Tuesday, May 24, 2011


SALAH SANGKA

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:18-19)

Dengan berkacak pinggang seorang istri menunggu suaminya yang sebentar lagi pulang. Ia jengah mendengar isu tentang perselingkuhan suaminya yang dihembuskan teman-teman arisannya. Gosip suaminya main api itu telah berhasil membakarnya.
Terdengar suara motor suaminya yang melaju kian mendekat ke depan rumahnya. Ia semakin terbakar emosi ketika melihat bahwa footstep sepeda motor sebelah kanan terlipat, sementara sisi kiri terbuka seperti sehabis digunakan. “Ia pasti baru saja membonceng perempuan lain dengan posisi duduk menyamping,” gumamnya dalam hati. Begitu suaminya turun dan melepas helm, ia langsung memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan bernada kecurigaan. Nadanya pun kian lama kian meninggi. “Benar kan kata teman-temanku… Papa selingkuh. Main api. Lihat footstep ini. Setiap pulang kerja, selalu posisinya begini.  Apalagi kalau bukan habis ngebonceng perempuan lain?”
“Mama ini apa-apaan sih? Suami pulang bukannya disambut dengan mesra, malah dihujani kecurigaan yang engga-engga…” jawab suaminya. “Papa tuh tiap pulang kerja ngebonceng seorang Bapak yang cacat. Kaki kanannya sudah diamputasi. Jadi wajar lah kalau footstep sebelah kiri saja yang terbuka,” timpalnya lagi.
Sang istri lantas malu. Apa yang menjadi kecurigaannya selama ini ternyata tak berdasar. Ia malah mendapatkan kenyataan bahwa suaminya adalah sosok yang suka menolong orang yang membutuhkan. Sejak itu ia tak ingin lagi dibakar api cemburu tanpa dasar.
Sahabat, salah satu kunci untuk mengatasi konflik di dalam keluarga adalah dengan membangun sebuah kepercayaan terhadap pasangan dan tidak mudah percaya kepada gosip yang tidak jelas sumbernya. Jika suami dan isteri memegang prinsip ini, niscaya keharmonisan rumah tangga menjadi bagian hidup kita. [JP]

Monday, May 23, 2011

NASIB NELANGSA PAHLAWAN DEVISA

 
“...dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga,” (Filipi 2:4)
Dalam sebuah penerbangan dari Amman (Yordania) ke Dubai (Uni Emirat Arab), saya duduk bersebelahan dengan dengan seorang TKW asal Indramayu. Sebelum duduk di bangku kabin pesawat, ia tampak sibuk membereskan barang-barang bawaannya untuk dimasukkan ke locker. Tetapi ada satu barang yang terpaksa ditaruh di bawah bangku karena locker tak lagi mencukupi.

“Barang bawaannya banyak juga ya Mba?” tanya saya mengawali pembicaraan. “Sudah tiga tahun tidak pulang, bawa keperluan untuk keluarga di rumah. Saya bawa banyak barang. Tidak tahu kalau ada batas bagasi sampai 30kg saja. Tadi juga sempat ada satu tas yang terpaksa ditinggalkan di bandara, padahal isinya semua mainan untuk anak saya satu-satunya. Gimana lagi ya Mas, harus ada yang dikorbankan, yang penting saya bisa ketemu anak…” paparnya pilu.

Ia juga berkisah, sepeninggal suaminya karena kecelakaan, ia harus berjuang untuk menghidupi anak dan mertuanya. Ia lantas memutuskan untuk mengadu nasib menjadi TKW. Ia berkorban dengan harus berpisah jarak dengan anaknya, bekerja di negeri orang yang belum tentu menjamin pendapatan dan juga keselamatannya.

Sahabat NK, berkorban untuk kepentingan orang lain itu memang membutuhkan perjuangan. Nilai inilah yang juga ditekankan Alkitab agar kita tidak mementingkan keperluan kita sendiri. Kita mungkin tidak akan langsung menuainya kini, tetapi kelak dalam kekekalan kita akan menerima upahnya.***

Friday, January 28, 2011

ANDA BEGITU BERHARGA...

Ketenaran yang membunuh! Mungkin kisah hidup Kurt Donald Cobain, pendiri dan vokalis band grunge, Nirvana, dapat digambarkan dengan kalimat itu. Betapa tidak, sementara orang lain merasa puas dengan ketenaran, ia malah muak dengan hal itu dan kemudian mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Sebenarnya Cobain hanya ingin bermusik untuk menyalurkan rasa marah dan depresinya. Sejak kecil ia mengalami peristiwa traumatis karena perceraian orang tuanya. Di sekolah ia juga sering mengalami perlakuan kasar dari guru dan teman-temannya. Cobain diejek dan dipukul karena dianggap culun dan bego. Ia merasa tidak berharga.

Ironis memang. Di tengah-tengah popularitas yang diraihnya, ia malah banyak melakukan kegilaan. Ia beberapa kali menggubah lagu dengan lirik-lirik yang sukar dimengerti. Ia manggung dengan menggunakan gaun baby doll. Pernah menantang Axl Rose, vokalis Guns N Roses untuk berkelahi tanpa sebab. Ia juga mengajak Courtney Love, istrinya yang tengah hamil, untuk mengkonsumsi heroin. Cobain ngotot mengusulkan lagunya I Hate My Self dan I Want To Die sebagai judul album ketiga Nirvana. Terang saja usulan ini ditolak mentah-mentah oleh rekan-rekannya.

Puncak kegilaannya terjadi ketika ia mencoba merealisasikan rencana bunuh dirinya dengan menenggak 50 butir pil painkiller yang disiran sampagne. Upaya ini rupanya gagal. Ia hanya koma dan kemudian menjalani rehabilitasi. Tetapi belum sampai sembuh, ia kabur dari rumah sakit. Bulan berikutnya ia ditemukan tewas dengan kepala berlubang . Sepucuk pistol masih menempel di dekat dagunya, juga dengan sebuah catatan terhadap orang-orang yang dicintainya. “Aku sudah tidak tahan menjadi pusat perhatian…” tulisnya.

Sahabat NK, perasaan tidak berharga memang acap menjadi sumber persoalan di dalam kehidupan seseorang. Jika hal ini mencengkeram seseorang, banyak ha-hal negatif yang kemudian mengekor di belakangnya. Orang semacam ini bisa minder, tidak berguna, salah pergaulan, tidak berkembang, hingga mengakhiri hidup dengan bunuh diri yang konyol.

Penawar dari semuanya itu adalah ketika kita menyadari posisi kita di dalam Kristus. Di dalam Dia, kita menjadi pribadi yang teramat berharga. Kita diterima dan dikasihi tanpa syarat. Untuk membuktikan penerimaan dan kasihNya itu, Dia naik ke kayu salib. Yesus mensubstitusi kita sebagai orang berdosa. Kedudukan kita sebagai pendosa telah digantikannya dengan bayaran darahNya sendiri. Sesudah peristiwa penebusan itu, posisi kita berubah drastis. Tadinya orang hukuman, musuh Allah; kini telah menjadi orang-orang ketebusan. Bahkan, yang lebih dahsyat dari itu, kita diadopsi (diangkat) menjadi anak-anakNya.

Pemahaman kita terhadap karya penebusan Kristus akan menjadi kunci bagi kita untuk mengerti betapa berharganya kita. Di tengah-tengah intimidasi si jahat yang selalu mencoba menurunkan derajat kita, ingatlah kebenaran bahwa posisi kita amat mulia di dlam Kristus. Keberhargaan kita yang adalah anugrah ini akan membawa kita kepada hidup yang berhasil dan memuliakan Dia. Beridirilah di depan cermin sejenak, dan bersyukurlah untuk nilai hidup Anda di dalam Kristus.***

Wednesday, January 19, 2011

MEMUPUK KERINDUAN KEPADA FIRMAN

“...tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:2)

Saya kaget, senang dan sekaligus bangga. Renungan Harian Nilai Kehidupan ini yang tadinya dicetak 2.000 eksemplar, kemudian dalam waktu 3 tahun dicetak dalam kisaran angka 4.000. Tetapi saya punya praduga bahwa jumlah pembaca jauh melebihi angka itu. Mengapa demikian? Saya dan teman-teman di NK mencoba mengupload renungan ini di situs jejaring sosial facebook. Pada awalnya hanya digemari ratusan orang, kemudian menganjak angka 1.000. Hanya dalam beberapa bulan saja, jumlahnya kemudian meledak menembus angka 7.500 jauh melebihi edisi cetaknya. Dan saya lebih kaget lagi karena jumlah penggemar NK on facebook terakhir sudah menembus angka 20.000.
Saya pribadi berdoa dan menangkap hal ini sebagai bentuk kerinduan terhadap “merenungkan firman siang dan malam” sebagaimana dinyatakan Pemazmur. Dan mudah-mudahan ini benar. Hal yang harus terus menerus dipupuk dalam situasi dan kondisi yang semakin tidak menentu seperti sekarang ini. Sementara banyak orang memusingkan banyak hal dalam kehidupan mereka, kekuatan orang-orang percaya justru terletak dalam kecintaan kepada firmanNya.
Dewasa ini tentu kita tidak bisa beralasan lagi tentang terbatasnya media untuk merenungkan firman Tuhan. Lihatlah di toko buku, betapa banyak renungan harian yang dapat membantu kita dalam mencerna kebenaran firman. Buku renungan itu bahkan sudah dikategorikan sedemikian rupa dengan kebutuhan kita. Secara elektronik, kita juga bisa mendapatkan ayat-ayat firman Tuhan dari telephon seluler atau smartphone yang kita miliki.
Sahabat NK, sebenarnya masalah yang terjadi sejak dulu adalah niat hati! Fasilitas yang lengkap tanpa kerinduan yang kuat tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, meskipun minim fasilitas, tetapi jika kerinduan akan firman membara, segala jalan akan terbuka. Semuanya berpulang kepada kita. [JP]

Tuesday, January 04, 2011

KESAKSIAN OM JO

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.” (Matius 5:16)

Bumi Maluku menyumbangkan banyak tokoh yang kehidupannya memberi dampak bagi bangsa ini. Salah satu diantaranya adalah Prof. Johanes Leimena. Orang-orang memanggilnya Om Jo. Ia lahir pada tanggal 6 Maret 1905 dari keluuarga guru di Desa Ema, Pulau Ambon. Om Jo dikenal sebagai orang Kristen yang berkarakter luhur dan penuh dedikasi.
Johanes menempuh pendidikan dasarnya pada sekolah “Ambonesche Burgerschool” di Ambon dan menyelesaikannya pada sekolah ELS (Europeesche Lagere School) di Jakarta tahun 1919. Kemudian melanjutkan ke sekolah menengah “MULO” Kristen dan tamat pada tahun 1922. Selanjutnya menempuh pendidikan tinggi pada sekolah kedokteran “STOVIA” di Jakarta dan tamat pada tahun 1930. Setelah bekerja sebagai dokter swasta, ia melanjutkan studi dan mendalami ilmu kedokteran meraih gelar Doktor pada tahun 1939.

Ia berjuang melintasi setiap zaman untuk memberi yang terbaik bagi Indonesia. Johanes adalah ketua umum Yong Ambon yang memelopori Sumpah Pemuda 1928. Ia juga menjadi Menteri Kesehatan RI selama 8 kali dan pernah juga menjadi Pejabat Presiden RI. Iman Kristennya yang teguh, diaktualisasikan dalam tindakan sederhana yang nyata, telah membuatnya diterima berbagai kalangan. 10 November 2010 lalu Prof. Johanes Leimena dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Sahabat, demikianlah seharusnya kehidupan kita sebagai orang percaya dijalankan. Iman yang berkenaan dengan hubungan kita ke atas kepada Tuhan, diwujudnyatakan dengan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. [JP]

Wednesday, December 15, 2010

MAXIMUM IMPACT

Influenza tercatat sebagai salah satu penyakit pandemik tertua di dunia ini. Bukan hanya tertua, tetapi wilayah cakupannya juga sangat luas meliputi seluruh dunia. Keberadaan penyakit inipun telah dideteksi oleh Hippocrates, salah seorang peletak dasar ilmu kedokteran dunia, lebih dari 2000 tahun yang lalu. Banyak obat telah dihasilkan kemudian, dari generasi ke generasi, untuk menangkal virus influenza. Bukannya berhenti, jenis penyakit ini malah ‘melahirkan’ penyakit turunannya semacam flu babi, flu burung, flu tulang, flu Hongkong, dll.

Kata ‘influenza’ sendiri berasal dari istilah Latin yang berarti ‘pengaruh’. Dari kata inilah istilah influence dalam Bahasa Inggris muncul. Zaman dahulu kala, orang yang terjangkiti influenza dipercaya terpengaruh oleh nasib buruk berdasarkan ramalan perbintangan (astrologi). Di kemudian hari, diyakini juga bahwa pengaruh cuaca yang dingin dapat mengakibatkan influenza. Setiap orang yang menderita influenza, dengan demikian, sedang terkena pengaruh.

Dalam kasus yang hampir sama, meski berbeda hal, Coca-Cola juga menorehkan pengaruh yang luar biasa terhadap dunia. Pada 8 Mei 1886, John Styth Pemberton, seorang ahli frmasi dari Atlanta, Georgia, USA memperkenalkan campuran sirup karamel yang kemudian tenar dengan istilah Coca-Cola. Dari sebuah industri kecil, minuman ringan ini kemudian merambah wilayah yang lebih luas, berkelana ke seantero dunia. Hari ini, setidaknya 1 milyar botol diminum orang setiap harinya di seluruh dunia. Rasanya setiap kepala di dunia ini pernah merekam Coca-Cola di dalam otaknya, meskipun belum pernah meminumnya.

Yesus Kristus mengajarkan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang menularkan pengaruh. Banyak perumpamaan disampaikanNya untuk menjelaskan prinsip pengaruh ini. Yesus berbicara tegas tentang garam dan terang. Ia juga menyatakan bahwa tak mungkin menyembunyikan pelita di bawah gantang. Dalam perkembangan lain, Ia mengumpamakan pengaruh Kerajaan Allah di muka bumi ini seperti ragi yang sedikit tetapi mempengaruhi adonan secara merata. Di bagian lain, Alkitab pun mencatat bahwa kita adalah surat Kristus yang terbuka. Kita juga dipanggil untuk memancarkan bau harum Kristus. Inilah panggilan setiap orang percaya: menjadi pengaruh! Ya, dengan pengaruh yang maksimal, maximum impact.

Cobalah tengok, Yesus tak pernah menginginkan pengaruh kita dibatasi oleh ranah yang sempit. Sebaliknya, Ia mau pengaruh kita tertular kepada dunia. Kala memberi Amanat Agung, Ia menandaskan tentang “semua bangsa” – “segala makhluk”. Memang semuanya diawali oleh sebuah wilayah yang kecil dan sempit. Hal ini terlihat dalam Kisah 1:8 yang memulai memancarkan pengaruh Injil dari Kota Yerusalem, seluruh Yudea, berlanjut ke Samaria dan akhirnya ujung bumi.

Rahasia panggilan ini besar! Ini anugrah yang sangat luar biasa karena kita yang berdosa, ditebus, diselamatkan dan kemudian diutusnya. Di sisi lain, anugrah itu juga meletakkan tanggung jawab di pundak kita. Perlu sebuah kesiapan matang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab ini. Tidak banyak waktu lagi untuk mengesampingkan amanat ini. Sudah waktunya untuk membekali diri dengan seluruh perlengkapan rohani kita sebagai orang-orang yang berpengaruh. Milikilah integritas tinggi, kinerja terbaik, pelayanan total. Semuanya demi maximum impact!***

Tuesday, December 07, 2010

BAYAR HARGA UNTUK RAJA

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3:20)

Festival Keraton Internasional yang sedianya dihelat 26 September lalu di Solo, urung digelar. Menurut Disbudpar Kota Solo, acara ini ditunda pelaksanaannya hingga waktu yang belum bisa ditentukan karena terkendala biaya yang belum cair sebesar 2 miliar rupiah. Pemkot Solo mengharapkan agar 20% dana itu dicairkan dari APBD dan 80% sisanya bisa didapat dari pihak sponsor. Tetapi hingga batas waktu yang ditentukan, belum ada pihak sponsor yang bersedia membantu. Dana itu dicadangkan untuk menjamu dan menyiapkan akomodasi 20 Raja dari negara lain dan 50 raja dari Indonesia.

Menyambut tamu, apalagi jika mengetahui bahwa tamu yang bakal datang adalah seorang raja, memerlukan persiapan yang matang. Sebagai tuan rumah, perlu memikirkan kebersihan tempat penyambutan. Persiapan jamuan terbaik pun mendesak untuk dilakukan. Semuanya harus tampil prima untuk menghormati dan menghargai sang tamu.

Tahukah Anda Sahabat, bahwa Natal yang setiap tahun kita peringati ini adalah sebuah penyambutan juga untuk Raja Kemuliaan yang datang? Sama seperti persiapan terbaik kita lakukan untuk tamu kehormatan khusus, tentu hal ini juga kita lakukan untuk Sang Kristus. Bedanya, Ia tidak menuntut akomodasi dan makanan enak untuk dihidangkan. Satu-satunya ‘akomodasi’ yang dibutuhkannya adalah hati kita. Lebih dari itu, bukan kita yang menghidangkan makanan bagi-Nya, justru Dialah yang mengajak kita makan sehidangan dengan-Nya.

Tunggu apa lagi? Buka hati Anda lebar-lebar bagi Raja Kemuliaan yang datang itu. Selamat Natal! [JP]

NATAL ADALAH PESTA PENYAMBUTAN BAGI SANG RAJA
GENG CENGENG

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” (2 Korintus 5:10)

Belasan anggota geng motor baru saja beraksi dengan mengobrak-abrik dan menjarah sebuah mini market. Aksi mereka diketahui aparat kepolisian dan akhirnya beberapa diantara mereka tertangkap tangan. Tak segagah dan seganas ketika beraksi di jalanan, ternyata anggota geng yang kerap meresahkan itu mewek, menangis tersedu kala diinterogasi. Mereka dimintai pertanggung- jawaban atas perbuatan melawan hukum yang telah mereka lakukan.

Banyak orang yang berani berbuat tetapi tidak berani bertanggung jawab. Tanpa berpikir panjang melakukan apa saja sekehendak hati, tetapi ketika dimintai keterangan, responsibilitasnya lenyap.

Ngomong-ngomong tentang pertanggung-jawaban, salah satu agenda utama dari kedatangan Kristus kedua kali bagi umat-Nya adalah untuk “menghakimi” mereka yang percaya kepadaNya. Dihakimi bukan untuk divonis hukuman, tetapi untuk mendapatkan upah sesuai dengan apa yang sudah dikerjakan selama hidup di dunia.

Dia telah datang di First Noel, lebih dari 2000 tahun yang lalu, sebagai Juru Selamat dan Tuhan atas umat manusia. Selanjutnya Ia yang telah naik ke Sorga itu akan datang kembali sebagai Hakim yang adil. Adakah apa yang kita lakukan kini sebagai orang-orang ketebusan telah benar-benar mempersembahkan perbuatan yang siap dipertanggung-jawabkan di hadapan takhta pengadilan-Nya? Jauh lebih baik kita ‘menangis’ kini ketika menyangkal diri dan memikul salib, daripada kita ‘menangis’ kelak di hadapan Tuhan karena tak satupun mahkota kita dapat. Bukankah begitu? [JP]

SEMUA TINDAKAN KITA AKAN DIPERTANGGUNGJAWABKAN DI DEPAN PENGHAKIMAN-NYA
LEBIH BERHARGA DARI SANDAL

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)

Ada sebuah SMS tentang anak hilang: Dicari, anak hilang dengan ciri-ciri rambut hitam agak ikal, kulit hitam, usia 7 tahun, ketika pergi menggunakan kaos merah, bercelana pendek kotak-kotak dan bersendal crocs kebesaran. Anda yang menemukan anak tersebut mohon segera memberi kabar karena sandalnya mau dipakai. Terima kasih...

Ah, saya sudah serius menyimak berita itu dari awal, ternyata hanya jokes belaka. Masakan sepasang sandal jauh lebih diperhatikan daripada anak hilang? Tetapi jika mau jujur diperhatikan, faktanya memang demikian. Benda atau binatang kadang jauh lebih dihargai daripada manusia sebagai ciptaan yang paling luhur. Orang bisa stress jika kehilangan barang kesayangannya, tetapi datar-datar saja jika melihat anak jalanan kelaparan. Ada juga yang begitu bersedih hati berlebihan ketika binatang kesayangannya mati karena kecelakaan, tetapi bersikap biasa saja ketika melihat pengemis tewas kecelakaan di jalan.

Sahabat, kita perlu mengingat bahwa manusialah yang menjadi pusat rencana-Nya. Manusia jugalah yang menjadi obyek kasih-Nya jauh melebihi kasih-Nya terhadap ciptaan yang lain. Ia merelakan Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, untuk mati bagi manusia, bukan untuk menebus yang lain.

Karena itu, ubahlah fokus belas kasihan kita yang mungkin keliru sementara ini dengan lebih menghargai benda/binatang melebihi jiwa yang terhilang. Dan untuk itu kita tidak butuh terlalu banyak teori. Doakan mereka yang terhilang dan selanjutnya mewujudnyatakan kasih Allah bagi mereka. [JP]

SEBURUK APAPUN PENAMPILAN MANUSIA, IA TETAPLAH CIPTAAN ALLAH TERMULIA

Thursday, November 04, 2010

POLISI MISTERIUS ITU…

Rajapolah, menjelang Lebaran tahun 2000.

Kala itu baru beberapa bulan aku menjalani hari-hari baru karena bekerja di Tasikmalaya. Selesai mengurus beberapa hal di Jogja dalam dua hari, aku harus bersegera pulang ke Tasik. Dan seperti biasanya, bus Suka menjadi pilihan moda transportasi. Disamping terjangkau, Suka adalah satu-satunya bus dengan trayek Jogja-Tasik.

Cilakanya, hari dimana aku merencanakan perjalanan, bus tanpa AC itu tak beroperasi. Agen penjualan karcis di terminal kemudian menyarankan beberapa alternatif. Pertama, naik bus jurusan Purwokerto dan menyambung ke Tasik dari Kota Mendoan itu. Kedua, naik bus Kramat Djati jurusan Bandung, turun di Cikoneng - Ciamis, nanti tinggal cari ojek menuju Tasik yang tinggal lebih-kurang lima kilometer lagi. Aku pilih alternatif kedua.

Tiket dipesan dan jadilah saya menumpang Kramat Djati hari itu. Bus malam itu lebih nyaman karena ber-AC dan lebih lega jarak antarbangkunya. Seperti biasa, setelah mampir makan malam, bus kembali meluncur melanjutkan perjalanan dan tertidurlah aku. Singkat cerita, aku terbangun di Banjar, kota paling timur di jalur selatan Jawa Barat. Tetapi dasar si 'pelor' (begitu nempel langsung molor…), aku kembali tertidur. Ketika bus melintas di Cikoneng, tempat dimana seharusnya aku turun, aku masih terlelap. Kebablasan...

Aku baru sadar menjelang bus masuk Rajapolah, kota kecamatan yang terletak belasan kilometer di arah Bandung dari Tasikmalaya. Kondektur menyarakan agar aku turun di kecamatan yang terkenal dengan kerajinan tangannya itu. Memang tidak ada pilihan lain, jadilah aku turun di sana. Waktu itu jam 02.00 dinihari. Subuh yang dingin dan lengang. "Naik apa saya ke Tasik?" saya bergumam dalam hati. Angkutan umum belum ada, ojek menawarkan jasa dengan ongkos yangterlalu mahal, jalan kaki jelas tak mungkin. Saya berdoa lirih dalam hati di trotoar seberang masjid, "Tuhan, tolong saya dalam masalah ini. Berikanku jalan keluar…"

Tak berapa lama sebuah mobil Ferosa melintas dengan kecepatan sedang dari arah Bandung. Lampu sign sebelah kirinya menyala, memberi tanda hendak menepi. Dan benar, mobil berhenti tepat di depan aku berdiri. Kaca mobil perlahan bergerak turun.

"Maaf Mas, saya mau ke Ciamis lewat Tasik. Apakah ini arah yang benar?" tanya pengemudi mobil.

"Benar Pak, lurus aja terus ikuti jalan ini," jawabku kepada pria berkumis dan berjaket kulit hitam itu.

"Lho, Mas lagi nungguin siapa? Mau kemana?"

"Dari Jogja mau ke Tasik Pak. Tadi ketiduran di bus dan kebabalasan sampai ke sini..."

"Jadi mau ke Tasik juga? Ya udah, naik aja ikut saya. Sekalian bisa nunjukin jalan kan? Ayo..." pintanya sambil membuka pintu.

Akhirnya aku menumpang mobil itu. Pria baik hati pemberi tumpangan itu ternyata seorang polisi. Ia berkisah akan mengunjungi mertuanya di Ciamis menjelang Lebaran. Tanpa disertai istrinya, ia tak terlalu hafal jalan karena memang jarang mengemudi sendiri ke luar kota. Apalagi ia asli Padang.

Sampai di simpang lima Tasik saya turun.

"Bapak belok kiri, terus saja ikuti jalan ini. Ciamis tak terlalu jauh lagi Pak. Terima kasih untuk tumpangannya," ujarku berterima kasih.

"Ok. Eh, sebentar Mas, ini ada sedikit kue. Bawa aja, lagian kebanyakan kalau harus dikasih semua ke mertua. Terima kasih untuk menunjukkan jalan."

“Terima kasih banyak sekali lagi Pak. Selamat jalan!”

Tak terlalu banyak informasi tentang Polisi itu, bahkan aku tak sempat bertanya siapa namanya. Tetapi kedatangannya yang tepat waktu, mengingatkan kembali tentang pertolongan Tuhan yang tak pernah terlambat. Di pagi buta itu, doa lirih di dalam hati mendapatkan jawabannya...***

Wednesday, October 13, 2010

so inspired...

PERTANDINGAN YANG TAK MENENTUKAN

“…sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16)

Pernahkah Anda menyaksikan sebuah pertandingan olahraga yang hasilnya tidak lagi menentukan bagi kedua tim yang bertanding? Pertandingan itu pasti akan menjadi pertemuan yang sangat membosankan. Atau pernahkah Anda menyaksikan laga persahabatan? Tidak ada gengsi yang dipertahankan dan tidak ada sesuatu yang menjadi tantangan untuk dikejar.

Berbeda dengan pertandingan yang kerap disebut sebagai “partai hidup-mati”. Duel semacam ini menjadi menarik untuk disaksikan. Masing-masing tim akan bertanding dengan mengerahkan semua jurus agar dapat melumpuhkan lawan. Sambil berhati-hati terhadap serangan lawan, tempo permainan tinggi biasanya diperagakan. Tontonan semacam ini yang diminati pemirsa olah raga.

Kehidupan kita sebagai orang percaya dalam menjaga kekudusan ibarat pertandingan olah raga. Kita diperhadapkan pada pada tantangan-tantangan yang mencoba membuat kita terjatuh. Tetapi justru di situlah seninya. Kekudusan hidup yang dibangun itu menjadi bernilai ketika tekanan dan tantangannya semakin besar.

Hal ini berbeda dengan kesucian yang dibangun dengan mengasingkan diri atau dengan menyingkirkan segala macam godaan. Menyepi agar tak melihat hal-hal yang tak berkenan ibarat merindukan kemenangan tanpa bertanding.

Karena itu Sahabat, di sinilah –di tengah-tengah dunia yang sudah bobrok ini– kita membuktikan kesucian hidup kita di hadapan Tuhan. Kita diberik kuasa dan kemampuan untuk melakukannya bersama Roh Kudus yang berdiam di dalam kita. [JP]

Thursday, October 07, 2010

KEHADIRAN SEORANG AYAH


“Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya....” (Maleakhi 4:6)

Salah satu problem yang terjadi dalam kehidupan keluarga sepanjang tahun dan memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan jemaat, pekerjaan, pergaulan dan masyarakat adalah masalah “Fatherlessness”. Maksud dari situasi “Fatherlessness” dalam kehidupan keluarga adalah generasi anak-anak yang tumbuh tanpa pernah memperoleh figur seorang ayah sebagaimana seharusnya. Anak-anak tersebut tidak pernah merasakan pengaruh, hubungan dan peran seorang ayah yang positif dan yang dapat dijadikan model sebagai landasan bagi pembentukan karakter atau kepribadian anak.

“Fatherlessness” pada prinsipnya dialami oleh anak-anak dalam suatu keluarga yang tidak merasakan kehadiran, hubungan atau relasi dan peran nyata dari seorang ayah. Penyebab utama dari situasi “tanpa ayah” adalah karena: pertama, anak-anak yang telah menjadi yatim sejak kecil karena ayah mereka meninggal. Kedua, perceraian, sehingga ayah dan ibu mereka tidak lagi hidup bersama dalam sebuah keluarga. Ketiga, kesibukan pekerjaan sehingga seorang ayah tidak dapat memberi waktu, perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak-anak atau anggota keluarganya. 

Situasi “tanpa ayah” (“Fatherlessness”) dari hasil survey “Gallup Poll” dari The National Center for Fathering di Amerika terakhir ternyata cukup mengejutkan yaitu mencapai 79%. Jadi keadaan “Fatherlessness” secara faktual terjadi, dan bukan sekedar suatu dugaan belaka. 

Sahabat, absennya seorang ayah ternyata sangat berpengaruh fital terhadap pertumbuhan anak. Tetapi kita bersyukur kepada Allah, karena Ia adalah pribadi yang selalu hadir sebagai Bapa sejati. Kembali temukan kasihNya agar kita bertumbuh di dalam Dia. [JP]

Tuesday, October 05, 2010

GOD IS WATCHING, GIVE HIM GOOD SHOW

“Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik .” (Amsal 15:3)

Adalah seorang anak nakal yang gemar mencuri mangga di pohon tetangganya. Sudah berkali-kali diperingatkan oleh orang tuanya agar menghentikan kebiasaannya mencuri, bukannya sadar, ia malah semakin menjadi-jadi. Tetangga-tetangga yang menanam pohon mangga pun sudah kehabisan akal untuk mengatasi kebiasaan buruk anak ini. Selalu saja ada cara baginya untuk mencuri mangga.

Salah seorang tetangganya suatu kali menggunakan cara yang kelihatan rohani dengan 'membawa-bawa' Tuhan dalam urusan ini. Ia memasang sebuah tulisan di pohon, “Tuhan tahu apa yang kamu lakukan!” Tetapi keesokan harinya, beberapa buah mangganya tetap saja hilang dan bertambah pula tulisan di papan itu, “Tuhan memang tahu, tetapi Ia tidak pernah memberitahu!” Betapa nakal dan usilnya anak itu…

Coba kita renungkan sejenak. Bukankah kita kadang seperti anak kecil pencuri mangga itu? Kita paham betul bahwa Tuhan Mahatahu dan karena kemahatahuanNya itu, tidak satupun dari apa yang kita lakukan dapat kita sembunyikan di hadapanNya. Di mataNya, kehidupan kita menjadi begitu transparan. Tetapi meskipun kita tahu bahwa Dia Mahatahu, tetap saja kita melakukan pelanggaran yang disengaja. Lebih buruk lagi, bahkan dosa itu kita rencanakan sedemikian rupa.

Sahabat, bukankah seharusnya kita melakukan hal yang berkenan bagiNya jika kita tahu bahwa Dia Mahatahu? Ibarat sedang bermain pada sebuah pertunjukkan, seharusnya kita memberi Sang Sutradara yang sekaligus Penonton pertunjukkan yang menyenangkan hatiNya. MataNya yang tajam sedang mengawasi, berilah Dia pertunjukkan hidup yang terbaik. [JP]

Friday, October 01, 2010

PENGAKUAN MARION JONES

“Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” (Mazmur 32:5)

Marion Jones adalah atlit Amerika Serikat untuk cabang atletik yang pernah tersangkut kasus dopping di Olimpiade Sydney 2000. Karena terbukti menggunakan dopping, ia kemudian didiskualifikasi dari arena perlombaan olah raga seluruh dunia itu. Bukan itu saja, ia kemudian juga harus menjalani hari-harinya dengan mendekam di penjara.

Ia yang sudah merintis karirnya sejak SMA, harus merasakan pahitnya hidup karena kesalahan yang dilakukannya. Dalam sebuah wawancara dengan Oprah, ia mengakui bahwa ketenaran dan kekayaan sekalipun tidak dapat memberinya kebahagiaan karena selalu dihantui rasa bersalah. Ia baru mendapatkan kedamaian hidup dengan mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya dan menebusnya di dalam penjara.

Sahabat, damai sejahtera kita acap terenggut bukan oleh orang lain, tetapi karena kita sendiri dengan membiarkan dosa tanpa pengakuan. Kita berpikir bahwa dengan menyembunyikan dosa, masalahnya akan selesai. Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya bukan? Kita diteror dan diintimidasi iblis karenanya. Lalu sukacita dan damai sejahtera hilang. Pikiran kacau, susah tidur dan tidak jarang kemudian sakit secara fisik.

Tidak ada untungnya sama sekali menyimpan dosa dalam hidup kita. Ini bukan investasi yang berguna, sebaliknya justru akan menggerogoti kedamaian kita. Karena itu mari kita memilih untuk jujur mengakui di hadapan Tuhan dan mendapatkan pengampunan serta damai sejahtera kita dari Sang Kristus. [JP]
TES KEPERAWANAN?

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya yang bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanNya.” (Mazmur 119:9)

Bambang Bayu Suseno, seorang anggota DRPD Provinsi Jambi, membuat heboh dengan melontarkan wacana tes keperawanan bagi calon siswi SMP – Perguruan Tinggi. Keinginan itu muncul, konon didasari niatnya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Jambi. Sontak, wacana itu menimbulkan aksi pro dan kontra.

Sebagian menganggap bahwa ini adalah sebuah wacana kurang kerjaan. Sebagian lagi menyatakan bahwa tes keperawanan ini adalah bentuk ketidakadilan terhadap perempuan, yang mustinya disertai tes keperjakaan juga. Tetapi tidak sedikit yang mendukung juga dengan alasan moralitas. Harapannya dengan diadakannya tes keperawanan itu akan membuat banyak gadis, atau remaja pada umumnya berpikir untuk menjaga kesucian hidup mereka.

Bagaimana menurut Anda, Sahabat? Apakah faktor eksternal semacam itu cukup membantu untuk menekan angka seks bebas dan membantu remaja mempertahankan kesucian hidupnya? Jawabannya bisa bermacam ragam dan kompleks melibatkan banyak hal.

Pemazmur mengingatkan bahwa seorang muda dapat mempertahankan kelakuan yang bersih dan kudus di hadapan Allah jika mereka menjaganya sesuai dengan firman-Nya. Artinya, kerinduan dan kedekatan terhadap firman adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi seorang muda. Firmanlah yang kemudian memberi prinsip-prinsip dan kuasa untuk hidup kudus dan menyenangkan hati-Nya. [JP]

Wednesday, September 29, 2010

Obama: Mengapa Saya Kristen

ALBUQUERQUE, KOMPAS.com  Sebuah acara yang dirancang untuk diskusi mengenai masalah perekonomian berubah menjadi acara yang membahas masalah pribadi, Selasa (28/9/2010). Hal itu terjadi ketika seorang perempuan menanyakan kepada Presiden AS Barack Obama tentang iman Kristen dan pandangannya terhadap aborsi.
Pertanyaan itu mencuat pada sebuah pertemuan bergaya balai kota di halaman sebuah rumah di Albuquerque, AS, sebagai bagian dari pendekatan publik Obama untuk menjelaskan kebijakannya dan dalam rangka kampanye Partai Demokrat untuk pemilu kongres pada November mendatang.
Setelah sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa hanya sepertiga dari orang Amerika yang dengan benar mengidentifikasi Obama sebagai seorang Kristen, Presiden memberikan tanggapan pribadi, sebagai orang dewasa, dalam percakapan itu. Ia juga memaparkan tentang bagaimana tugas pelayanan publiknya menjadi bagian dari praktik imannya.

"Saya seorang Kristen karena pilihan," kata Obama memulai jawabannya, dengan tetap berdiri di bawah terik matahari, ketika ditanya mengapa ia menjadi seorang Kristen. "Saya memeluk iman Kristen belakangan, dan itu karena ajaran Yesus Kristus yang berbicara kepada saya tentang kehidupan yang ingin saya lakoni," kata Obama seperti dikutip 
CNN. "Menjadi pelindung bagi saudara dan saudari saya. Memperlakukan orang lain sebagaimana mereka akan memperlakukan saya. Dan saya pikir, juga memahami itu, bahwa Yesus Kristus wafat untuk dosa-dosa saya, berbicara dengan kerendahan hati bahwa kita semua harus berlaku sebagai manusia."

Ia melanjutkan, "Manusia penuh dosa dan makhluk tak sempurna yang membuat kesalahan dan memperoleh keselamatan melalui kasih karunia Allah." Ia menambahkan, "Kita juga dapat melihat Tuhan pada sosok orang lain dan melakukan hal terbaik kita untuk membantu mereka menemukan kasih karunia mereka sendiri."

"Jadi, itulah yang berusaha saya lakukan," kata Obama. "Itu yang saya panjatkan dalam doa untuk saya lakukan setiap hari. Saya pikir tugas pelayanan publik saya adalah bagian dari upaya itu, untuk mengungkapkan iman Kristen saya."

Pada saat yang sama, Obama menekankan keyakinannya bahwa kebebasan beragama adalah bagian dari kekuatan penting Amerika Serikat. "Ini merupakan sebuah negara yang masih didominasi Kristen, tapi kita punya orang-orang Yahudi, Muslim, Hindu, ateis, agnostik, Buddha dan lain-lain," katanya. Ia menambahkan, "Jalan rahmat mereka (warga non-Kristen) adalah salah satu yang kita harus hargai dan hormati sebagaimana keyakinan kita sendiri, dan itulah yang menjadikan negara ini seperti apa adanya saat ini." 

Penanya yang sama juga menanyakan tentang peraturan aborsi dini dan aborsi saat usia kandungan sudah tua, yang menjadi isu politis dalam perdebatan aborsi. Obama menjawab, aborsi harus menjadi sesuatu yang "aman, legal, dan langka" di Amerika. Ia pun menambahkan bahwa keluargalah, bukan pemerintah, yang harus membuat keputusan tentang hal itu.

Pada tanggal 19 September, Obama secara terbuka menghadiri kebaktian di gereja untuk pertama kalinya dalam hampir enam bulan sejak keluarga itu bergabung dengan kebaktian pada pukul 09.00 di Gereja St John Lafayette Square, sebuah kongregasi Episkopal yang terletak sekitar satu blok dari Gedung Putih. Keluarga itu duduk beberapa baris dari altar, di antara sekitar 40 anggota jemaat. 

Sebagai informasi, sebuah survei yang dilakukan pada akhir Juli dan awal Agustus oleh Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik menunjukkan, hampir satu dari lima orang Amerika percaya bahwa Obama seorang Muslim. Angka itu naik dari sekitar satu dari 10 orang Amerika yang mengatakan ia Muslim pada tahun lalu. Jumlah orang Amerika yang menyatakan ragu-ragu tentang agama sang Presiden jauh lebih besar dan terus bertumbuh, termasuk di antara basis politik Obama. Sebagai contoh, kurang dari setengah dari pendukung Demokrat dan Afrika-Amerika saat ini mengatakan, Obama seorang Kristen.

Menurut survei Pew yang dirilis bulan lalu, sebagian besar dari mereka yang berpikir Obama seorang Muslim adalah pendukung Republik. Namun, jumlah kelompok independen yang percaya dia Muslim telah berkembang secara signifikan, dari 10 persen tahun lalu menjadi 18 persen pada musim panas ini. Pada Maret 2009, 36 persen orang Afrika-Amerika mengatakan, mereka tidak tahu apa agama Obama. Sekarang, 46 persen warga Afrika-Amerika mengatakan mereka tidak tahu.***