengan bunuh diri yang konyol.

Penawar dari semuanya itu adalah ketika kita menyadari posisi kita di dalam Kristus. Di dalam Dia, kita menjadi pribadi yang teramat berharga. Kita diterima dan dikasihi tanpa syarat. Untuk membuktikan penerimaan dan kasihNya itu, Dia naik ke kayu salib. Yesus mensubstitusi kita sebagai orang berdosa. Kedudukan kita sebagai pendosa telah digantikannya dengan bayaran darahNya sendiri. Sesudah peristiwa penebusan itu, posisi kita berubah drastis. Tadinya orang hukuman, musuh Allah; kini telah menjadi orang-orang ketebusan. Bahkan, yang lebih dahsyat dari itu, kita diadopsi (diangkat) menjadi anak-anakNya.

Pemahaman kita terhadap karya penebusan Kristus akan menjadi kunci bagi kita untuk mengerti betapa berharganya kita. Di tengah-tengah intimidasi si jahat yang selalu mencoba menurunkan derajat kita, ingatlah kebenaran bahwa posisi kita amat mulia di dlam Kristus. Keberhargaan kita yang adalah anugrah ini akan membawa kita kepada hidup yang berhasil dan memuliakan Dia. Beridirilah di depan cermin sejenak, dan bersyukurlah untuk nilai hidup Anda di dalam Kristus.***