Perjumpaanku dengan pribadi-pribadi dan permenunganku atas rentetan peristiwa...
Wednesday, October 13, 2010
Thursday, October 07, 2010
“Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya....” (Maleakhi 4:6)
Salah satu problem yang terjadi dalam kehidupan keluarga sepanjang tahun dan memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan jemaat, pekerjaan, pergaulan dan masyarakat adalah masalah “Fatherlessness”. Maksud dari situasi “Fatherlessness” dalam kehidupan keluarga adalah generasi anak-anak yang tumbuh tanpa pernah memperoleh figur seorang ayah sebagaimana seharusnya. Anak-anak tersebut tidak pernah merasakan pengaruh, hubungan dan peran seorang ayah yang positif dan yang dapat dijadikan model sebagai landasan bagi pembentukan karakter atau kepribadian anak.Tuesday, October 05, 2010
Friday, October 01, 2010
Wednesday, September 29, 2010
"Saya seorang Kristen karena pilihan," kata Obama memulai jawabannya, dengan tetap berdiri di bawah terik matahari, ketika ditanya mengapa ia menjadi seorang Kristen. "Saya memeluk iman Kristen belakangan, dan itu karena ajaran Yesus Kristus yang berbicara kepada saya tentang kehidupan yang ingin saya lakoni," kata Obama seperti dikutip CNN. "Menjadi pelindung bagi saudara dan saudari saya. Memperlakukan orang lain sebagaimana mereka akan memperlakukan saya. Dan saya pikir, juga memahami itu, bahwa Yesus Kristus wafat untuk dosa-dosa saya, berbicara dengan kerendahan hati bahwa kita semua harus berlaku sebagai manusia."
Ia melanjutkan, "Manusia penuh dosa dan makhluk tak sempurna yang membuat kesalahan dan memperoleh keselamatan melalui kasih karunia Allah." Ia menambahkan, "Kita juga dapat melihat Tuhan pada sosok orang lain dan melakukan hal terbaik kita untuk membantu mereka menemukan kasih karunia mereka sendiri."
"Jadi, itulah yang berusaha saya lakukan," kata Obama. "Itu yang saya panjatkan dalam doa untuk saya lakukan setiap hari. Saya pikir tugas pelayanan publik saya adalah bagian dari upaya itu, untuk mengungkapkan iman Kristen saya."
Pada saat yang sama, Obama menekankan keyakinannya bahwa kebebasan beragama adalah bagian dari kekuatan penting Amerika Serikat. "Ini merupakan sebuah negara yang masih didominasi Kristen, tapi kita punya orang-orang Yahudi, Muslim, Hindu, ateis, agnostik, Buddha dan lain-lain," katanya. Ia menambahkan, "Jalan rahmat mereka (warga non-Kristen) adalah salah satu yang kita harus hargai dan hormati sebagaimana keyakinan kita sendiri, dan itulah yang menjadikan negara ini seperti apa adanya saat ini."
Penanya yang sama juga menanyakan tentang peraturan aborsi dini dan aborsi saat usia kandungan sudah tua, yang menjadi isu politis dalam perdebatan aborsi. Obama menjawab, aborsi harus menjadi sesuatu yang "aman, legal, dan langka" di Amerika. Ia pun menambahkan bahwa keluargalah, bukan pemerintah, yang harus membuat keputusan tentang hal itu.
Pada tanggal 19 September, Obama secara terbuka menghadiri kebaktian di gereja untuk pertama kalinya dalam hampir enam bulan sejak keluarga itu bergabung dengan kebaktian pada pukul 09.00 di Gereja St John Lafayette Square, sebuah kongregasi Episkopal yang terletak sekitar satu blok dari Gedung Putih. Keluarga itu duduk beberapa baris dari altar, di antara sekitar 40 anggota jemaat.
Sebagai informasi, sebuah survei yang dilakukan pada akhir Juli dan awal Agustus oleh Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik menunjukkan, hampir satu dari lima orang Amerika percaya bahwa Obama seorang Muslim. Angka itu naik dari sekitar satu dari 10 orang Amerika yang mengatakan ia Muslim pada tahun lalu. Jumlah orang Amerika yang menyatakan ragu-ragu tentang agama sang Presiden jauh lebih besar dan terus bertumbuh, termasuk di antara basis politik Obama. Sebagai contoh, kurang dari setengah dari pendukung Demokrat dan Afrika-Amerika saat ini mengatakan, Obama seorang Kristen.
Menurut survei Pew yang dirilis bulan lalu, sebagian besar dari mereka yang berpikir Obama seorang Muslim adalah pendukung Republik. Namun, jumlah kelompok independen yang percaya dia Muslim telah berkembang secara signifikan, dari 10 persen tahun lalu menjadi 18 persen pada musim panas ini. Pada Maret 2009, 36 persen orang Afrika-Amerika mengatakan, mereka tidak tahu apa agama Obama. Sekarang, 46 persen warga Afrika-Amerika mengatakan mereka tidak tahu.***
Tuesday, September 28, 2010
Maka kemudian ia sering terlibat dalam memproduksi karya-karya seni tanpa mendapat bayaran. Bahkan ia dan timnyalah yang mengongkosi semua biaya produksinya. Ia tercatat mendokumentasikan karya tari Legong Bapang (ciptaan guru tari Balinya, I Gusti Gde Raka) dan tari Beskalan Putri (ciptaan penari Rasimoen dari Malang). Ia dibesarkan dari tari dan merasa terpanggil juga untuk mempersembahkan hidupnya bagi kelestarian tari. Justru karena keikhlasan itu, Didik banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Proyek-proyek persembahannya itu berjalan dengan lancar.Friday, August 27, 2010
DEMI KEMULIAAN-NYA
"...dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.” (Kisah Para Rasul 2:22)
Dalam dekade 80an pernah tampil seorang penginjil televisi bernama Jim Bakker. Ia adalah seorang hamba Tuhan yang kontroversial, bukan saja karena ajarannya tentang Teologi Kemakmuran, tetapi juga tentang perilaku manipulatifnya terhadap mujizat-mujizat yang terjadi di dalam KKR yang dipimpinnya. Di akhir kebaktian yang dipenuhi mujizat itu, ia lantas mendorong jemaat untuk mempersembahkan apa saja yang mereka miliki.
Mujizat yang terjadi telah dipakainya sebagai alat untuk kemudian memperkaya diri sendiri. Ia menggelapkan uang jemaat yang mendukungnya sejumlah $158 juta yang kemudian menuntunnya ke pintu penjara. Uang yang dipakai untuk mendukung pelayanan yang dikembangkannya pun, ditilep sebagian untuk kepentingan pribadi.
Belum lagi, Jim suka bergaya hidup mewah. Ia memiliki enam rumah mewah dengan masing-masing rumah anjing yang ber-AC. Ia berzinah dengan sekretaris gereja dan mencoba menutupi kasus itu dengan suap sebesar $250 ribu. Isterinya kemudian menceraikannya ketika ia ada di dalam penjara.
Demikianlah kalau mujizat yang seharusnya dinyatakan untuk kemuliaan-Nya, telah diselewengkan bagi kemuliaan pribadi. Jika mujizat terjadi, yang harus dimuliakan adalah Kristus. Mujizat harus meneguhkan karya penyelematan Kristus, bukan untuk kepentingan manusia.
Sahabat, siapapun kita dapat mengalami ketergelinciran seperti kisah di atas. Tidak ada maksud sama sekali untuk mendiskreditkan siapapun, tetapi justru untuk belajar dan berhati-hati. Harapkanlah mujizat terjadi, tetapi jangan sampai melenceng dari tujuannya yang semula. [JP]
Wednesday, August 25, 2010
Tuesday, August 10, 2010
KEKANG UNTUK MULUT KITA
“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21)
Perkataan kita akan membangun citra diri yang baik, atau sebaliknya akan menciptakan citra diri yang buruk. Simaklah apa yang ditemukan oleh penginjil Bill Glass. Ia berkata bahwa 90% dari penghuni penjara pernah mendengar dari orang tua mereka sebuah kalimat yang berbunyi, “Kamu akan dimasukkan ke penjara.” Artinya, perkataan seseorang memiliki kuasa yang bisa terjadi di masa depan.
Banyak orang tua yang secara tidak sadar tetapi berlangsung terus-menerus, memperkatakan hal-hal yang tidak baik bagi anak-anaknya. Kata-kata seperti bodoh, jelek, nakal, malas dan beberapa perbendaharaan kata tak membangun yang lain, meluncur pedas dari mulut orang tua. Secara jujur, tidak ada orang tua yang menghendaki anak-anaknya menjadi seperti apa yang dikatakan. Tetapi anak-anak telanjur ‘merekam’ secara otomatis perkataan-perkataan itu. Akibatnya, tertanamlah di dalam dirinya bahwa ia bodoh, jelek, nakal, dan malas. Kemudian mereka hidup di bawah bayang-bayang perkataan itu dan kemudian mewujud di dalam diri mereka.Memang ada banyak faktor dari pembentukan kepribadian seorang anak. Tetapi salah satunya adalah perkataan orang tuanya. Karena itu yang menjadi kebutuhan mendasar bagi kita, Sahabat NK, adalah untuk memasang ‘rem’ bagi mulut kita. Sebagaimana kekang dapat mengendalikan keliaran seekor kuda, demikianlah hendaknya kita mengendalikan perkataan kita. Mengeluarkan perkataan yang membangun dan menjadi berkat, jauh lebih bermanfaat daripada mengumpat dan menyumpahi. [JP]
Thursday, August 05, 2010
Cacat tidak mematahkan semangat Qian Hongyan dari Kunming, China, untuk berprestasi. Remaja ini kehilangan kedua kakinya saat kecelakaan lalu lintas di usianya yang masih 3 tahun. Oleh orangtuanya, Qian diikutsertakan dalam terapi basket dan ternyata berhasil. Qian kemudian tampil sebagai pebasket cilik yang cemerlang. Tak memiliki kaki bukan halangan baginya untuk lincah di lapangan.
Qian membuktikan bahwa keadaan tanpa kaki tidak menghalanginya untuk tetap melompat dan melesakkan bola ke dalam keranjang. Penampilan Qian yang mengharukan itu mendapat liputan luas dari media massa internasional. Alhasil, sekelompok dokter membuatkannya sepasang kaki palsu saat dia berusia 8 tahun.
Qian bukan hanya piawai bermain basket, tapi atlet cilik ini juga lincah di kolam renang. Kini ia tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam kejuaraan dunia atlet cacat di London tahun 2012 mendatang. Selain di nomor basket, Qian rencananya juga akan tampil di cabang renang.
Orang-orang dengan keterbatasan fisik semacam Qian biasanya tidak mendapat tempat di masyarakat luas. Mereka lebih sering dianggap beban daripada potensi yang terpendam. Itu sebabnya kebanyakan kaum difable (cacat) cenderung tersisih. Tetapi justru Tuhan menghadirkan mereka dalam kehidupan kita untuk mencelikkan ‘kebutaan’ kita akan kebesaran-Nya dalam memakai siapapun juga. Sesungguhnya, kita berhutang kepada mereka yang tak mau menyerah kepada nasib, kepada keadaan dan kepada apa yang disebut oleh banyak orang sebagai takdir. [JP]
Tuesday, July 20, 2010
Ronny Pattinasarany adalah legenda sepak bola Indonesia yang merumput di era 70-an. Lapangan hijau telah membesarkannya dan membuatnya memiliki segalanya, termasuk uang tentu saja. Ia juga kemudian menjadi terlalu sibuk untuk mengurus sepak bola, lalu melupakan keluarganya. Dan menurut pengakuannya, ia lantas melupakan dan meninggalkan Tuhan.
Kondisi ini membawa kedua anaknya Yerry dan Benny terjerumus ke dalam jerat narkoba. Dua jagoannya seringkali merepotkannya jika sudah kecanduan barang terlarang itu. Semua harta yang berhasil dikumpulkannya pun ludes untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang sakauw. Akhirnya, Ronny sampai pada sebuah titik balik kesadaran bahwa semuanya ini diijinkan Tuhan terjadi untuk menegurnya. Melalui nasihat seorang pendeta, ia mulai mencoba kembali menata hidup dan keluarganya.
Ia kemudian intens mendoakan Yerry dan Benny, selain terus berupaya dengan segala cara agar dapat merebut kembali anak-anaknya dari bandar narkoba. Suatu ketika ia berujar, “Orang yang kecanduan narkoba jangan dimusuhi. Dia harus disayangi agar bisa sembuh. Kewajiban orangtua adalah mendoakan, mengurus dan mendidik anak, sebab mereka titipan Tuhan.”
Sahabat NK, karena doa dan perjuangan seorang ayah, akhirnya Yerry dan benny terselamatkan dari jerat maut narkoba. Keadaan inipun dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa seberat apapun pergumulan yang dihadapi, jika ada doa dan kasih yang bergelora, semuanya dapat teratasi. [JP]
Monday, June 28, 2010

Ada persamaan yang terdapat pada kedua benda tersebut: kedua-duanya sama-sama basah sesudah dibenamkan ke dalam air di ember. Tetapi juga ada perbedaan mencolok; batu itu tidak benar-benar basah. Sebentar saja airnya menguap. Tetapi spons itu diresapi air sedemikian rupa, sehingga ketika benda itu diperas, airnya bisa keluar dari dalamnya.Pesan apa yang hendak saya sampaikan dari percobaan di atas? Kisah itu adalah gambaran sederhana dari pesan Yesus Kristus tentang bagaimana “tinggal di dalam firman-Nya” dan “firman-Nya tinggal di dalam kita.” Firman-Nya dapat kita ibaratkan sebagai seember air, tetapi respon kita terhadap firman bisa saja seperti batu atau spons. Kita sudah “tinggal di dalam firman-Nya” tetapi masalah “firman-Nya tinggal di dalam kita” atau tidak, tergantung pada kemauan kita.
Thursday, June 24, 2010
Suatu kali saya pulang ke kampung tempat kelahiran saya. Memang suasananya telah banyak berubah. Jalan yang dulu becek ketika hujan turun, kini telah dicor dengan beton. Lahan persawahan tempat saya dulu bermain layang-layang, semakin menyempit karena berdirinya rumah-rumah baru. Rimbun pepohonan yang dulu membuat teduh kampung telah berganti dengan tiang-tiang listrik. Tetapi itu semua tidak menghapus kenangan saya tentang masa kecil. Ada ribuan kisah yang akan saya ceritakan kepada anak-cucu saya kelak.
Dalam nats Yosua 4:1-9, kita menemukan bahwa Tuhan memerintahkan Yosua untuk memilih dua belas orang dari masing-masing suku Israel. Tugasnya bukan untuk berperang, tetapi untuk mengangkat masing-masing sebuah batu dari sungai Yordan. Sudah kurang kerjaankah Yosua? Sama sekali bukan. Batu-batu itu akan dipergunakan untuk sebuah tujuan mulia pada masa mendatang. Batu-batu itu adalah sebuah tanda dan peringatan bagi orang Israel selama-lamanya (ay. 6-7).
Yosua ingin mewariskan sejarah, sesuai dengan perintah Tuhan, kepada generasi yang hidup sesudahnya kelak. Senada dengan hal ini, Bung Karno pernah berkata. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Jargon itu sering disingkat Jas Merah. Tidak ada yang berlebihan di sini. Kita tentu paham bahwa yang namanya sejarah telah membawa banyak pelajaran bagi kita. Yosua ingin agar melalui batu peringatan itu bangsa Israel diingatkan kembali mengenai perjanjian dan berkat Tuhan atas bangsanya.
Sejarah itu penting, tidak peduli manis atau kelam. Segala sesuatu yang baik dari sejarah kita pakai sekarang sebagai teladan. Yang buruk menjadi pelajaran bagi kita juga agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Itulah sebabnya mungkin Anda perlu mengambil waktu untuk melakukan ‘ziarah’ ke tempat-tempat yang berkesan bagi Anda. Mungkin itu rumah di kampung halaman Anda tempat di mana Anda dibesarkan orang tua. Mungkin juga itu gereja Anda pada masa kecil; tempat Anda dibesarkan dan mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus. Atau bahkan tempat-tempat di mana anda pernah gagal. Di sana Anda bisa memperbaharui tekad dan komitmen baru untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah Anda lakukan dahulu. Selamat berziarah!***
Tuesday, June 08, 2010

MOTIVASI JOHN STEPHEN AKWARI
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)
Kehormatan menjadi seorang utusan negara, telah menggerakkan John Stephen Akwari untuk berlari, berlari dan terus berlari. Akwari adalah atlit lari Marathon yang diutus Tanzania dalam gelaran Olimpiade musim panas di Mexico pada tahun 1968.
Dalam sebuah nomor lari marathon, ia harus berkompetisi dengan 74 pelari yang lain yang berasal dari berbagai negara. Sebuah pertandingan lari yang berat baginya, bukan saja karena lawan-lawannya, tetapi juga karena ia mengalami ‘kecelakaan’ dalam lomba itu. Ia terjatuh dan mengalami luka pada lutut dan betis kanannya. Tetapi cederanya itu tidak membuatnya berhenti. Meski sudah tidak mungkin ikut dalam persaingan dan menjadi juara, Akwari segera membebat lukanya dengan perban dan kemudian mencoba melanjutkan langkah menuju garis finish.
Stadion tempat berlangsungnya perlombaan berangsur sepi. Pemenang lomba telah dikalungi medali. Tempat duduk stadion sudah hampir kosong, tinggal beberapa tempat yang masih terisi. Orang-orang yang belum beranjak itu ternyata menunggu kehadiran pelari terakhir yang akan memasuki finish. Dan pelari itu adalah John Akwari. Akhirnya, meski terseok, Akwari berhasil juga melampaui garis akhir.
Ketika ditanya wartawan mengapa ia melakukan itu semua, ia menjawab, “My country send me 5,000 miles not just to start the race. They sent me 5,000 miles to finish the race!” Ia tidak diutus negeri Tanzania hanya untuk memulai sebuah pertandingan, tetapi ia dikirim jauh-jauh untuk menyelesaikan sebuah kompetisi. Fokus hidupnya adalah untuk mengakhiri pertandingan dengan baik. Sudahkah semangat itu menjadi bagian kehidupan kita? [JP]
BUKAN MASALAH BAGAIMANA MEMULAI, TETAPI BAGAIMANA MENGAKHIRINYA
PERCAKAPAN DUA RAHIB
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8)
Dua orang rahib terlibat dalam pembicaraan serius di sepanjang perjalanan pulang ke biara. Tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang perempuan cantik yang hendak meminta pertolongan untuk menyeberang sungai. Salah seorang rahib kemudian menggendong perempuan sambil menyeberang sungai. Seorang rahib yang lain menyeberang sambil bergumam di dalam hati, “Mengapa ia menyentuh perempuan itu? Apakah tidak berpengaruh terhadap kekudusan?”
Lalu ia memberanikan diri menegur rekannya di depan gerbang biara, “Tidak tahukan kamu bahwa kita ini rahib? Bahwa kita tidak boleh menyentuh seorang perempuan? Mengapa kamu melakukan semua itu?” “Kawan, aku sudah meninggalkan perempuan itu di pinggir kali tadi. Kenapa engkau masih membawanya (dalam pikiranmu)?”
Rahib yang menggendong perempuan itu melakukannya dengan motivasi menolong dan tidak terganggu hati nuraninya. Sementara rahib yang lain memandang bahwa kekudusan seseorang dapat terpengaruh oleh ‘aturan-aturan’ lahiriah.
Sahabat, salah satu gaya hidup yang ditekankan di dalam Kerajaan Allah adalah gaya hidup kekudusan. Yesus, Sang Mesias, mewanti-wanti agar kita sebagai warga Kerajaan dengan serius memerhatikan masalah ini. Kekudusan yang bukan dilakukan dengan tekanan legalitas atau karena aturan-aturan, tetapi kekudusan sebagai sebuah persembahan yang didasari kasih kepada Sang Raja. Kekudusan yang legalistik akan membebani kita, tetapi jika kita mengasihi Kristus, kekudusan bukanlah hal yang sulit. Bagaimana dengan motivasi Anda? [JP]






