gan cantik peran mereka meski dibelit tuntutan mengedepankan nasionalisme.
Perjumpaanku dengan pribadi-pribadi dan permenunganku atas rentetan peristiwa...
gan cantik peran mereka meski dibelit tuntutan mengedepankan nasionalisme.


alla bahkan menyatakan bahwa pemilu di Indonesia adalah pemilu termahal di dunia. Untuk ongkos pilkada saja, uang yang ‘dibuang’ telah mencapai angka Rp 45 trilyun. Wuiihhh…. Belum lagi nanti akan disambung dengan Pemilu 2009. Dana itu biasanya paling banyak tersedot untuk kepentingan kampanye.



(Photo by: Elton & Thato)
Dengan jarak tempuh yang relatif panjang dan melelahkan, akhirnya aku berkesempatan juga melongok Pulau Umang. Di pulau yang tak terlalu jauh dengan kawasan konservasi badak Ujung Kulon ini, suasana menjelang senja amat memesona. Memandang air laut dengan ombak yang tenang dan berujung pandang di lintasan cakrawala. Matahari yang bergegas beranjak pulang meninggalkan semburat jingganya (cieee... koq jadi penyair gini...). Tapi, jujur... suasana yang begini memang menetramkan hati. Kalau sudah begitu, benak kemudian dijejali banyak inspirasi.
Di Umang yang jauh dari kebisingan, berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkan langkah, mendapatkan porsi sesungguhnya. Tidak ada keinginan belanja, melupakan aktifitas kerja dan tak harus dibuat keki oleh ulah nakal sopir angkot. Merendam diri dalam Jacuzzi dengan semburan air yang memijat punggung. Ah... semoga ada kesempatan kedua untuk ke Umang lagi...
(Ada banyak sms lagi yang sengaja tak saya tampilkan, terlalu banyak untuk saya tuliskan...)
Saya amati, seluruh sandek di atas adalah doa. Harapan saya, Tuhan mengabulkan setiap permintaan yang ada di dalamnya. Sekali lagi... matur nuwun untuk semuanya
Ditambah lagi dengan sakitnya sang ibu di kampung yang tak kunjung sembuh. Komplit.


Kesan pertama tentang Leo... Ah, suer... aku lupa. Hanya sepeda onthel, tas punggung dan topi Om Pasikom yang membekas. Selebihnya gelap, sama seperti warna kulit Nyong Ambon yang fasih berbahasa jawa itu. Pertemananku dengan Leo menjadi lebih intens ketika musim demo tiba. Kami sering mondar-mandir Bundaran UGM dan Gejayan yang waktu itu menjadi pusat demonstrasi mahasiswa Jogja.

jadi yang terbaik terbuka lebar. Sedangkan kita jarang sekali, atau bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Habiskah kesempatan kita untuk menjadi pribadi berprestasi?