Wednesday, October 31, 2007

LEPAS DARI BELENGGU ‘PAS-PASAN’

“…engkau tidak dingin dan tidak panas… Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Wahyu 3:14-16)

Banyak orang yang puas dengan hasil yang pas-pasan. Jika dia adalah pelajar, maka dia puas jika sudah lulus, meski dengan nilai ‘mepet’. Jika dia adalah karyawan, mentalitas Asal Bapak Senang (ABS) biasanya yang menjadi semangat kerjanya. Tidak terlalu penting apakah hasil karyanya memuaskan atau tidak. Dari sinilah kemudian semangat ‘asal’ itu berasal. Asal selesai, asal lulus, asal dikerjakan, asal…. asal…

Tetapi, mestikah semangat ini juga terbawa dalam kekristenan kita? Sepanjang yang kita pelajari, tidak pernah satu kalipun Alkitab mengajarkan kepada kita tentang setengah hati, sekenanya, apalagi asal-asalan. Sebaliknya kita justru sering menjumpai istilah segenap hati, segenap kekuatan, dan seterusnya. Singkatnya, apa yang kita kerjakan haruslah yang terbaik, lebih dari yang diharapkan banyak orang.

Kita tidak dapat membayangkan kalau Tuhan juga mengerjakan semua karya-Nya secara asal-asalan. Apa jadinya jika keselamatan yang dianugerahkan kepada kita dikerjakan-Nya setengah-setengah? Bagaimana jadinya jika mujizat yang dilakukan-Nya tidak sempurna? Kita beruntung memiliki Tuhan yang tidak melakukan sesuatu dengan sembarangan, tetapi selalu mengerjakan yang terbaik dan sempurna.

Jika demikian Sahabat, kita tentu juga harus memiliki tekad untuk tidak mengerjakan sesuatu, entah itu pelayanan atau pekerjaan kita, dengan pas-pasan. Tuhan menghendaki hasil terbaik sebagaimana telah Ia teladankan. Ia mau supaya kita lepas dari belenggu ‘pas-pasan’ karena yang terbaik bisa kita berikan. [JP]
PENYEMBUH YANG KREATIF

“Tetapi Yesus menegor roh jahat itu dengan keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.” (Lukas 9:42b)

Pak Diman, sebut saja begitu, sudah lama menderita penyakit paru-paru yang kronis. Segala cara sudah ditempuh untuk mengupayakan kesembuhan. Dokter sudah didatangi, orang pintar juga dikunjungi, juga dengan terapi pengobatan alternatif. Alih-alih mendapat kesembuhan, Pak Diman malah semakin menderita karena kondisi keuangannya yang semakin terkuras. Tenaganya juga terforsir karena masing-masing ahli penyembuh itu memberikan syarat-syarat tertentu untuk dipenuhi.

Berbeda dengan Tuhan Yesus, Dia hanya menekankan satu syarat sebelum seseorang disembuhkan: beriman dan percaya. Ketika seorang lumpuh memiliki iman di dalam hatinya, Tuhan menyembuhkannya (Luk 5:20-25). Dalam catatan Alkitab, Yesus adalah Penyembuh kreatif yang tidak terpaku pada satu metode tertentu saja. Ia menggunakan berbagai macam cara untuk membuat seseorang celik dari kebutaannya, berjalan dari kelumpuhannya dan mendengar dari ketuliannya.

Di sinilah letak perbedaan antara Yesus dengan para penyembuh yang lain. Sementara orang lain lebih banyak menekankan syarat tanpa menjamin kesembuhan, sebaliknya Yesus justru menuntut satu syarat dipenuhi. Sesudah itu karya ajaib kesembuhan ilahi akan dikerjakan-Nya.
Dengan demikian Sahabat, kita bisa belajar bahwa untuk mendapat kesembuhan ilahi, hal paling mendasar yang harus dimiliki seseorang adalah percaya dan beriman kepada-Nya sebagai Penyembuh yang kreatif. [JP]
YANG TERPENTING JUSTRU BUKAN MUJIZATNYA

“Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak… Dan makin lama bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan…” (Kisah Para Rasul 5:12, 14)

Peter Youngren suatu kali memimpin sebuah KKR bertajuk Bandung Festival. Orang banyak telah memadati stadion tempat berlangsungnya acara. Sebagian dari mereka bahkan berasal dari luar kota Bandung. Meski sempat menuai kontroversi, tetapi banyak orang yang disembuhkan dari penyakitnya ketika mengikuti KKR itu. Orang-orang yang datang dengan tongkat penyangga, tiba-tiba berdiri tanpa bantuan alat itu. Belasan kursi roda tampak dikumpulkan di sudut panggung karena penggunanya sudah bisa berjalan. Lebih banyak orang lagi bersaksi ke atas panggung, menyatakan bahwa mereka telah bebas dari kebutaan, kebisuan dan telinga yang tak mendengar.

Singkatnya, Allah bekerja dengan luar biasa untuk membebaskan orang-orang yang menderita. Masalah mengerjakan kesembuhan ilahi dan juga mujizat yang lain, Allah memang ‘ahli’nya. Tidak ada pribadi lain yang semahakuasa Dia. Hanya Yesus satu-satunya. Tetapi bagaimanapun mujizat kesembuhan itu sendiri adalah sarana untuk menyatakan misi-Nya yang sesungguhnya: agar lebih banyak orang lagi percaya kepada-Nya.

Sahabat, mujizat adalah karya kreatif Allah yang dinyatakan kepada manusia. Melaluinya Allah memberi penegasan bahwa bagi-Nya tidak ada sesuatupun yang tidak bisa dikerjakan. Hanya saja, manusia sering lupa dan memberi penekanan berlebih kepada mujizat itu sehingga mengesampingkan hal yang terpenting yaitu agar manusia percaya kepada-Nya.
Mujizat adalah sebuah momentum awal bagi orang yang tidak percaya agar`kemudian mengenal Yesus dan menyembah-Nya. Amat disayangkan jika kita hanya menekankan mujizat, tetapi lupa fokus utamanya. [JP]

Tuesday, August 14, 2007

WAKTUNYA AGUSTUSAN...

Merah-Putih harus dikibarkan, umbul-umbul dinaikkan. Tapi, masihkah perayaan kemerdekaan ini punya makna bagi kita?

Setidaknya sejak National Prayer Conference (NPC) 2003, orang Kristen terlihat mulai intens mendoakan Indonesia. Dikoordinir Jaringan Doa Nasional (JDN), gerakan doa ini kemudian juga merambah skala yang lebih kecil dengan dibentuknya JDS, Jaringan Doa Sekota. Bahkan, NPC kembali digelar 2005 lalu. Inti permohonannya seragam: agar bangsa ini dipulihkan dan mengalami transformasi. Dan hingga kini, kita masih terus menunggu.

Belajar dari Nehemia
Cukupkah hanya doa-doa yang dinaikkan? Nehemia segera duduk dan menangis serta berkabung demi mendengar Yerusalem yang porak poranda (Neh 1:4). Ia menjadi wakil yang menghadap Tuhan untuk memohonkan transformasi bagi kotanya. Dan, di Yerusalem belum terjadi apa-apa setelah Nehemia berdoa. Kota itu bertahap berubah ketika Nehemia menggalang solidaritas untuk mulai melakukan sesuatu.

Koordinasi dan networking segera dilakukan. Deskripsi kerja dibagikan kepada orang-orang yang tepat. Delegasi tugas dinyatakan dengan jelas. Pekerjaan segera dimulai. Bukan tanpa tantangan, proyek itu ternyata tak berlangsung mulus. Ada usaha-usaha untuk menggagalkannya. Tetapi niat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kotanya telanjur membuncah di dada. Nehemia maju tak gentar.

Seberapa Berartikah?
Tidak semua kita dipanggil untuk pelayanan ‘pembangunan tembok’ seperti Nehemia. Namun bukan berarti bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Agar air mata kita tak sia-sia tercucur ketika menangisi bangsa ini, kita perlu memikirkan langkah-langkah praktisnya. Tak perlu muluk-muluk, sebab perbuatan sekecil apapun lebih berarti daripada bualan pidato.

Bangsa ini kelewat besar. Populasinya telah menembus angka 220 juta. Ribuan pulau-pulau yang menyusunnya. Banyak suku yang menghuni wilayahnya. Tapi kenyataan pahit sedang dialami. Prestasi jarang diraih, malah bencana, teror, dan kemiskinan yang terus didapat. Tak mungkin segala persoalan ini diselesaikan segelintir orang di pemerintahan Jakarta.

Nah, bukankah ini sebuah kesempatan bagi kita? Kita tidak hanya mengisi bulan kemerdekaan ini dengan ‘makan kerupuk’ dan ‘panjat pinang’. Bendera yang kita kibarkan mustinya seiring dengan semangat yang kita kobarkan untuk membangun kembali Indonesia.

Doa-doa harus terus dilanjutkan. Permohonan kepada Allah agar berbuat sesuatu musti terus dijalankan. Tentu ditambah dengan karya nyata yang kita lakukan. Kita tidak rindu tepuk tangan atau penghargaan. Bukan juga sebuah podium sebagai bukti ketenaran. Motivasinya satu: agar nama Bapa di Surga dipermuliakan melalui perbuatan baik yang kita lakukan. Waktunya untuk berhenti dari banyak bicara, saatnya untuk mulai bekerja. Merdeka!!!***

Wednesday, August 08, 2007

SALAH KAPRAH

Tempo hari saya nonton sebuah debat publik di salah satu stasiun TV. Ada sebuah kalimat menggelitik yang terlontar, "Hal itu sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, jika calon kepala daerah itu bla...bla...bla..." Sepintas mungkin kalimat itu tidak janggal, tetapi jika dicermati mendalam akan membuat kita mengernyitkan dahi. Mungkin yang dimaksud adalah "sudah bukan rahasia lagi" alias "sudah menjadi rahasia umum." Kalau sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, jadi rahasia siapa donk?

Seorang pemimpin ibadah suatu kali mengucapkan kalimat undangan bagi seseorang untuk menutup kebaktian. "Dengan hormat, kami undang Ibu Ilsye untuk menutup kita dalam doa." Saya yang sedang khusyuk jadi sedikit terganggu karena mendengar frase yang saya cetak tebal itu. Sampai selesai ibadah saya masih berpikir bagaimana caranya Ibu Ilsye menutup kita dalam doa. Bukankah lebih pas kalau undangan itu berbunyi, "Dengan hormat, kami undang Ibu Ilsye untuk menaikkan doa penutup dalam ibadah ini."?

Salah kaprah lain yang masih sering terdengar adalah tentang "waktu dan tempat, kami persilakan." Mustinya, "waktu dan tempat, kami serahkan." Ah, masih banyak daftar yang bisa dibuat tentang hal itu. Apa mau dilanjutkan? Cape deh....!***

Tuesday, August 07, 2007



Nak...
Terima kasih untuk senyum lebarmu
Tahukah kau, itu menghapus memori biru
beberapa bulan yang lewat berlalu
Saat kabel dan selang-selang itu membelitmu

Nak...
Terima kasih untuk tajam tatapmu
Yang menusuk menembus kalbu
Meluruhkan penat menepiskan bebanku

Nak...
Terima kasih untuk lantang tangismu
Membangunkan buai lelap tidurku
Menuntunku untuk menjagamu s'lalu

Nak...
Kini aku menantangmu
Teruslah tumbuh dalam hari ceriamu
Meniti indah masa depanmu

Sunday, August 05, 2007

ADA CINTA DI MAPIA

“…tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (Yeremia 1:7)

Charles Faidiban (53) adalah potret seorang pendidik yang penuh pengabdian. Ia tak pernah membayangkan jika harus menjadi seorang kepala sekolah sekaligus guru yang hanya memiliki satu murid. Ya, Anda tidak salah baca: hanya satu murid! Ia adalah seorang guru di Kepulauan Mapia, sebuah gugus kepulauan terluar di atas wilayah Manokwari, Papua. Awalnya memang ada lima orang murid yang diajarnya, namun keempat diantaranya ‘mengundurkan diri’ karena ikut pindah orang tuanya ke luar pulau itu. Tinggalah Alen (6), satu-satunya murid yang ia ajar kini.
Hari-hari Charles pun menjadi sepi. Tapi ia tak hendak meninggalkan profesinya itu. Segala upaya untuk tetap bisa mengabdi di dunia pendidikan ia jalani. Ia membujuk masyarakat yang menyekolahkan anaknya di luar Mapia untuk mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada Charles. Bagi Charles sekolah itu adalah masa depan Mapia. Makanya ia mati-matian mempertahankan kelangsungannya.
Dalam dunia pelayanan kepada Tuhan, kiranya kisah di atas adalah sebuah cermin bahwa untuk mengabdi, ada harga yang harus dibayar. Tak jarang harga yang mahal yang musti diberikan. Nabi Yeremia misalnya. Bertahun-tahun ia mengabdi untuk menyelamatkan Israel bangsanya. Tetapi tak satupun orang yang mau mendengar nubuatannya. Semuanya dianggap angin lalu. Tetapi karena sudah terpanggil, Yeremia tetap setia di jalur pengabdiannya.
Dalam bentuk dan wilayah yang berbeda, kita masing-masing terpanggil untuk melayani dan mengabdikan diri kepada Tuhan. Ada pertanyaan yang menggelayuti kita: pengabdian macam apakah yang sudah kita berikan bagi-Nya? [JP]
KEDISIPLINAN BUNG HATTA

“Inilah yang kami megahkan,… bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan dengan kamu, diwarnai ketulusan dan kemurnian dari Allah…” (2 Korintus 1:12)

Bung Hatta, proklamator kemerdekaan RI, dikenal sebagai negarawan dan pendiri bangsa yang yang berwatak jujur dan disiplin. Ialah yang pertama-tama memperkenalkan koperasi kepada masyarakat, sehingga ia dijuluki Bapak Koperasi Indonesia. Menurutnya sebuah perkumpulan akan berjalan lancar jika ada iuran anggotanya. Selanjutnya, sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin itulah yang menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta. Konon, Hatta rela tak membeli sepatu baru demi kelancaran membayar iuran lembaga yang dirintisnya.
Kedisiplinan amat berkaitan dengan konsistensi. Orang yang disiplin adalah orang yang konsisten terhadap apa yang telah disepakati bersama. Ia memegang teguh setiap aturan, meskipun tidak selalu harus berarti kaku (sakleg). Apalagi kalau sudah berbicara tentang aturan yang ditetapkan Tuhan.
Harus diakui bahwa kita hidup dan tinggal di tengah-tengah masyarakat yang tingkat kedisiplinannya sangat rendah. Ketidakdisiplinan itu telah membudaya. Inilah yang kemudian semakin memperparah keadaan. Kalau kita mengambil pilihan untuk mendisiplin diri, malah menjadi bahwan tertawaan. Aneh rasanya kalau tak melanggar lampu lalu-lintas. Aneh rasanya menyeberang di zebra cross atau jembatan penyeberangan. Dan sekian lagi keanehan-keanehan yang lain…
Adalah sebuah masalah besar jika ‘budaya’ itu kita bawa-bawa ke dalam ladang pelayanan. Alih-alih memperbaiki keadaan, kita malah akan mengulang dan menyebarluaskan kejelekan itu dalam pelayanan. Bukankah seharusnya sebaliknya Sahabat? Di tengah dunia yang benkok ini, kedisiplinan Bung Hatta layak kita teladani. [JP]
SALAH INVESTASI, RUGI MENANTI

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6)

Sahabat, salah satu cara untuk mengelola keuangan dengan baik adalah dengan memilih investasi yang tepat. Cara ini pulalah yang dipilih banyak orang untuk mengamankan masa depan dengan uangnya.
Menurut Eko Endarto, seorang konsultan perencana keuangan, ada banyak jenis investasi yang bisa dipilih. “Dalam hukum investasi dikenal adanya perbandingan lurus antara risiko dan hasil yang dijanjikan. Jadi jika janji hasil yang diberikan sangat tinggi, biasanya risiko yang menyertai investasi itu juga tinggi,” ungkap Eko. Selanjutnya, pengelola situs http://www.perencanakeuangan.com/ itu mendorong agar setiap kita berhati-hati berinvestasi.
Seorang kerabat baru saja mendapat uang hasil penjualan rumah. Sedianya ia akan menggunakannya untuk mencicil rumah baru di tempat yang lebih strategis. Dalam prosesnya ia kemudian berubah pikiran. Sekali waktu ketika berjalan-jalan, ia tertarik dengan seperangkat home theater seri terbaru yang sedang didiscount harganya. Iapun memutuskan untuk membelinya dan segera memajang di rumah kontrakannya. Dan hingga kini, ia tak juga bisa mencicil rumah idamannya.
Memiliki uang dan membelanjakannya untuk kesenangan pribadi tentu tak salah. Hanya saja ia telah salah memilih berinvestasi. Jika kelak dijual, harga barang elektronik cenderung mengalami penurunan yang cukup drastis dari harga belinya. Tuhan melimpahkan berkat agar kita bisa mempertanggungjawabkannya. Investasikanlah berkat itu secara benar agar dengan cara demikian kita dapati sebagai penatalayan yang setia. [JP]
TERTIPU AJARAN PALSU

“Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.” (Matius 24:23)

Masa depan Reno menjadi tak jelas gara-gara terlibat dengan aliran miring yang menyatakan tentang kedatangan Kristus pada 10 November 2003. Daripada melanjutkan sekolahnya, Reno lebih memilih bergabung dengan 280an orang yang lain di Baleendah, Bandung Selatan untuk diangkat Tuhan. Ketika hari yang ditunggu tiba, Reno memang benar-benar diangkat. Sayangnya bukan oleh Tuhan Yesus, tetapi ‘diangkat’ polisi ke sebuah truk dan dibawa ke panti rehabilitasi. Tragis betul nasib pemuda yang belum juga menyelesaikan SMU-nya itu.
Peristiwa penyesatan yang berhubungan dengan kedatangan Yesus adalah ‘sejarah yang berulang.’ Sudah puluhan kali banyak nabi palsu yang muncul dan menubuatkan hari kedatangan Tuhan. Tak satupun diantara nubuat itu yang menjadi kenyataan, semuanya meleset. Memang mengherankan jika kemudian masih ada orang yang mencoba meramalkannya lagi. Anehnya lagi, selalu saja ada orang yang percaya dan tersesat. Rapuhnya iman dan minimnya pemahaman terhadap Kitab Suci adalah faktor utama mengapa penyesatan terjadi. Orang yang rapuh imannya dan tak banyak mengerti kebenaran mudah sekali diombang-ambingkan angin pengajaran yang sumbang.
Untuk itulah sikap dan pemahaman yang benar tentang kedatangan-Nya kedua kali menjadi penting. Berkali-kali Yesus sendiri mengungkapkan bahwa kita harus berjaga-jaga terhadap penyesatan yang akan mendahului kedatangan-Nya. Pada bagian lain Dia mengisyaratkan perlunya pelayanan terbaik dari kita agar pada waktunya ‘gelar’ sebagai hamba yang setia itu melekat pada kita. Tak perlu pusing dan sibuk mengutak-atik waktu kedatangan-Nya. Lebih baik waktu yang ada digunakan untuk memberikan persiapan terbaik dalam menyambut-Nya. Setuju? [JP]
MENGHUNUS PEDANG ROH

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun;...” (Ibrani 4:12)

Senjata yang sangat familiar bagi para pejuang di era penjajahan adalah bambu runcing. Kelengkapan perang tradisional ini kemudian menjadi simbol heroisme di tanah air. Di beberapa tempat diabadikan menjadi monumen, mengisi koleksi pajangan ruang-ruang musium dan ‘digunakan kembali’ pada peringatan kemerdekaan RI pada bulan Agustus.
Sahabat, kita sudah bisa membayangkan apa jadinya jika seseorang masuk dalam medan pertempuran tanpa senjata. Kemungkinan terbesar adalah dia akan menjadi bulan-bulanan musuh dan tewas mengenaskan. Kita tahu bahwa senjata, sekecil dan sesederhana apapun itu, adalah piranti yang tidak boleh ditinggalkan dalam berperang. Jadi, dalam peperangan, senjata adalah hal yang wajib hukumnya.
Alkitab menyebut sebuah senjata yang sangat ampuh dalam peperangan rohani. Senjata itu adalah pedang Roh; firman Allah. Bahkan keampuhannya telah dibuktikan sendiri oleh Tuhan Yesus saat menghadapi pencobaan iblis. Dia tidak menggunakan senjata lain kecuali rangkaian kata, “Ada tertulis…” Tiga kali pencobaan datang, tiga kali pula Yesus menggunakan ‘jurus’ yang sama itu.
Bagaimana agar kita bisa menggunakan senjata itu? Tidak ada cara lain kecuali kita memiliki ketekunan untuk mendalami dan menelitinya. Bukan itu saja, firman itu harus hidup dan kita hidupi. Dengan cara itu kita memiliki kesiapan dan kelengkapan untuk menghadapi musuh dalam peperangan rohani. [JP]
MENJADI HAMBA SETIA

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia;…” (Matius 25:21)

Tersebutlah seorang profesor di Jepang yang memiliki seekor anjing kesayangan. Hubungan pemilik dan hewan peliharaan itu sudah terjalin cukup lama. Profesor itu tinggal sendiri dan tak memiliki keluarga lagi. Hanya anjing itulah yang menjadi teman hidup mengisi hari tuanya.
Setiap hari, profesor itu tugas mengajar di kampus yang terletak di kota lain. Karena jarak yang cukup jauh, ia selalu menggunakan jasa angkutan kereta api. Pagi-pagi benar ia sudah berangkat dari rumahnya diantar anjingnya itu. Hingga sore hari ketika sang profesor pulang, anjing itu tak beranjak dari stasiun. Ia setia menunggu tuannya di sana. Begitulah kejadian itu selalu berulang setiap hari.
Hingga suatu hari, sang profesor mendapat serangan jantung mendadak ketika mengajar. Meski sudah dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Meninggallah profesor tua itu. Anehnya, anjing kesayangannya masih menunggunya di stasiun. Sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan mondar-mandir di stasiun itu untuk menunggu kedatangan tuannya. Akhirnya, anjing itupun mati di stasiun. Tentu ini sebuah pelajaran berharga tentang kesetiaan bagi kita. Konon, di stasiun itu lalu dibangun patung anjing untuk mengingatkan harga kesetiaan kepada setiap pengunjungnya.
Kadang memang kita ‘diberi pelajaran’ oleh binatang. Salah satunya ketika berbicara mengenai kesetiaan. Anjing dalam kisah di atas tak mudah berpaling dan berubah setia. Ia setia meskipun sebenarnya harapan untuk bertemu tuannya sudah tidak ada lagi. Bagaimana kadar kesetiaan kita sebagai hamba kepada Tuhan, Sang Pemilik hidup? [JP]
PECEL LELE

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, …” (Pengkhotbah 9:10)

Karena gemar dengan pecel lele, makanan khas Jawa Timur itu, saya kerap berkeliling di seantero kota untuk berwisata kuliner. Saya mencoba membandingkan masakan dan cara penyajian makanan yang murah meriah ini dari masing-masing warung tenda yang saya sambangi. Hasilnya? Tidak terlalu jauh berbeda menurut saya. Rasa dan cara menyajikannya pun terkesan begitu-begitu saja, hampir tidak ada variasi sama sekali.
Namun dari sekian banyak warung pecel lele yang pernah saya datangi, ada satu yang cukup berkesan. Sampai hari ini saya masih menjadi salah satu pelanggannya. Apa pasal? Jawabnya singkat: karena pelayanan terbaiknya. Penjual warung itu selalu menuruti permintaan setiap pembelinya, termasuk saya. Ada kalanya saya ingin sambel yang lebih pedas dari biasanya. Di waktu lain, saya ingin bumbu yang agak asin. Di warung itu saya selalu mendapatkan apa yang saya minta. Pokoknya 'mak nyuusus...' Sementara di warung yang lain, tak jarang omelan penjual yang saya terima. Pemilik warung itu tak pernah terlihat mengeluh karena keinginan saya. Yang selalu dia lakukan adalah melayani, melayani dan melayani. Itu saja. Barangkali ia memegang teguh prinsip dalam dunia dagang bahwa pembeli adalah raja. Tak heran kalau warung itu menjadi begitu laris.
Bagaimana dengan pelayanan kita, Sahabat? Godaan untuk melayani sekenanya memang sering muncul dan menggangu. “Ah, begini saja sudah cukup. Untuk gereja dan sesama yang biasa-biasa saja lah…” demikian kita sering bergumam dalam hati. Tak pelak banyak jemaat yang menjadi kecewa karena aksi tidak simpatik tersebut. Kita acap melayani setengah hati dan tanpa persiapan matang. Sudah waktunya kita memberi pelayanan terbaik di dalam gereja, agar setiap orang (terutama jiwa-jiwa baru) menjadi kerasan untuk beribadah di dalamnya. Kalau tukang pecel lele saja bisa, mengapa kita tidak? [JP]

Thursday, June 07, 2007

SPANDUK

Apalah arti sebuah spanduk? Hanya beberapa meter kain yang dibentangkan di sisi-sisi jalan. Dari segi keawetan, pastilah spanduk tak bakal bertahan lama. Karena terpaan panas dan deraan hujan, ia menjadi kain yang begitu rentan. Lusuh lantas robek begitu saja.

Beberapa teman sekampung -entah karena kreatif atau karena miskin, tipis sekali batasnya- sering memanfaatkan spanduk sebagai bahan celana pendek. Tetangga yang lain menggunakannya untuk menutup kedai mie ayamnya.


Spanduk, bagi sebagai orang adalah sarana penyaluran ekspresi. Setidaknya jika kita melihatnya pada peristiwa demonstrasi. Tulisan-tulisan pada spanduk yang terbentang merupakan ekspresi tuntutan dan aspirasi. Meskipun kadang-kadang melanggar keharusan berbahasa yang baik dan benar, sudah sah rasanya demonstrasi digulirkan dengan spanduk sebagai aksesoris utamanya.

Spanduk juga menjadi wadah pelampiasan kemarahan. Di sudut-sudut kota saya lihat spanduk-spanduk terpampang berbunyi, "JANGAN ANCAM AMIEN RAIS!" Kita tentu mahfum, bahwa kejadian ini merupakan buntut lakon gelut yang dimainkan Amien Rais dan Presiden SBY. Karena tidak tahu harus marah kepada siapa, ya sudah... pasang spanduk saja. Ehmm, mungkin suatu kali Anda sedang marahan dengan istri atau suami. Apakah terpikir dalam benak Anda untuk membentangkan spanduk di pagar depan rumah? Bunyinya bagaimana?

Yang lain menggunakan spanduk sebagai ajang promosi. Yang satu ini isinya lebih informatif, bahkan tak jarang ditambah dengan bualan-bualan semanis kembang gula untuk menarik peminat. Bagi para calon pemimpin yang narsis, spanduk dipakai sebagai tempat memampang foto dirinya dibumbui dengan janji-janji. Maaf, kalau yang ini sangat memuakkan! Geuleuh... Ndessso!

Sudahlah... wong mereka bikin spanduk juga ngga minta duit dari kita koq. Biarkan saja. Asal jangan mereka tidak mendikte kita untuk memasang spanduk di atas pohon. Selain karena tidak etis, ya... karena kita memang tidak bisa memanjat pohon. Lho?***

Wednesday, May 09, 2007

ANGER MANAGEMENT

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” (Amsal 20:3)

Suatu ketika saya sedang menikmati nasi uduk di sebuah kedai di Bandung. Sementara saya makan, seseorang di meja sebelah sedang melakukan pembicaraan melalui telepon genggamnya. Awalnya nada bicaranya datar dan biasa-biasa saja. Entah mengapa kemudian nada bicaranya berangsur meninggi. Ia tampak marah dengan lawan bicaranya di ujung telepon. “Sudah, sekarang begini saja. Kamu pilih aku atau sahabatmu itu? Putuskan sekarang! Aku ngga mau nunggu lama-lama!” ujarnya geram. Sejurus kemudian, praaangggg…. Ia membanting gelas yang sejak tadi dipegangnya.
Semua mata kemudian tertuju kepada pria yang marah itu. Tak ketinggalan pemilik kedai yang meminta agar ia mengganti gelas miliknya yang pecah dibanting. Pria itu nampak merogoh uang dari sakunya dan kemudian ngeloyor pergi. Mukanya merah, mungkin menahan malu bercampur marah.
Kita tentu pernah mengalami kemarahan yang memenuhi hati. Tak jarang bahkan sampai meluap-luap. Dan dengan kemarahan itu, kita menjadi ‘bodoh’ dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan. Lalu tibalah penyesalan yang selalu datang belakangan.
Kemarahan memang merupakan salah satu emosi negatif dalam diri kita yang perlu dikendalikan. Diperlukan ‘manajemen kemarahan’ agar kita tidak terjebak dalam tindakan-tindakan bodoh yang memalukan. Dibutuhkan kelemahlembutan ilahi untuk mengatasi ledakan amarah yang kadang datang mengunjungi kita. Selamat mengatur kemarahan! [JP]
PELAJARAN DARI CHARLOTTE’S WEB

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat…” (Yohanes 15:15)

Charlotte’s Web adalah sebuah film layar lebar yang pernah diangkat oleh rumah produksi Hanna-Barbera Production pada 1973. Kini film yang berkisah tentang seekor babi yang menawarkan persahabatan sejati itu, dirilis kembali. Kisahnya dimulai dengan seorang anak kecil bernama Fern yang menyelamatkan babi yang baru saja lahir. Fern memberi nama babi kecil itu Wilbur. Sejak saat itu Fern selalu memandikan Wilbur, memberinya susu, bahkan mendongengkan kisah sebelum Wilbur tidur.
Seiring waktu berjalan, Wilbur menjadi semakin besar dan harus tinggal di dalam kandang selayaknya binatang yang lain. Ia kemudian tinggal dengan sepasang angsa, sepasang sapi, 5 ekor kambing dan seekor tikus. Di antara binatang-binatang itu, tersebutlah Charlotte, seekor laba-laba yang sangat dijauhi oleh binatang yang lain. Terinspirasi oleh pengalamannya diterima oleh Fern, hanya Wilbur-lah yang mau menerima dan bersahabat dengan Charlotte. Dengan segala upaya, Wilbur mencoba memberi pengertian kepada binatang yang lain agar mau menerima Charlotte. Singkat cerita, laba-laba itu diterima kehadirannya oleh semua binatang di kandang itu. Semuanya terjadi berkat kegigihan Wilbur untuk menjadi mediator.
Persahabatan adalah sebuah nilai luhur yang ditekankan Alkitab. Suatu ketika, Yesus menyatakan sebuah hubungan ‘baru’ antara diri-Nya dengan murid-murid-Nya. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, “ kata-Nya “Tetapi Aku menyebut kamu sahabat!” Ia telah memberi teladan bahwa salah satu peranan seorang sahabat akan muncul menjadi juru damai. Kita yang berdosa akhirnya memiliki persahabatan dengan Allah sebagai dampak persahabatan kita dengan Kristus. Sungguh sebuah kehormatan untuk menjadi seorang sahabat Allah. [JP]
MENGHORMATI ORANG TUA

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

Pengalaman menunggui isteri yang melahirkan, membekaskan pengalaman bathin yang mendalam bagi saya. Ada sebuah perjuangan antara hidup dan mati dalam peristiwa itu. Imajinasi saya segera melayang kembali ke puluhan tahun silam ketika ibu melahirkan saya. Meski hanya bisa membayangkan, tetapi tergambar jelas betapa beratnya perjuangan seorang ibu ketika melahirkan anaknya. Dari sana, sikap hormat saya terhadap orang tua semakin bertumbuh. Saya sadar bahwa kehadiran saya di muka bumi, selain karena faktor kehendak Tuhan, adalah karena jasa mereka juga.
Pada saat yang lain saya juga teringat akan kisah-kisah tragis seorang anak yang tega menganiaya, bahkan hingga membunuh orang tuanya. Ironisnya, kebanyakan dari kasus itu bermula dari permasalahan yang sepele. Dari masalah meminta uang sekolah, minta dibelikan motor atau juga permintaan terhadap hal-hal lain yang sebenarnya sekunder. Hanya dengan alasan-alasan itu, jiwa orang-orang yang dikasihi bisa melayang.
Almarhum Pdt. Eka Darmaputera pernah berujar, “Bagaimanapun mereka adalah orang tua kita. Bukan saja tatkala kita masih bayi lemah yang belum dewasa, tetapi karena kini juga ketika tubuh mereka telah berangsur-angsur melemah dan berbalik bergantung kepada kasih dan pemeliharaan kita.” Kita tidak pernah behenti menjadi anak dari orang tua kita. Merekapun tidak pernah bisa lari dari kenyataan bahwa ita adalah anak-anaknya. Tidak ada pilihan lain.
Sahabat, orang tua, seburuk apapun mereka, adalah pribadi-pribadi yang layak dihormati. Bukan karena usia dan jasa mereka, tetapi karena Tuhan menghendakinya. Anda sudah melakukannya? [JP]
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

“Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7)

Menurut UU No. 23 tahun 2004, yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga adalah “perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.” Menurut sebuah survey, kasus kekerasan dalam rumah tangga memang terus merangkak naik angkanya dari tahun ke tahun. Apakah hal itu terjadi dalam rumah tangga Kristen? Meski tak dapat dipastikan jumlahnya, tentu saja hal itu terjadi dalam keluarga Kristen.
Beberapa tahun lalu, penyanyi Nur Afni Octavia melaporkan suaminya -yang notabene hamba Tuhan- ke pihak kepolisian. Pasalnya, bukannya mendapat perlindungan, ia malah sering ketiban bogem mentah dari orang yang seharusnya mengasihinya itu. Waktu melapor pun, sudut-sudut wajahnya masih tampak lebam membiru. Ironisnya, peristiwa penganiayaan itu terjadi seusai perayaan ulang tahunnya. Ternyata, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di manapun dan kapanpun.
Sahabat, menurut Petrus istri adalah ‘teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.’ Sejak awal, Alkitab tidak pernah memosisikan istri sebagai ‘sparing partner’ dalam bertinju. Ia tidak dihadirkan di dalam rumah tangga untuk dianiaya, melainkan untuk dihormati sebagai kaum yang lebih lemah.
Karena itu jika suami tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, alasan utamanya bukan karena takut terjerat undang-undang. Tetapi karena ketaatan kepada perintah Allah melalui firman-Nya. Bukankah begitu? [JP]

Thursday, March 29, 2007

BEKERJA DENGAN CINTA

Bekerja adalah cinta yang mengejawantah. Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka baiklah engkau meninggalkannya, kemudian duduk di depan gapura candi, dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan cinta. (Kahlil Gibran)

Kalimat di atas adalah penggalan syair yang ditulis Kahlil Gibran, seorang penyair kenamaan dari Libanon dalam salah satu karya fenomenalnya, ‘Sang Nabi’. Syair itu mengisyaratkan bahwa pekerjaan adalah aktivitas yang harus dijalani dengan rasa cinta. Bahkan, pekerjaan adalah perwujudan dari rasa cinta itu sendiri.

BEKERJA; HAKIKAT HIDUP MANUSIA
Sebagian orang menganggap bahwa bekerja adalah kutuk yang ditimpakan kepada manusia karena dosanya. Jika tidak ada dosa dalam sejarah manusia, pastilah pekerjaan tak diperlukan. Segala kebutuhan akan datang dengan sendirinya bagi manusia yang hidup dan tinggal di Eden. Benarkah? Kejadian 2:15 menegaskan sebuah fakta yang berbeda. Bekerja adalah sesuatu yang telah diamanatkan Allah sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Kata “mengusahakan” dan “memelihara” taman dipakai Allah untuk memberi mandat bagi manusia yang diciptakan-Nya.
Memang sesudah peristiwa kejatuhan ada kutuk yang ditimpakan berkaitan dengan pekerjaan. Tuhan berkata bahwa, “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu… Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…” (Kej. 3:17, 19). Tetapi ini bukan petunjuk bahwa pekerjaan baru dimulai sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Intinya, Allah menciptakan manusia untuk bekerja, bukan untuk menganggur dan santai berpangku tangan.

MENCINTAI PEKERJAAN
Jika bekerja adalah hakikat hidup, apa yang kemudian kita harus lakukan terhadapnya? ‘Love what you do and do what you love’ pantas menjadi slogan kita dalam menjalani pekerjaan. Hanya cinta yang akan menggerakkan kita untuk menghasilkan yang terbaik dalam pekerjaan. Kasih sebagai dasar terhadap apa yang kita kerjakan jangan pernah digeser oleh niat sekedar mencari sesuap nasi atau bahkan kerakusan untuk menguasai lebih banyak materi.
Kasih di sini juga tidak sedang bermaksud mengedepankan perasaan. Dalam kekristenan, kasih adalah sebuah komitmen. Cinta adalah sebuah keputusan, entah enak atau tidak rasanya. Kedewasaan kita dalam kasih itu kemudian diukur dari tanggung jawab kita terhadap mempertahankan komitmen. Dan dalam konteks ini, seberapa bertanggung jawabkah kita terhadap apa yang kita kerjakan?

MENJADI TERANG DI DUNIA KERJA
Bagi kaum opportunis, pekerjaan adalah kesempatan mengeruk keuntungan semata. Bagi laki-laki kebanyakan, pekerjaan adalah sarana mempertahankan gengsi. Bagi si pemalas, pekerjaan adalah hantu menakutkan. Lalu bagi orang Kristen? Jika panggilan ‘jangan menjadi serupa dengan dunia ini’ dipahami dengan jelas, bekerja adalah sebuah kesempatan emas untuk mengaktualisasikan diri sebagai pelita. Ada tuntutan untuk menghidupi nilai-nilai luhur yang diteladankan Yesus. Jika dunia bekerja dengan culas, kekristenan wajib hadir dengan integritas. Bila dunia mengajarkan tentang bekerja sekenanya, ‘excellent service’lah yang harus dibawa orang percaya. Itu baru namanya berbeda. Dengan cara demikian, terang kita makin berpendar menyingkirkan kegelapan.*** [JP]