Wednesday, September 29, 2010

Obama: Mengapa Saya Kristen

ALBUQUERQUE, KOMPAS.com  Sebuah acara yang dirancang untuk diskusi mengenai masalah perekonomian berubah menjadi acara yang membahas masalah pribadi, Selasa (28/9/2010). Hal itu terjadi ketika seorang perempuan menanyakan kepada Presiden AS Barack Obama tentang iman Kristen dan pandangannya terhadap aborsi.
Pertanyaan itu mencuat pada sebuah pertemuan bergaya balai kota di halaman sebuah rumah di Albuquerque, AS, sebagai bagian dari pendekatan publik Obama untuk menjelaskan kebijakannya dan dalam rangka kampanye Partai Demokrat untuk pemilu kongres pada November mendatang.
Setelah sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa hanya sepertiga dari orang Amerika yang dengan benar mengidentifikasi Obama sebagai seorang Kristen, Presiden memberikan tanggapan pribadi, sebagai orang dewasa, dalam percakapan itu. Ia juga memaparkan tentang bagaimana tugas pelayanan publiknya menjadi bagian dari praktik imannya.

"Saya seorang Kristen karena pilihan," kata Obama memulai jawabannya, dengan tetap berdiri di bawah terik matahari, ketika ditanya mengapa ia menjadi seorang Kristen. "Saya memeluk iman Kristen belakangan, dan itu karena ajaran Yesus Kristus yang berbicara kepada saya tentang kehidupan yang ingin saya lakoni," kata Obama seperti dikutip 
CNN. "Menjadi pelindung bagi saudara dan saudari saya. Memperlakukan orang lain sebagaimana mereka akan memperlakukan saya. Dan saya pikir, juga memahami itu, bahwa Yesus Kristus wafat untuk dosa-dosa saya, berbicara dengan kerendahan hati bahwa kita semua harus berlaku sebagai manusia."

Ia melanjutkan, "Manusia penuh dosa dan makhluk tak sempurna yang membuat kesalahan dan memperoleh keselamatan melalui kasih karunia Allah." Ia menambahkan, "Kita juga dapat melihat Tuhan pada sosok orang lain dan melakukan hal terbaik kita untuk membantu mereka menemukan kasih karunia mereka sendiri."

"Jadi, itulah yang berusaha saya lakukan," kata Obama. "Itu yang saya panjatkan dalam doa untuk saya lakukan setiap hari. Saya pikir tugas pelayanan publik saya adalah bagian dari upaya itu, untuk mengungkapkan iman Kristen saya."

Pada saat yang sama, Obama menekankan keyakinannya bahwa kebebasan beragama adalah bagian dari kekuatan penting Amerika Serikat. "Ini merupakan sebuah negara yang masih didominasi Kristen, tapi kita punya orang-orang Yahudi, Muslim, Hindu, ateis, agnostik, Buddha dan lain-lain," katanya. Ia menambahkan, "Jalan rahmat mereka (warga non-Kristen) adalah salah satu yang kita harus hargai dan hormati sebagaimana keyakinan kita sendiri, dan itulah yang menjadikan negara ini seperti apa adanya saat ini." 

Penanya yang sama juga menanyakan tentang peraturan aborsi dini dan aborsi saat usia kandungan sudah tua, yang menjadi isu politis dalam perdebatan aborsi. Obama menjawab, aborsi harus menjadi sesuatu yang "aman, legal, dan langka" di Amerika. Ia pun menambahkan bahwa keluargalah, bukan pemerintah, yang harus membuat keputusan tentang hal itu.

Pada tanggal 19 September, Obama secara terbuka menghadiri kebaktian di gereja untuk pertama kalinya dalam hampir enam bulan sejak keluarga itu bergabung dengan kebaktian pada pukul 09.00 di Gereja St John Lafayette Square, sebuah kongregasi Episkopal yang terletak sekitar satu blok dari Gedung Putih. Keluarga itu duduk beberapa baris dari altar, di antara sekitar 40 anggota jemaat. 

Sebagai informasi, sebuah survei yang dilakukan pada akhir Juli dan awal Agustus oleh Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik menunjukkan, hampir satu dari lima orang Amerika percaya bahwa Obama seorang Muslim. Angka itu naik dari sekitar satu dari 10 orang Amerika yang mengatakan ia Muslim pada tahun lalu. Jumlah orang Amerika yang menyatakan ragu-ragu tentang agama sang Presiden jauh lebih besar dan terus bertumbuh, termasuk di antara basis politik Obama. Sebagai contoh, kurang dari setengah dari pendukung Demokrat dan Afrika-Amerika saat ini mengatakan, Obama seorang Kristen.

Menurut survei Pew yang dirilis bulan lalu, sebagian besar dari mereka yang berpikir Obama seorang Muslim adalah pendukung Republik. Namun, jumlah kelompok independen yang percaya dia Muslim telah berkembang secara signifikan, dari 10 persen tahun lalu menjadi 18 persen pada musim panas ini. Pada Maret 2009, 36 persen orang Afrika-Amerika mengatakan, mereka tidak tahu apa agama Obama. Sekarang, 46 persen warga Afrika-Amerika mengatakan mereka tidak tahu.***

Tuesday, September 28, 2010

PERSEMBAHAN DIDIK NINI THOWOK

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,...” (Pengkhotbah 9:10a)

Didik Hadi Prayitno, atau lebih dikenal dengan Didik Nini Thowok, adalah seniman tari kontemporer kelahiran Temanggung yang sering mengharumkan nama bangsa. Karya-karya tarinya bukan saja telah menjadi pertunjukkan yang menghibur, tetapi juga telah mendapat apresiasi dari berbagai negara di belahan dunia.

Tahukah Anda Sahabat, bahwa Didik adalah seorang seniman religius yang rajin berbakti di gereja? Ia aktif bergereja dan selalu duduk di bangku paling depan agar dapat menghayati khotbah Pendeta. Dari kehidupan spiritualnya, ia belajar banyak tentang keikhlasan dalam memberi. Hidup adalah sesuatu yang harus dibaktikan bagi kemaslahatan banyak orang, bukan untuk kepentingan pribadi semata.

Maka kemudian ia sering terlibat dalam memproduksi karya-karya seni tanpa mendapat bayaran. Bahkan ia dan timnyalah yang mengongkosi semua biaya produksinya. Ia tercatat mendokumentasikan karya tari Legong Bapang (ciptaan guru tari Balinya, I Gusti Gde Raka) dan tari Beskalan Putri (ciptaan penari Rasimoen dari Malang). Ia dibesarkan dari tari dan merasa terpanggil juga untuk mempersembahkan hidupnya bagi kelestarian tari. Justru karena keikhlasan itu, Didik banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Proyek-proyek persembahannya itu berjalan dengan lancar.

Seperti Didik telah melayani dan memberi yang terbaik melalui profesinya, demikian hendaknya kita menjalani pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kerjakanlah dengan semangat dan ketulusan. Tuhan tidak tinggal diam. [JP]
PENGABDIAN DALINEM

“Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah Tuan dan kamu hambaNya.” (Kolose 3:24)

Siapa yang masih ingat Keluarga Berencana (KB)? Ya, KB adalah proyek pemerintah Orde Baru untuk menahan laju populasi penduduk  yang semakin pesat merambat. Kita harus jujur mengkaui bahwa dengan program ini, pertumbuhan penduduk di Indonesia dapat ditahan, atau setidaknya diperlambat. Kita tidak bisa membayangkan betapa akan terjadi ledakan dahsyat jumlah penduduk jika tidak ada program ini.

Adalah seorang ibu bernama Dalinem. Wanita yang berasal dari Desa Sumber Watu, Sambireja, Prambanan, Yogyakarta itu mempunyai kisah yang menarik berkaitan dengan pengabdiannya terhadap program KB. Pada 1971 atas kesadaran sendiri ia berjalan tak kenal lelah  mengajak warga desanya untuk ikut melaksanakan program KB. Tetapi wanita yang hanya lulusan SMP ini memberikan penyuluhan kepada warga desa tanpa mendapat imbalan. Memberikan penyuluhan kepada warga yang rata-rata berpendidikan rendah setingkat SD adalah tidak mudah. Padahal stereotipe kebanyakan masyarakat Jawa pada waktu itu masih teguh memegang “Banyak anak, banyak rejeki.” 

Berbagai cibiran dan cemoohan warga akibat ketidaktahuan soal KB ia terima tanpa bisa marah. “Bahkan kala itu saya pernah diancam dengan golok oleh seorang bapak yang tidak terima karena istrinya diajak ber-KB,” ujar Dalinem mengenang. Namun berkat kesabaran dan ketekunan hampir 10 tahun, Dalinem akhirnya diangkat penjadi pegawai pemerintah dan mendapat penghargaan dari mendiang Ibu Tien Soeharto.

Sahabat, seorang hamba sejati memang tidak selayaknya bertanya tentang apa yang akan ia dapatkan, apakah itu keuntungan pribadi atau penghargaan. Satu-satunya hal yang menyibukkannya adalah apa yang ia bisa berikan untuk menunjukkan pengabdiannya. Kepada kita sekalian melekat label ‘hamba Tuhan’. Tetapi apakah kita sudah mengabdi sebagaimana Dalinem? [JP]

MELAYANI MELALUI DESIGN

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Tak banyak yang mengenal desainer logo Henricus Kusbiantoro. Pria yang acap disapa Icus ini adalah desainer LOGO Supremasi Sepak Bola Amerika Super Bowl 2011. Icus adalah juga seorang Senior Art Director Landor Associates di San Fransisco, Amerika Serikat. Sejak bergabung dengan Landor, portofolio internasional berderet di curriculum vitae Henri. Namanya semakin kukuh sebagai desainer merek.

Icus juga menjadi desainer grafis Indonesia pertama yang meraih penghargaan internasional berpengaruh, DAD London Merit Award. Karya Henri saat itu adalah desain merek kampanye global US Red Campaign for AIDS in Africa yang diinisiasi pemusik Bono dari band U2. Kampanye itu sendiri diresmikan di World Economic Forum, Davos, Swiss, pada 2006.

Icus pun pernah bergabung dalam proyek revitalisasi General Electric (GE) sebuah produk elektronik ternama di dunia. Dari proyek GE ini Henri belajar banyak. Perancangan logo bagi klien-klien multinasional dan berskala besar sangat mustahil dikerjakan dengan semangat kerja one man show, tapi kerja sama multidisiplin. “Keberhasilan merancang sebuah logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, hoki bahkan wangsit hingga fengsui. Namun, saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan,” tulis ayah satu putra ini.

Kiranya semangat Icus untuk berkarya melalui apa yang Tuhan titipkan padanya itu menginspirasi setiap kita bahwa pekerjaan apapun yang kita lakukan, jika disertai dengan keyakinan akan penyertaanNya, akan mendatangkan kemuliaan bagiNya. [JP]

Friday, August 27, 2010

DEMI KEMULIAAN-NYA


"...dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.” (Kisah Para Rasul 2:22)


Dalam dekade 80an pernah tampil seorang penginjil televisi bernama Jim Bakker. Ia adalah seorang hamba Tuhan yang kontroversial, bukan saja karena ajarannya tentang Teologi Kemakmuran, tetapi juga tentang perilaku manipulatifnya terhadap mujizat-mujizat yang terjadi di dalam KKR yang dipimpinnya. Di akhir kebaktian yang dipenuhi mujizat itu, ia lantas mendorong jemaat untuk mempersembahkan apa saja yang mereka miliki.


Mujizat yang terjadi telah dipakainya sebagai alat untuk kemudian memperkaya diri sendiri. Ia menggelapkan uang jemaat yang mendukungnya sejumlah $158 juta yang kemudian menuntunnya ke pintu penjara. Uang yang dipakai untuk mendukung pelayanan yang dikembangkannya pun, ditilep sebagian untuk kepentingan pribadi.


Belum lagi, Jim suka bergaya hidup mewah. Ia memiliki enam rumah mewah dengan masing-masing rumah anjing yang ber-AC. Ia berzinah dengan sekretaris gereja dan mencoba menutupi kasus itu dengan suap sebesar $250 ribu. Isterinya kemudian menceraikannya ketika ia ada di dalam penjara.


Demikianlah kalau mujizat yang seharusnya dinyatakan untuk kemuliaan-Nya, telah diselewengkan bagi kemuliaan pribadi. Jika mujizat terjadi, yang harus dimuliakan adalah Kristus. Mujizat harus meneguhkan karya penyelematan Kristus, bukan untuk kepentingan manusia.


Sahabat, siapapun kita dapat mengalami ketergelinciran seperti kisah di atas. Tidak ada maksud sama sekali untuk mendiskreditkan siapapun, tetapi justru untuk belajar dan berhati-hati. Harapkanlah mujizat terjadi, tetapi jangan sampai melenceng dari tujuannya yang semula. [JP]

Wednesday, August 25, 2010

Sydney, Here I come...

Ini pengalaman perjalanan kedua ke luar negeri setelah Singapura. Hanya, perjalanan ke Sydney kali ini lebih mendebarkan. Ya, karena jadwal keberangkatannya pas hari terakhir masa liburan sekolah akhir semester tahun ini. Aku membayangkan akan melelahkan di tol dalam kota hingga tol bandara. Dan tentu saja juga memakan waktu lama karena macet tak terhindarkan. Tetapi ketakutan itu tak terbukti, malah cenderung lancar jaya perjalanan Bandung-Bandara waktu itu. Jadilah aku menunggu dalam bosan hampir 8 jam sebelum boarding.

Deg-degan berikutnya terjadi karena aku berangkat sendirian. Dulu waktu ke Singapura berangkat bersama rombongan, jadi tak terlalu nervous. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata aku membayangkan harus berhadapan dengan petugas imigrasi, lalu ditanya ini-itu. Lagi-lagi ketakutan ini tak terbukti. Proses klaim bagasi hingga pemeriksaan berjalan lancar karena semua tertib antri dan profesionalisme petugas.

Day 1. Pagi itu udara dingin Sydney menyergap. Di gerbang kedatangan kusapukan pandangan untuk memastikan bahwa Pak Joseph Tee sudah datang menjemput, tapi ternyata belum. Kuputuskan duduk sebentar di ruang tunggu sambil melihat berita di TV tentang kemenangan Spanyol atas Belanda di Piala Dunia. Tak lama berselang Pak Joseph datang. Kami berbasa-basi sebentar dan segera menuju tempat parkir.

Sebelum tiba di rumah Pak Jos, kami singgah di sebuah gerai McD untuk sarapan. Bagiku, sepagi itu sarapan adalah sebuah perjuangan. Waktu setempat menunjuk pukul 06.30, berarti 03.30 waktu Indo. Tapi karena udara dingin yang membekap, habis juga dua potong pancake dan segelas kopi itu. ...bersambung...

Tuesday, August 10, 2010

KEKANG UNTUK MULUT KITA

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21)

Perkataan kita akan membangun citra diri yang baik, atau sebaliknya akan menciptakan citra diri yang buruk. Simaklah apa yang ditemukan oleh penginjil Bill Glass. Ia berkata bahwa 90% dari penghuni penjara pernah mendengar dari orang tua mereka sebuah kalimat yang berbunyi, “Kamu akan dimasukkan ke penjara.” Artinya, perkataan seseorang memiliki kuasa yang bisa terjadi di masa depan.

Banyak orang tua yang secara tidak sadar tetapi berlangsung terus-menerus, memperkatakan hal-hal yang tidak baik bagi anak-anaknya. Kata-kata seperti bodoh, jelek, nakal, malas dan beberapa perbendaharaan kata tak membangun yang lain, meluncur pedas dari mulut orang tua. Secara jujur, tidak ada orang tua yang menghendaki anak-anaknya menjadi seperti apa yang dikatakan. Tetapi anak-anak telanjur ‘merekam’ secara otomatis perkataan-perkataan itu. Akibatnya, tertanamlah di dalam dirinya bahwa ia bodoh, jelek, nakal, dan malas. Kemudian mereka hidup di bawah bayang-bayang perkataan itu dan kemudian mewujud di dalam diri mereka.

Memang ada banyak faktor dari pembentukan kepribadian seorang anak. Tetapi salah satunya adalah perkataan orang tuanya. Karena itu yang menjadi kebutuhan mendasar bagi kita, Sahabat NK, adalah untuk memasang ‘rem’ bagi mulut kita. Sebagaimana kekang dapat mengendalikan keliaran seekor kuda, demikianlah hendaknya kita mengendalikan perkataan kita. Mengeluarkan perkataan yang membangun dan menjadi berkat, jauh lebih bermanfaat daripada mengumpat dan menyumpahi. [JP]

Thursday, August 05, 2010

LOMPATAN QIAN HONGYAN

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.”
(I Timotius 6:12)

Cacat tidak mematahkan semangat Qian Hongyan dari Kunming, China, untuk berprestasi. Remaja ini kehilangan kedua kakinya saat kecelakaan lalu lintas di usianya yang masih 3 tahun. Oleh orangtuanya, Qian diikutsertakan dalam terapi basket dan ternyata berhasil. Qian kemudian tampil sebagai pebasket cilik yang cemerlang. Tak memiliki kaki bukan halangan baginya untuk lincah di lapangan.

Qian membuktikan bahwa keadaan tanpa kaki tidak menghalanginya untuk tetap melompat dan melesakkan bola ke dalam keranjang. Penampilan Qian yang mengharukan itu mendapat liputan luas dari media massa internasional. Alhasil, sekelompok dokter membuatkannya sepasang kaki palsu saat dia berusia 8 tahun.

Qian bukan hanya piawai bermain basket, tapi atlet cilik ini juga lincah di kolam renang. Kini ia tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam kejuaraan dunia atlet cacat di London tahun 2012 mendatang. Selain di nomor basket, Qian rencananya juga akan tampil di cabang renang.

Orang-orang dengan keterbatasan fisik semacam Qian biasanya tidak mendapat tempat di masyarakat luas. Mereka lebih sering dianggap beban daripada potensi yang terpendam. Itu sebabnya kebanyakan kaum difable (cacat) cenderung tersisih. Tetapi justru Tuhan menghadirkan mereka dalam kehidupan kita untuk mencelikkan ‘kebutaan’ kita akan kebesaran-Nya dalam memakai siapapun juga. Sesungguhnya, kita berhutang kepada mereka yang tak mau menyerah kepada nasib, kepada keadaan dan kepada apa yang disebut oleh banyak orang sebagai takdir. [JP]

Tuesday, July 20, 2010

DOA AYAH BAGI ANAK-ANAKNYA

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,...” (Efesus 3:20)



Ronny Pattinasarany adalah legenda sepak bola Indonesia yang merumput di era 70-an. Lapangan hijau telah membesarkannya dan membuatnya memiliki segalanya, termasuk uang tentu saja. Ia juga kemudian menjadi terlalu sibuk untuk mengurus sepak bola, lalu melupakan keluarganya. Dan menurut pengakuannya, ia lantas melupakan dan meninggalkan Tuhan.

Kondisi ini membawa kedua anaknya Yerry dan Benny terjerumus ke dalam jerat narkoba. Dua jagoannya seringkali merepotkannya jika sudah kecanduan barang terlarang itu. Semua harta yang berhasil dikumpulkannya pun ludes untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang sakauw. Akhirnya, Ronny sampai pada sebuah titik balik kesadaran bahwa semuanya ini diijinkan Tuhan terjadi untuk menegurnya. Melalui nasihat seorang pendeta, ia mulai mencoba kembali menata hidup dan keluarganya.

Ia kemudian intens mendoakan Yerry dan Benny, selain terus berupaya dengan segala cara agar dapat merebut kembali anak-anaknya dari bandar narkoba. Suatu ketika ia berujar, “Orang yang kecanduan narkoba jangan dimusuhi. Dia harus disayangi agar bisa sembuh. Kewajiban orangtua adalah mendoakan, mengurus dan mendidik anak, sebab mereka titipan Tuhan.”

Sahabat NK, karena doa dan perjuangan seorang ayah, akhirnya Yerry dan benny terselamatkan dari jerat maut narkoba. Keadaan inipun dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa seberat apapun pergumulan yang dihadapi, jika ada doa dan kasih yang bergelora, semuanya dapat teratasi. [JP]

Monday, June 28, 2010



SEPERTI SPONS ATAU BATU?


Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Cobalah melakukan sebuah percobaan kecil-kecilan. Ambil seember air, siapkan juga sebongkah batu hitam dan spons yang biasa dipakai untuk mencuci piring. Masukkan batu terlebih dahulu ke dalam ember, lalu dalam beberapa waktu kemudian angkatlah lagi batu itu. Sesudah itu giliran spons yang dibenamkan ke dalam air, dan sama seperti batu, beberapa saat kemudian juga diangkat.


Ada persamaan yang terdapat pada kedua benda tersebut: kedua-duanya sama-sama basah sesudah dibenamkan ke dalam air di ember. Tetapi juga ada perbedaan mencolok; batu itu tidak benar-benar basah. Sebentar saja airnya menguap. Tetapi spons itu diresapi air sedemikian rupa, sehingga ketika benda itu diperas, airnya bisa keluar dari dalamnya.
 Pesan apa yang hendak saya sampaikan dari percobaan di atas? Kisah itu adalah gambaran sederhana dari pesan Yesus Kristus tentang bagaimana “tinggal di dalam firman-Nya” dan “firman-Nya tinggal di dalam kita.” Firman-Nya dapat kita ibaratkan sebagai seember air, tetapi respon kita terhadap firman bisa saja seperti batu atau spons. Kita sudah “tinggal di dalam firman-Nya” tetapi masalah “firman-Nya tinggal di dalam kita” atau tidak, tergantung pada kemauan kita.

Jika kita bersikap seperti batu, maka firman-Nya hanya “mampir” sebentar dalam kehidupan kita, lalu kita melupakannya. Kita seperti baru saja mendengar sebuah khotbah yang bagus, tetapi tidak berarti apa-apa karena kita segera melupakannya. Yang Allah kehendaki adalah respon spons. Ia menyerap firman sampai ke dalam, bukan sekedar di permukaan. Jadi, respon seperti batu atau spons yang terjadi dalam hidup Anda? [JP]

Thursday, June 24, 2010

BATU PERINGATAN

Apa yang Anda rasakan ketika suatu saat berkesempatan untuk mendatangi tempat-tempat yang memiliki hubungan emosional dengan Anda? Biasanya kenangan-kenangan masa lalu silih berganti datang memenuhi benak kita.

Suatu kali saya pulang ke kampung tempat kelahiran saya. Memang suasananya telah banyak berubah. Jalan yang dulu becek ketika hujan turun, kini telah dicor dengan beton. Lahan persawahan tempat saya dulu bermain layang-layang, semakin menyempit karena berdirinya rumah-rumah baru. Rimbun pepohonan yang dulu membuat teduh kampung telah berganti dengan tiang-tiang listrik. Tetapi itu semua tidak menghapus kenangan saya tentang masa kecil. Ada ribuan kisah yang akan saya ceritakan kepada anak-cucu saya kelak.

Dalam nats Yosua 4:1-9, kita menemukan bahwa Tuhan memerintahkan Yosua untuk memilih dua belas orang dari masing-masing suku Israel. Tugasnya bukan untuk berperang, tetapi untuk mengangkat masing-masing sebuah batu dari sungai Yordan. Sudah kurang kerjaankah Yosua? Sama sekali bukan. Batu-batu itu akan dipergunakan untuk sebuah tujuan mulia pada masa mendatang. Batu-batu itu adalah sebuah tanda dan peringatan bagi orang Israel selama-lamanya (ay. 6-7).

Yosua ingin mewariskan sejarah, sesuai dengan perintah Tuhan, kepada generasi yang hidup sesudahnya kelak. Senada dengan hal ini, Bung Karno pernah berkata. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Jargon itu sering disingkat Jas Merah. Tidak ada yang berlebihan di sini. Kita tentu paham bahwa yang namanya sejarah telah membawa banyak pelajaran bagi kita. Yosua ingin agar melalui batu peringatan itu bangsa Israel diingatkan kembali mengenai perjanjian dan berkat Tuhan atas bangsanya.

Sejarah itu penting, tidak peduli manis atau kelam. Segala sesuatu yang baik dari sejarah kita pakai sekarang sebagai teladan. Yang buruk menjadi pelajaran bagi kita juga agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Itulah sebabnya mungkin Anda perlu mengambil waktu untuk melakukan ‘ziarah’ ke tempat-tempat yang berkesan bagi Anda. Mungkin itu rumah di kampung halaman Anda tempat di mana Anda dibesarkan orang tua. Mungkin juga itu gereja Anda pada masa kecil; tempat Anda dibesarkan dan mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus. Atau bahkan tempat-tempat di mana anda pernah gagal. Di sana Anda bisa memperbaharui tekad dan komitmen baru untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah Anda lakukan dahulu. Selamat berziarah!
***

Tuesday, June 08, 2010

MOTIVASI JOHN STEPHEN AKWARI

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)

Kehormatan menjadi seorang utusan negara, telah menggerakkan John Stephen Akwari untuk berlari, berlari dan terus berlari. Akwari adalah atlit lari Marathon yang diutus Tanzania dalam gelaran Olimpiade musim panas di Mexico pada tahun 1968.

Dalam sebuah nomor lari marathon, ia harus berkompetisi dengan 74 pelari yang lain yang berasal dari berbagai negara. Sebuah pertandingan lari yang berat baginya, bukan saja karena lawan-lawannya, tetapi juga karena ia mengalami ‘kecelakaan’ dalam lomba itu. Ia terjatuh dan mengalami luka pada lutut dan betis kanannya. Tetapi cederanya itu tidak membuatnya berhenti. Meski sudah tidak mungkin ikut dalam persaingan dan menjadi juara, Akwari segera membebat lukanya dengan perban dan kemudian mencoba melanjutkan langkah menuju garis finish.

Stadion tempat berlangsungnya perlombaan berangsur sepi. Pemenang lomba telah dikalungi medali. Tempat duduk stadion sudah hampir kosong, tinggal beberapa tempat yang masih terisi. Orang-orang yang belum beranjak itu ternyata menunggu kehadiran pelari terakhir yang akan memasuki finish. Dan pelari itu adalah John Akwari. Akhirnya, meski terseok, Akwari berhasil juga melampaui garis akhir.

Ketika ditanya wartawan mengapa ia melakukan itu semua, ia menjawab, “My country send me 5,000 miles not just to start the race. They sent me 5,000 miles to finish the race!Ia tidak diutus negeri Tanzania hanya untuk memulai sebuah pertandingan, tetapi ia dikirim jauh-jauh untuk menyelesaikan sebuah kompetisi. Fokus hidupnya adalah untuk mengakhiri pertandingan dengan baik. Sudahkah semangat itu menjadi bagian kehidupan kita? [JP]

BUKAN MASALAH BAGAIMANA MEMULAI, TETAPI BAGAIMANA MENGAKHIRINYA

PERCAKAPAN DUA RAHIB

"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8)

Dua orang rahib terlibat dalam pembicaraan serius di sepanjang perjalanan pulang ke biara. Tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang perempuan cantik yang hendak meminta pertolongan untuk menyeberang sungai. Salah seorang rahib kemudian menggendong perempuan sambil menyeberang sungai. Seorang rahib yang lain menyeberang sambil bergumam di dalam hati, “Mengapa ia menyentuh perempuan itu? Apakah tidak berpengaruh terhadap kekudusan?”

Lalu ia memberanikan diri menegur rekannya di depan gerbang biara, “Tidak tahukan kamu bahwa kita ini rahib? Bahwa kita tidak boleh menyentuh seorang perempuan? Mengapa kamu melakukan semua itu?” “Kawan, aku sudah meninggalkan perempuan itu di pinggir kali tadi. Kenapa engkau masih membawanya (dalam pikiranmu)?”

Rahib yang menggendong perempuan itu melakukannya dengan motivasi menolong dan tidak terganggu hati nuraninya. Sementara rahib yang lain memandang bahwa kekudusan seseorang dapat terpengaruh oleh ‘aturan-aturan’ lahiriah.

Sahabat, salah satu gaya hidup yang ditekankan di dalam Kerajaan Allah adalah gaya hidup kekudusan. Yesus, Sang Mesias, mewanti-wanti agar kita sebagai warga Kerajaan dengan serius memerhatikan masalah ini. Kekudusan yang bukan dilakukan dengan tekanan legalitas atau karena aturan-aturan, tetapi kekudusan sebagai sebuah persembahan yang didasari kasih kepada Sang Raja. Kekudusan yang legalistik akan membebani kita, tetapi jika kita mengasihi Kristus, kekudusan bukanlah hal yang sulit. Bagaimana dengan motivasi Anda? [JP]

KASIH KEPADA ALLAH MELAHIRKAN KEKUDUSAN HIDUP

DENDA GUARDIOLA

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (I Korintus 9:25)

Tahun 2009 menjadi milik Barcelona! Klub sepak bola Catalan berkostum merah-biru itu menorehkan enam gelar juara dalam semusim. Keenam gelar juara itu adalah: Copa Del Rey, Liga Champion, Liga Spanyol, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan terakhir Piala Dunia Antarklub. Apa rahasia tim besutan Pep Guardiola ini? Ternyata karena disiplin tinggi yang diterapkan sang pelatih dengan menggunakan sistem denda.

Denda ini rupanya mampu membuat semua pemain Barca memandang keterlambatan sebagai sebuah kerugian. Dalam aturan klub, diterapkan bahwa semua pemain harus hadir di sesi latihan satu jam sebelumnya. Pemain yang terlambat akan dikenakan denda sebesar 6.000 euro. Jika 1€=Rp 13.000,- maka setiap kali telat berlatih, seorang pemain akan membayar denda sekitar Rp 78.000.000,-

Tak hanya itu, pemain yang ketahuan kelayapan di malam hari juga akan dikenakan denda 2.000 euro (sekitar Rp 26.000.000,-). Guardiola juga akan mendenda pemain sebesar 500 euro (Rp 6.500.00) jika terlambat saat makan pagi. Uniknya, denda ini dapat naik jika memang semua pemain menyetujuinya. Semua uang yang terkumpul dari sistem denda ini akan digunakan untuk makan malam tim dan disumbangkan bagi komunitas lokal Barcelona.

Kemenangan tidak jatuh dari langit, tetapi merupakan hasil dari usaha keras dalam sebuah latihan yang berdisiplin tinggi. Squad Barca menyadari betul bahwa ketidakdisiplinan seseorang adalah kerugian bagi tim. Saya percaya bahwa hal inipun berlaku dalam kehidupan spiritual kita. Jika ingin mendapatkan kemenangan, bekalilah diri dengan disiplin tinggi melalui doa dan hubungan yang lebih erat dengan Kristus. Niscaya kemenangan menjadi bagian kita. [JP]

KEMENANGAN TIDAK JATUH DARI LANGIT TETAPI DIDAPAT DARI DISIPLIN TINGGI

Friday, June 04, 2010

MENYATUKAN PERSEPSI

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14)

Suatu ketika terjadi percakapan antara pembeli (orang Batak) dengan penjual es cendol (orang Jawa).

Pembeli: Mas, beli es cendolnya satu ya...

Penjual: Nyuwun pangapunten, sampun telas (Mohon maaf, sudah habis).

Pembeli: Tidak masalah, tidak usah pakai gelas.

Penjual: Sampun boten wonten (Sudah tidak ada).

Pembeli: Ya sudah, tidak usah pakai santen kalau begitu...

Penjual: Maaf Pak, es cendolnya sudah habis!

Pembeli: Ngomong kek dari tadi....

Penjual:????

Percakapan “ga nyambung” dua orang berbeda etnis dan bahasa itu terjadi karena perbedaan persepsi. Mereka masing-masing menggunakan sudut pandang berbeda yang tidak akan ketemu jika dipaksakan untuk dilanjutkan. Baru setelah dijembatani dengan bahasa Indonesia, komunikasi menjadi jauh lebih lancar.

Betapa seringnya perbedaan persepsi ini telah mengakibatkan miskomunikasi, termasuk juga dalam kehidupan keluarga. Maksud hati menyampaikan hal-hal yang baik, tetapi apa daya tujuannya menjadi tidak tercapai. Suami berbeda pandangan dengan isteri. Anak-anak merasa bahwa bahasa yang digunakan orang tuanya sudah ketinggalan zaman.

Karena itu Sahabat, sebelum lebih jauh kita mengkomunikasikan sesuatu kepada anggota keluarga yang lain, lebih baik jika kita menyatukan persepsi terlebih dahulu. Cara ini akan meminimalisir sikap ngotot dan memaksakan kehendak. Carilah sebanyak mungkin jembatan komunikasi yang dapat digunakan agar keutuhan keluarga dapat dijaga. [JP]

BERBURU SUSU

“…tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:15)

Demi memenuhi kebutuhan susu formula anak kami yang terlahir prematur, apapun rela kami lakukan. Susu merk tertentu yang dianjurkan dokter waktu itu ternyata susah didapatkan di pasaran. Di supermarket besar persediaan menipis, tinggal tersisa beberapa kaleng. “Ini tiga kaleng yang terakhir Bu. Kami mendapat informasi dari supplier bahwa beberapa bulan ke depan akan susah barangnya,” ujar pramuniaga kepada istri saya.

Ketiga persediaan susu untuk anak di rumah mulai habis, kamipun mencoba berburu susu di supermarket-supermarket kecil. Bahkan sampai ke toko-toko di kota-kota kecamatan pun kami coba tanyakan, barangkali menjual susu formula yang kami maksud. Setelah berkeliling dengan sepeda motor, tak terlalu menggembirakan hasilnya. Hanya beberapa kaleng yang berhasil didapat. Kami juga mencoba menghubungi kenalan orang tua kami yang kebetulan bekerja di pabrik yang memproduksi susu itu. Juga mengirim pesan pendek kepada rekan-rekan yang tinggal di kota lain agar membelikan ‘makanan pokok’ bagi bayi kami. Semua kami usahakan untuk satu hal: pertumbuhan anak kami. Saya rasa, itulah kerinduan semua orang tua, kerinduan akan pertumbuhan anak-anaknya.

Bapa Sorgawi pun menghendaki agar anak-anak-Nya berada pada jalur pertumbuhan. Ia tidak menginginkan adanya ‘bonsai rohani’. Itulah sebabnya berbagai sarana disediakan dan dicukupi-Nya agar anak-anak-Nya terus bergerak ke arah kedewasaan. Salah satunya, Ia memberikan Roh Kudus-Nya di dalam diri kita agar firman Tuhan yang telah kita dengar, terus diingatkan-Nya. Ia terus menyuplai firman-Nya sebagai kebutuhan pokok kerohanian kita. Mari responi kerinduan Roh Kudus untuk mendewasakan kita. [JP]

SEPERTI SPONS ATAU BATU?

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Cobalah melakukan sebuah percobaan kecil-kecilan. Ambil seember air, siapkan juga sebongkah batu hitam dan spons yang biasa dipakai untuk mencuci piring. Masukkan batu terlebih dahulu ke dalam ember, lalu dalam beberapa waktu kemudian angkatlah lagi batu itu. Sesudah itu giliran spons yang dibenamkan ke dalam air, dan sama seperti batu, beberapa saat kemudian juga diangkat.

Ada persamaan yang terdapat pada kedua benda tersebut: kedua-duanya sama-sama basah sesudah dibenamkan ke dalam air di ember. Tetapi juga ada perbedaan mencolok; batu itu tidak benar-benar basah. Sebentar saja airnya menguap. Tetapi spons itu diresapi air sedemikian rupa, sehingga ketika benda itu diperas, airnya bisa keluar dari dalamnya.

Pesan apa yang hendak saya sampaikan dari percobaan di atas? Kisah itu adalah gambaran sederhana dari pesan Yesus Kristus tentang bagaimana “tinggal di dalam firman-Nya” dan “firman-Nya tinggal di dalam kita.” Firman-Nya dapat kita ibaratkan sebagai seember air, tetapi respon kita terhadap firman bisa saja seperti batu atau spons. Kita sudah “tinggal di dalam firman-Nya” tetapi masalah “firman-Nya tinggal di dalam kita” atau tidak, tergantung pada kemauan kita.

Jika kita bersikap seperti batu, maka firman-Nya hanya “mampir” sebentar dalam kehidupan kita, lalu kita melupakannya. Kita seperti baru saja mendengar sebuah khotbah yang bagus, tetapi tidak berarti apa-apa karena kita segera melupakannya. Yang Allah kehendaki adalah respon spons. Ia menyerap firman sampai ke dalam, bukan sekedar di permukaan. Jadi, respon seperti batu atau spons yang terjadi dalam hidup Anda? [JP]

MAMI VINOLIA

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)

Kesulitan dan kerasnya hidup biasanya melahirkan dua hal: orang-orang kalah dan orang-orang yang bertahan sampai menang. Mami Vinolia alias Mami Vin (terlahir sebagai Wakijo) harus berjuang dengan kerasnya hidup di jalanan sebagai waria. Ia berusaha gigih untuk keluar dari dunia malam yang selama ini telah ‘menghidupinya’. Dunia yang memberinya berbagai macam pengalaman yang bergesekan dengan kekerasan dan tentu saja pelecehan.

Tetapi Vin bukan tipe orang yang mudah menyerah begitu saja. Ia memilih untuk memperbaiki kehidupan gelapnya dengan memulai babak baru, meskipun tidak sama sekali ‘baru’ karena masih tetap bersinggungan dengan pergumulan kehidupan jalanan. Genderang perang yang pertama ditabuhnya adalah untuk melawan HIV/AIDS, penyakit yang akrab dengan kehidupan waria.

Untuk mewujudkan cita-cita luhurnya mengangkat harkat dan martabat kaum wadam [Hawa-Adam] itu, Vin kemudian mendirikan LSM KEBAYA (Keluarga Besar Waria Yogyakarta). Organisasi ini mewadahi para waria dan memperlengkapi mereka dengan ketrampilan praktis sebagai bekal hidup. Ia juga menyewa rumah sendiri untuk menampung anak-anak jalanan yang haus kasih sayang. "Mereka yang lagi stres, kecewa, hingga patah hati, juga kerap mendatangi Mami untuk curhat. Saya ini ya seperti simbok. Sering tombok. Tombok uang, ati, pikiran, dan tenaga. Hahaha.. Tapi ngak apa-apa. Mami ada 24 jam untuk mereka," ucapnya.

Sahabat, hari kita belajar tentang kegigihan sebuah perjuangan. Kehidupan waria, seperti yang diakui sendiri oleh Vin, adalah kehidupan yang sulit berubah. Mereka terbiasa dalam pola hidup santai. Malam ngeluyur, siangnya tidur. Itu saja. Tetapi vin telah membuktikan bahwa kesulitan itu bukan halangan baginya. Karenanya kita harus belajar dari Mas Wakijo, eh… Mami Vin, untuk melihat kerasnya hidup sebagai kesempatan bertahan dan bertumbuh. [JP]

ALLAH TELAH MATI, FACEBOOKLAH PEMBUNUHNYA!

“Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.” (Mazmur 34:16-17)

Sabar... Tenang... Jangan terprofokasi dulu. Judul itu hanyalah ungkapan satire seorang pengkhotbah yang menyatakan kekesalannya karena melihat kebiasaan orang Kristen beribadah akhir-akhir ini. Karena bosan dengan khotbah atau suasana ibadah, orang pergi kebaktian hanya untuk memenuhi kebutuhan formalitasnya sebagai orang Kristen. Maka lihatlah, mereka kemudian tertidur, bisik-bisik dengan jemaat di samping atau sibuk meng-update status facebook melalui HP.

Karena melihat banyak orang sibuk memainkan HP sementara ia berkhotbah, pendeta itu lantas berteriak lantang, “Allah telah mati, Facebooklah pembunuhnya!” Kontan saja jemaat yang sedang bermain HP langsung terperanjat dan buru-buru mengantongi telepon selulernya.

Tidak semua orang yang sementara beribadah dan mengoperasikan HP, selalu membuka Facebook atau Twitter. Bisa saja mereka sedang membuka Alkitab yang terinstall di dalamnya. Bisa juga mereka sedang mencatat khotbah melalui fasilitas MemoPad. Tidak jarang juga mereka mungkin sengaja merekam khotbah dengan HP.

Ibadah komunal (bersama) yang sejati harus berpusat kepada niat “mencari wajah Tuhan”, bukan untuk sekedar melepas penat seperti yang dilakukan sebagian orang. Yang harus dipuaskan dalam kebaktian adalah Allah, bukan pemenuhan kepuasan terhadap orang-orang yang menghadirinya. Itu sebabnya setiap kita menghadiri ibadah, siapkan hati sedari rumah untuk memfokuskan tujuan menyenangkan hati-Nya. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk membangun mezbah dan takhta bagi-Nya. [JP]