Monday, June 28, 2010



SEPERTI SPONS ATAU BATU?


Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Cobalah melakukan sebuah percobaan kecil-kecilan. Ambil seember air, siapkan juga sebongkah batu hitam dan spons yang biasa dipakai untuk mencuci piring. Masukkan batu terlebih dahulu ke dalam ember, lalu dalam beberapa waktu kemudian angkatlah lagi batu itu. Sesudah itu giliran spons yang dibenamkan ke dalam air, dan sama seperti batu, beberapa saat kemudian juga diangkat.


Ada persamaan yang terdapat pada kedua benda tersebut: kedua-duanya sama-sama basah sesudah dibenamkan ke dalam air di ember. Tetapi juga ada perbedaan mencolok; batu itu tidak benar-benar basah. Sebentar saja airnya menguap. Tetapi spons itu diresapi air sedemikian rupa, sehingga ketika benda itu diperas, airnya bisa keluar dari dalamnya.
 Pesan apa yang hendak saya sampaikan dari percobaan di atas? Kisah itu adalah gambaran sederhana dari pesan Yesus Kristus tentang bagaimana “tinggal di dalam firman-Nya” dan “firman-Nya tinggal di dalam kita.” Firman-Nya dapat kita ibaratkan sebagai seember air, tetapi respon kita terhadap firman bisa saja seperti batu atau spons. Kita sudah “tinggal di dalam firman-Nya” tetapi masalah “firman-Nya tinggal di dalam kita” atau tidak, tergantung pada kemauan kita.

Jika kita bersikap seperti batu, maka firman-Nya hanya “mampir” sebentar dalam kehidupan kita, lalu kita melupakannya. Kita seperti baru saja mendengar sebuah khotbah yang bagus, tetapi tidak berarti apa-apa karena kita segera melupakannya. Yang Allah kehendaki adalah respon spons. Ia menyerap firman sampai ke dalam, bukan sekedar di permukaan. Jadi, respon seperti batu atau spons yang terjadi dalam hidup Anda? [JP]

Thursday, June 24, 2010

BATU PERINGATAN

Apa yang Anda rasakan ketika suatu saat berkesempatan untuk mendatangi tempat-tempat yang memiliki hubungan emosional dengan Anda? Biasanya kenangan-kenangan masa lalu silih berganti datang memenuhi benak kita.

Suatu kali saya pulang ke kampung tempat kelahiran saya. Memang suasananya telah banyak berubah. Jalan yang dulu becek ketika hujan turun, kini telah dicor dengan beton. Lahan persawahan tempat saya dulu bermain layang-layang, semakin menyempit karena berdirinya rumah-rumah baru. Rimbun pepohonan yang dulu membuat teduh kampung telah berganti dengan tiang-tiang listrik. Tetapi itu semua tidak menghapus kenangan saya tentang masa kecil. Ada ribuan kisah yang akan saya ceritakan kepada anak-cucu saya kelak.

Dalam nats Yosua 4:1-9, kita menemukan bahwa Tuhan memerintahkan Yosua untuk memilih dua belas orang dari masing-masing suku Israel. Tugasnya bukan untuk berperang, tetapi untuk mengangkat masing-masing sebuah batu dari sungai Yordan. Sudah kurang kerjaankah Yosua? Sama sekali bukan. Batu-batu itu akan dipergunakan untuk sebuah tujuan mulia pada masa mendatang. Batu-batu itu adalah sebuah tanda dan peringatan bagi orang Israel selama-lamanya (ay. 6-7).

Yosua ingin mewariskan sejarah, sesuai dengan perintah Tuhan, kepada generasi yang hidup sesudahnya kelak. Senada dengan hal ini, Bung Karno pernah berkata. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Jargon itu sering disingkat Jas Merah. Tidak ada yang berlebihan di sini. Kita tentu paham bahwa yang namanya sejarah telah membawa banyak pelajaran bagi kita. Yosua ingin agar melalui batu peringatan itu bangsa Israel diingatkan kembali mengenai perjanjian dan berkat Tuhan atas bangsanya.

Sejarah itu penting, tidak peduli manis atau kelam. Segala sesuatu yang baik dari sejarah kita pakai sekarang sebagai teladan. Yang buruk menjadi pelajaran bagi kita juga agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Itulah sebabnya mungkin Anda perlu mengambil waktu untuk melakukan ‘ziarah’ ke tempat-tempat yang berkesan bagi Anda. Mungkin itu rumah di kampung halaman Anda tempat di mana Anda dibesarkan orang tua. Mungkin juga itu gereja Anda pada masa kecil; tempat Anda dibesarkan dan mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus. Atau bahkan tempat-tempat di mana anda pernah gagal. Di sana Anda bisa memperbaharui tekad dan komitmen baru untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah Anda lakukan dahulu. Selamat berziarah!
***

Tuesday, June 08, 2010

MOTIVASI JOHN STEPHEN AKWARI

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)

Kehormatan menjadi seorang utusan negara, telah menggerakkan John Stephen Akwari untuk berlari, berlari dan terus berlari. Akwari adalah atlit lari Marathon yang diutus Tanzania dalam gelaran Olimpiade musim panas di Mexico pada tahun 1968.

Dalam sebuah nomor lari marathon, ia harus berkompetisi dengan 74 pelari yang lain yang berasal dari berbagai negara. Sebuah pertandingan lari yang berat baginya, bukan saja karena lawan-lawannya, tetapi juga karena ia mengalami ‘kecelakaan’ dalam lomba itu. Ia terjatuh dan mengalami luka pada lutut dan betis kanannya. Tetapi cederanya itu tidak membuatnya berhenti. Meski sudah tidak mungkin ikut dalam persaingan dan menjadi juara, Akwari segera membebat lukanya dengan perban dan kemudian mencoba melanjutkan langkah menuju garis finish.

Stadion tempat berlangsungnya perlombaan berangsur sepi. Pemenang lomba telah dikalungi medali. Tempat duduk stadion sudah hampir kosong, tinggal beberapa tempat yang masih terisi. Orang-orang yang belum beranjak itu ternyata menunggu kehadiran pelari terakhir yang akan memasuki finish. Dan pelari itu adalah John Akwari. Akhirnya, meski terseok, Akwari berhasil juga melampaui garis akhir.

Ketika ditanya wartawan mengapa ia melakukan itu semua, ia menjawab, “My country send me 5,000 miles not just to start the race. They sent me 5,000 miles to finish the race!Ia tidak diutus negeri Tanzania hanya untuk memulai sebuah pertandingan, tetapi ia dikirim jauh-jauh untuk menyelesaikan sebuah kompetisi. Fokus hidupnya adalah untuk mengakhiri pertandingan dengan baik. Sudahkah semangat itu menjadi bagian kehidupan kita? [JP]

BUKAN MASALAH BAGAIMANA MEMULAI, TETAPI BAGAIMANA MENGAKHIRINYA

PERCAKAPAN DUA RAHIB

"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8)

Dua orang rahib terlibat dalam pembicaraan serius di sepanjang perjalanan pulang ke biara. Tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang perempuan cantik yang hendak meminta pertolongan untuk menyeberang sungai. Salah seorang rahib kemudian menggendong perempuan sambil menyeberang sungai. Seorang rahib yang lain menyeberang sambil bergumam di dalam hati, “Mengapa ia menyentuh perempuan itu? Apakah tidak berpengaruh terhadap kekudusan?”

Lalu ia memberanikan diri menegur rekannya di depan gerbang biara, “Tidak tahukan kamu bahwa kita ini rahib? Bahwa kita tidak boleh menyentuh seorang perempuan? Mengapa kamu melakukan semua itu?” “Kawan, aku sudah meninggalkan perempuan itu di pinggir kali tadi. Kenapa engkau masih membawanya (dalam pikiranmu)?”

Rahib yang menggendong perempuan itu melakukannya dengan motivasi menolong dan tidak terganggu hati nuraninya. Sementara rahib yang lain memandang bahwa kekudusan seseorang dapat terpengaruh oleh ‘aturan-aturan’ lahiriah.

Sahabat, salah satu gaya hidup yang ditekankan di dalam Kerajaan Allah adalah gaya hidup kekudusan. Yesus, Sang Mesias, mewanti-wanti agar kita sebagai warga Kerajaan dengan serius memerhatikan masalah ini. Kekudusan yang bukan dilakukan dengan tekanan legalitas atau karena aturan-aturan, tetapi kekudusan sebagai sebuah persembahan yang didasari kasih kepada Sang Raja. Kekudusan yang legalistik akan membebani kita, tetapi jika kita mengasihi Kristus, kekudusan bukanlah hal yang sulit. Bagaimana dengan motivasi Anda? [JP]

KASIH KEPADA ALLAH MELAHIRKAN KEKUDUSAN HIDUP

DENDA GUARDIOLA

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (I Korintus 9:25)

Tahun 2009 menjadi milik Barcelona! Klub sepak bola Catalan berkostum merah-biru itu menorehkan enam gelar juara dalam semusim. Keenam gelar juara itu adalah: Copa Del Rey, Liga Champion, Liga Spanyol, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan terakhir Piala Dunia Antarklub. Apa rahasia tim besutan Pep Guardiola ini? Ternyata karena disiplin tinggi yang diterapkan sang pelatih dengan menggunakan sistem denda.

Denda ini rupanya mampu membuat semua pemain Barca memandang keterlambatan sebagai sebuah kerugian. Dalam aturan klub, diterapkan bahwa semua pemain harus hadir di sesi latihan satu jam sebelumnya. Pemain yang terlambat akan dikenakan denda sebesar 6.000 euro. Jika 1€=Rp 13.000,- maka setiap kali telat berlatih, seorang pemain akan membayar denda sekitar Rp 78.000.000,-

Tak hanya itu, pemain yang ketahuan kelayapan di malam hari juga akan dikenakan denda 2.000 euro (sekitar Rp 26.000.000,-). Guardiola juga akan mendenda pemain sebesar 500 euro (Rp 6.500.00) jika terlambat saat makan pagi. Uniknya, denda ini dapat naik jika memang semua pemain menyetujuinya. Semua uang yang terkumpul dari sistem denda ini akan digunakan untuk makan malam tim dan disumbangkan bagi komunitas lokal Barcelona.

Kemenangan tidak jatuh dari langit, tetapi merupakan hasil dari usaha keras dalam sebuah latihan yang berdisiplin tinggi. Squad Barca menyadari betul bahwa ketidakdisiplinan seseorang adalah kerugian bagi tim. Saya percaya bahwa hal inipun berlaku dalam kehidupan spiritual kita. Jika ingin mendapatkan kemenangan, bekalilah diri dengan disiplin tinggi melalui doa dan hubungan yang lebih erat dengan Kristus. Niscaya kemenangan menjadi bagian kita. [JP]

KEMENANGAN TIDAK JATUH DARI LANGIT TETAPI DIDAPAT DARI DISIPLIN TINGGI

Friday, June 04, 2010

MENYATUKAN PERSEPSI

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14)

Suatu ketika terjadi percakapan antara pembeli (orang Batak) dengan penjual es cendol (orang Jawa).

Pembeli: Mas, beli es cendolnya satu ya...

Penjual: Nyuwun pangapunten, sampun telas (Mohon maaf, sudah habis).

Pembeli: Tidak masalah, tidak usah pakai gelas.

Penjual: Sampun boten wonten (Sudah tidak ada).

Pembeli: Ya sudah, tidak usah pakai santen kalau begitu...

Penjual: Maaf Pak, es cendolnya sudah habis!

Pembeli: Ngomong kek dari tadi....

Penjual:????

Percakapan “ga nyambung” dua orang berbeda etnis dan bahasa itu terjadi karena perbedaan persepsi. Mereka masing-masing menggunakan sudut pandang berbeda yang tidak akan ketemu jika dipaksakan untuk dilanjutkan. Baru setelah dijembatani dengan bahasa Indonesia, komunikasi menjadi jauh lebih lancar.

Betapa seringnya perbedaan persepsi ini telah mengakibatkan miskomunikasi, termasuk juga dalam kehidupan keluarga. Maksud hati menyampaikan hal-hal yang baik, tetapi apa daya tujuannya menjadi tidak tercapai. Suami berbeda pandangan dengan isteri. Anak-anak merasa bahwa bahasa yang digunakan orang tuanya sudah ketinggalan zaman.

Karena itu Sahabat, sebelum lebih jauh kita mengkomunikasikan sesuatu kepada anggota keluarga yang lain, lebih baik jika kita menyatukan persepsi terlebih dahulu. Cara ini akan meminimalisir sikap ngotot dan memaksakan kehendak. Carilah sebanyak mungkin jembatan komunikasi yang dapat digunakan agar keutuhan keluarga dapat dijaga. [JP]

BERBURU SUSU

“…tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:15)

Demi memenuhi kebutuhan susu formula anak kami yang terlahir prematur, apapun rela kami lakukan. Susu merk tertentu yang dianjurkan dokter waktu itu ternyata susah didapatkan di pasaran. Di supermarket besar persediaan menipis, tinggal tersisa beberapa kaleng. “Ini tiga kaleng yang terakhir Bu. Kami mendapat informasi dari supplier bahwa beberapa bulan ke depan akan susah barangnya,” ujar pramuniaga kepada istri saya.

Ketiga persediaan susu untuk anak di rumah mulai habis, kamipun mencoba berburu susu di supermarket-supermarket kecil. Bahkan sampai ke toko-toko di kota-kota kecamatan pun kami coba tanyakan, barangkali menjual susu formula yang kami maksud. Setelah berkeliling dengan sepeda motor, tak terlalu menggembirakan hasilnya. Hanya beberapa kaleng yang berhasil didapat. Kami juga mencoba menghubungi kenalan orang tua kami yang kebetulan bekerja di pabrik yang memproduksi susu itu. Juga mengirim pesan pendek kepada rekan-rekan yang tinggal di kota lain agar membelikan ‘makanan pokok’ bagi bayi kami. Semua kami usahakan untuk satu hal: pertumbuhan anak kami. Saya rasa, itulah kerinduan semua orang tua, kerinduan akan pertumbuhan anak-anaknya.

Bapa Sorgawi pun menghendaki agar anak-anak-Nya berada pada jalur pertumbuhan. Ia tidak menginginkan adanya ‘bonsai rohani’. Itulah sebabnya berbagai sarana disediakan dan dicukupi-Nya agar anak-anak-Nya terus bergerak ke arah kedewasaan. Salah satunya, Ia memberikan Roh Kudus-Nya di dalam diri kita agar firman Tuhan yang telah kita dengar, terus diingatkan-Nya. Ia terus menyuplai firman-Nya sebagai kebutuhan pokok kerohanian kita. Mari responi kerinduan Roh Kudus untuk mendewasakan kita. [JP]

SEPERTI SPONS ATAU BATU?

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Cobalah melakukan sebuah percobaan kecil-kecilan. Ambil seember air, siapkan juga sebongkah batu hitam dan spons yang biasa dipakai untuk mencuci piring. Masukkan batu terlebih dahulu ke dalam ember, lalu dalam beberapa waktu kemudian angkatlah lagi batu itu. Sesudah itu giliran spons yang dibenamkan ke dalam air, dan sama seperti batu, beberapa saat kemudian juga diangkat.

Ada persamaan yang terdapat pada kedua benda tersebut: kedua-duanya sama-sama basah sesudah dibenamkan ke dalam air di ember. Tetapi juga ada perbedaan mencolok; batu itu tidak benar-benar basah. Sebentar saja airnya menguap. Tetapi spons itu diresapi air sedemikian rupa, sehingga ketika benda itu diperas, airnya bisa keluar dari dalamnya.

Pesan apa yang hendak saya sampaikan dari percobaan di atas? Kisah itu adalah gambaran sederhana dari pesan Yesus Kristus tentang bagaimana “tinggal di dalam firman-Nya” dan “firman-Nya tinggal di dalam kita.” Firman-Nya dapat kita ibaratkan sebagai seember air, tetapi respon kita terhadap firman bisa saja seperti batu atau spons. Kita sudah “tinggal di dalam firman-Nya” tetapi masalah “firman-Nya tinggal di dalam kita” atau tidak, tergantung pada kemauan kita.

Jika kita bersikap seperti batu, maka firman-Nya hanya “mampir” sebentar dalam kehidupan kita, lalu kita melupakannya. Kita seperti baru saja mendengar sebuah khotbah yang bagus, tetapi tidak berarti apa-apa karena kita segera melupakannya. Yang Allah kehendaki adalah respon spons. Ia menyerap firman sampai ke dalam, bukan sekedar di permukaan. Jadi, respon seperti batu atau spons yang terjadi dalam hidup Anda? [JP]

MAMI VINOLIA

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)

Kesulitan dan kerasnya hidup biasanya melahirkan dua hal: orang-orang kalah dan orang-orang yang bertahan sampai menang. Mami Vinolia alias Mami Vin (terlahir sebagai Wakijo) harus berjuang dengan kerasnya hidup di jalanan sebagai waria. Ia berusaha gigih untuk keluar dari dunia malam yang selama ini telah ‘menghidupinya’. Dunia yang memberinya berbagai macam pengalaman yang bergesekan dengan kekerasan dan tentu saja pelecehan.

Tetapi Vin bukan tipe orang yang mudah menyerah begitu saja. Ia memilih untuk memperbaiki kehidupan gelapnya dengan memulai babak baru, meskipun tidak sama sekali ‘baru’ karena masih tetap bersinggungan dengan pergumulan kehidupan jalanan. Genderang perang yang pertama ditabuhnya adalah untuk melawan HIV/AIDS, penyakit yang akrab dengan kehidupan waria.

Untuk mewujudkan cita-cita luhurnya mengangkat harkat dan martabat kaum wadam [Hawa-Adam] itu, Vin kemudian mendirikan LSM KEBAYA (Keluarga Besar Waria Yogyakarta). Organisasi ini mewadahi para waria dan memperlengkapi mereka dengan ketrampilan praktis sebagai bekal hidup. Ia juga menyewa rumah sendiri untuk menampung anak-anak jalanan yang haus kasih sayang. "Mereka yang lagi stres, kecewa, hingga patah hati, juga kerap mendatangi Mami untuk curhat. Saya ini ya seperti simbok. Sering tombok. Tombok uang, ati, pikiran, dan tenaga. Hahaha.. Tapi ngak apa-apa. Mami ada 24 jam untuk mereka," ucapnya.

Sahabat, hari kita belajar tentang kegigihan sebuah perjuangan. Kehidupan waria, seperti yang diakui sendiri oleh Vin, adalah kehidupan yang sulit berubah. Mereka terbiasa dalam pola hidup santai. Malam ngeluyur, siangnya tidur. Itu saja. Tetapi vin telah membuktikan bahwa kesulitan itu bukan halangan baginya. Karenanya kita harus belajar dari Mas Wakijo, eh… Mami Vin, untuk melihat kerasnya hidup sebagai kesempatan bertahan dan bertumbuh. [JP]

ALLAH TELAH MATI, FACEBOOKLAH PEMBUNUHNYA!

“Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.” (Mazmur 34:16-17)

Sabar... Tenang... Jangan terprofokasi dulu. Judul itu hanyalah ungkapan satire seorang pengkhotbah yang menyatakan kekesalannya karena melihat kebiasaan orang Kristen beribadah akhir-akhir ini. Karena bosan dengan khotbah atau suasana ibadah, orang pergi kebaktian hanya untuk memenuhi kebutuhan formalitasnya sebagai orang Kristen. Maka lihatlah, mereka kemudian tertidur, bisik-bisik dengan jemaat di samping atau sibuk meng-update status facebook melalui HP.

Karena melihat banyak orang sibuk memainkan HP sementara ia berkhotbah, pendeta itu lantas berteriak lantang, “Allah telah mati, Facebooklah pembunuhnya!” Kontan saja jemaat yang sedang bermain HP langsung terperanjat dan buru-buru mengantongi telepon selulernya.

Tidak semua orang yang sementara beribadah dan mengoperasikan HP, selalu membuka Facebook atau Twitter. Bisa saja mereka sedang membuka Alkitab yang terinstall di dalamnya. Bisa juga mereka sedang mencatat khotbah melalui fasilitas MemoPad. Tidak jarang juga mereka mungkin sengaja merekam khotbah dengan HP.

Ibadah komunal (bersama) yang sejati harus berpusat kepada niat “mencari wajah Tuhan”, bukan untuk sekedar melepas penat seperti yang dilakukan sebagian orang. Yang harus dipuaskan dalam kebaktian adalah Allah, bukan pemenuhan kepuasan terhadap orang-orang yang menghadirinya. Itu sebabnya setiap kita menghadiri ibadah, siapkan hati sedari rumah untuk memfokuskan tujuan menyenangkan hati-Nya. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk membangun mezbah dan takhta bagi-Nya. [JP]

Friday, May 14, 2010

"Buatlah doa Anda pendek.
Cinta membutuhkan sedikit kata-kata.

Gunakanlah saat-saat tenang untuk berdoa.
Ketenangan menarik Anda kepada Sang Maha Besar.
"

Wednesday, March 10, 2010

JANGAN SALAH SANGKA!

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pkai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2)

Beberapa waktu lalu sebuah cerita motivatif mampir di inbox surat elektronik saya. Kisah itu coba saya ceritakan ulang dalam renungan ini. Ada seorang ibu yang naik pesawat dari Semarang ke Jakarta, duduk berdampingan dengan seorang pemuda. Di tengah perjalanan, si pemuda menyapa dan terjadilah obrolan ringan diantara kedua penumpang itu.

“Ibu ada acara apa pergi ke Jakarta?” tanya pemuda itu.

“Oh, sebenarnya saya mau ke Singapore. Di Jakarta tunggu connecting flight saja. Mau nengokin anak kedua saya yang bekerja di sana,” jawab ibu itu.

“Bagaimana dengan putra-putri ibu yang lain?”

“Anak ketiga saya adalah seorang dokter di Malang, yang keempat bekerja di sebuah perkebunan di Lampung, yang kelima jadi arsitek di Jakarta, keenam memimpin sebuah cabang bank swasta di Purwokerto dan yang terakhir jadi dosen di Semarang.”

Si pemuda hanya bisa berdiam sambil bergumam di dalam hati, “Hebat ibu ini, ia bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga meraih keberhasilan.” “Tapi, bagaimana dengan anak pertama Ibu, di manakah dia? Bekerja sebagai apa?” lanjut si pemuda penuh penasaran.

“Yang sulung ada di Godean, Jogja. Ia seorang petani dan mengelola sepetak sawah yang tak terlalu luas di sana,” jawab si ibu setelah menghela nafas panjang.

“Tentu ibu kecewa karena ia tak seberhasil adik-adiknya. Maaf ya Bu....”

“Oh tidak! Justru saya sangat bangga dengannya. Ialah yang bekerja keras dan membiayai semua adik-adiknya hingga berhasil. Sepeninggal suami saya, ia telah menjadi tulang punggung keluarga,” jawab sang ibu bangga dan membuat si pemuda diam termangu. Ia sadar bahwa ia telah salah sangka.

Sahabat, salah satu cara untuk hidup positif adalah dengan mengikis prasangka-prasangka buruk dalam hidup kita. Dengan cara ini kita menahan diri untuk tidak terburu-buru menghakimi apa yang terjadi dalam diri orang lain. Tukul Arwana acap berkata, “Don’t judge the book just by it’s cover!” Jangan pernah melihat nilai sebuah buku dari sampulnya saja. Bacalah buku itu dengan seksama hingga akhirnya kita memahami ceritanya secara utuh dan mengambil kesimpulan dengan tepat. [JP]

MENJAGA NYALA ANTUSIASME

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11)

Suatu kali saya iseng membeli secara eceran sebuah koran yang halaman mukanya penuh dengan judul bombastis. Bahkan judul-judul itu telah menghabiskan banyak tempat daripada isi beritanya. Dan, astaga... 90% lebih beritanya beraroma negatif dan bukanlah berita yang menghibur hati. Ada berita pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penipuan, gossip dan juga intrik politik.

Memang ada sebuah slogan yang dipegang oleh para pembuat berita. Slogan itu berbunyi, “Berita baik bukanlah berita – Bad news is good news.” Artinya, adalah sebuah kesengajaan kalau berita yang disuguhkan itu memang merupakan berita-berita ‘pilihan’. Berita-berita baik dalam arti yang sesungguhnya sengaja tak ditampilkan karena dipastikan bakal tak laku dan sepi peminat.

Menurut seorang motivator, jika kita terus-menerus mengkonsumsi berita yang negatif seperti ini, alam bawah sadar kita akan terpengaruh. Hal itu akan membuat antusiasme kita dalam kehidupan turun drastis. Tentu saja ini sangat merugikan karena antusiasme yang turun membuat semangat loyo yang lalu berimbas pada produktifitas. Karena itu ia menyarankan agar kita ‘puasa’ memaca berita begituan selama setidaknya enam bulan. Ia menjamin bahwa semangat hidup akan kembali menyala.

Waktu renungan ini ditulis, sayapun sedang mengamati bagaimana semua media dibombardir oleh berita simpang siurnya penegakan hukum di Indonesia. Genderang perseteruan antara “cicak” (KPK) dan “buaya” (Polri). Berita itu memang menguras perhatian publik dan tidak menghasilkan apa-apa. Orang berharap bahwa akan terjadi penegakan hukum, tetapi yang muncul hanyalah sebuah kebingungan masyarakat.

Sahabat, untuk menjaga antusiasme kita tetap tinggi, mari kita menjaganya dengan mengaktifkan filter terhadap berita-berita buruk itu. Bukankah jauh lebih bermanfaat membaca buku-buku yang menceritakan kisah sukses seseorang? Bukankah lebih berguna menghabiskan waktu dengan bacaan-bacaan inspiratif lainnya?[JP]

MIDAS TEWAS BERGEMILANG EMAS

“Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.” (Filipi 4:17)

Dalam mitologi Yunani dikenal adanya raja kemaruk harta bernama Midas. Ia seorang raja yang sombong, lagi serakah. Midas tak pernah puas dengan harta yang telah dimilikinya selama ini. Semua kegiatannya diarahkan pada pemenuhan pundi-pundinya dengan harta dunia.

Suatu kali Midas berkesempatan menghadap dewa, penguasa yang dipercaya masyarakat Yunani. Kepada dewa, Midas menyampaikan permohonan, “Dewa, alangkah indahnya kalau seluruh kekayaanku berupa emas. Semua ternak, uang, istana dan harta yang lain berwujud emas. Karena itu aku memohon agar engkau membuat tanganku menjadi sakti. Semua hal yang kusentuh dengan tanganku segera berubah menjadi emas.” Sang dewa menjawab, “Sudahkah engkau memikirkan niatmu matang-matang? Tidakkah engkau menyesal di kemudian hari?” Dengan lantang Midas menjawab, “Tidak. Aku sudah berpikir matang!” Akhirnya terkabullah permintaannya itu.

Sekembalinya ke istana, ia mencoba kesaktiannya. Dan benar, ketika ia sentuk sebuah kursi, tiba-tiba berubah menjadi emas. Sapu tangan, kayu, lantai, semuanya menjadi emas. Maka semakin congkaklah Midas demi melihat kesaktiannya itu. Suatu ketika ia lapar dan meminta makan. Pelayanan makanan segera menghidangkan apa yang menjadi keinginan raja. Ketika midas menyentuh piring, alas makan itu berubah menjadi emas. Celakanya, nasinya pun berubah menjadi emas. Tentu ia tak dapat makan nasi emas itu. Melihat itu semua pelayanan menjadi takut dan segera menjauhi Midas. Raja congkak itu akhirnya bingung dan mati kelaparan. Ironis, seorang raja mati karena lapar dengan bergelimang emas.

Keinginan hati manusia memang tidak akan pernah terpuaskan. Tidak akan pernah ada kata cukup. Tetapi kebahagiaan akan mengalir bagi orang yang berbagi dengan orang lain. Ia tidak menghabiskan berkat Tuhan sendiri, tetapi menjadi berkat bagi orang lain. [JP]

THAT’S WHAT FRIENDS ARE FOR...

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)

Ada seekor gorilla yang bernama Kera. Binatang itu terlahir di kebun binatang Barcelona, Spanyol. Lantaran ditolak oleh ibunya sendiri Kera kemudian dipindahkan ke kebun binatang Wilhellma, Stuttgart –Jerman sebelum kemudian dipindahkan ke Inggris.

Di Inggris, Kera mendapatkan pengasuhan dari Emily Pugh. Emily-lah yang sehari-hari memainkan peran penganti sebagai ibu gorilla itu. Ia telah menjalin persahabtan yang kian hari kian dekat dengan binatang asuhannya. Emily membaktikan seluruh hidupnya untuk merawat dan membesarkan Kera. Kedekatan makhluk berbeda jenis itu ternyata membuat keduanya memiliki semacam ‘ikatan bathin’ layaknya seorang ibu dengan anaknya. Dalam sebuah foto yang dirilis sebuah situs, tergambar bagaimana Kera yang berusia empat tahun memeluk erat Emily dan mereka dipenuhi dengan tawa bahagia. Kesepian yang dialami Kera karena penolakan induknya, tergantikan dengan kehadiran Emily yang menerimanya apa adanya. Kalau saja Kera bisa bernyanyi, mungkin ia akan melantunkan That’s What Friends Are For... Itulah gunanya teman...

Jika manusia dan binatang bisa bersahabat karib, tentu saja hal itu juga berlaku untuk persahabatan antarmanusia. Sebagai makhluk ciptaan yang paling sempurna, manusia dijadikan Tuhan dengan kepekaan sosial yang memungkinkannya bergantung kepada orang lain. Ia tidak bisa menjadi independen tetapi saling bergantung satu dengan yang lain.

Sahabat, cobalah ingat sekarang berapa banyak sahabat dalam komunitas/kehidupan Anda. Rasanya ini waktu yang tepat untuk berterimakasih kepada Tuhan karena kehadiran mereka dalam hidup Anda. Merekalah bagian dari proses perjalanan kita untuk menjadi semakin utuh dan dewasa. Untuk itulah mereka ada. Tanpa orang lain sebagai sahabat, hidup ini terasa hambar bukan? [JP]

Thursday, September 17, 2009

MENUNGGU YANG TAK MEMBOSANKAN

“Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” (1 Tesalonika 5:1-2)

Kata orang menunggu itu membosankan. Apakah selalu begitu? Apakah ini juga berlaku dalam konteks menunggu kedatangan Kristus yang kedua kalinya? Bisa “ya”, tapi juga bisa”tidak”. Jawaban pertama terjadi pada orang-orang yang tidak bisa menyiasatinya sehingga didera kebosanan. Tetapi jawaban kedua akan berlaku untuk mereka yang memahami bagaimana menunggu kedatangan Tuhan.

Harian Surya memberitakan tentang kerugian besar yang diderita akibat kebosanan yang tak teratasi. Hasan Bisri meminta Mahfud, sopirnya, untuk memarkir mobilnya di depan sebuah Perseroan Terbatas. Ia bermaksud berbelanja sebentar di sebuah super market. Sebelum beranjak dari jok depan mobilnya, ia menitipkan sebuah tas kepada sopir. “Hati-hati, ada banyak uang di dalamnya,” pesannya. Sang sopir mengangguk tanda paham atas apa yang diperintahkan majikannya.

Lama menunggu di belakang kemudi, Mahfud tak kunjung melihat majikannya datang. Ia disergap kebosanan dan berniat turun untuk mencari secangkir kopi. Baru lima belas menit meninggalkan mobil, ia terperangah melihat kaca mobil sudah pecah dan celakanya, tas titipan majikan raib digondol perampok. Ia lebih kaget karena ternyata tas itu berisi uang senilai Rp. 55 juta beserta dengan surat-surat berharga. Mahfud pun lemas dan tak kuasa menahan sesal. Tetapi sudah terlambat.

Pesan majikan Mahfud untuk berjaga-jaga sebenarnya senada dengan apa yang Tuhan Yesus sampaikan bagi kita. Untuk menyambut kedatangan-Nya kembali, ada banyak hal yang Tuhan perintahkan. Intinya agar kita berjaga-jaga, bukan secara pasif, tetapi secara aktif dengan melayani dan mengerjakan hal-hal mulia untuk kemuliaan-Nya. Jika ini yang kita pilih, saya percaya bahwa menunggu-Nya tidak akan membosankan lagi. [JP]

TUNGGULAH KEDATANGAN-NYA DENGAN SIBUK MELAKUKAN APA YANG IA KEHENDAKI

Thursday, May 14, 2009

BEDA KEYAKINAN

Angelina Sondakh akhirnya dikabarkan menikah dengan Adjie Massaid, duda keren beranak dua. Bahkan menurut rumor yang beredar, mantan Putri Indonesia itu tengah berbadah dua. Yang lebih mengejutkan, Angie dikabarkan menikah secara siri dengan mantan suami Reza Artamevia itu. Nikah siri adalah sebuah praktek pernikahan dalam agama tertentu dan dilegalkan. Saya rasa kita perlu berhenti sampai di sini, karena jika diteruskan renungan ini akan berubah menjadi infotaintment.

Masalah pernikahan berbeda agama/keyakinan memang bukan hal baru. Peristiwa semacam ini hanyalah ulangan dari deretan pernikahan yang telah terjadi sebelumnya. Ada pasangan suami – isteri yang masih tetap bertahan dengan keyakinan masing-masing dan mengaku baik-baik saja. Ada yang berusaha menarik pasangannya untuk memeluk keyakinan yang sama. Ada pula yang menyerah di tengah jalan dan memilih jalan bercerai.

Kompas.com menyebut bahwa perbedaan keyakinan adalah salah satu dari delapan sumber konflik yang sering terjadi antara suami – isteri. Cinta buta pada awalnya dapat ‘menutupi’ perbedaan-perbedaan, termasuk dalam hal keyakinan. Begitu masuk dalam realita rumah tangga yang sesungguhnya, mereka mulai menemukan bahwa perbedaan keyakinan adalah hal yang sulit disatukan.

Sahabat, pelajaran apa yang bisa kita petik? Kita tentu tidak mau menjadi orang-orang yang mengorbankan iman karena pasangan hidup. Adalah bukti rendahnya komitmen kita terhadap ketuhanan Kristus jika kita melakukannya. Dengan cara itukah kita bersyukur untuk karya penebusan-Nya? Kita juga tidak ingin memaksakan diri untuk masuk ke dalam pernikahan beda keyakinan. Selain tidak dianjurkan Alkitab, hal ini juga akan membawa pasangan dalam kondisi tersiksa. Yang paling aman adalah mengikuti apa kata ‘manual book’ kehidupan kita dengan menjadi pasangan yang seimbang. [JP]

Sunday, April 26, 2009

MENDADAK FACEBOOK

Situs jejaring sosial facebook (FB) telah mengubah wajah dunia dalam waktu yang singkat. Ibu rumah tangga, karyawan, pelajar, mahasiswa, artis, politisi hingga rohaniwan keranjingan menggunakan situs pertemanan yang dibangun Mark Elliot Zuckerberg ini. Sejak diluncurkan tahun 2004, situs ini telah menghubungkan 123,9 juta orang di seluruh dunia. Itu data hingga Mei 2008, saat ini tentu jumlah itu sudah membengkak. Ada apa dengan FB?

Jika Anda mencermati lingkungan sosial akhir-akhir ini, Anda akan mendapati banyaknya orang yang ‘menyendiri’ di tengah keramaian. Mereka asyik dengan laptop, Blackberry atau ponsel mereka untuk terhubung dengan teman-teman mereka di FB. Uniknya, banyak yang mengakses FB untuk hal-hal yang sebenarnya ngga penting-penting amat. Seorang facebooker memposting sebuah status di dindingnya, “Mau mandi dulu ah…” Terus, apa urusannya kalau mau mandi? Tetapi itulah realitas kehidupan sosial yang terjadi belakangan.

Di sisi lain, menggunakan FB pun dapat mendatangkan banyak manfaat asalkan kita dapat memosisikan diri sebagai pengakses FB yang cerdas. Berikut beberapa tips yang dapat Anda cermati:
1. Pastikan tujuan Anda ketika bergabung dengan FB. FB adalah sebuah fasilitas untuk memperluas relasi sosial di sunia maya. Jangan sampai pekerjaan akhirnya terbengkelai gara-gara terlalu sibuk nongkrongin FB.
2. Selektif memilih teman. Pilihlah teman yang memberi manfaat secara sosial, bukan hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Mereka mungkin teman sekolah, kerja, rekan bisnis atau saudara seiman Anda.
3. Jangan jadikan FB sebagai identitas. Bagaimanapun FB adalah fasilitas, bukan identitas. Sebagian orang merasa pede bergaul di dunia maya, tetapi tidak di kehidupan nyata. Jika Anda mengalaminya, Anda harus berhati-hati dengan identitas Anda.
4. Hindari umbar data diri. Berikan data diri secukupnya karena Anda tidak berkewajiban mengumbar identitas kepada orang-orang yang bisa saja menyalahgunakannya.
5. FB bukan tempat curhat. Jika ingin curhat, sebaiknya tidak memilih FB karena kemungkinan dilihat dan diketahui banyak orang terbuka lebar. Gunakan telepon atau email untuk masalah-masalah pribadi yang sifatnya rahasia.
6. Jangan menggantikan pergaulan nyata. Jangan sampai kita menjadi orang yang ‘gaul’ di dunia maya, tetapi kesepian di dunia nyata. Hubungan pertemanan nyata jauh lebih berharga, apalagi jika disangkutpautkan dengan kesehatan emosi dan pertumbuhan rohani.
7. Akseslah FB seperlunya. Jangan terlalu lama memasang FB di layar monitor atau HP Anda. Cukuplah untuk sekedar sign in, menginformasi permintaan pertemanan, menjawab pertanyaan atau memposting hal-hal penting, setelah itu segera sign out.

Jika kita menggunakan situs ini secara bertanggung jawab, niscaya banyak manfaat yang akan kita dapatkan. Masalah jarak dan waktu yang acap jadi penghambat komunikasi, bisa dijembatani dengan FB. Sebagian orang memanfaatkannya untuk kepentingan pelayanan, marketing produk dan hal-hal positif lainnya.

Jadi bagaimana menurut Anda? Apakah FB itu –meminjam istilah Pak Rubin Adi– “berkat” atau “bencana”? [dari berbagai sumber]

Wednesday, April 15, 2009

AKHIR KISAH PEMBURU KURSI

Mbah Darmo klenger! Niatnya untuk duduk manis di kursi empuk dewan tingkat kabupaten pupus sudah. Boro-boro dapet kursi, pemilih yang mencontreng namanya pada kertas suara tak lebih dari 50 orang. Demi melihat kenyataan ini, Mbah Darmo hanya bisa termangu tak percaya. Bagaimana tidak? Penganggur ini sudah mati-matian menggelontorkan dana kampanye. Utang sana-sini untuk bikin spanduk, selebaran dan poster. Ia juga menunjuk tim sukses untuk memasang gambar-gambar dirinya di tempat-tempat strategis. Untuk hal itu tentu harus ada 'uang lelah' untuk sekedar membeli rokok dan makan malam. Ia juga harus berlatih pidato berbulan-bulan mengingat saat kampanye ia harus berorasi di depan masa yang mendukungnya. Just for your information, Mbah Darmo lulus SMA saja dengan nilai yang pas-pasan. Jadi, bayangkan sendiri bagaimana pidatonya. Ia pasti tak fasih lidah, apalagi menanggapi isu-isu politik yang berkembang. Mungkin ia bahkan tak tahu apa itu electoral treshold.

Ia berharap, nanti kalo sudah jadi anggota dewan, utangnya tertutup. Modalnya bisa balik, impas. Kini harapan tinggal harapan. Mbah Darmo malah sibuk menyembunyikan diri dari kejaran debt colector yang tak menyerah nongkrong saban hari di rumah kontrakannya. Ia stres, frustasi, malu, takut, minder dan tak kuasa menanggung beban ini. Tekanan yang hebat itu membawanya ke titik depresi tertinggi dan akhirnya gilalah caleg tak jadi ini.

Kerjaannya menggotong kursi ke mana ia pergi dengan tetap berseragam partai yang dibelanya. Berteriak-teriak tak jelas di sepanjang jalan. Bahkan ia tak bisa membedakan lagi mana toilet dan mana pinggir jalan. Syaraf warasnya benar-benar telah putus. Sampai akhirnya tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya.

Mbak Darmi, sang istri, jadi trenyuh. "Lha wong sudah tak ingetin dari dulu untuk tidak nyaleg. Tapi semangat keblingernya itu koq ya ndak turun-turun. Malah ngomong kamu ini wong wedok tahu apa. Oalah pakne.. pakne.. lha kalo sekarang kamu jadi kenthir terus aku piye?" ujarnya sambil mengelus dada. Tapi kondisi kejiwaan suaminya yang tergoncang tidak membuat Mbak Darmi berencana menggugat cerai. Ia mencoba tabah untuk menghadapi kondisi suaminya.

Demikianlah Mbak Darmi menjalani hari-harinya berteman seorang suami tak waras. Belum lagi ia harus menjadi buruh cuci di tetangga kampungnya untuk menutup utang Mbah Darmo. Ia menerawang... Entah kapan utangnya lunas terbayar....***
MIGHTY HELPER

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...” (Yohanes 14:16-17)

Pernahkan Anda meminta tolong kepada seorang anak kecil untuk melakukan sesuatu, padahal anak kecil itu belum mampu memahami sepenuhnya permintaan Anda? Bagaimana hasilnya, manakah yang lebih sering Anda dapatkan, memuaskan atau tidak? Kalau Anda menyuruhnya untuk mengambil segelas air, bisa-bisa airnya tumpah atau bahkan gelasnya pecah karena terjatuh. Jika Anda memintanya untuk menyelesaikan tugas melalui komputer Anda, file yang sudah Anda kerjakan bisa hilang. Malah, salah-salah program komputer Anda bisa rusak.

Berbeda dengan ketika Anda meminta bantuan kepada pihak yang memahami betul apa yang Anda inginkan. Anda akan mendapatkan hasil memuaskan dan keinginan Anda terpenuhi. Jika listrik di rumah Anda bermasalah dan tak berfungsi sebagaimana mestinya, Anda tentu akan meminta tolong orang yang mengerti seluk-beluk listrik. Waktu kendaraan Anda mogok, Anda langsung menghubungi bengkel langganan atau bengkel terdekat untuk mereparasinya. Dan kita menemukan solusi masalahnya.

Pernahkan Anda membayangkan tentang Penolong lain yang jauh lebih luar biasa dari itu semua? Doraemon dengan kantong ajaibnya? Tentu bukan. Lampu Aladin yang mengeluarkan jin kala digosok dan siap melakukan apapun? Bukan juga. Lalu? Ya, Dialah Roh Kudus yang berdiam di dalam kita, Penolong yang hebat sebagaimana dijanjikan Yesus Kristus bagi kita. Percayakan semua masalah Anda kepadaNya.***