MENYALIB DAN MENYIKSA DIRI;
DENGAN CARA ITUKAH KITA MEMERINGATI PASKAH?
Dalam kebiasaan gereja Kristen, PASKAH selalu dirayakan dengan sederhana dan tak semeriah NATAL. Alasannya bisa bermacam ragam. Bisa jadi karena alokasi keuangan yang telanjur dihabiskan Desember tahun lalu. Atau mungkin karena tradisi di bangsa kita yang tidak terbiasa atau bahkan menabukan ‘perayaan’ kematian. Kematian hendaknya ditangisi dan diratapi, bukan dirayakan. Paskah adalah peristiwa kematian penuh cucuran darah, sedangkan Natal adalah peristiwa kelahiran yang nuansanya gembira.
Di Philipina, seperti yang sering kita saksikan di layar kaca, Paskah sering dirayakan dengan cara yang unik. Ada beberapa orang yang menyediakan diri untuk disalib dan disiksa menyerupai Yesus. Mereka benar-benar dicambuk, diarak ke sebuah tempat. Kaki dan tangan mereka benar-benar dipaku. Ini bukan sebuah adegan film, tetapi realita. Dengan begitu mereka mengaku bisa lebih menghayati penderitaan dan pengorbanan yang dilakukan Kristus. Sesudah itu, iman percaya dipertebal.
SUBSTITUSI
Dalam ajaran Kristen, kesengsaraan Kristus adalah tindakanNya untuk mensubtitusi kita, orang-orang berdosa, agar terlepas dari hukuman karena dosa. Ini memang rancangan Allah sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Penderitaan Kristus sepanjang Via Dolorosa hingga kematianNya di bukit Golgota, adalah puncak karya keselamatan Allah yang dikerjakan Kristus.
Sebenarnya kitalah yang harus memanggul salib itu. Tetapi oleh kasih karuniaNya, kita telah dibebaskan dari setiap tuntutan hukuman. Markus mencatat bahwa Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawaNya menjadi tebusan (substitusi) bagi banyak orang (10:45).
Jika kita kemudian menyerahkan diri untuk disalibkan kembali, sebagai ganti siapakah penderitaan kita itu? Tidakkah kita justru menganggap remeh pengorbanan Kristus dan merasa bahwa pengorbananNya belum cukup?
PERJAMUAN KUDUS
Alkitab menandaskan bahwa satu-satunya hal yang diperintahkan Kristus untuk memperingati penderitaan dan kematianNya adalah dengan Perjamuan Kudus. Makan roti sebagai lambang tubuhNya yang disalib dan minum anggur sebagai simbol darahNya yang tercurah, kemudian dinamakan sakramen dalam gereja. “…perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku,” kata Yesus (Luk. 22:19, dan ayat-ayat sejajar). Hal yang sama juga ditegaskan Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 11:23-25).
Itulah sebabnya kebanyakan gereja Kristen mengadakan Perjamuan Kudus setiap Jumat Agung. Bahkan secara periodik melaksanakan Perjamuan Kudus sebagai kehidupan bergereja. Ada yang seminggu sekali melakukannya, sebulan sekali atau juga tiga bulan sekali. Semuanya dilakukan dengan semangat yang sama: menjadi peringatan akan sengsara Kristus sampai kematianNya sebagai karya penyelamatan. Bukankah begitu?
Perjumpaanku dengan pribadi-pribadi dan permenunganku atas rentetan peristiwa...
Wednesday, April 12, 2006
MARTIR: MATI SYAHID ATAU MATI KONYOL?
‘Syahid’ adalah istilah dalam bahasa Arab untuk seorang martir atau seseorang yang mati dalam perjuangan demi membela keyakinan atau imannya. Kadang istilah syahid juga dikenakan pada para pejuang yang gugur untuk kejayaan bangsa dan negara semasa perang.
Kata ‘martir’ sendiri berasal dari istilah Gerika ‘martur’ yang berarti ‘saksi’ atau ‘orang yang memberi kesaksian’. Jadi orang Kristen mengambil ungkapan martir atau syahid dalam nuansa ‘kesaksian’ untuk sebuah tindakan, penderitaan dan pengorbanan diri mereka yang teraniaya karena memberi kesaksian tentang Yesus.
Martir yang pertama sesudah kematian Kristus dalam Perjanjian Baru adalah Stefanus (Kis 7-8). Biasanya dia disebut sebagai protomartir. Sesudah itu, orang-orang Kristen pada abad pertama – ketiga, banyak yang disalibkan oleh kekaisaran Romawi atau dijadikan mangsa bagi singa di depan umum. Ini adalah akibat kesetiaan mereka mempercayai Yesus di tengah tekanan penguasa. Mereka diakui sebagai martir karena atau syahid karena mereka tetap mengikuti ajaran Yesus dan tidak menyangkal iman mereka. Tertulianus, seorang penulis Kristen pada abad mula-mula, menyatakan bahwa, “Darah para martir adalah benih Gereja!”
Ketika Kaisar Konstantin memeluk Kristen dan seantero Roma diwajibkan mengikutinya, keadaan berubah. Orang justru dianggap mati syahid jika menolak Kaisar Roma yang memerintahkan untuk berpindah agama ke Kristen.
Sejarah terus bergulir. Dalam perjalanannya, sejarah menorehkan catatan tentang Ratu Mary I dari Inggris. Ia memerintahkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap hampir 300 orang Protestan karena menolak untuk menyangkal iman reformis dan kembali ke Katholik Roma. Peristiwa ini dicatat dalam buku Foxe’s Book of Martyrs.
Pada abad ke-20, kembali terjadi kesyahidan orang Kristen karena berbagai sebab. Orang bukan Kristen yang meminjam tangan penguasa politik yang antipati terhadap kekristenan, telah mengakhiri hidup banyak orang percaya. Sebutlah penganiayaan di Uni Sovyet dan Republik Rakyat Cina (RRC) yang telah menimbulkan martir-martir baru. Juga rezim Taliban di Afghanistan yang telah melakukan gelombang penganiayaan, meskipun skalanya tidak terlalu luas. Di Indonesia, orang mengenal Pdt. Ishak Christian yang hangus terbakar dalam kasus pembakaran gereja di Situbondo, Jawa Timur, medio 1996. Ia dan beberapa anggota keluarganya ‘ditahbiskan’ sebagai martir menyusul peristiwa yang sering disebut ‘Kamis hitam’ kala itu.
Sebagian orang menganggap bahwa darah mereka yang mati karena membela iman telah ditumpahkan secara sia-sia. Mati konyol katanya. Tetapi sebagian lagi menganggapnya sebagai kematian yang heroik dan terhormat.
Menilik kisah Stefanus dalam sejarah gereja mula-mula, kita bisa menyimpulkan bahwa adalah sebuah karunia jika kita dipilih untuk mati dengan cara sedemikian. Dengan penuh ketulusan, Stefanus menyerahkan nyawanya sembari memohon ampun dosa-dosa para penganiayanya. Alkitab bahwa Yesus ‘berdiri’ di sebelah kanan Allah (sesuatu yang tidak lazim menurut para penafsir, karena biasanya Yesus dicatat ‘duduk’ di sebelah kanan Allah) untuk menyambut hambaNya yang setia (Kis. 7:56). Menurut tradisi, kebanyakan murid Yesus juga tidak mati ‘enak’, tetapi kebanyakan meregang nyawa setelah dipenggal, disalib terbalik, digoreng hidup-hidup, dan dengan cara mati menyakitkan yang lain.
Meski tidak semua kita dipanggil untuk mati dengan cara ini, adalah sebuah kehormatan bila kita diberi kesempatan untuk tetap mempertahankan iman sampai putus nyawa, meski penganiayaan mendera. Mari kita kembalikan kepada Dia, Pemilik hidup kita. Bahwa bagaimana cara kita mati, tidaklah terlalu menjadi soal. Kematian hanyalah sebuah jalan untuk mendapatkan kebangkitan dan memulai sebuah hidup yang baru lagi dalam kekekalan. Selamat PASKAH! (sumber: http://id.wikipedia.org)
‘Syahid’ adalah istilah dalam bahasa Arab untuk seorang martir atau seseorang yang mati dalam perjuangan demi membela keyakinan atau imannya. Kadang istilah syahid juga dikenakan pada para pejuang yang gugur untuk kejayaan bangsa dan negara semasa perang.
Kata ‘martir’ sendiri berasal dari istilah Gerika ‘martur’ yang berarti ‘saksi’ atau ‘orang yang memberi kesaksian’. Jadi orang Kristen mengambil ungkapan martir atau syahid dalam nuansa ‘kesaksian’ untuk sebuah tindakan, penderitaan dan pengorbanan diri mereka yang teraniaya karena memberi kesaksian tentang Yesus.
Martir yang pertama sesudah kematian Kristus dalam Perjanjian Baru adalah Stefanus (Kis 7-8). Biasanya dia disebut sebagai protomartir. Sesudah itu, orang-orang Kristen pada abad pertama – ketiga, banyak yang disalibkan oleh kekaisaran Romawi atau dijadikan mangsa bagi singa di depan umum. Ini adalah akibat kesetiaan mereka mempercayai Yesus di tengah tekanan penguasa. Mereka diakui sebagai martir karena atau syahid karena mereka tetap mengikuti ajaran Yesus dan tidak menyangkal iman mereka. Tertulianus, seorang penulis Kristen pada abad mula-mula, menyatakan bahwa, “Darah para martir adalah benih Gereja!”
Ketika Kaisar Konstantin memeluk Kristen dan seantero Roma diwajibkan mengikutinya, keadaan berubah. Orang justru dianggap mati syahid jika menolak Kaisar Roma yang memerintahkan untuk berpindah agama ke Kristen.
Sejarah terus bergulir. Dalam perjalanannya, sejarah menorehkan catatan tentang Ratu Mary I dari Inggris. Ia memerintahkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap hampir 300 orang Protestan karena menolak untuk menyangkal iman reformis dan kembali ke Katholik Roma. Peristiwa ini dicatat dalam buku Foxe’s Book of Martyrs.
Pada abad ke-20, kembali terjadi kesyahidan orang Kristen karena berbagai sebab. Orang bukan Kristen yang meminjam tangan penguasa politik yang antipati terhadap kekristenan, telah mengakhiri hidup banyak orang percaya. Sebutlah penganiayaan di Uni Sovyet dan Republik Rakyat Cina (RRC) yang telah menimbulkan martir-martir baru. Juga rezim Taliban di Afghanistan yang telah melakukan gelombang penganiayaan, meskipun skalanya tidak terlalu luas. Di Indonesia, orang mengenal Pdt. Ishak Christian yang hangus terbakar dalam kasus pembakaran gereja di Situbondo, Jawa Timur, medio 1996. Ia dan beberapa anggota keluarganya ‘ditahbiskan’ sebagai martir menyusul peristiwa yang sering disebut ‘Kamis hitam’ kala itu.
Sebagian orang menganggap bahwa darah mereka yang mati karena membela iman telah ditumpahkan secara sia-sia. Mati konyol katanya. Tetapi sebagian lagi menganggapnya sebagai kematian yang heroik dan terhormat.
Menilik kisah Stefanus dalam sejarah gereja mula-mula, kita bisa menyimpulkan bahwa adalah sebuah karunia jika kita dipilih untuk mati dengan cara sedemikian. Dengan penuh ketulusan, Stefanus menyerahkan nyawanya sembari memohon ampun dosa-dosa para penganiayanya. Alkitab bahwa Yesus ‘berdiri’ di sebelah kanan Allah (sesuatu yang tidak lazim menurut para penafsir, karena biasanya Yesus dicatat ‘duduk’ di sebelah kanan Allah) untuk menyambut hambaNya yang setia (Kis. 7:56). Menurut tradisi, kebanyakan murid Yesus juga tidak mati ‘enak’, tetapi kebanyakan meregang nyawa setelah dipenggal, disalib terbalik, digoreng hidup-hidup, dan dengan cara mati menyakitkan yang lain.
Meski tidak semua kita dipanggil untuk mati dengan cara ini, adalah sebuah kehormatan bila kita diberi kesempatan untuk tetap mempertahankan iman sampai putus nyawa, meski penganiayaan mendera. Mari kita kembalikan kepada Dia, Pemilik hidup kita. Bahwa bagaimana cara kita mati, tidaklah terlalu menjadi soal. Kematian hanyalah sebuah jalan untuk mendapatkan kebangkitan dan memulai sebuah hidup yang baru lagi dalam kekekalan. Selamat PASKAH! (sumber: http://id.wikipedia.org)
Tuesday, April 04, 2006
Renungan
TANGAN ALLAH
Duduk mengamati Mbak Par membatik, membekaskan kenangan tersendiri bagiku. Sesudah meniup canthing, tangannya meliuk-liuk mengikuti pola yang telah disiapkannya. Berhati-hati sekali dan dengan ketelitian yang tinggi. Sesekali ia terdiam sambil ‘ngeluk boyok’. Mengamati kalau-kalau ada yang kurang
sempurna pada pekerjaan tangannya. Setelah pegel-pegel bisa diatasi, ia melanjutkan lagi membatik.
Aku mulai menerawang. Jauh menembus kain sutra yang sedang ditorehi Mbak Par dengan cairan malam. Membayangkan bagaimana ALLAH menjadikanku. TanganNya yang sangat terampil mulai merealisasikan konsepNya yang Mahasempurna. Apakah Ia juga perlu berhenti sebentar untuk memikirkan bagian mana yang kurang? Entahlah…
Seperti kata Denmas Marto, kita ini diciptakan dalam sebuah tarian Ilahi. Sebagai ciptaan, kita ini makhluk yang muncul sebagai hasil citarasa seni Sang Khalik. Tangan ALLAH yang terampil itu telah menciptakan kita.
Lho, tapi kulitku koq hitam begini? Bibirku juga seperti terlalu tebal dan kurang proporsional. Gigi-gigiku tak teratur rapi. Berat dan tinggi badan tidak ideal. Orang-orang sering memanggilku ‘genter’ karena tinggi kurusku. Apa ini yang disebut sempurna itu? Bernilai seni tinggi? Segambar dan serupa denganNya?
Ya. ALLAH memandangnya begitu. Kita sempurna di pemandanganNya. Nilai dan citra diri kita tidak bergantung pada apa kata orang. Bukan pada kondisi fisik kita. Tetapi pada apa kata ALLAH, yang membentuk kita.
Duduk mengamati Mbak Par membatik, membekaskan kenangan tersendiri bagiku. Sesudah meniup canthing, tangannya meliuk-liuk mengikuti pola yang telah disiapkannya. Berhati-hati sekali dan dengan ketelitian yang tinggi. Sesekali ia terdiam sambil ‘ngeluk boyok’. Mengamati kalau-kalau ada yang kurang
sempurna pada pekerjaan tangannya. Setelah pegel-pegel bisa diatasi, ia melanjutkan lagi membatik.Aku mulai menerawang. Jauh menembus kain sutra yang sedang ditorehi Mbak Par dengan cairan malam. Membayangkan bagaimana ALLAH menjadikanku. TanganNya yang sangat terampil mulai merealisasikan konsepNya yang Mahasempurna. Apakah Ia juga perlu berhenti sebentar untuk memikirkan bagian mana yang kurang? Entahlah…
Seperti kata Denmas Marto, kita ini diciptakan dalam sebuah tarian Ilahi. Sebagai ciptaan, kita ini makhluk yang muncul sebagai hasil citarasa seni Sang Khalik. Tangan ALLAH yang terampil itu telah menciptakan kita.
Lho, tapi kulitku koq hitam begini? Bibirku juga seperti terlalu tebal dan kurang proporsional. Gigi-gigiku tak teratur rapi. Berat dan tinggi badan tidak ideal. Orang-orang sering memanggilku ‘genter’ karena tinggi kurusku. Apa ini yang disebut sempurna itu? Bernilai seni tinggi? Segambar dan serupa denganNya?
Ya. ALLAH memandangnya begitu. Kita sempurna di pemandanganNya. Nilai dan citra diri kita tidak bergantung pada apa kata orang. Bukan pada kondisi fisik kita. Tetapi pada apa kata ALLAH, yang membentuk kita.
Sunday, March 19, 2006
RAIH SUKSES SETELAH GAGAL
Krisis dan kegagalan dalam kehidupan akan menghasilkan 2 hal: pahlawan atau pecundang. Sejarah yang terus berputar menghasilkan krisis demi krisis yang harus dilewati tiap-tiap generasi. Ketika Indonesia diterpa krisis pada awal berdirinya, ia melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir.
Tetapi Alkitab memberi catatan yang lain. Selain melahirkan tokoh, ternyata krisis juga memperkenalkan para pecundang. Adalah Yudas Iskariot, salah seorang murid Tuhan yang pada akhirnya mati mengenaskan dengan gantung diri. Akhir masa pelayanan Yesus yang penuh dengan pengalaman-pengalaman getir, telah membawa Yudas Iskariot menjadi seorang pengkhianat.
Tak seorang pun ingin menambahkan kata “kekalahan” dalam kamus hidupnya. Sebisa mungkin kosakata itu dihapuskan. Pengalaman kekalahan adalah pengalaman yang selalu dihindari. Sebaliknya setiap orang ingin keluar sebagai pemenang pada setiap pertandingan yang dihadapinya. Tapi nyatanya, pengalaman kegagalan itu sering membawa kita ke dalam krisis hidup yang tak terhindarkan. Bagaimana kiat untuk keluar sebagai pemenang setelah kita gagal?
Bersikap Positif Terhadap Kegagalan
Perspektif yang benar terhadap kegagalan akan menentukan bisa tidaknya kita keluar dari dalamnya. Bagi sebagian orang, gagal adalah ‘hantu’ yang menakutkan dan sering membuat trauma sepanjang hidup. Energi untuk bangkit dari kekalahan itu juga tiba-tiba tak kunjung muncul. Trauma itu akhirnya melahirkan mimpi buruk yang terus menerus mengahdirkan teror.
Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Cobalah melihatnya dari sisi yang berbeda dari sisi biasanya kita melihat. Kegagalan justru bisa menjadi pemicu bagi kita untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Kegagalan adalah penggalan dari peristiwa hidup yang justru menorehkan banyak makna untuk membangun strategi-strategi yang baru, asal saja kita punya sikap yang benar terhadapnya. Jadi, kegagalan bisa bermakna positif atau negatif. Semuanya bergantung pada bagaimana kita memandangnya.
Mencari Sumber Kegagalan
Langkah utama seorang dokter sebelum mencoba menyembuhkan penyakit adalah mendiagnosanya. Setelah berhasil menemukan bagian-bagian yang sakit, penanganan yang tepat dan obat-obat yang sesuai mulai disiapkan. Secara umum ada dua faktor utama penyebab kegagalan, internal dan eksternal. Kita bisa menemukannya dengan introspeksi dan observasi. Coba renungi bagian manakah yang paling banyak menyumbangkan kegagalan bagi kita. Dua langkah itu akan meminimalisir kebiasaan kita untuk mencari ‘kambing hitam’ atas setiap kegagalan kita.
Kegagalan bisa datang karena kita ceroboh atau kurang teliti dalam melakukan sesuatu. Mungkin juga karena kita tidak punya semangat juang dan motivasi atau bahkan kita tidak pernah meminta petunjuk Tuhan sebelum melakukannya. Jika faktor internal ini yang menjadi penyebab, kesediaan kita untuk mengoreksi diri dituntut di sini.
Bisa jadi juga penyebab kegagalan kita adalah karena minimnya dukungan dari orang-orang terdekat kita. Atau mungkin karena persaingan yang ekstra ketat padahal kita tidak memiliki cukup fasilitas untuk itu. Inilah faktor-faktor eksternal. Tetapi ini bukan akhir segala-galanya. Ketika kita menyadari faktor-faktor itu, masih ada kesempatan untuk membangun kembali hubungan agar ada teman-teman memberi dukungan semangat bagi kita.
Tak perlu terburu nafsu untuk menyelesaikan kendala-kendala itu sekaligus. Ada baiknya jika kita menyelesaikannya secara bertahap tapi pasti. Pada akhirnya, kemampuan kita untuk menyusun prioritas menjadi urgent dalam hal ini.
Gali Potensi Diri
Celakalah orang yang tidak mengenal kemampuannya sendiri! Kalimat ini mungkin terlalu profokatif, tetapi demikianlah adanya. Jika seseorang tidak mengerti kemampuan dirinya, ia tidak akan bisa melakukan sesuatu dengan tepat dan optimal. Dalam sebuah orkestra, seorang pianis tidak akan memaksakan diri untuk menjadi penabuh drum bukan? Mungkin kita perlu mencatat potensi apa saja yang kita miliki, yang sudah nampak maupun yang masih tersembunyi. Dari sana kita melanjutkan langkah dengan mengerjakan sesuatu semaksimal mungkin.
Tangkap Peluang dan Lakukan Sesuatu
Berdiam dan mengutuki nasib tak akan mengubah keadaan. Kejelian kita menangkap sebuah kesempatan lebih mendesak untuk dipenuhi. Kesempatanpun tak datang begitu saja tanpa kita mencarinya. Begitu kita mendapatkannya, tangkap dan gunakanlah sebaik-baiknya. Gunakanlah kesempatan itu seakan-akan itu peluang terakhir bagi kita, dan jika kita tidak melakukannya, semuanya akan berlalu.
Selesai? Tidak semudah itu. Last but not least, nasihat-nasihat Alkitab berikut layak dicermati dan dijadikan pegangan:
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh daripada TUHAN!” (Yeremia 17:5).
“Bagi Dialah, yang dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20).
Mari keluar dari krisis yang membawa kepada kegagalan, balikkan keadaan itu menjadi peluang bagi kita keluar sebagai pemenang.
Krisis dan kegagalan dalam kehidupan akan menghasilkan 2 hal: pahlawan atau pecundang. Sejarah yang terus berputar menghasilkan krisis demi krisis yang harus dilewati tiap-tiap generasi. Ketika Indonesia diterpa krisis pada awal berdirinya, ia melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir.
Tetapi Alkitab memberi catatan yang lain. Selain melahirkan tokoh, ternyata krisis juga memperkenalkan para pecundang. Adalah Yudas Iskariot, salah seorang murid Tuhan yang pada akhirnya mati mengenaskan dengan gantung diri. Akhir masa pelayanan Yesus yang penuh dengan pengalaman-pengalaman getir, telah membawa Yudas Iskariot menjadi seorang pengkhianat.
Tak seorang pun ingin menambahkan kata “kekalahan” dalam kamus hidupnya. Sebisa mungkin kosakata itu dihapuskan. Pengalaman kekalahan adalah pengalaman yang selalu dihindari. Sebaliknya setiap orang ingin keluar sebagai pemenang pada setiap pertandingan yang dihadapinya. Tapi nyatanya, pengalaman kegagalan itu sering membawa kita ke dalam krisis hidup yang tak terhindarkan. Bagaimana kiat untuk keluar sebagai pemenang setelah kita gagal?
Bersikap Positif Terhadap Kegagalan
Perspektif yang benar terhadap kegagalan akan menentukan bisa tidaknya kita keluar dari dalamnya. Bagi sebagian orang, gagal adalah ‘hantu’ yang menakutkan dan sering membuat trauma sepanjang hidup. Energi untuk bangkit dari kekalahan itu juga tiba-tiba tak kunjung muncul. Trauma itu akhirnya melahirkan mimpi buruk yang terus menerus mengahdirkan teror.
Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Cobalah melihatnya dari sisi yang berbeda dari sisi biasanya kita melihat. Kegagalan justru bisa menjadi pemicu bagi kita untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Kegagalan adalah penggalan dari peristiwa hidup yang justru menorehkan banyak makna untuk membangun strategi-strategi yang baru, asal saja kita punya sikap yang benar terhadapnya. Jadi, kegagalan bisa bermakna positif atau negatif. Semuanya bergantung pada bagaimana kita memandangnya.
Mencari Sumber Kegagalan
Langkah utama seorang dokter sebelum mencoba menyembuhkan penyakit adalah mendiagnosanya. Setelah berhasil menemukan bagian-bagian yang sakit, penanganan yang tepat dan obat-obat yang sesuai mulai disiapkan. Secara umum ada dua faktor utama penyebab kegagalan, internal dan eksternal. Kita bisa menemukannya dengan introspeksi dan observasi. Coba renungi bagian manakah yang paling banyak menyumbangkan kegagalan bagi kita. Dua langkah itu akan meminimalisir kebiasaan kita untuk mencari ‘kambing hitam’ atas setiap kegagalan kita.
Kegagalan bisa datang karena kita ceroboh atau kurang teliti dalam melakukan sesuatu. Mungkin juga karena kita tidak punya semangat juang dan motivasi atau bahkan kita tidak pernah meminta petunjuk Tuhan sebelum melakukannya. Jika faktor internal ini yang menjadi penyebab, kesediaan kita untuk mengoreksi diri dituntut di sini.
Bisa jadi juga penyebab kegagalan kita adalah karena minimnya dukungan dari orang-orang terdekat kita. Atau mungkin karena persaingan yang ekstra ketat padahal kita tidak memiliki cukup fasilitas untuk itu. Inilah faktor-faktor eksternal. Tetapi ini bukan akhir segala-galanya. Ketika kita menyadari faktor-faktor itu, masih ada kesempatan untuk membangun kembali hubungan agar ada teman-teman memberi dukungan semangat bagi kita.
Tak perlu terburu nafsu untuk menyelesaikan kendala-kendala itu sekaligus. Ada baiknya jika kita menyelesaikannya secara bertahap tapi pasti. Pada akhirnya, kemampuan kita untuk menyusun prioritas menjadi urgent dalam hal ini.
Gali Potensi Diri
Celakalah orang yang tidak mengenal kemampuannya sendiri! Kalimat ini mungkin terlalu profokatif, tetapi demikianlah adanya. Jika seseorang tidak mengerti kemampuan dirinya, ia tidak akan bisa melakukan sesuatu dengan tepat dan optimal. Dalam sebuah orkestra, seorang pianis tidak akan memaksakan diri untuk menjadi penabuh drum bukan? Mungkin kita perlu mencatat potensi apa saja yang kita miliki, yang sudah nampak maupun yang masih tersembunyi. Dari sana kita melanjutkan langkah dengan mengerjakan sesuatu semaksimal mungkin.
Tangkap Peluang dan Lakukan Sesuatu
Berdiam dan mengutuki nasib tak akan mengubah keadaan. Kejelian kita menangkap sebuah kesempatan lebih mendesak untuk dipenuhi. Kesempatanpun tak datang begitu saja tanpa kita mencarinya. Begitu kita mendapatkannya, tangkap dan gunakanlah sebaik-baiknya. Gunakanlah kesempatan itu seakan-akan itu peluang terakhir bagi kita, dan jika kita tidak melakukannya, semuanya akan berlalu.
Selesai? Tidak semudah itu. Last but not least, nasihat-nasihat Alkitab berikut layak dicermati dan dijadikan pegangan:
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh daripada TUHAN!” (Yeremia 17:5).
“Bagi Dialah, yang dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20).
Mari keluar dari krisis yang membawa kepada kegagalan, balikkan keadaan itu menjadi peluang bagi kita keluar sebagai pemenang.
Thursday, March 16, 2006
KETERBUKAAN ADALAH AWAL PEMULIHAN?
Secara spiritual dan psikologis, manusia butuh diterima apa adanya. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kebutuhan diterima apa adanya sudah terpenuhi. Tuhan telah melakukannya dengan sempurna bagi kita. Tuhan menerima kita apa adanya. Kecuali dalam kasus-kasus tertentu memang ada orang yang masih merasa malu, minder dan takut di hadapan Tuhan.
Permasalah yang lebih sering muncul adalah ketika kita menarik konteks pembicaraan ini kepada hubungan dengan sesama manusia, entah itu dalam hubungan keluarga, persekutuan gereja atau dalam kelompok masyarakat yang lebih luas. Pengakuan dan keterbukaan kita kepada orang lain justru kadang menjadi bumerang bagi kita. Alih-alih mendapat kelegaan, tak jarang justru muncul permasalahan baru
dari rahasia yang kita beberkan kepada sesama kita. Padahal kita berharap agar orang-orang yang kepadanya kita membuka rahasia, adalah orang-orang yang mampu memahami situasi dan kondisi kita, sehingga rahasia kita tidak bocor ke manapun.
Memilih Hal yang Tepat
Hal-hal rahasia yang tersimpan dan menekan kita, perlu dibongkar ke luar. Jika tidak, tingkat stress kita akan merangkak naik dan tentu saja hal itu mengganggu harmoni kehidupan. Alam bawah sadar yang kita miliki kadang tak mau diajak kompromi dalam merahasiakan sesuatu. Itulah sebabnya tak sedikit orang yang mengalami mimpi buruk atau bahkan ngelindur saat tertidur. Pada saat itulah sesuatu yang kita sembunyikan menjadi terbongkar.
Di lain pihak kita mengalami ketakutan untuk terbuka. Kita sering berpesan, “Jangan bilang siapa-siapa lagi, hanya kamu yang tahu,” ketika menceritakan rahasia kita kepada orang lain. Percayalah bahwa orang itu juga akan memesankan hal yang sama ketika dia bercerita tentang rahasia kita kepada orang lain lagi. Begitu seterusnya, sampai sebuah rahasia bukan menjadi rahasia lagi. Rahasia itu berpindah dari wilayah privat menjadi konsumsi publik.
Kita harus membedakan antara masalah pribadi dengan hal-hal yang rahasia. Orang lain tak perlu tahu berapa uang yang kita alokasikan untuk persembahan perpuluhan. Berapa kali kita berhubungan intim dengan pasangan dalam seminggu, juga tak pantas diketahui publik. Itu masalah pribadi kita. Tetapi mungkin kadang ada rahasia yang membuat kita tertekan dan hidup tidak normal seperti biasanya. Karena sesuatu yang kita sembunyikan itu membuat kita minder, terintimidasi, dan mengalami hubungan yang retak. Atau bahkan menimbulkan akibat-akibat yang lebih parah lainnya, seperti keinginan untuk bunuh diri. Kita akan sangat terbantu untuk terbuka ketika berhasil membedakan kedua hal itu. Mungkin dalam tahap identifikasi ini kita memerlukan waktu yang lama. Tetapi itu lebih baik, sambil terus kita pikirkan implikasi-implikasi dari pengakuan kita.
Mempertimbangkan Orang yang Tepat
Kita perlu jujur kepada Tuhan. Tak satupun hal yang dapat disembunyikan di hadapanNya. Semuanya transparan. Jika kita menyembunyikan sesuatu, apalagi itu sebuah pelanggaran, kita tak akan beruntung. Sebaliknya, yang mengakui dan meninggalkannya akan disayangi (Ams 28:32).
Selanjutnya kita perlu jujur kepada diri kita sendiri. Hal ini penting agar kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri dan menerimanya secara utuh. Ada sebagian orang yang bahkan untuk menerima dirinya sendiri saja mengalami kesulitan, apalagi menerima orang lain.
Setelah itu pikirkanlah ‘orang yang tepat’ sebagai pemegang rahasia yang kita buka. Orang itulah yang akan membuat kita tenang dan aman setelah bercerita tentang apapun rahasia kita. Bisa saja orang itu adalah gembala/pendeta atau sahabat kita. Mungkin juga orang-orang yang punya ikatan emosi dengan kita, misalnya saudara atau pasangan kita.
Membuka hal yang tersembunyi kepada umum mungkin tidak bijaksana. Selain kita tak mengenalnya satu persatu, tidak ada jaminan bahwa mereka akan dengan dewasa menerima apa yang kita ceritakan. Lebih baik kita melakukannya empat mata, daripada di hadapan berpasang-pasang mata.
Memilih Saat yang Tepat
Masalahnya belum selesai ketika kita berhasil menjatuhkan pilihan pada hal dan orang yang tepat atas pengakuan kita. Kita harus menentukan saat yang tepat. Kita sering diliputi perasaan bahwa masalah kitalah yang paling berat. Orang lain pasti memiliki beban pergumulan yang ringan saja. Siapa bilang? Orang yang kepadanya kita mengaku bisa jadi punya problem yang lebih kompleks dari yang kita ceritakan.Dengan alasan inilah saat yang tepat harus kita peroleh supaya keterbukaan kita tidak menjadi kontraproduktif.
Dalam hal ini kesabaran kita memainkan peranan yang sangat besar. Kita tidak ingin hanya karena kita ‘terburu nafsu’ untuk menyelesaikan sebuah masalah, akhirnya malah membuat masalah itu menjadi semakin kompleks. Memang ada hal-hal yang mendesak dan perlu segera diselesaikan, tetapi jadilah tenang sehingga kita betul-betul memilih waktu atau saat yang paling tepat untuknya.
Demikianlah keterbukaan akan menjadi sarana yang paling efektif untuk membantu kita keluar dari masalah asalkan kita mampu memilih hal-hal yang tepat, orang-orang yang tepat dalam saat yang tepat pula. Anda mau melakukannya?
Secara spiritual dan psikologis, manusia butuh diterima apa adanya. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kebutuhan diterima apa adanya sudah terpenuhi. Tuhan telah melakukannya dengan sempurna bagi kita. Tuhan menerima kita apa adanya. Kecuali dalam kasus-kasus tertentu memang ada orang yang masih merasa malu, minder dan takut di hadapan Tuhan.
Permasalah yang lebih sering muncul adalah ketika kita menarik konteks pembicaraan ini kepada hubungan dengan sesama manusia, entah itu dalam hubungan keluarga, persekutuan gereja atau dalam kelompok masyarakat yang lebih luas. Pengakuan dan keterbukaan kita kepada orang lain justru kadang menjadi bumerang bagi kita. Alih-alih mendapat kelegaan, tak jarang justru muncul permasalahan baru
dari rahasia yang kita beberkan kepada sesama kita. Padahal kita berharap agar orang-orang yang kepadanya kita membuka rahasia, adalah orang-orang yang mampu memahami situasi dan kondisi kita, sehingga rahasia kita tidak bocor ke manapun.Memilih Hal yang Tepat
Hal-hal rahasia yang tersimpan dan menekan kita, perlu dibongkar ke luar. Jika tidak, tingkat stress kita akan merangkak naik dan tentu saja hal itu mengganggu harmoni kehidupan. Alam bawah sadar yang kita miliki kadang tak mau diajak kompromi dalam merahasiakan sesuatu. Itulah sebabnya tak sedikit orang yang mengalami mimpi buruk atau bahkan ngelindur saat tertidur. Pada saat itulah sesuatu yang kita sembunyikan menjadi terbongkar.
Di lain pihak kita mengalami ketakutan untuk terbuka. Kita sering berpesan, “Jangan bilang siapa-siapa lagi, hanya kamu yang tahu,” ketika menceritakan rahasia kita kepada orang lain. Percayalah bahwa orang itu juga akan memesankan hal yang sama ketika dia bercerita tentang rahasia kita kepada orang lain lagi. Begitu seterusnya, sampai sebuah rahasia bukan menjadi rahasia lagi. Rahasia itu berpindah dari wilayah privat menjadi konsumsi publik.
Kita harus membedakan antara masalah pribadi dengan hal-hal yang rahasia. Orang lain tak perlu tahu berapa uang yang kita alokasikan untuk persembahan perpuluhan. Berapa kali kita berhubungan intim dengan pasangan dalam seminggu, juga tak pantas diketahui publik. Itu masalah pribadi kita. Tetapi mungkin kadang ada rahasia yang membuat kita tertekan dan hidup tidak normal seperti biasanya. Karena sesuatu yang kita sembunyikan itu membuat kita minder, terintimidasi, dan mengalami hubungan yang retak. Atau bahkan menimbulkan akibat-akibat yang lebih parah lainnya, seperti keinginan untuk bunuh diri. Kita akan sangat terbantu untuk terbuka ketika berhasil membedakan kedua hal itu. Mungkin dalam tahap identifikasi ini kita memerlukan waktu yang lama. Tetapi itu lebih baik, sambil terus kita pikirkan implikasi-implikasi dari pengakuan kita.
Mempertimbangkan Orang yang Tepat
Kita perlu jujur kepada Tuhan. Tak satupun hal yang dapat disembunyikan di hadapanNya. Semuanya transparan. Jika kita menyembunyikan sesuatu, apalagi itu sebuah pelanggaran, kita tak akan beruntung. Sebaliknya, yang mengakui dan meninggalkannya akan disayangi (Ams 28:32).
Selanjutnya kita perlu jujur kepada diri kita sendiri. Hal ini penting agar kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri dan menerimanya secara utuh. Ada sebagian orang yang bahkan untuk menerima dirinya sendiri saja mengalami kesulitan, apalagi menerima orang lain.
Setelah itu pikirkanlah ‘orang yang tepat’ sebagai pemegang rahasia yang kita buka. Orang itulah yang akan membuat kita tenang dan aman setelah bercerita tentang apapun rahasia kita. Bisa saja orang itu adalah gembala/pendeta atau sahabat kita. Mungkin juga orang-orang yang punya ikatan emosi dengan kita, misalnya saudara atau pasangan kita.
Membuka hal yang tersembunyi kepada umum mungkin tidak bijaksana. Selain kita tak mengenalnya satu persatu, tidak ada jaminan bahwa mereka akan dengan dewasa menerima apa yang kita ceritakan. Lebih baik kita melakukannya empat mata, daripada di hadapan berpasang-pasang mata.
Memilih Saat yang Tepat
Masalahnya belum selesai ketika kita berhasil menjatuhkan pilihan pada hal dan orang yang tepat atas pengakuan kita. Kita harus menentukan saat yang tepat. Kita sering diliputi perasaan bahwa masalah kitalah yang paling berat. Orang lain pasti memiliki beban pergumulan yang ringan saja. Siapa bilang? Orang yang kepadanya kita mengaku bisa jadi punya problem yang lebih kompleks dari yang kita ceritakan.Dengan alasan inilah saat yang tepat harus kita peroleh supaya keterbukaan kita tidak menjadi kontraproduktif.
Dalam hal ini kesabaran kita memainkan peranan yang sangat besar. Kita tidak ingin hanya karena kita ‘terburu nafsu’ untuk menyelesaikan sebuah masalah, akhirnya malah membuat masalah itu menjadi semakin kompleks. Memang ada hal-hal yang mendesak dan perlu segera diselesaikan, tetapi jadilah tenang sehingga kita betul-betul memilih waktu atau saat yang paling tepat untuknya.
Demikianlah keterbukaan akan menjadi sarana yang paling efektif untuk membantu kita keluar dari masalah asalkan kita mampu memilih hal-hal yang tepat, orang-orang yang tepat dalam saat yang tepat pula. Anda mau melakukannya?
KIAT MENGATASI PENCOBAAN HIDUP
Krisis multidimensi yang terjadi hampir satu dasawarsa ini telah menimbulkan dampak yang luas bagi masyarakat. Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah jasmaniah semacam ekonomi, sosial-politik, dan keamanan; tetapi juga telah merambah ke wilayah spiritual.
Ada banyak catatan media mengenai tingkat depresi pada masyarakat yang cenderung menaik angkanya. Selain semakin larisnya obat penenang di pasaran, konon pasien penghuni Rumah Sakit Jiwa juga melonjak jumlahnya.
Masalah memang menjadi penanda kehidupan. Artinya, di mana ada kehidupan, di situlah masalah. Kita tak bisa menghindar darinya. Pencobaan memang datang silih berganti dan kewajiban kita adalah untuk menghadapi dan mengalahkannya.
Ibarat berperang, taktik dan strategi memang harus kita kantongi sebelum kita berdiri di garis depan dalam melawan pencobaan. Berperang tanpa siasat dan senjata, sama saja dengan ‘pasrah bongkokan’ (menyerah) begitu saja terhadap lawan.
MASALAH PERSPEKTIF
Ingat kisah klasik bangsa Israel tentang duabelas pengintai? Mereka dipilih dan diterjunkan sebagai spionase yang kemudian dituntut memberi laporan tentang kondisi Kanaan. Meski objek yang dilihat sama, tetapi respon dari para pengintai itu berbeda-beda.
Sepuluh pengintai menyatakan bahwa tidaklah mungkin mereka mengalahkan bangsa Kanaan. Di hadapan mereka, bangsa Israel ibarat belalang yang amat kecil dan tak sebanding kekuatannya. Dua yang lain (Yosua dan Kaleb) punya versi yang berbeda. Atas pertolongan dan kasih setia Tuhan, negeri berlimpah susu dan madu itu akan mudah ditaklukkan. Masalah sebenarnya terletak pada perbedaan perspektif.
Kelompok pertama lebih melihat kemustahilan, sementara yang kedua melihat kesempatan.
Yakobus mengingatkan agar kita menganggap sebagai sebuah kebahagiaan apabila jatuh ke dalam pelbagai pencobaan (Yak 1:2). Mengapa kita harus menggunakan cara pandang sedemikian? Yakobus melanjutkan bahwa ada hasil yang akan dicapai jika pencobaan itu kita kalahkan. Tahan uji akan disusul ketekunan yang berhasil akhir kedewasaan penuh di dalam Tuhan.
Kegagalan melihat pencobaan dari sisi ini bukan saja akan membuat pencobaan itu sendiri terasa berat, tetapi juga akan membuat kita menjadi pecundang. Mari berlatih untuk mencari sisi lain dari setiap permasalahan agar persoalan-persoalan bisa diatasi.
MENGENAL JENIS PENCOBAAN
Jika dibagi, jenis pencobaan terdiri dari dua bagian. Pertama, pencobaan yang datangnya dari luar (ekstrinsik). Kekristenan selalu diperhadapkan pada tekanan-tekanan pihak luar. Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Kristen ditindas dalam berbagai aspek kehidupan. Diskriminasi di sana-sini telah menjadi hal yang biasa.
Tingkat ketahanan orang Kristen terhadap pencobaan jenis ini berbeda-beda. Tak bisa dipungkiri bahwa orang Kristen yang patah arang di tengah jalan karena ditekan pihak luar, tidak sedikit jumlahnya. Namun harus diakui juga bahwa pencobaan ini tidak jarang menghasilkan buah positif. Kesatuan antardenominasi merupakan akibat menggembirakan dari proses ini. Menyejukkan sekali melihat para pemimpin gereja dari berbagai macam aliran bisa bergandeng tangan berdoa bersama.
Kedua, pencobaan dari dalam (intrinsik). Mengamati Yakobus 1:13-15 membuat kita berkesimpulan bahwa ‘keinginan’ kita telah menjadi jalan masuk utama pencobaan. Perannya sangat besar sekali dalam kejatuhan orang-orang percaya ke dalam dosa. Masalahnya, semua orang punya keinginan (daging) ini. Tidak peduli jenis kelamin, tingkatan usia, latar belakang pendidikan, status sosial atau apapun; semuanya punya kedagingan.
Keinginan itu menyeret dan memikat, lalu dibuahi menjadi dosa dan menghasilkan maut. Kalau kita mendengar ada hamba Tuhan yang ‘jatuh’, tidak lain alasannya adalah masalah kegagalan mengelola keinginannya sendiri. Kita berjuang keras dalam hal ini karena keinginan daging tidak bisa ditangkal dengan undang-undang. Meski dihadang undang-undang pornografi/pornoaksi, jika keinginan daging tak dibendung, pasti akan jatuh juga. Jenis pencobaan kedua ini barangkali memang lebih berat dari yang pertama dan lebih banyak mengalahkan orang percaya.
MAHKOTA SEDANG MENUNGGU
Motivasi memengaruhi arah langkah dan gerak. Seorang anak melihat ibunya yang pulang kerja dari jendela lantai delapan apartemennya. Saking gembiranya melihat sang ibu pulang, tiba-tiba si anak meloncat dari jendela itu. Sang ibu kemudian lari secepat kilat untuk menangkapnya agar tak terjerembab ke aspal. Ia berhasil. Anaknya bisa diselamatkan. Beberapa hari berselang, ibu itu diminta kembali untuk memeragakan sebuah simulasi. Ia diminta berdiri tepat pada posisi sewaktu ia mulai berlari ketika menyelematkan anaknya. Dari jendela yang sama, dijatuhkan sebuah boneka yang bobotnya dibuat sama dengan anaknya. Ketika boneka dijatuhkan, si ibu diminta untuk berlari menangkapnya. Berkali-kali hal itu dilakukan, boneka itu tak tertangkap juga.
Motivasinya jauh berbeda, dulu ia berlari untuk menyelamatkan anaknya. Kini hanya untuk mengejar boneka. Pandangan terhadap hasil akhir sebuah aktivitas rupanya berpengaruh sekali terhadap motivasi seseorang mengerjakannya. Menurut Yakobus, kalau kita tahan uji, bagi kita telah disediakan mahkota kehidupan. Ada sebuah hadiah menanti ketika kita mengalahkan pencobaan. Kiranya hal ini pula yang menguatkan kita untuk tetap bertahan meskipun pencobaan datang bertubi-tubi.
BERHARAP KEBAIKAN TUHAN
Kunci lain dari kemenangan kita atas pencobaan terletak pada ketergantungan penuh kita kepada kebaikan Tuhan. Masih dari kitab Yakobus, kita mendapat penjelasan bahwa Dia adalah Allah yang baik dan menganugerahkan segala yang sempurna bagi kita (1: 17). Karyanya itu memungkinkan kita berharap agar Dia menyediakan bagi kita sebuah jalan keluar.
Seperti yang ditulis Don Moen dalam lagu God Will Make A Way, apa yang dikerjakan Tuhan memang kadang ‘tersembunyi’ dan muncul ketika semua cara telah tertutup. Kalau mati saja Dia rela, apalagi untuk menolong kita lepas dari pencobaan.
Mari kita yakini bahwa pencobaan yang kita hadapi saat ini adalah cara-Nya untuk memberi kita kesempatan menang sekali lagi.
Krisis multidimensi yang terjadi hampir satu dasawarsa ini telah menimbulkan dampak yang luas bagi masyarakat. Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah jasmaniah semacam ekonomi, sosial-politik, dan keamanan; tetapi juga telah merambah ke wilayah spiritual.
Ada banyak catatan media mengenai tingkat depresi pada masyarakat yang cenderung menaik angkanya. Selain semakin larisnya obat penenang di pasaran, konon pasien penghuni Rumah Sakit Jiwa juga melonjak jumlahnya.
Masalah memang menjadi penanda kehidupan. Artinya, di mana ada kehidupan, di situlah masalah. Kita tak bisa menghindar darinya. Pencobaan memang datang silih berganti dan kewajiban kita adalah untuk menghadapi dan mengalahkannya.
Ibarat berperang, taktik dan strategi memang harus kita kantongi sebelum kita berdiri di garis depan dalam melawan pencobaan. Berperang tanpa siasat dan senjata, sama saja dengan ‘pasrah bongkokan’ (menyerah) begitu saja terhadap lawan.
MASALAH PERSPEKTIF
Ingat kisah klasik bangsa Israel tentang duabelas pengintai? Mereka dipilih dan diterjunkan sebagai spionase yang kemudian dituntut memberi laporan tentang kondisi Kanaan. Meski objek yang dilihat sama, tetapi respon dari para pengintai itu berbeda-beda.
Sepuluh pengintai menyatakan bahwa tidaklah mungkin mereka mengalahkan bangsa Kanaan. Di hadapan mereka, bangsa Israel ibarat belalang yang amat kecil dan tak sebanding kekuatannya. Dua yang lain (Yosua dan Kaleb) punya versi yang berbeda. Atas pertolongan dan kasih setia Tuhan, negeri berlimpah susu dan madu itu akan mudah ditaklukkan. Masalah sebenarnya terletak pada perbedaan perspektif.
Kelompok pertama lebih melihat kemustahilan, sementara yang kedua melihat kesempatan.Yakobus mengingatkan agar kita menganggap sebagai sebuah kebahagiaan apabila jatuh ke dalam pelbagai pencobaan (Yak 1:2). Mengapa kita harus menggunakan cara pandang sedemikian? Yakobus melanjutkan bahwa ada hasil yang akan dicapai jika pencobaan itu kita kalahkan. Tahan uji akan disusul ketekunan yang berhasil akhir kedewasaan penuh di dalam Tuhan.
Kegagalan melihat pencobaan dari sisi ini bukan saja akan membuat pencobaan itu sendiri terasa berat, tetapi juga akan membuat kita menjadi pecundang. Mari berlatih untuk mencari sisi lain dari setiap permasalahan agar persoalan-persoalan bisa diatasi.
MENGENAL JENIS PENCOBAAN
Jika dibagi, jenis pencobaan terdiri dari dua bagian. Pertama, pencobaan yang datangnya dari luar (ekstrinsik). Kekristenan selalu diperhadapkan pada tekanan-tekanan pihak luar. Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Kristen ditindas dalam berbagai aspek kehidupan. Diskriminasi di sana-sini telah menjadi hal yang biasa.
Tingkat ketahanan orang Kristen terhadap pencobaan jenis ini berbeda-beda. Tak bisa dipungkiri bahwa orang Kristen yang patah arang di tengah jalan karena ditekan pihak luar, tidak sedikit jumlahnya. Namun harus diakui juga bahwa pencobaan ini tidak jarang menghasilkan buah positif. Kesatuan antardenominasi merupakan akibat menggembirakan dari proses ini. Menyejukkan sekali melihat para pemimpin gereja dari berbagai macam aliran bisa bergandeng tangan berdoa bersama.
Kedua, pencobaan dari dalam (intrinsik). Mengamati Yakobus 1:13-15 membuat kita berkesimpulan bahwa ‘keinginan’ kita telah menjadi jalan masuk utama pencobaan. Perannya sangat besar sekali dalam kejatuhan orang-orang percaya ke dalam dosa. Masalahnya, semua orang punya keinginan (daging) ini. Tidak peduli jenis kelamin, tingkatan usia, latar belakang pendidikan, status sosial atau apapun; semuanya punya kedagingan.
Keinginan itu menyeret dan memikat, lalu dibuahi menjadi dosa dan menghasilkan maut. Kalau kita mendengar ada hamba Tuhan yang ‘jatuh’, tidak lain alasannya adalah masalah kegagalan mengelola keinginannya sendiri. Kita berjuang keras dalam hal ini karena keinginan daging tidak bisa ditangkal dengan undang-undang. Meski dihadang undang-undang pornografi/pornoaksi, jika keinginan daging tak dibendung, pasti akan jatuh juga. Jenis pencobaan kedua ini barangkali memang lebih berat dari yang pertama dan lebih banyak mengalahkan orang percaya.
MAHKOTA SEDANG MENUNGGU
Motivasi memengaruhi arah langkah dan gerak. Seorang anak melihat ibunya yang pulang kerja dari jendela lantai delapan apartemennya. Saking gembiranya melihat sang ibu pulang, tiba-tiba si anak meloncat dari jendela itu. Sang ibu kemudian lari secepat kilat untuk menangkapnya agar tak terjerembab ke aspal. Ia berhasil. Anaknya bisa diselamatkan. Beberapa hari berselang, ibu itu diminta kembali untuk memeragakan sebuah simulasi. Ia diminta berdiri tepat pada posisi sewaktu ia mulai berlari ketika menyelematkan anaknya. Dari jendela yang sama, dijatuhkan sebuah boneka yang bobotnya dibuat sama dengan anaknya. Ketika boneka dijatuhkan, si ibu diminta untuk berlari menangkapnya. Berkali-kali hal itu dilakukan, boneka itu tak tertangkap juga.
Motivasinya jauh berbeda, dulu ia berlari untuk menyelamatkan anaknya. Kini hanya untuk mengejar boneka. Pandangan terhadap hasil akhir sebuah aktivitas rupanya berpengaruh sekali terhadap motivasi seseorang mengerjakannya. Menurut Yakobus, kalau kita tahan uji, bagi kita telah disediakan mahkota kehidupan. Ada sebuah hadiah menanti ketika kita mengalahkan pencobaan. Kiranya hal ini pula yang menguatkan kita untuk tetap bertahan meskipun pencobaan datang bertubi-tubi.
BERHARAP KEBAIKAN TUHAN
Kunci lain dari kemenangan kita atas pencobaan terletak pada ketergantungan penuh kita kepada kebaikan Tuhan. Masih dari kitab Yakobus, kita mendapat penjelasan bahwa Dia adalah Allah yang baik dan menganugerahkan segala yang sempurna bagi kita (1: 17). Karyanya itu memungkinkan kita berharap agar Dia menyediakan bagi kita sebuah jalan keluar.
Seperti yang ditulis Don Moen dalam lagu God Will Make A Way, apa yang dikerjakan Tuhan memang kadang ‘tersembunyi’ dan muncul ketika semua cara telah tertutup. Kalau mati saja Dia rela, apalagi untuk menolong kita lepas dari pencobaan.
Mari kita yakini bahwa pencobaan yang kita hadapi saat ini adalah cara-Nya untuk memberi kita kesempatan menang sekali lagi.
Subscribe to:
Comments (Atom)