Thursday, June 07, 2007

SPANDUK

Apalah arti sebuah spanduk? Hanya beberapa meter kain yang dibentangkan di sisi-sisi jalan. Dari segi keawetan, pastilah spanduk tak bakal bertahan lama. Karena terpaan panas dan deraan hujan, ia menjadi kain yang begitu rentan. Lusuh lantas robek begitu saja.

Beberapa teman sekampung -entah karena kreatif atau karena miskin, tipis sekali batasnya- sering memanfaatkan spanduk sebagai bahan celana pendek. Tetangga yang lain menggunakannya untuk menutup kedai mie ayamnya.


Spanduk, bagi sebagai orang adalah sarana penyaluran ekspresi. Setidaknya jika kita melihatnya pada peristiwa demonstrasi. Tulisan-tulisan pada spanduk yang terbentang merupakan ekspresi tuntutan dan aspirasi. Meskipun kadang-kadang melanggar keharusan berbahasa yang baik dan benar, sudah sah rasanya demonstrasi digulirkan dengan spanduk sebagai aksesoris utamanya.

Spanduk juga menjadi wadah pelampiasan kemarahan. Di sudut-sudut kota saya lihat spanduk-spanduk terpampang berbunyi, "JANGAN ANCAM AMIEN RAIS!" Kita tentu mahfum, bahwa kejadian ini merupakan buntut lakon gelut yang dimainkan Amien Rais dan Presiden SBY. Karena tidak tahu harus marah kepada siapa, ya sudah... pasang spanduk saja. Ehmm, mungkin suatu kali Anda sedang marahan dengan istri atau suami. Apakah terpikir dalam benak Anda untuk membentangkan spanduk di pagar depan rumah? Bunyinya bagaimana?

Yang lain menggunakan spanduk sebagai ajang promosi. Yang satu ini isinya lebih informatif, bahkan tak jarang ditambah dengan bualan-bualan semanis kembang gula untuk menarik peminat. Bagi para calon pemimpin yang narsis, spanduk dipakai sebagai tempat memampang foto dirinya dibumbui dengan janji-janji. Maaf, kalau yang ini sangat memuakkan! Geuleuh... Ndessso!

Sudahlah... wong mereka bikin spanduk juga ngga minta duit dari kita koq. Biarkan saja. Asal jangan mereka tidak mendikte kita untuk memasang spanduk di atas pohon. Selain karena tidak etis, ya... karena kita memang tidak bisa memanjat pohon. Lho?***

Wednesday, May 09, 2007

ANGER MANAGEMENT

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” (Amsal 20:3)

Suatu ketika saya sedang menikmati nasi uduk di sebuah kedai di Bandung. Sementara saya makan, seseorang di meja sebelah sedang melakukan pembicaraan melalui telepon genggamnya. Awalnya nada bicaranya datar dan biasa-biasa saja. Entah mengapa kemudian nada bicaranya berangsur meninggi. Ia tampak marah dengan lawan bicaranya di ujung telepon. “Sudah, sekarang begini saja. Kamu pilih aku atau sahabatmu itu? Putuskan sekarang! Aku ngga mau nunggu lama-lama!” ujarnya geram. Sejurus kemudian, praaangggg…. Ia membanting gelas yang sejak tadi dipegangnya.
Semua mata kemudian tertuju kepada pria yang marah itu. Tak ketinggalan pemilik kedai yang meminta agar ia mengganti gelas miliknya yang pecah dibanting. Pria itu nampak merogoh uang dari sakunya dan kemudian ngeloyor pergi. Mukanya merah, mungkin menahan malu bercampur marah.
Kita tentu pernah mengalami kemarahan yang memenuhi hati. Tak jarang bahkan sampai meluap-luap. Dan dengan kemarahan itu, kita menjadi ‘bodoh’ dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan. Lalu tibalah penyesalan yang selalu datang belakangan.
Kemarahan memang merupakan salah satu emosi negatif dalam diri kita yang perlu dikendalikan. Diperlukan ‘manajemen kemarahan’ agar kita tidak terjebak dalam tindakan-tindakan bodoh yang memalukan. Dibutuhkan kelemahlembutan ilahi untuk mengatasi ledakan amarah yang kadang datang mengunjungi kita. Selamat mengatur kemarahan! [JP]
PELAJARAN DARI CHARLOTTE’S WEB

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat…” (Yohanes 15:15)

Charlotte’s Web adalah sebuah film layar lebar yang pernah diangkat oleh rumah produksi Hanna-Barbera Production pada 1973. Kini film yang berkisah tentang seekor babi yang menawarkan persahabatan sejati itu, dirilis kembali. Kisahnya dimulai dengan seorang anak kecil bernama Fern yang menyelamatkan babi yang baru saja lahir. Fern memberi nama babi kecil itu Wilbur. Sejak saat itu Fern selalu memandikan Wilbur, memberinya susu, bahkan mendongengkan kisah sebelum Wilbur tidur.
Seiring waktu berjalan, Wilbur menjadi semakin besar dan harus tinggal di dalam kandang selayaknya binatang yang lain. Ia kemudian tinggal dengan sepasang angsa, sepasang sapi, 5 ekor kambing dan seekor tikus. Di antara binatang-binatang itu, tersebutlah Charlotte, seekor laba-laba yang sangat dijauhi oleh binatang yang lain. Terinspirasi oleh pengalamannya diterima oleh Fern, hanya Wilbur-lah yang mau menerima dan bersahabat dengan Charlotte. Dengan segala upaya, Wilbur mencoba memberi pengertian kepada binatang yang lain agar mau menerima Charlotte. Singkat cerita, laba-laba itu diterima kehadirannya oleh semua binatang di kandang itu. Semuanya terjadi berkat kegigihan Wilbur untuk menjadi mediator.
Persahabatan adalah sebuah nilai luhur yang ditekankan Alkitab. Suatu ketika, Yesus menyatakan sebuah hubungan ‘baru’ antara diri-Nya dengan murid-murid-Nya. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, “ kata-Nya “Tetapi Aku menyebut kamu sahabat!” Ia telah memberi teladan bahwa salah satu peranan seorang sahabat akan muncul menjadi juru damai. Kita yang berdosa akhirnya memiliki persahabatan dengan Allah sebagai dampak persahabatan kita dengan Kristus. Sungguh sebuah kehormatan untuk menjadi seorang sahabat Allah. [JP]
MENGHORMATI ORANG TUA

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

Pengalaman menunggui isteri yang melahirkan, membekaskan pengalaman bathin yang mendalam bagi saya. Ada sebuah perjuangan antara hidup dan mati dalam peristiwa itu. Imajinasi saya segera melayang kembali ke puluhan tahun silam ketika ibu melahirkan saya. Meski hanya bisa membayangkan, tetapi tergambar jelas betapa beratnya perjuangan seorang ibu ketika melahirkan anaknya. Dari sana, sikap hormat saya terhadap orang tua semakin bertumbuh. Saya sadar bahwa kehadiran saya di muka bumi, selain karena faktor kehendak Tuhan, adalah karena jasa mereka juga.
Pada saat yang lain saya juga teringat akan kisah-kisah tragis seorang anak yang tega menganiaya, bahkan hingga membunuh orang tuanya. Ironisnya, kebanyakan dari kasus itu bermula dari permasalahan yang sepele. Dari masalah meminta uang sekolah, minta dibelikan motor atau juga permintaan terhadap hal-hal lain yang sebenarnya sekunder. Hanya dengan alasan-alasan itu, jiwa orang-orang yang dikasihi bisa melayang.
Almarhum Pdt. Eka Darmaputera pernah berujar, “Bagaimanapun mereka adalah orang tua kita. Bukan saja tatkala kita masih bayi lemah yang belum dewasa, tetapi karena kini juga ketika tubuh mereka telah berangsur-angsur melemah dan berbalik bergantung kepada kasih dan pemeliharaan kita.” Kita tidak pernah behenti menjadi anak dari orang tua kita. Merekapun tidak pernah bisa lari dari kenyataan bahwa ita adalah anak-anaknya. Tidak ada pilihan lain.
Sahabat, orang tua, seburuk apapun mereka, adalah pribadi-pribadi yang layak dihormati. Bukan karena usia dan jasa mereka, tetapi karena Tuhan menghendakinya. Anda sudah melakukannya? [JP]
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

“Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7)

Menurut UU No. 23 tahun 2004, yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga adalah “perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.” Menurut sebuah survey, kasus kekerasan dalam rumah tangga memang terus merangkak naik angkanya dari tahun ke tahun. Apakah hal itu terjadi dalam rumah tangga Kristen? Meski tak dapat dipastikan jumlahnya, tentu saja hal itu terjadi dalam keluarga Kristen.
Beberapa tahun lalu, penyanyi Nur Afni Octavia melaporkan suaminya -yang notabene hamba Tuhan- ke pihak kepolisian. Pasalnya, bukannya mendapat perlindungan, ia malah sering ketiban bogem mentah dari orang yang seharusnya mengasihinya itu. Waktu melapor pun, sudut-sudut wajahnya masih tampak lebam membiru. Ironisnya, peristiwa penganiayaan itu terjadi seusai perayaan ulang tahunnya. Ternyata, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di manapun dan kapanpun.
Sahabat, menurut Petrus istri adalah ‘teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.’ Sejak awal, Alkitab tidak pernah memosisikan istri sebagai ‘sparing partner’ dalam bertinju. Ia tidak dihadirkan di dalam rumah tangga untuk dianiaya, melainkan untuk dihormati sebagai kaum yang lebih lemah.
Karena itu jika suami tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, alasan utamanya bukan karena takut terjerat undang-undang. Tetapi karena ketaatan kepada perintah Allah melalui firman-Nya. Bukankah begitu? [JP]

Thursday, March 29, 2007

BEKERJA DENGAN CINTA

Bekerja adalah cinta yang mengejawantah. Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka baiklah engkau meninggalkannya, kemudian duduk di depan gapura candi, dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan cinta. (Kahlil Gibran)

Kalimat di atas adalah penggalan syair yang ditulis Kahlil Gibran, seorang penyair kenamaan dari Libanon dalam salah satu karya fenomenalnya, ‘Sang Nabi’. Syair itu mengisyaratkan bahwa pekerjaan adalah aktivitas yang harus dijalani dengan rasa cinta. Bahkan, pekerjaan adalah perwujudan dari rasa cinta itu sendiri.

BEKERJA; HAKIKAT HIDUP MANUSIA
Sebagian orang menganggap bahwa bekerja adalah kutuk yang ditimpakan kepada manusia karena dosanya. Jika tidak ada dosa dalam sejarah manusia, pastilah pekerjaan tak diperlukan. Segala kebutuhan akan datang dengan sendirinya bagi manusia yang hidup dan tinggal di Eden. Benarkah? Kejadian 2:15 menegaskan sebuah fakta yang berbeda. Bekerja adalah sesuatu yang telah diamanatkan Allah sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Kata “mengusahakan” dan “memelihara” taman dipakai Allah untuk memberi mandat bagi manusia yang diciptakan-Nya.
Memang sesudah peristiwa kejatuhan ada kutuk yang ditimpakan berkaitan dengan pekerjaan. Tuhan berkata bahwa, “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu… Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…” (Kej. 3:17, 19). Tetapi ini bukan petunjuk bahwa pekerjaan baru dimulai sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Intinya, Allah menciptakan manusia untuk bekerja, bukan untuk menganggur dan santai berpangku tangan.

MENCINTAI PEKERJAAN
Jika bekerja adalah hakikat hidup, apa yang kemudian kita harus lakukan terhadapnya? ‘Love what you do and do what you love’ pantas menjadi slogan kita dalam menjalani pekerjaan. Hanya cinta yang akan menggerakkan kita untuk menghasilkan yang terbaik dalam pekerjaan. Kasih sebagai dasar terhadap apa yang kita kerjakan jangan pernah digeser oleh niat sekedar mencari sesuap nasi atau bahkan kerakusan untuk menguasai lebih banyak materi.
Kasih di sini juga tidak sedang bermaksud mengedepankan perasaan. Dalam kekristenan, kasih adalah sebuah komitmen. Cinta adalah sebuah keputusan, entah enak atau tidak rasanya. Kedewasaan kita dalam kasih itu kemudian diukur dari tanggung jawab kita terhadap mempertahankan komitmen. Dan dalam konteks ini, seberapa bertanggung jawabkah kita terhadap apa yang kita kerjakan?

MENJADI TERANG DI DUNIA KERJA
Bagi kaum opportunis, pekerjaan adalah kesempatan mengeruk keuntungan semata. Bagi laki-laki kebanyakan, pekerjaan adalah sarana mempertahankan gengsi. Bagi si pemalas, pekerjaan adalah hantu menakutkan. Lalu bagi orang Kristen? Jika panggilan ‘jangan menjadi serupa dengan dunia ini’ dipahami dengan jelas, bekerja adalah sebuah kesempatan emas untuk mengaktualisasikan diri sebagai pelita. Ada tuntutan untuk menghidupi nilai-nilai luhur yang diteladankan Yesus. Jika dunia bekerja dengan culas, kekristenan wajib hadir dengan integritas. Bila dunia mengajarkan tentang bekerja sekenanya, ‘excellent service’lah yang harus dibawa orang percaya. Itu baru namanya berbeda. Dengan cara demikian, terang kita makin berpendar menyingkirkan kegelapan.*** [JP]
HARGA SATU JIWA

Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai menemukannya? (Lukas 15:4)

Beberapa hari setelah ayahnya dikuburkan, seorang pemuda nampak sibuk dengan secarik kertas yang berisi tulisan almarhum ayahnya. Secarik kertas itu rupanya berisi wasiat terakhir. Di kertas itu tertulis, “Maafkan Papa karena belum sempat mengantarmu ke gerbang keberhasilan Nak. Papa hanya bisa meninggalkan sebatang emas yang tersimpan di gudang. Papa berharap emas itu bermanfaat bagi sekolah dan masa depanmu. Papa.”
Bergegas pemuda itu mencari kunci gudang. Ketika dibuka, ternyata gudang itu penuh dengan barang-barang bekas yang tak terpakai. Ban-ban bekas, rongsokan kulkas dan televisi, koran-koran dan majalah yang menggunung. Semuanya berdebu dan dihiasi sarang laba-laba di sana-sini. Hati pemuda itu mulai ciut. “Benarkah wasiat Papa itu? Di manakah emas batangan yang dia janjikan itu? Semuanya hanya barang-barang bekas di sini,” gumamnya dalam hati.
Pemuda itu gamang untuk membereskan barang-barang bekas itu. Meski bekas dan kotor, bukan berarti benda-benda itu tak berharga. Sayang jika harus menjual kulkas dan TV peninggalan Papanya. Majalah dan koran itu juga masih menyimpan segudang informasi. Tapi ketika mengingat emas batangan yang jauh lebih berharga, ia berubah sikap. Sendirian ia bersihkan gudang itu. Ia membongkar tumpukan-tumpukannya hingga menemukan emas batangan yang diwasiatkan Papanya. Dan ia menemukannya.
Begitulah kehidupan kita di hadapan Tuhan. Karena anugrah-Nya, kita ini ibarat emas yang tersimpan di dalam gudang. Untuk menemukannya, diperlukan kerelaan untuk membongkar benda-benda lain yang menimbunnya. Seandainya hanya satu saja orang berdosa di dunia ini –dan orang itu adalah kita– Dia pasti tetap akan mencari dan menyelamatkan kita. [JP]
SEPASANG MATA YANG MENGAWASI

Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.
(Kisah Para Rasul 1:4)

Berbekal ketapel yang terkalung di lehernya, Tono bergegas menuju sawah untuk mengusir burung-burung yang sering memakan padi yang ditanam ayahnya. Di kantong celana kanan dan kirinya telah terisi batu-batu kecil yang akan digunakannya sebagai ‘peluru’ bagi ketapelnya. Hingga menjelang sore, tak satupun burung yang berhasil dibidiknya. Semuanya meleset.
Tiba-tiba melintaslah sekawanan bebek milik tetangganya di atas pematang sawah. Karena kesal, Tono akhirnya mengarahkan bidikan ketapelnya kepada kawanan bebek itu. Siuuutttttt… jeeepppp! Batu kecil itu melesat dan tepat mengenai kepala seekor bebek. Sebenarnya Tono tak bermaksud membunuh, tetapi kepalang basah bebek yang mati itupun dibawanya pulang. “Ah, tak ada yang melihat. Bisa buat lauk nanti malam, lumayan…” pikirnya.
Kisahnya belum berhenti sampai di situ. Keesokan harinya di sekolah, ketika Tono sedang jajan, tiba-tiba Andi menghampirinya. “Ton, traktir dong. Aku lagi ngga punya duit nih,” pinta Andi iba. “Enak aja, bayar sendiri,” jawab Tono. Andi lalu berujar, “Kalau kamu ngga mau nraktir, kulaporkan tentang bebek yang kemarin kau ketapel itu!” Tono terperanjat. Ternyata aksinya diketahui Andi, salah seorang temannya. Sejak saat itu, setiap hari Tono harus mentraktir Andi karena takut dibeberkan rahasianya. Ketidakjujurannya telah membuatnya diperbudak.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kadang-kadang kita merasa ‘aman’ ketika berbuat dosa, seolah-olah tidak ada yang tahu. Kita tak sadar kalau ada ‘sepasang mata’ yang mengawasi kita setiap waktu tanpa terlelap. Sahabat, mari jaga kejujuran kita di manapun Tuhan mempercayakan tanggung jawab kepada kita. [JP]
KESETIAAN SEORANG PENATALAYAN

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)

Jika Allah memberikan keluarga yang harmonis, kehidupan yang nyaman, teman-teman yang baik dan bisnis yang lancar; itu semua adalah anugrah yang tak terkira. Dalam kondisi serba kecukupan seperti itu, kesetiaan kemudian diuji. Manusia cenderung –meskipun tidak selalu- melupakan Tuhan jika kondisi kehidupannya baik-baik saja.
Banyak orang mengalami ketika naik sampai di puncak justru kehilangan kendali dan keseimbangan. Siklusnya biasanya diawali dengan kesombongan. Dilanjutkan dengan perselingkuhan atau mengonsumsi obat-obat terlarang. Kemudian keluarga berantakan, jatuh sakit dan terpuruk kembali ke titik paling rendah. Harta hasil bisnis bertahun-tahun bukannya dinikmati, sebaliknya ‘disetorkan’ secara rutin ke rumah sakit. Entah itu untuk menebus obat, perawatan berkala atau cuci darah.
Apa yang kita miliki hanyalah titipan. Kita ingat satu prinsip: Allah adalah Pemilik, kita adalah pengelola. Kita sering tidak bertanggung jawab atas harta kita karena kita merasa sebagi pemiliknya. Kita berpikir bahwa kita bisa membeli segala-galanya. Harta tak akan bisa membeli kesehatan, keharmonisan keluarga dan persahabatan; sebanyak apapun kita mengumpulkannya.
Sahabat, suatu kali kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita buat dengan harta titipan itu. Jika waktu itu tiba, sudah siapkah kita memberikan laporan kepada ‘Tuan Sang Pemilik harta?’ [JP]

Wednesday, March 28, 2007

KEMBALI KE SIKAP HATI

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Orang benar yang bersih kelakuannya - berbahagialah keturunannya. (Amsal 20:6-7)

Manakah yang lebih ‘rohani’ menurut Anda: menghitung uang di bank atau menghitung uang persembahan di gereja? Membereskan aula RT sesudah rapat selesai atau membereskan ruang gereja seusai ibadah? Memasak untuk pesanan catering atau memasak untuk menyediakan konsumsi kerja bakti di gereja? Silakan mengambil waktu sejenak untuk merenungkannya. Anda sudah mendapat jawaban?
Kita sering menilai spiritualitas berdasarkan tempatnya. Kalau seseorang dan aktivitasnya dikaitkan dengan gereja atau pelayanan, kita langsung memastikan bahwa itu ‘rohani’. Sebaliknya jika tidak ada hubungannya dengan gereja, kita sebut sebagai ‘duniawi – sekuler – jahat’. Apakah memang harus ada pembedaan semacam itu?
Tuhan Yesus mengajar bahwa segala sesuatu berkaitan erat dengan hati. Itulah sumber dari setiap hal yang kita katakan dan lakukan. Berdoa tentu hal yang baik, tetapi jika berdoa kemudian menjadi ajang pamer, masalahnya akan jadi lain. Tuhan Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat yang berdoa di pinggir-pinggir jalan. Memberi sedekah juga hal yang baik. Tetapi jika memberi sedekah dipakai sebagai alat untuk menyombongkan diri akan jadi tidak rohani sama sekali. Sebaliknya jika kita menghitung uang di bank dengan jujur, membereskan aula RT dengan tidak bersungut-sungut dan memasak yang paling enak sesuai dengan pesanan pelanggan, Tuhan dipermuliakan melaluinya.
Rohani tidaknya apa yang kita lakukan tidak ditentukan oleh tempatnya. Yang paling baik untuk menguji semuanya adalah dikembalikan kepada hati nurani masing-masing. [JP]
ALLAH YANG TURUN TANGAN

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinganmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Sepeninggal suaminya, Sontiar Manurung diliputi duka dan kecewa. Bagaimana tidak? Sementara tidak ada warisan yang ditinggalkan suaminya, ia harus membesarkan dan membiayai hidup keempat orang anaknya. “Bingung, ada sedikit putus asa dan tidak tahu bagaimana lagi,” ujarnya. Kesedihan bertambah ketika harus terusir dari rumah kontrakkannya. Ia sudah memohon kepada si pemilik rumah, tetapi hasilnya nihil.
Hidup harus tetap dijalani dan dihadapi. Dengan tekad menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin, ia kemudian menjadi pedagang buah di bilangan Cililitan, Jakarta. Dengan berjualan buah, meski sering menghadapi usiran petugas tramtib, ternyata cukup untuk menyambung hidup. Pelan namun pasti, jalan hidupnya mulai berubah. Ia terus berdoa dan melibatkan Allah dalam pekerjaannya itu. Akhirnya rumah pun berhasil didapatkan. Putra-putrinya diantarnya menjadi sarjana. Semuanya adalah hasil dari ketekunan, kerja keras dan tentu saja penyerahannya kepada Tuhan.
Kita tentu sering mendengar ungkapan pengkhotbah, “Jika kita turun tangan, maka Allah angkat tangan. Tetapi jika kita angkat tangan, Allah turun tangan.” Maknanya jelas, bahwa kita harus melibatkan Allah dalam setiap perkara yang kita alami. Usaha dan perjuangan tanpa penyertaan-Nya tidak akan menghasilkan buah yang berarti. Tidak jarang bahkan kita tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Sahabat, dalam setiap profesi yang Anda jalani sekarang, libatkanlah Allah. Ia mampu memberikan arahan jitu dan pertolongan sempurna atas apa yang harus kita lakukan. [JP]

Thursday, February 22, 2007

KARAKTER: INVESTASI KEKAL DALAM HIDUP ANDA

Anda mungkin pernah memiliki pengalaman buruk mengenai pelayanan publik di negeri ini. Anda sedang berada di sebuah bank atau rumah sakit. Betapa jengkelnya Anda ketika berharap mendapat pelayanan prima, tetapi para pegawai itu malah asyik ngobrol. Atau kinerja yang sangat lamban disertai dengan birokrasi yang kompleks. Alih-alih segera mendapat apa yang diinginkan, Anda malah dipingpong kesana-kemari. Anda lalu bergumam, “Payah! Mentalitas macam apa ini? Dasar…”

KEBUTUHAN AKAN KARAKTER
Kondisi di atas memang tak mudah diselesaikan. Buktinya hingga kini masalah mentalitas dan absennya karakter masih menjadi problem utama yang membelit bangsa ini. Pemerintahan sudah berkali-kali diganti, lembaga pemberantas korupsi sudah dibentuk, kinerja pendayagunaan aparatur sudah digenjot. Hasilnya? Megap-megap, untuk tidak menyebutnya nihil sama sekali!
Pada dasawarsa 90-an sempat muncul sebuah buku bertajuk “The Seven Habits of Highly Effective People” karangan Stephen R. Covey. Buku ini laris karena menawarkan sesuatu yang baru. Pembinaan profesional yang sebelumnya cenderung menekankan kompetensi, ‘dijungkirbalikkan’ Covey dengan mengusung pembinaan yang menekankan karakter. Pendekatan ‘Seven Habits’ memang lebih menekankan kualitas yang membentuk karakter agar memiliki tujuan hidup, punya prinsip dan mandiri sebagi pribadi unggul. Dari sini kemudian orang terbangun dan tergugah untuk berpikir tentang CHARACTER BUILDING (pembentukan karakter).
Mungkinkah caracter building terjadi dalam diri kita yang sudah jatuh ke dalam dosa sehingga kehilangan kemuliaan Allah? Perjanjian Baru mendorong orang percaya untuk bertumbuh dalam hidup barunya (Ibr 12:1-3). Perubahan dan pertumbuhan karakter, dengan demikian, hanya dapat terjadi di dalam diri orang yang telah dibaharui Roh Kristus melalui kelahiran baru.

DI MANA KARAKTER ITU?
Mari kita tarik konteks pembicaraan kepada pembentukan karakter diri kita sendiri. Terus menyalahkan orang lain juga tidak memberi apa-apa dalam penyelesaian masalah. Jika memang lingkungan sudah sulit diubah, kitalah yang harus berubah. Seorang motivator pernah bergurau dengan sopir pribadinya. Dalam sebuah perjalanan yang begitu crowded-macet-kacau, seorang sopir angkot mengemudikan mobilnya sembarangan. Sopir pribadi motivator itu lantas berkata, “Baru nyetir angkot saja sudah begitu. Bagaimana nanti kalau nyetir taksi atau mobil pribadi?” “Justru karena gaya nyetirnya seperti itu, maka dia hanya jadi sopir angkot,” timpal sang motivator.
Pernyataan sang motivator benar. Karakter ternyata menentukan tingkat kapasitas dan tanggung jawab. Jika kita semakin bertumbuh di dalam karakter, semakin kita dipercaya orang. Semakin karakter kita serupa dengan Kristus, semakin orang lain diberkati melalui hidup kita. Orang sudah jenuh dengan banyaknya orang pinter yang membuat keblinger. Atau orang berakal yang sukanya akal-akalan. Sekarang orang bertanya, “Di manakah orang yang berkarakter?” Beranikah kita memberi jawaban “Ya, sayalah orangnya” atas pertanyaan itu?
Sementara harta dan kekayaan ditinggalkan ketika maut menjemput, karakter justru akan kita bawa dalam pertanggungjawaban di hadapan tahta-Nya. Itu sebabnya, investasi kekal ini mau tidak mau harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Mari membangun karakter yang semakin hari, semakin serupa Kristus.*** [JP]

Sunday, February 04, 2007


Akhirnya kamu muncul juga Jer...
Di dunia penat dan sesak ini
Selamat Datang, Ngger... Cah Bagus

Sebenarnya Bapakmu ini ngga tega Jer...
Selang-selang dan kabel itu seperti membelit-melilitmu
Hidungmu memerah
Kepalamu tak bebas bergerak
Tangan-kakimu terkekang

Tapi itu demi kebaikanmu Jer...
Bapakmu tau betapa berat perjuanganmu
Megap-megap nafasmu
Lengkingan jerit tangismu

Bertahanlah Jer...
Itu hanya sebentar
Jadikanlah sebagai tempat berlatih
sebab perjuangan hidupmu baru saja dimulai
Jalanmu ke depan masih teramat panjang

Aku, Bapakmu, juga Ibumu...
Berdoa menangis untukmu
Kamu malah akan menjadi orang yang kuat dan tegar
Dan bukan jadi orang cengeng

Menjerit-menangis-merontalah Jer...
Itu ekspresi kekuatanmu...

Friday, January 26, 2007

PENGORBANAN KRISTUS

Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8)

Menjelang pemilihan umum 1999, pamor Megawati naik. Banyak orang yang mengharapkannya akan menjadi nahkoda yang menyelamatkan perahu bangsa. Akhirnya, partai yang dipimpinnya memang memenangi pemilu pada tahun itu. Ia didukung banyak orang yang terkenal dengan fanatismenya. Hanya saja, ia gagal duduk di kursi RI-1 karena permainan politik Poros Tengah kala itu.
Cerita tentang fanatisme pendukung Megawati memang beragam. Mulai dari slogan “Pejah-gesang nderek Mbak Mega” (hidup mati tetap ikut Mba Mega), cap jempol darah hingga kerelaan ‘memasang badan’ bagi siapa pun yang berani mengusik putri Bung Karno itu. Bahkan ada sekelompok tukang becak yang rela mengayuh becaknya dari Surabaya ke Semarang, ketika Partai ‘Moncong Putih’ itu berkongres. Semuanya demi Megawati. Untuk orang seperti dia, banyak orang yang menyerahkan nyawanya.
Tetapi tahukah Anda bahwa Kristus rela mati untuk kita? Bukan pada saat kita berada dalam posisi benar dan baik di hadapan-Nya, tetapi waktu kita sedang berada di dalam dosa. Untuk orang baik, apalagi untuk orang benar, banyak orang yang rela mati. Dan itu hal yang wajar. Tetapi yang mau mati untuk orang berdosa seperti kita, hanya Yesus yang melakukannya.
Itulah karya keselamatan yang dikerjakan-Nya. Semuanya dipuncaki di atas kayu salib Golgota. Salib yang kasar, duri dan paku yang tajam, cambukan yang menyesah tiada henti. Belum lagi pukulan, hinaan dan tombak yang menghujam. Itulah jalan yang dipilih-Nya untuk menyelematkan kita. Semuanya untuk menunjukkan betapa berharganya kita di hadapan-Nya. Selamat Paskah! [JP]
TOTALITAS

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Masih ingat Mbah Maridjan? Pada periode Mei – Juni tahun 2006 lalu, namanya menghiasi berbagai media, cetak maupun elektronik. Kakek renta ini menjadi pesohor karena aktifitasnya menjaga Gunung Merapi di Cangkringan, Jogja. Amuk Merapi yang memuntahkan awan panas tak menyurutkan langkahnya untuk tetap menjaga gunung api teraktif di dunia itu.
Tentu saja pilihannya itu mengundang bahaya. Awan panas yang suhunya ratusan derajat celcius itu bisa kapan saja melumat tubuhnya. Setidaknya dua orang anggota tim SAR tewas dihajar awan panas dalam krisis Merapi tahun lalu. Tubuh dua relawan itu gosong terpanggang awan panas saat terjebak di dalam bunker. Tetapi Mbah Maridjan adalah potret seseorang yang setia terhadap panggilan hidupnya. Sejak ditugasi sebagai kuncen (juru kunci) Merapi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ia telah memilih pengabdian sebagai jalan hidupnya. Ia sama sekali tak berniat untuk meninggalkan tanggung jawabnya itu.
Ketika semua orang diperintahkan ‘turun’ untuk mengungsi karena Merapi memuntahkan Wedhus Gembel, Mbah Maridjan justru memilih untuk ‘naik’ mengamat-amati Merapi. Bahkan bujukan dengan dalih bertemu Presiden SBY pun ia abaikan. Pilihan yang aneh, bahkan konyol bagi sebagian orang. “Kalau saya ikut-ikutan turun, saya diketawain anak-anak kecil. Wong saya sudah ditugasi oleh Ngarso Dalem (Sri Sultan) untuk menjaga Merapi, jadi saya harus laksanakan tugas itu sebaik-baiknya,” papar bintang iklan minuman berenergi ini kepada wartawan.
Demikianlah Mbah Maridjan yang membaktikan dirinya secara total untuk panggilan hidupnya. Dalam ranah pembaktian hidup kita kepada Yesus Kristus, apakah kita melakukan totalitas yang sama? Bukankah Dia adalah Tuhan di atas segala tuan yang layak menerima persembahan terbaik? [JP]
MEMUPUS PESTA PORA & KEMABUKAN

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: … kemabukan, pesta pora dan sebagainya. (Galatia 5:19-21)

Salah satu ciri masyarakat modern adalah menganut filsafat hedonisme. Tujuan kehidupan adalah untuk bersenang-senang dan mendapatkan kepuasan sebanyak-banyaknya, merupakan inti ajaran hedonisme.
Menurut cerita seorang teman, di daerah tertentu yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, kisah tentang pesta pora dan kemabukan masih sering dijumpai. Hal tersebut terjadi karena begitu mudah mendapatkan minuman beralkohol di daerah itu. Ironisnya, hal itu terjadi saat merayakan Natal dan Tahun Baru. Mereka melewatkan malam Natal dan Tahun Baru dengan meminum minuman keras dan berpesta pora. Tak jarang, pagi-pagi mereka yang mabuk ditemukan bergelimpangan di pinggir jalan. Semangat Natal untuk berbagi malah diganti dengan perilaku menyimpang yang bermaksud memuaskan diri sendiri. Seniman Jadug Ferianto menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap Natal. Itulah faktanya.
Barangkali pesta pora dan kemabukan berusia hampir sama dengan keberadaan manusia itu sendiri. Ini masalah yang sudah tua sekali tetapi selalu mengambil bentuk baru mengiringi zaman. Masalah ini tidak bisa dihadapi hanya dengan kekuatan dan strategi sendiri. Kekuatan sendiri hanya akan membenamkan manusia ke titik yang lebih rendah lagi.
Tuhan memang memberi kita karunia untuk menikmati apa yang sudah Dia beri. Tetapi tujuan akhir hidup kita bukan hanya untuk menikmati. Agar tak terjebak dalam hedonisme, ada baiknya kita mengingat bahwa kita hidup untuk menyenangkan dan memuaskan Kristus, Pemilik hidup kita. Apa yang kita lakukan bukan untuk kesenangan pribadi, tetapi untuk menyenangkan hatiNya. Dengan begitu kita bisa memupus mata rantai pesta pora dan kemabukan. [JP]
TAK LUPA KACANG PADA KULITNYA

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk. (Amsal 10:7)

“Kembali ke laptop!” begitu seru Tukul Arwana setiap memandu acara talk show ‘Empat Mata’ di sebuah stasiun televisi. Dalam sebuah episode, dihadirkan ‘bintang-bintang tamu’ yang istimewa. Bukan dari kalangan selebritas, tetapi kebanyakan adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Tukul di masa silam.
Ada mantan majikannya, seorang kawan yang mengenalkan dengan dunia Jakarta dan juga pengamen karib yang memberi nama belakang ‘Arwana’ kepadanya. Nama Tukul Arwana-lah yang kemudian mengantarnya sukses di dunia hiburan hingga kini. Meski dalam suasana canda yang kental, nampak jelas bahwa Tukul begitu berterima kasih dengan orang-orang yang berpengaruh dalam hidupnya itu. Merekalah yang mengantarnya hingga puncak sukses hari-hari ini. Tukul ‘tidak lupa kacang pada kulit.’
Dalam episode kehidupan kita, Tuhan sering membawa kita dari sebuah sukses ke sukses berikutnya. Dalam saat-saat yang demikian, ingatlah bahwa kita tidak pernah sampai di puncak seorang diri. Selalu saja ada orang-orang terbaik yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita. Tak peduli siapa dan apa peranan mereka, orang-orang itu menorehkan sejarah bagi kita dengan tinta mereka masing-masing.
Tak salah kalau kemudian kita mengambil waktu untuk mengingat mereka kembali. Kita bisa menelpon atau sekedar mengirim SMS. Atau mengambil aksi konkrit dengan mengunjungi mereka dan memberi bingkisan untuk menyampaikan ungkapan terima kasih. Dengan begitu, orang akan melihat kita sebagai pribadi yang tahu berterima kasih. Bukankah begitu? [JP]

Saturday, January 13, 2007

Saya dan keluarga Dwi Krismawan
KEKUATAN CINTA

"dan bila aku berdiri tegak hingga hari ini
bukan karena kuat dan gagahku
Semua karena cinta..."

Sepenggal bait lagu gubahan Glenn itu pantas dinyanyikan kala melihat kisah cinta Ibeth dan Dwi. Mereka membuktikan bahwa cinta itu kuat dan berkuasa menghapus setiap rintangan. Kisahnya berawal ketika Dwi bercita-cita menjadi seorang penerbang. Dan untuk itu, ia tinggal mengayun satu langkah lagi.

Merasa punya 'bekal' sebagai sopir pesawat terbang, Dwi memberanikan diri nembak Ibeth yang calon pendeta. Tak tanggung-tanggung, ia menyatakan cintanya sesaat setelah Ibeth menyelesaikan khotbahnya di sebuah gereja. Gayung bersambut, tumbu pun mendapat tutup.

Petaka Itu....
Suatu pagi Dwi menelphon Ibeth, "Aku mau latihan terbang. Sebentar lagi aku jadi pilot. Suatu saat kamu akan duduk di sebelahku ketika aku mengemudikan pesawat!" Berbunga-bunga Ibeth mendengarnya. Rupanya itu telephon terakhir sebelum akhirnya pesawat nahas yang ditumpangi Dwi dan seorang instruktur menabrak punggung Gunung Gede.

Meski keduanya selamat dalam kecelakaan itu, tetapi luka bakar hebat telah membekam mereka. Tubuh Dwi gosong. Mukanya tak lagi berbentuk. Dokter sudah angkat tangan, bahkan sudah dinyatakan 'game over.' Di tengah kondisi itu, Ibeth berdoa sembari mengucap janji, "Tuhan, kalau Engkau memberi Dwi kesempatan untuk hidup, aku bersedia mendampingi sebagai istrinya seumur hidupku!" Dan benar. Dwi hidup lagi ketika dua orang suster tengah membawanya ke kamar jenazah. Kemudian, 25 proses operasi plastik dijalaninya.

Membentur Tembok
Niat suci Ibeth membentur tembok tinggi. Orang tua Dwi dan juga orang tuanya tak setuju dengan rencana pernikahan mereka. Pun dari pihak gereja. Ketika itu Ibeth adalah seorang gembala jemaat. "Kami tidak mau memiliki gembala yang punya suami cacat, " papar seorang majelis.

Ibeth hampir patang arang. Ia pun sempat ragu dengan keputusan yang diambilnya. Siapkah dia menikahi seorang pria yang menurut banyak orang berwajah seperti monster? Seorang dokter yang mendekatinya di tengah malam, mengingatkannya pada janjinya kepada Tuhan. Kala itu ia sedang menunggu Dwi dioperasi. Hingga kini, ia masih bingung dengan siapakah dokter itu. Malaikatkah? Tuhan sendirikah?

Masa Depan
Pekerjaan adalah masalah berikutnya bagi keluarga Dwi - Ibeth. Pekerjaan apakah yang bisa dilakukan Dwi dengan keterbatasannya itu? Beruntung seseorang memberinya kesempatan untuk menjadi agent asuransi. Dalam satu bulan ia berhasil mengumpulkan 40 orang. Prestasi yang luar biasa.

Hingga suatu hari, ketika sedang melayani di sebuah gereja di Surabaya, Tuhan mempertemukannya dengan Harry Tanoesoedibdjo, pemilik RCTI. Dialah yang kemudian mengangkatnya menjadi staf khusus di Koran Sindo.

Kabarnya, Oprah Winfrey akan mengundang mereka untuk memberi testimoni tentang betapa kuatnya cinta yang mereka miliki. Seorang sutradara Perancis juga akan melayar-lebarkan kisah hidup mereka.

Tuhan acap bekerja melalui cara yang tak terselami... Justru karena Dialah Tuhan, maka Dia melakukannya.***

Tuesday, December 12, 2006

Untuk Sahabat
Ki SUYITO BASUKI, M.Th.

Pertemuanku dengan Suyito Basuki (aku memanggilnya Pak Bas) terjadi di kelas Bahasa Indonesia ketika aku nyantrik di STII Jogja. Awalnya memang tidak ada yang istimewa dalam diri Pak Bas. Cara mengajarnya biasa-biasa saja, bahkan menurut beberapa teman cenderung membosankan. Gaya bicaranya juga datar.

Pertemuan berikutnya terjadi di kelas Bahasa Ibrani. Kali ini kurasakan perbedaan pada suami Bu Tuti ini. Ia lebih ‘centil’ dan mencoba untuk membuat Bahasa Ibrani menjadi menyenangkan. Dan ia berhasil. Meski tugas yang harus dikerjakan bejibun, tapi kelas ini menjadi sesuatu yang kuharap kehadirannya. Susana belajar-mengajar jadi lebih cair.

Saat aku aktif di senat mahasiswa bagian Publikasi, Humas dan Dokumentasi (PHD), salah satu tanggung jawabku adalah mengelola majalah dinding kampus. Pak Bas adalah salah satu penyumbang tulisan tetap di mading itu. Beberapa tulisannya yang masih kuingat adalah “Casper” yang mengulas tentang tidak ada hantu yang baik hati (satanologi). Juga “Eufemisme” yang mengangkat tentang sebuah kecenderungan berbahasa.

Lepas dari mading, Pak Bas menawariku untuk terlibat dalam pengelolaan Dinamika Pelayanan, buletin internal di kampusku. Awalnya aku ditugaskan menjadi bagian sirkulasi. Tetapi suatu kali Pak Bas memberiku kesempatan untuk menulis, meski awalnya hanya menulis pada rubrik kronika pelayanan (news).

Sejak itu hubunganku dengan Pak Bas menjadi semakin dekat. Selera makan pun sama. Kami sama-sama penggemar mie ayam dan tongseng. Jika ada ‘berkat’ mampir, agenda untuk makan mie ayam di depan kampus atau tongseng di pinggir selokan Mataram pasti tak terlewat. Kadang aku yang nraktir, tapi pasti lebih sering Pak Bas yang merogoh koceknya.

Pak Bas menaruh perhatian serius terhadap budaya lokal. Ia amat menggemari campur sari. Kala itu radio di Jogja yang rutin menyiarkan campur sari adalah Radio GCD di Bukit Pathuk, Gunung Kidul. Selepas makan siang, Pak Bas selalu stay tune untuk menikmati campur sari. Ia juga begitu menggemari wayang. Saking getolnya terhadap wayang, nama putra-putrinya selalu berbau wayang. Ada Woro Sembodro dan juga Muso Sadewo (maaf Pak, yang ketiga dan keempat saya lupa namanya). Sambil menyelesaikan studi pasca sarjananya pada program M.Th., ia juga menjadi siswa di Pawiyatan Habirandha, sekolah pedhalangan di Keraton Yogyakarta. Ketika ia lulus dari dua sekolah yang berbeda jalur itu, jadilah ia menyandang gelar ‘Ki’ dan ‘M.Th.’
Kini ia ‘madeg pandhita’ di GITJ Kedung Penjalin – Jepara. Kabarnya ia telah memiliki mobil pribadi dan menyetirnya sendiri. Lalu, dimana Honda 70 merah yang bersejarah itu Pak Bas?*** [Ngaturaken Sugeng Natal Pak. Mugi sih rahmatipun Gusti Yesus tansah paring kekiyatan kagem Pak Bas lan sedaya kulawarga. Amin]