Sunday, August 05, 2007

MENGHUNUS PEDANG ROH

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun;...” (Ibrani 4:12)

Senjata yang sangat familiar bagi para pejuang di era penjajahan adalah bambu runcing. Kelengkapan perang tradisional ini kemudian menjadi simbol heroisme di tanah air. Di beberapa tempat diabadikan menjadi monumen, mengisi koleksi pajangan ruang-ruang musium dan ‘digunakan kembali’ pada peringatan kemerdekaan RI pada bulan Agustus.
Sahabat, kita sudah bisa membayangkan apa jadinya jika seseorang masuk dalam medan pertempuran tanpa senjata. Kemungkinan terbesar adalah dia akan menjadi bulan-bulanan musuh dan tewas mengenaskan. Kita tahu bahwa senjata, sekecil dan sesederhana apapun itu, adalah piranti yang tidak boleh ditinggalkan dalam berperang. Jadi, dalam peperangan, senjata adalah hal yang wajib hukumnya.
Alkitab menyebut sebuah senjata yang sangat ampuh dalam peperangan rohani. Senjata itu adalah pedang Roh; firman Allah. Bahkan keampuhannya telah dibuktikan sendiri oleh Tuhan Yesus saat menghadapi pencobaan iblis. Dia tidak menggunakan senjata lain kecuali rangkaian kata, “Ada tertulis…” Tiga kali pencobaan datang, tiga kali pula Yesus menggunakan ‘jurus’ yang sama itu.
Bagaimana agar kita bisa menggunakan senjata itu? Tidak ada cara lain kecuali kita memiliki ketekunan untuk mendalami dan menelitinya. Bukan itu saja, firman itu harus hidup dan kita hidupi. Dengan cara itu kita memiliki kesiapan dan kelengkapan untuk menghadapi musuh dalam peperangan rohani. [JP]
MENJADI HAMBA SETIA

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia;…” (Matius 25:21)

Tersebutlah seorang profesor di Jepang yang memiliki seekor anjing kesayangan. Hubungan pemilik dan hewan peliharaan itu sudah terjalin cukup lama. Profesor itu tinggal sendiri dan tak memiliki keluarga lagi. Hanya anjing itulah yang menjadi teman hidup mengisi hari tuanya.
Setiap hari, profesor itu tugas mengajar di kampus yang terletak di kota lain. Karena jarak yang cukup jauh, ia selalu menggunakan jasa angkutan kereta api. Pagi-pagi benar ia sudah berangkat dari rumahnya diantar anjingnya itu. Hingga sore hari ketika sang profesor pulang, anjing itu tak beranjak dari stasiun. Ia setia menunggu tuannya di sana. Begitulah kejadian itu selalu berulang setiap hari.
Hingga suatu hari, sang profesor mendapat serangan jantung mendadak ketika mengajar. Meski sudah dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Meninggallah profesor tua itu. Anehnya, anjing kesayangannya masih menunggunya di stasiun. Sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan mondar-mandir di stasiun itu untuk menunggu kedatangan tuannya. Akhirnya, anjing itupun mati di stasiun. Tentu ini sebuah pelajaran berharga tentang kesetiaan bagi kita. Konon, di stasiun itu lalu dibangun patung anjing untuk mengingatkan harga kesetiaan kepada setiap pengunjungnya.
Kadang memang kita ‘diberi pelajaran’ oleh binatang. Salah satunya ketika berbicara mengenai kesetiaan. Anjing dalam kisah di atas tak mudah berpaling dan berubah setia. Ia setia meskipun sebenarnya harapan untuk bertemu tuannya sudah tidak ada lagi. Bagaimana kadar kesetiaan kita sebagai hamba kepada Tuhan, Sang Pemilik hidup? [JP]
PECEL LELE

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, …” (Pengkhotbah 9:10)

Karena gemar dengan pecel lele, makanan khas Jawa Timur itu, saya kerap berkeliling di seantero kota untuk berwisata kuliner. Saya mencoba membandingkan masakan dan cara penyajian makanan yang murah meriah ini dari masing-masing warung tenda yang saya sambangi. Hasilnya? Tidak terlalu jauh berbeda menurut saya. Rasa dan cara menyajikannya pun terkesan begitu-begitu saja, hampir tidak ada variasi sama sekali.
Namun dari sekian banyak warung pecel lele yang pernah saya datangi, ada satu yang cukup berkesan. Sampai hari ini saya masih menjadi salah satu pelanggannya. Apa pasal? Jawabnya singkat: karena pelayanan terbaiknya. Penjual warung itu selalu menuruti permintaan setiap pembelinya, termasuk saya. Ada kalanya saya ingin sambel yang lebih pedas dari biasanya. Di waktu lain, saya ingin bumbu yang agak asin. Di warung itu saya selalu mendapatkan apa yang saya minta. Pokoknya 'mak nyuusus...' Sementara di warung yang lain, tak jarang omelan penjual yang saya terima. Pemilik warung itu tak pernah terlihat mengeluh karena keinginan saya. Yang selalu dia lakukan adalah melayani, melayani dan melayani. Itu saja. Barangkali ia memegang teguh prinsip dalam dunia dagang bahwa pembeli adalah raja. Tak heran kalau warung itu menjadi begitu laris.
Bagaimana dengan pelayanan kita, Sahabat? Godaan untuk melayani sekenanya memang sering muncul dan menggangu. “Ah, begini saja sudah cukup. Untuk gereja dan sesama yang biasa-biasa saja lah…” demikian kita sering bergumam dalam hati. Tak pelak banyak jemaat yang menjadi kecewa karena aksi tidak simpatik tersebut. Kita acap melayani setengah hati dan tanpa persiapan matang. Sudah waktunya kita memberi pelayanan terbaik di dalam gereja, agar setiap orang (terutama jiwa-jiwa baru) menjadi kerasan untuk beribadah di dalamnya. Kalau tukang pecel lele saja bisa, mengapa kita tidak? [JP]

Thursday, June 07, 2007

SPANDUK

Apalah arti sebuah spanduk? Hanya beberapa meter kain yang dibentangkan di sisi-sisi jalan. Dari segi keawetan, pastilah spanduk tak bakal bertahan lama. Karena terpaan panas dan deraan hujan, ia menjadi kain yang begitu rentan. Lusuh lantas robek begitu saja.

Beberapa teman sekampung -entah karena kreatif atau karena miskin, tipis sekali batasnya- sering memanfaatkan spanduk sebagai bahan celana pendek. Tetangga yang lain menggunakannya untuk menutup kedai mie ayamnya.


Spanduk, bagi sebagai orang adalah sarana penyaluran ekspresi. Setidaknya jika kita melihatnya pada peristiwa demonstrasi. Tulisan-tulisan pada spanduk yang terbentang merupakan ekspresi tuntutan dan aspirasi. Meskipun kadang-kadang melanggar keharusan berbahasa yang baik dan benar, sudah sah rasanya demonstrasi digulirkan dengan spanduk sebagai aksesoris utamanya.

Spanduk juga menjadi wadah pelampiasan kemarahan. Di sudut-sudut kota saya lihat spanduk-spanduk terpampang berbunyi, "JANGAN ANCAM AMIEN RAIS!" Kita tentu mahfum, bahwa kejadian ini merupakan buntut lakon gelut yang dimainkan Amien Rais dan Presiden SBY. Karena tidak tahu harus marah kepada siapa, ya sudah... pasang spanduk saja. Ehmm, mungkin suatu kali Anda sedang marahan dengan istri atau suami. Apakah terpikir dalam benak Anda untuk membentangkan spanduk di pagar depan rumah? Bunyinya bagaimana?

Yang lain menggunakan spanduk sebagai ajang promosi. Yang satu ini isinya lebih informatif, bahkan tak jarang ditambah dengan bualan-bualan semanis kembang gula untuk menarik peminat. Bagi para calon pemimpin yang narsis, spanduk dipakai sebagai tempat memampang foto dirinya dibumbui dengan janji-janji. Maaf, kalau yang ini sangat memuakkan! Geuleuh... Ndessso!

Sudahlah... wong mereka bikin spanduk juga ngga minta duit dari kita koq. Biarkan saja. Asal jangan mereka tidak mendikte kita untuk memasang spanduk di atas pohon. Selain karena tidak etis, ya... karena kita memang tidak bisa memanjat pohon. Lho?***

Wednesday, May 09, 2007

ANGER MANAGEMENT

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” (Amsal 20:3)

Suatu ketika saya sedang menikmati nasi uduk di sebuah kedai di Bandung. Sementara saya makan, seseorang di meja sebelah sedang melakukan pembicaraan melalui telepon genggamnya. Awalnya nada bicaranya datar dan biasa-biasa saja. Entah mengapa kemudian nada bicaranya berangsur meninggi. Ia tampak marah dengan lawan bicaranya di ujung telepon. “Sudah, sekarang begini saja. Kamu pilih aku atau sahabatmu itu? Putuskan sekarang! Aku ngga mau nunggu lama-lama!” ujarnya geram. Sejurus kemudian, praaangggg…. Ia membanting gelas yang sejak tadi dipegangnya.
Semua mata kemudian tertuju kepada pria yang marah itu. Tak ketinggalan pemilik kedai yang meminta agar ia mengganti gelas miliknya yang pecah dibanting. Pria itu nampak merogoh uang dari sakunya dan kemudian ngeloyor pergi. Mukanya merah, mungkin menahan malu bercampur marah.
Kita tentu pernah mengalami kemarahan yang memenuhi hati. Tak jarang bahkan sampai meluap-luap. Dan dengan kemarahan itu, kita menjadi ‘bodoh’ dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan. Lalu tibalah penyesalan yang selalu datang belakangan.
Kemarahan memang merupakan salah satu emosi negatif dalam diri kita yang perlu dikendalikan. Diperlukan ‘manajemen kemarahan’ agar kita tidak terjebak dalam tindakan-tindakan bodoh yang memalukan. Dibutuhkan kelemahlembutan ilahi untuk mengatasi ledakan amarah yang kadang datang mengunjungi kita. Selamat mengatur kemarahan! [JP]
PELAJARAN DARI CHARLOTTE’S WEB

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat…” (Yohanes 15:15)

Charlotte’s Web adalah sebuah film layar lebar yang pernah diangkat oleh rumah produksi Hanna-Barbera Production pada 1973. Kini film yang berkisah tentang seekor babi yang menawarkan persahabatan sejati itu, dirilis kembali. Kisahnya dimulai dengan seorang anak kecil bernama Fern yang menyelamatkan babi yang baru saja lahir. Fern memberi nama babi kecil itu Wilbur. Sejak saat itu Fern selalu memandikan Wilbur, memberinya susu, bahkan mendongengkan kisah sebelum Wilbur tidur.
Seiring waktu berjalan, Wilbur menjadi semakin besar dan harus tinggal di dalam kandang selayaknya binatang yang lain. Ia kemudian tinggal dengan sepasang angsa, sepasang sapi, 5 ekor kambing dan seekor tikus. Di antara binatang-binatang itu, tersebutlah Charlotte, seekor laba-laba yang sangat dijauhi oleh binatang yang lain. Terinspirasi oleh pengalamannya diterima oleh Fern, hanya Wilbur-lah yang mau menerima dan bersahabat dengan Charlotte. Dengan segala upaya, Wilbur mencoba memberi pengertian kepada binatang yang lain agar mau menerima Charlotte. Singkat cerita, laba-laba itu diterima kehadirannya oleh semua binatang di kandang itu. Semuanya terjadi berkat kegigihan Wilbur untuk menjadi mediator.
Persahabatan adalah sebuah nilai luhur yang ditekankan Alkitab. Suatu ketika, Yesus menyatakan sebuah hubungan ‘baru’ antara diri-Nya dengan murid-murid-Nya. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, “ kata-Nya “Tetapi Aku menyebut kamu sahabat!” Ia telah memberi teladan bahwa salah satu peranan seorang sahabat akan muncul menjadi juru damai. Kita yang berdosa akhirnya memiliki persahabatan dengan Allah sebagai dampak persahabatan kita dengan Kristus. Sungguh sebuah kehormatan untuk menjadi seorang sahabat Allah. [JP]
MENGHORMATI ORANG TUA

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

Pengalaman menunggui isteri yang melahirkan, membekaskan pengalaman bathin yang mendalam bagi saya. Ada sebuah perjuangan antara hidup dan mati dalam peristiwa itu. Imajinasi saya segera melayang kembali ke puluhan tahun silam ketika ibu melahirkan saya. Meski hanya bisa membayangkan, tetapi tergambar jelas betapa beratnya perjuangan seorang ibu ketika melahirkan anaknya. Dari sana, sikap hormat saya terhadap orang tua semakin bertumbuh. Saya sadar bahwa kehadiran saya di muka bumi, selain karena faktor kehendak Tuhan, adalah karena jasa mereka juga.
Pada saat yang lain saya juga teringat akan kisah-kisah tragis seorang anak yang tega menganiaya, bahkan hingga membunuh orang tuanya. Ironisnya, kebanyakan dari kasus itu bermula dari permasalahan yang sepele. Dari masalah meminta uang sekolah, minta dibelikan motor atau juga permintaan terhadap hal-hal lain yang sebenarnya sekunder. Hanya dengan alasan-alasan itu, jiwa orang-orang yang dikasihi bisa melayang.
Almarhum Pdt. Eka Darmaputera pernah berujar, “Bagaimanapun mereka adalah orang tua kita. Bukan saja tatkala kita masih bayi lemah yang belum dewasa, tetapi karena kini juga ketika tubuh mereka telah berangsur-angsur melemah dan berbalik bergantung kepada kasih dan pemeliharaan kita.” Kita tidak pernah behenti menjadi anak dari orang tua kita. Merekapun tidak pernah bisa lari dari kenyataan bahwa ita adalah anak-anaknya. Tidak ada pilihan lain.
Sahabat, orang tua, seburuk apapun mereka, adalah pribadi-pribadi yang layak dihormati. Bukan karena usia dan jasa mereka, tetapi karena Tuhan menghendakinya. Anda sudah melakukannya? [JP]
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

“Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7)

Menurut UU No. 23 tahun 2004, yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga adalah “perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.” Menurut sebuah survey, kasus kekerasan dalam rumah tangga memang terus merangkak naik angkanya dari tahun ke tahun. Apakah hal itu terjadi dalam rumah tangga Kristen? Meski tak dapat dipastikan jumlahnya, tentu saja hal itu terjadi dalam keluarga Kristen.
Beberapa tahun lalu, penyanyi Nur Afni Octavia melaporkan suaminya -yang notabene hamba Tuhan- ke pihak kepolisian. Pasalnya, bukannya mendapat perlindungan, ia malah sering ketiban bogem mentah dari orang yang seharusnya mengasihinya itu. Waktu melapor pun, sudut-sudut wajahnya masih tampak lebam membiru. Ironisnya, peristiwa penganiayaan itu terjadi seusai perayaan ulang tahunnya. Ternyata, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di manapun dan kapanpun.
Sahabat, menurut Petrus istri adalah ‘teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.’ Sejak awal, Alkitab tidak pernah memosisikan istri sebagai ‘sparing partner’ dalam bertinju. Ia tidak dihadirkan di dalam rumah tangga untuk dianiaya, melainkan untuk dihormati sebagai kaum yang lebih lemah.
Karena itu jika suami tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, alasan utamanya bukan karena takut terjerat undang-undang. Tetapi karena ketaatan kepada perintah Allah melalui firman-Nya. Bukankah begitu? [JP]

Thursday, March 29, 2007

BEKERJA DENGAN CINTA

Bekerja adalah cinta yang mengejawantah. Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka baiklah engkau meninggalkannya, kemudian duduk di depan gapura candi, dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan cinta. (Kahlil Gibran)

Kalimat di atas adalah penggalan syair yang ditulis Kahlil Gibran, seorang penyair kenamaan dari Libanon dalam salah satu karya fenomenalnya, ‘Sang Nabi’. Syair itu mengisyaratkan bahwa pekerjaan adalah aktivitas yang harus dijalani dengan rasa cinta. Bahkan, pekerjaan adalah perwujudan dari rasa cinta itu sendiri.

BEKERJA; HAKIKAT HIDUP MANUSIA
Sebagian orang menganggap bahwa bekerja adalah kutuk yang ditimpakan kepada manusia karena dosanya. Jika tidak ada dosa dalam sejarah manusia, pastilah pekerjaan tak diperlukan. Segala kebutuhan akan datang dengan sendirinya bagi manusia yang hidup dan tinggal di Eden. Benarkah? Kejadian 2:15 menegaskan sebuah fakta yang berbeda. Bekerja adalah sesuatu yang telah diamanatkan Allah sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Kata “mengusahakan” dan “memelihara” taman dipakai Allah untuk memberi mandat bagi manusia yang diciptakan-Nya.
Memang sesudah peristiwa kejatuhan ada kutuk yang ditimpakan berkaitan dengan pekerjaan. Tuhan berkata bahwa, “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu… Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…” (Kej. 3:17, 19). Tetapi ini bukan petunjuk bahwa pekerjaan baru dimulai sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Intinya, Allah menciptakan manusia untuk bekerja, bukan untuk menganggur dan santai berpangku tangan.

MENCINTAI PEKERJAAN
Jika bekerja adalah hakikat hidup, apa yang kemudian kita harus lakukan terhadapnya? ‘Love what you do and do what you love’ pantas menjadi slogan kita dalam menjalani pekerjaan. Hanya cinta yang akan menggerakkan kita untuk menghasilkan yang terbaik dalam pekerjaan. Kasih sebagai dasar terhadap apa yang kita kerjakan jangan pernah digeser oleh niat sekedar mencari sesuap nasi atau bahkan kerakusan untuk menguasai lebih banyak materi.
Kasih di sini juga tidak sedang bermaksud mengedepankan perasaan. Dalam kekristenan, kasih adalah sebuah komitmen. Cinta adalah sebuah keputusan, entah enak atau tidak rasanya. Kedewasaan kita dalam kasih itu kemudian diukur dari tanggung jawab kita terhadap mempertahankan komitmen. Dan dalam konteks ini, seberapa bertanggung jawabkah kita terhadap apa yang kita kerjakan?

MENJADI TERANG DI DUNIA KERJA
Bagi kaum opportunis, pekerjaan adalah kesempatan mengeruk keuntungan semata. Bagi laki-laki kebanyakan, pekerjaan adalah sarana mempertahankan gengsi. Bagi si pemalas, pekerjaan adalah hantu menakutkan. Lalu bagi orang Kristen? Jika panggilan ‘jangan menjadi serupa dengan dunia ini’ dipahami dengan jelas, bekerja adalah sebuah kesempatan emas untuk mengaktualisasikan diri sebagai pelita. Ada tuntutan untuk menghidupi nilai-nilai luhur yang diteladankan Yesus. Jika dunia bekerja dengan culas, kekristenan wajib hadir dengan integritas. Bila dunia mengajarkan tentang bekerja sekenanya, ‘excellent service’lah yang harus dibawa orang percaya. Itu baru namanya berbeda. Dengan cara demikian, terang kita makin berpendar menyingkirkan kegelapan.*** [JP]
HARGA SATU JIWA

Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai menemukannya? (Lukas 15:4)

Beberapa hari setelah ayahnya dikuburkan, seorang pemuda nampak sibuk dengan secarik kertas yang berisi tulisan almarhum ayahnya. Secarik kertas itu rupanya berisi wasiat terakhir. Di kertas itu tertulis, “Maafkan Papa karena belum sempat mengantarmu ke gerbang keberhasilan Nak. Papa hanya bisa meninggalkan sebatang emas yang tersimpan di gudang. Papa berharap emas itu bermanfaat bagi sekolah dan masa depanmu. Papa.”
Bergegas pemuda itu mencari kunci gudang. Ketika dibuka, ternyata gudang itu penuh dengan barang-barang bekas yang tak terpakai. Ban-ban bekas, rongsokan kulkas dan televisi, koran-koran dan majalah yang menggunung. Semuanya berdebu dan dihiasi sarang laba-laba di sana-sini. Hati pemuda itu mulai ciut. “Benarkah wasiat Papa itu? Di manakah emas batangan yang dia janjikan itu? Semuanya hanya barang-barang bekas di sini,” gumamnya dalam hati.
Pemuda itu gamang untuk membereskan barang-barang bekas itu. Meski bekas dan kotor, bukan berarti benda-benda itu tak berharga. Sayang jika harus menjual kulkas dan TV peninggalan Papanya. Majalah dan koran itu juga masih menyimpan segudang informasi. Tapi ketika mengingat emas batangan yang jauh lebih berharga, ia berubah sikap. Sendirian ia bersihkan gudang itu. Ia membongkar tumpukan-tumpukannya hingga menemukan emas batangan yang diwasiatkan Papanya. Dan ia menemukannya.
Begitulah kehidupan kita di hadapan Tuhan. Karena anugrah-Nya, kita ini ibarat emas yang tersimpan di dalam gudang. Untuk menemukannya, diperlukan kerelaan untuk membongkar benda-benda lain yang menimbunnya. Seandainya hanya satu saja orang berdosa di dunia ini –dan orang itu adalah kita– Dia pasti tetap akan mencari dan menyelamatkan kita. [JP]
SEPASANG MATA YANG MENGAWASI

Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.
(Kisah Para Rasul 1:4)

Berbekal ketapel yang terkalung di lehernya, Tono bergegas menuju sawah untuk mengusir burung-burung yang sering memakan padi yang ditanam ayahnya. Di kantong celana kanan dan kirinya telah terisi batu-batu kecil yang akan digunakannya sebagai ‘peluru’ bagi ketapelnya. Hingga menjelang sore, tak satupun burung yang berhasil dibidiknya. Semuanya meleset.
Tiba-tiba melintaslah sekawanan bebek milik tetangganya di atas pematang sawah. Karena kesal, Tono akhirnya mengarahkan bidikan ketapelnya kepada kawanan bebek itu. Siuuutttttt… jeeepppp! Batu kecil itu melesat dan tepat mengenai kepala seekor bebek. Sebenarnya Tono tak bermaksud membunuh, tetapi kepalang basah bebek yang mati itupun dibawanya pulang. “Ah, tak ada yang melihat. Bisa buat lauk nanti malam, lumayan…” pikirnya.
Kisahnya belum berhenti sampai di situ. Keesokan harinya di sekolah, ketika Tono sedang jajan, tiba-tiba Andi menghampirinya. “Ton, traktir dong. Aku lagi ngga punya duit nih,” pinta Andi iba. “Enak aja, bayar sendiri,” jawab Tono. Andi lalu berujar, “Kalau kamu ngga mau nraktir, kulaporkan tentang bebek yang kemarin kau ketapel itu!” Tono terperanjat. Ternyata aksinya diketahui Andi, salah seorang temannya. Sejak saat itu, setiap hari Tono harus mentraktir Andi karena takut dibeberkan rahasianya. Ketidakjujurannya telah membuatnya diperbudak.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kadang-kadang kita merasa ‘aman’ ketika berbuat dosa, seolah-olah tidak ada yang tahu. Kita tak sadar kalau ada ‘sepasang mata’ yang mengawasi kita setiap waktu tanpa terlelap. Sahabat, mari jaga kejujuran kita di manapun Tuhan mempercayakan tanggung jawab kepada kita. [JP]
KESETIAAN SEORANG PENATALAYAN

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)

Jika Allah memberikan keluarga yang harmonis, kehidupan yang nyaman, teman-teman yang baik dan bisnis yang lancar; itu semua adalah anugrah yang tak terkira. Dalam kondisi serba kecukupan seperti itu, kesetiaan kemudian diuji. Manusia cenderung –meskipun tidak selalu- melupakan Tuhan jika kondisi kehidupannya baik-baik saja.
Banyak orang mengalami ketika naik sampai di puncak justru kehilangan kendali dan keseimbangan. Siklusnya biasanya diawali dengan kesombongan. Dilanjutkan dengan perselingkuhan atau mengonsumsi obat-obat terlarang. Kemudian keluarga berantakan, jatuh sakit dan terpuruk kembali ke titik paling rendah. Harta hasil bisnis bertahun-tahun bukannya dinikmati, sebaliknya ‘disetorkan’ secara rutin ke rumah sakit. Entah itu untuk menebus obat, perawatan berkala atau cuci darah.
Apa yang kita miliki hanyalah titipan. Kita ingat satu prinsip: Allah adalah Pemilik, kita adalah pengelola. Kita sering tidak bertanggung jawab atas harta kita karena kita merasa sebagi pemiliknya. Kita berpikir bahwa kita bisa membeli segala-galanya. Harta tak akan bisa membeli kesehatan, keharmonisan keluarga dan persahabatan; sebanyak apapun kita mengumpulkannya.
Sahabat, suatu kali kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita buat dengan harta titipan itu. Jika waktu itu tiba, sudah siapkah kita memberikan laporan kepada ‘Tuan Sang Pemilik harta?’ [JP]

Wednesday, March 28, 2007

KEMBALI KE SIKAP HATI

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Orang benar yang bersih kelakuannya - berbahagialah keturunannya. (Amsal 20:6-7)

Manakah yang lebih ‘rohani’ menurut Anda: menghitung uang di bank atau menghitung uang persembahan di gereja? Membereskan aula RT sesudah rapat selesai atau membereskan ruang gereja seusai ibadah? Memasak untuk pesanan catering atau memasak untuk menyediakan konsumsi kerja bakti di gereja? Silakan mengambil waktu sejenak untuk merenungkannya. Anda sudah mendapat jawaban?
Kita sering menilai spiritualitas berdasarkan tempatnya. Kalau seseorang dan aktivitasnya dikaitkan dengan gereja atau pelayanan, kita langsung memastikan bahwa itu ‘rohani’. Sebaliknya jika tidak ada hubungannya dengan gereja, kita sebut sebagai ‘duniawi – sekuler – jahat’. Apakah memang harus ada pembedaan semacam itu?
Tuhan Yesus mengajar bahwa segala sesuatu berkaitan erat dengan hati. Itulah sumber dari setiap hal yang kita katakan dan lakukan. Berdoa tentu hal yang baik, tetapi jika berdoa kemudian menjadi ajang pamer, masalahnya akan jadi lain. Tuhan Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat yang berdoa di pinggir-pinggir jalan. Memberi sedekah juga hal yang baik. Tetapi jika memberi sedekah dipakai sebagai alat untuk menyombongkan diri akan jadi tidak rohani sama sekali. Sebaliknya jika kita menghitung uang di bank dengan jujur, membereskan aula RT dengan tidak bersungut-sungut dan memasak yang paling enak sesuai dengan pesanan pelanggan, Tuhan dipermuliakan melaluinya.
Rohani tidaknya apa yang kita lakukan tidak ditentukan oleh tempatnya. Yang paling baik untuk menguji semuanya adalah dikembalikan kepada hati nurani masing-masing. [JP]
ALLAH YANG TURUN TANGAN

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinganmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Sepeninggal suaminya, Sontiar Manurung diliputi duka dan kecewa. Bagaimana tidak? Sementara tidak ada warisan yang ditinggalkan suaminya, ia harus membesarkan dan membiayai hidup keempat orang anaknya. “Bingung, ada sedikit putus asa dan tidak tahu bagaimana lagi,” ujarnya. Kesedihan bertambah ketika harus terusir dari rumah kontrakkannya. Ia sudah memohon kepada si pemilik rumah, tetapi hasilnya nihil.
Hidup harus tetap dijalani dan dihadapi. Dengan tekad menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin, ia kemudian menjadi pedagang buah di bilangan Cililitan, Jakarta. Dengan berjualan buah, meski sering menghadapi usiran petugas tramtib, ternyata cukup untuk menyambung hidup. Pelan namun pasti, jalan hidupnya mulai berubah. Ia terus berdoa dan melibatkan Allah dalam pekerjaannya itu. Akhirnya rumah pun berhasil didapatkan. Putra-putrinya diantarnya menjadi sarjana. Semuanya adalah hasil dari ketekunan, kerja keras dan tentu saja penyerahannya kepada Tuhan.
Kita tentu sering mendengar ungkapan pengkhotbah, “Jika kita turun tangan, maka Allah angkat tangan. Tetapi jika kita angkat tangan, Allah turun tangan.” Maknanya jelas, bahwa kita harus melibatkan Allah dalam setiap perkara yang kita alami. Usaha dan perjuangan tanpa penyertaan-Nya tidak akan menghasilkan buah yang berarti. Tidak jarang bahkan kita tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Sahabat, dalam setiap profesi yang Anda jalani sekarang, libatkanlah Allah. Ia mampu memberikan arahan jitu dan pertolongan sempurna atas apa yang harus kita lakukan. [JP]

Thursday, February 22, 2007

KARAKTER: INVESTASI KEKAL DALAM HIDUP ANDA

Anda mungkin pernah memiliki pengalaman buruk mengenai pelayanan publik di negeri ini. Anda sedang berada di sebuah bank atau rumah sakit. Betapa jengkelnya Anda ketika berharap mendapat pelayanan prima, tetapi para pegawai itu malah asyik ngobrol. Atau kinerja yang sangat lamban disertai dengan birokrasi yang kompleks. Alih-alih segera mendapat apa yang diinginkan, Anda malah dipingpong kesana-kemari. Anda lalu bergumam, “Payah! Mentalitas macam apa ini? Dasar…”

KEBUTUHAN AKAN KARAKTER
Kondisi di atas memang tak mudah diselesaikan. Buktinya hingga kini masalah mentalitas dan absennya karakter masih menjadi problem utama yang membelit bangsa ini. Pemerintahan sudah berkali-kali diganti, lembaga pemberantas korupsi sudah dibentuk, kinerja pendayagunaan aparatur sudah digenjot. Hasilnya? Megap-megap, untuk tidak menyebutnya nihil sama sekali!
Pada dasawarsa 90-an sempat muncul sebuah buku bertajuk “The Seven Habits of Highly Effective People” karangan Stephen R. Covey. Buku ini laris karena menawarkan sesuatu yang baru. Pembinaan profesional yang sebelumnya cenderung menekankan kompetensi, ‘dijungkirbalikkan’ Covey dengan mengusung pembinaan yang menekankan karakter. Pendekatan ‘Seven Habits’ memang lebih menekankan kualitas yang membentuk karakter agar memiliki tujuan hidup, punya prinsip dan mandiri sebagi pribadi unggul. Dari sini kemudian orang terbangun dan tergugah untuk berpikir tentang CHARACTER BUILDING (pembentukan karakter).
Mungkinkah caracter building terjadi dalam diri kita yang sudah jatuh ke dalam dosa sehingga kehilangan kemuliaan Allah? Perjanjian Baru mendorong orang percaya untuk bertumbuh dalam hidup barunya (Ibr 12:1-3). Perubahan dan pertumbuhan karakter, dengan demikian, hanya dapat terjadi di dalam diri orang yang telah dibaharui Roh Kristus melalui kelahiran baru.

DI MANA KARAKTER ITU?
Mari kita tarik konteks pembicaraan kepada pembentukan karakter diri kita sendiri. Terus menyalahkan orang lain juga tidak memberi apa-apa dalam penyelesaian masalah. Jika memang lingkungan sudah sulit diubah, kitalah yang harus berubah. Seorang motivator pernah bergurau dengan sopir pribadinya. Dalam sebuah perjalanan yang begitu crowded-macet-kacau, seorang sopir angkot mengemudikan mobilnya sembarangan. Sopir pribadi motivator itu lantas berkata, “Baru nyetir angkot saja sudah begitu. Bagaimana nanti kalau nyetir taksi atau mobil pribadi?” “Justru karena gaya nyetirnya seperti itu, maka dia hanya jadi sopir angkot,” timpal sang motivator.
Pernyataan sang motivator benar. Karakter ternyata menentukan tingkat kapasitas dan tanggung jawab. Jika kita semakin bertumbuh di dalam karakter, semakin kita dipercaya orang. Semakin karakter kita serupa dengan Kristus, semakin orang lain diberkati melalui hidup kita. Orang sudah jenuh dengan banyaknya orang pinter yang membuat keblinger. Atau orang berakal yang sukanya akal-akalan. Sekarang orang bertanya, “Di manakah orang yang berkarakter?” Beranikah kita memberi jawaban “Ya, sayalah orangnya” atas pertanyaan itu?
Sementara harta dan kekayaan ditinggalkan ketika maut menjemput, karakter justru akan kita bawa dalam pertanggungjawaban di hadapan tahta-Nya. Itu sebabnya, investasi kekal ini mau tidak mau harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Mari membangun karakter yang semakin hari, semakin serupa Kristus.*** [JP]

Sunday, February 04, 2007


Akhirnya kamu muncul juga Jer...
Di dunia penat dan sesak ini
Selamat Datang, Ngger... Cah Bagus

Sebenarnya Bapakmu ini ngga tega Jer...
Selang-selang dan kabel itu seperti membelit-melilitmu
Hidungmu memerah
Kepalamu tak bebas bergerak
Tangan-kakimu terkekang

Tapi itu demi kebaikanmu Jer...
Bapakmu tau betapa berat perjuanganmu
Megap-megap nafasmu
Lengkingan jerit tangismu

Bertahanlah Jer...
Itu hanya sebentar
Jadikanlah sebagai tempat berlatih
sebab perjuangan hidupmu baru saja dimulai
Jalanmu ke depan masih teramat panjang

Aku, Bapakmu, juga Ibumu...
Berdoa menangis untukmu
Kamu malah akan menjadi orang yang kuat dan tegar
Dan bukan jadi orang cengeng

Menjerit-menangis-merontalah Jer...
Itu ekspresi kekuatanmu...

Friday, January 26, 2007

PENGORBANAN KRISTUS

Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8)

Menjelang pemilihan umum 1999, pamor Megawati naik. Banyak orang yang mengharapkannya akan menjadi nahkoda yang menyelamatkan perahu bangsa. Akhirnya, partai yang dipimpinnya memang memenangi pemilu pada tahun itu. Ia didukung banyak orang yang terkenal dengan fanatismenya. Hanya saja, ia gagal duduk di kursi RI-1 karena permainan politik Poros Tengah kala itu.
Cerita tentang fanatisme pendukung Megawati memang beragam. Mulai dari slogan “Pejah-gesang nderek Mbak Mega” (hidup mati tetap ikut Mba Mega), cap jempol darah hingga kerelaan ‘memasang badan’ bagi siapa pun yang berani mengusik putri Bung Karno itu. Bahkan ada sekelompok tukang becak yang rela mengayuh becaknya dari Surabaya ke Semarang, ketika Partai ‘Moncong Putih’ itu berkongres. Semuanya demi Megawati. Untuk orang seperti dia, banyak orang yang menyerahkan nyawanya.
Tetapi tahukah Anda bahwa Kristus rela mati untuk kita? Bukan pada saat kita berada dalam posisi benar dan baik di hadapan-Nya, tetapi waktu kita sedang berada di dalam dosa. Untuk orang baik, apalagi untuk orang benar, banyak orang yang rela mati. Dan itu hal yang wajar. Tetapi yang mau mati untuk orang berdosa seperti kita, hanya Yesus yang melakukannya.
Itulah karya keselamatan yang dikerjakan-Nya. Semuanya dipuncaki di atas kayu salib Golgota. Salib yang kasar, duri dan paku yang tajam, cambukan yang menyesah tiada henti. Belum lagi pukulan, hinaan dan tombak yang menghujam. Itulah jalan yang dipilih-Nya untuk menyelematkan kita. Semuanya untuk menunjukkan betapa berharganya kita di hadapan-Nya. Selamat Paskah! [JP]
TOTALITAS

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Masih ingat Mbah Maridjan? Pada periode Mei – Juni tahun 2006 lalu, namanya menghiasi berbagai media, cetak maupun elektronik. Kakek renta ini menjadi pesohor karena aktifitasnya menjaga Gunung Merapi di Cangkringan, Jogja. Amuk Merapi yang memuntahkan awan panas tak menyurutkan langkahnya untuk tetap menjaga gunung api teraktif di dunia itu.
Tentu saja pilihannya itu mengundang bahaya. Awan panas yang suhunya ratusan derajat celcius itu bisa kapan saja melumat tubuhnya. Setidaknya dua orang anggota tim SAR tewas dihajar awan panas dalam krisis Merapi tahun lalu. Tubuh dua relawan itu gosong terpanggang awan panas saat terjebak di dalam bunker. Tetapi Mbah Maridjan adalah potret seseorang yang setia terhadap panggilan hidupnya. Sejak ditugasi sebagai kuncen (juru kunci) Merapi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ia telah memilih pengabdian sebagai jalan hidupnya. Ia sama sekali tak berniat untuk meninggalkan tanggung jawabnya itu.
Ketika semua orang diperintahkan ‘turun’ untuk mengungsi karena Merapi memuntahkan Wedhus Gembel, Mbah Maridjan justru memilih untuk ‘naik’ mengamat-amati Merapi. Bahkan bujukan dengan dalih bertemu Presiden SBY pun ia abaikan. Pilihan yang aneh, bahkan konyol bagi sebagian orang. “Kalau saya ikut-ikutan turun, saya diketawain anak-anak kecil. Wong saya sudah ditugasi oleh Ngarso Dalem (Sri Sultan) untuk menjaga Merapi, jadi saya harus laksanakan tugas itu sebaik-baiknya,” papar bintang iklan minuman berenergi ini kepada wartawan.
Demikianlah Mbah Maridjan yang membaktikan dirinya secara total untuk panggilan hidupnya. Dalam ranah pembaktian hidup kita kepada Yesus Kristus, apakah kita melakukan totalitas yang sama? Bukankah Dia adalah Tuhan di atas segala tuan yang layak menerima persembahan terbaik? [JP]
MEMUPUS PESTA PORA & KEMABUKAN

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: … kemabukan, pesta pora dan sebagainya. (Galatia 5:19-21)

Salah satu ciri masyarakat modern adalah menganut filsafat hedonisme. Tujuan kehidupan adalah untuk bersenang-senang dan mendapatkan kepuasan sebanyak-banyaknya, merupakan inti ajaran hedonisme.
Menurut cerita seorang teman, di daerah tertentu yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, kisah tentang pesta pora dan kemabukan masih sering dijumpai. Hal tersebut terjadi karena begitu mudah mendapatkan minuman beralkohol di daerah itu. Ironisnya, hal itu terjadi saat merayakan Natal dan Tahun Baru. Mereka melewatkan malam Natal dan Tahun Baru dengan meminum minuman keras dan berpesta pora. Tak jarang, pagi-pagi mereka yang mabuk ditemukan bergelimpangan di pinggir jalan. Semangat Natal untuk berbagi malah diganti dengan perilaku menyimpang yang bermaksud memuaskan diri sendiri. Seniman Jadug Ferianto menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap Natal. Itulah faktanya.
Barangkali pesta pora dan kemabukan berusia hampir sama dengan keberadaan manusia itu sendiri. Ini masalah yang sudah tua sekali tetapi selalu mengambil bentuk baru mengiringi zaman. Masalah ini tidak bisa dihadapi hanya dengan kekuatan dan strategi sendiri. Kekuatan sendiri hanya akan membenamkan manusia ke titik yang lebih rendah lagi.
Tuhan memang memberi kita karunia untuk menikmati apa yang sudah Dia beri. Tetapi tujuan akhir hidup kita bukan hanya untuk menikmati. Agar tak terjebak dalam hedonisme, ada baiknya kita mengingat bahwa kita hidup untuk menyenangkan dan memuaskan Kristus, Pemilik hidup kita. Apa yang kita lakukan bukan untuk kesenangan pribadi, tetapi untuk menyenangkan hatiNya. Dengan begitu kita bisa memupus mata rantai pesta pora dan kemabukan. [JP]
TAK LUPA KACANG PADA KULITNYA

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk. (Amsal 10:7)

“Kembali ke laptop!” begitu seru Tukul Arwana setiap memandu acara talk show ‘Empat Mata’ di sebuah stasiun televisi. Dalam sebuah episode, dihadirkan ‘bintang-bintang tamu’ yang istimewa. Bukan dari kalangan selebritas, tetapi kebanyakan adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Tukul di masa silam.
Ada mantan majikannya, seorang kawan yang mengenalkan dengan dunia Jakarta dan juga pengamen karib yang memberi nama belakang ‘Arwana’ kepadanya. Nama Tukul Arwana-lah yang kemudian mengantarnya sukses di dunia hiburan hingga kini. Meski dalam suasana canda yang kental, nampak jelas bahwa Tukul begitu berterima kasih dengan orang-orang yang berpengaruh dalam hidupnya itu. Merekalah yang mengantarnya hingga puncak sukses hari-hari ini. Tukul ‘tidak lupa kacang pada kulit.’
Dalam episode kehidupan kita, Tuhan sering membawa kita dari sebuah sukses ke sukses berikutnya. Dalam saat-saat yang demikian, ingatlah bahwa kita tidak pernah sampai di puncak seorang diri. Selalu saja ada orang-orang terbaik yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita. Tak peduli siapa dan apa peranan mereka, orang-orang itu menorehkan sejarah bagi kita dengan tinta mereka masing-masing.
Tak salah kalau kemudian kita mengambil waktu untuk mengingat mereka kembali. Kita bisa menelpon atau sekedar mengirim SMS. Atau mengambil aksi konkrit dengan mengunjungi mereka dan memberi bingkisan untuk menyampaikan ungkapan terima kasih. Dengan begitu, orang akan melihat kita sebagai pribadi yang tahu berterima kasih. Bukankah begitu? [JP]

Saturday, January 13, 2007

Saya dan keluarga Dwi Krismawan
KEKUATAN CINTA

"dan bila aku berdiri tegak hingga hari ini
bukan karena kuat dan gagahku
Semua karena cinta..."

Sepenggal bait lagu gubahan Glenn itu pantas dinyanyikan kala melihat kisah cinta Ibeth dan Dwi. Mereka membuktikan bahwa cinta itu kuat dan berkuasa menghapus setiap rintangan. Kisahnya berawal ketika Dwi bercita-cita menjadi seorang penerbang. Dan untuk itu, ia tinggal mengayun satu langkah lagi.

Merasa punya 'bekal' sebagai sopir pesawat terbang, Dwi memberanikan diri nembak Ibeth yang calon pendeta. Tak tanggung-tanggung, ia menyatakan cintanya sesaat setelah Ibeth menyelesaikan khotbahnya di sebuah gereja. Gayung bersambut, tumbu pun mendapat tutup.

Petaka Itu....
Suatu pagi Dwi menelphon Ibeth, "Aku mau latihan terbang. Sebentar lagi aku jadi pilot. Suatu saat kamu akan duduk di sebelahku ketika aku mengemudikan pesawat!" Berbunga-bunga Ibeth mendengarnya. Rupanya itu telephon terakhir sebelum akhirnya pesawat nahas yang ditumpangi Dwi dan seorang instruktur menabrak punggung Gunung Gede.

Meski keduanya selamat dalam kecelakaan itu, tetapi luka bakar hebat telah membekam mereka. Tubuh Dwi gosong. Mukanya tak lagi berbentuk. Dokter sudah angkat tangan, bahkan sudah dinyatakan 'game over.' Di tengah kondisi itu, Ibeth berdoa sembari mengucap janji, "Tuhan, kalau Engkau memberi Dwi kesempatan untuk hidup, aku bersedia mendampingi sebagai istrinya seumur hidupku!" Dan benar. Dwi hidup lagi ketika dua orang suster tengah membawanya ke kamar jenazah. Kemudian, 25 proses operasi plastik dijalaninya.

Membentur Tembok
Niat suci Ibeth membentur tembok tinggi. Orang tua Dwi dan juga orang tuanya tak setuju dengan rencana pernikahan mereka. Pun dari pihak gereja. Ketika itu Ibeth adalah seorang gembala jemaat. "Kami tidak mau memiliki gembala yang punya suami cacat, " papar seorang majelis.

Ibeth hampir patang arang. Ia pun sempat ragu dengan keputusan yang diambilnya. Siapkah dia menikahi seorang pria yang menurut banyak orang berwajah seperti monster? Seorang dokter yang mendekatinya di tengah malam, mengingatkannya pada janjinya kepada Tuhan. Kala itu ia sedang menunggu Dwi dioperasi. Hingga kini, ia masih bingung dengan siapakah dokter itu. Malaikatkah? Tuhan sendirikah?

Masa Depan
Pekerjaan adalah masalah berikutnya bagi keluarga Dwi - Ibeth. Pekerjaan apakah yang bisa dilakukan Dwi dengan keterbatasannya itu? Beruntung seseorang memberinya kesempatan untuk menjadi agent asuransi. Dalam satu bulan ia berhasil mengumpulkan 40 orang. Prestasi yang luar biasa.

Hingga suatu hari, ketika sedang melayani di sebuah gereja di Surabaya, Tuhan mempertemukannya dengan Harry Tanoesoedibdjo, pemilik RCTI. Dialah yang kemudian mengangkatnya menjadi staf khusus di Koran Sindo.

Kabarnya, Oprah Winfrey akan mengundang mereka untuk memberi testimoni tentang betapa kuatnya cinta yang mereka miliki. Seorang sutradara Perancis juga akan melayar-lebarkan kisah hidup mereka.

Tuhan acap bekerja melalui cara yang tak terselami... Justru karena Dialah Tuhan, maka Dia melakukannya.***

Tuesday, December 12, 2006

Untuk Sahabat
Ki SUYITO BASUKI, M.Th.

Pertemuanku dengan Suyito Basuki (aku memanggilnya Pak Bas) terjadi di kelas Bahasa Indonesia ketika aku nyantrik di STII Jogja. Awalnya memang tidak ada yang istimewa dalam diri Pak Bas. Cara mengajarnya biasa-biasa saja, bahkan menurut beberapa teman cenderung membosankan. Gaya bicaranya juga datar.

Pertemuan berikutnya terjadi di kelas Bahasa Ibrani. Kali ini kurasakan perbedaan pada suami Bu Tuti ini. Ia lebih ‘centil’ dan mencoba untuk membuat Bahasa Ibrani menjadi menyenangkan. Dan ia berhasil. Meski tugas yang harus dikerjakan bejibun, tapi kelas ini menjadi sesuatu yang kuharap kehadirannya. Susana belajar-mengajar jadi lebih cair.

Saat aku aktif di senat mahasiswa bagian Publikasi, Humas dan Dokumentasi (PHD), salah satu tanggung jawabku adalah mengelola majalah dinding kampus. Pak Bas adalah salah satu penyumbang tulisan tetap di mading itu. Beberapa tulisannya yang masih kuingat adalah “Casper” yang mengulas tentang tidak ada hantu yang baik hati (satanologi). Juga “Eufemisme” yang mengangkat tentang sebuah kecenderungan berbahasa.

Lepas dari mading, Pak Bas menawariku untuk terlibat dalam pengelolaan Dinamika Pelayanan, buletin internal di kampusku. Awalnya aku ditugaskan menjadi bagian sirkulasi. Tetapi suatu kali Pak Bas memberiku kesempatan untuk menulis, meski awalnya hanya menulis pada rubrik kronika pelayanan (news).

Sejak itu hubunganku dengan Pak Bas menjadi semakin dekat. Selera makan pun sama. Kami sama-sama penggemar mie ayam dan tongseng. Jika ada ‘berkat’ mampir, agenda untuk makan mie ayam di depan kampus atau tongseng di pinggir selokan Mataram pasti tak terlewat. Kadang aku yang nraktir, tapi pasti lebih sering Pak Bas yang merogoh koceknya.

Pak Bas menaruh perhatian serius terhadap budaya lokal. Ia amat menggemari campur sari. Kala itu radio di Jogja yang rutin menyiarkan campur sari adalah Radio GCD di Bukit Pathuk, Gunung Kidul. Selepas makan siang, Pak Bas selalu stay tune untuk menikmati campur sari. Ia juga begitu menggemari wayang. Saking getolnya terhadap wayang, nama putra-putrinya selalu berbau wayang. Ada Woro Sembodro dan juga Muso Sadewo (maaf Pak, yang ketiga dan keempat saya lupa namanya). Sambil menyelesaikan studi pasca sarjananya pada program M.Th., ia juga menjadi siswa di Pawiyatan Habirandha, sekolah pedhalangan di Keraton Yogyakarta. Ketika ia lulus dari dua sekolah yang berbeda jalur itu, jadilah ia menyandang gelar ‘Ki’ dan ‘M.Th.’
Kini ia ‘madeg pandhita’ di GITJ Kedung Penjalin – Jepara. Kabarnya ia telah memiliki mobil pribadi dan menyetirnya sendiri. Lalu, dimana Honda 70 merah yang bersejarah itu Pak Bas?*** [Ngaturaken Sugeng Natal Pak. Mugi sih rahmatipun Gusti Yesus tansah paring kekiyatan kagem Pak Bas lan sedaya kulawarga. Amin]
Christmas Is Coming!
NYANYIAN PUJIAN MARIA

Apakah yang paling banyak menarik perhatian orang Kristen ketika bulan Desember tiba? Tidak ada jawaban lain, kecuali: NATAL. Hari besar Kristen yang diperingati serentak di seluruh belahan dunia ini memang memiliki “magnet” tersendiri. Cobalah pergi ke pusat-pusat perbelanjaan. Lagu-lagu Natal dalam berbagai versi dikumandangkan, pohon terang dengan segala bentuk aksesorisnya dipasang di sudut-sudut pertokoan. Bahkan sampai di rumah-rumah gubug sekalipun. Perlengkapan yang berkenaan dengan Natal juga terlihat dijual di toko-toko. Semua untuk satu hal: NATAL.

Kesibukan dan aktifitas semacam itu terus berlangsung dari tahun ke tahun. Tidak salah memang, tetapi coba kita renungkan lebih dalam tentang sampai sejauh mana kita telah memberi makna terhadap Natal itu sendiri? Tidak sedikit orang Kristen yang hanya memahami Natal sebatas pohon terang, baju baru dan berkaleng-keleng kue. Atau dengan rangkaian perayaan yang megah dan spektakuler. Ada nyanyian, pentas drama kolosal dan pertunjukan yang menarik. Semua yang disebut tadi memang identik dengan Natal, tetapi sayang sekali jika Natal hanya dimaknai sedangkal itu. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk berhura-hura, toh hanya terjadi setahun sekali.

Berita Natal yang diterima oleh Maria 2000 tahun yang lalu memang telah banyak bergeser maknanya. Seorang Malaikat datang kepada tunangan Yusuf itu dan menyampaikan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian akan menjadi Juruselamat dunia. Berita itu sempat membuat “shock” Maria, tetapi akhirnya ia sampai kepada keputusan, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan itu” (Luk 1:38). Dan Maria menjadi teladan yang baik tentang bagaimana seharusnya seorang Kristen menyambut dan memaknai Natal. Simaklah nyanyian pujian yang dinaikkan Maria dalam Lukas 1:46-55. Di dalamnya ditemukan rangkaian pujian tentang pribadi Allah yang berkenan memakai dia sebagai alatNya.

Allah adalah Juruselamat
Ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya, banyak orang menantikan kegenapan janji tentang Mesias yang akan datang membebaskan umatNya. Keyakinan tentang Pribadi Allah sebagai Juruselamat muncul dari seorang perawan sederhana ini. Tidak datang dari pengakuan para Rabbi, Ahli Taurat atau para Imam. Keyakinan tentang Allah sebagai Juruselamat ini pulalah yang seharusnya menjadi tema sentral dalam setiap perayaan Natal.

Apalah artinya sepasang baju baru dan berkaleng-keleng kue jika dibandingkan dengan kebenaran bahwa Allah adalah Juruselamat. Alangkah kecil dan dangkal bukan? Maria sadar betul bahwa Allah adalah Juruselamat yang akan membebaskannya. Sikap dan tindakan seperti Maria ini seharusnya menjadi sikap dan tindakan kita juga setiap merayakan Natal.

Pujian yang kita naikkan kepada Allah tidak berangkat dari alasan bahwa kita bisa merasakan kesenangan-kesenangan tertentu ketika Natal tiba. Tetapi jauh di dasar hati kita, seharusnya timbul pengakuan bahwa Allahlah Juruselamat kita. Yesus Kristus yang datang itu, membawa kelepasan dan keselamatan bagi kita atas setiap dosa yang membelenggu kita. Hukuman yang dijatuhkan sebagai konsekuensi atas dosa dan kesalahan kita, telah dicabut oleh Yesus yang datang sebagai Juruselamat.

Allah Mahakuasa
Fakta bahwa Allah adalah Pribadi yang Mahakuasa telah menjadi kesaksian pribadi Maria. Adalah sebuah kesulitan baginya untuk menyanggupi maksud Tuhan yang disampaikan kepadanya melalui pesan Malaikat Gabriel. Betapa tidak? Ada konsekuensi yang teramat berat jika kemudian dia diketahui mengandung sebelum menikah. Resikonya adalah dikucilkan di dalam masyarakatnya dan bahkan bisa mati dihukum rajam. Yusuf, tunangannya pun bisa bereaksi negatif atas kehamilannya. Belum habis berpikir masalah itu, Maria tentu berpikir tentang bagaimana ia bisa mengandung tanpa kehadiran seorang suami.

Keraguan secara manusiawi semacam itu tentu saja dialami Maria. Tetapi kenyataan itu tidak menggeser sebuah kebenaran bahwa tidak ada hal yang mustahil bagi Allah (Luk 1:37). Sifat Allah yang Mahakuasa inilah yang diakui Maria di dalam pujian yang dinaikkan kepadaNya (Luk 1:49). Perbuatan-perbutan besarNya telah dirasakan oleh Maria dalam pegalaman pribadinya. Ia tidak hanya mengakui bahwa Allah itu Mahakuasa, tetapi ia telah benar-benar merasakannya.

Bukankah sekarang banyak orang Kristen yang mengakui bahwa Allah Mahakuasa tanpa mengalami sendiri kemahakuasaanNya? Sayang sekali. Bagi Maria, kemahakuasaan Allah bukanlah sebuah teori, tetapi sebuah kebenaran yang menjadi pengalaman di dalam hidupnya.

Allah yang Setia
Lukas 1:50 mencatat tentang sebuah fakta bahwa rahmatNya diterima turun-temurun oleh orang yang takut akan Dia. Bagian ini berbicara tentang kesetiaan Allah. Sejak lama, Allah menjanjikan datangnya seorang Penyelamat yang akan menghapuskan dosa seisi dunia. Banyak orang yang tidak sabar terhadap realisasi janji itu, atau bahkan menganggapnya sebagai sebuah isapan jempol.

Tidaklah demikian bagi orang-orang yang tetap menanti-nantikan janji Tuhan? Ia tetaplah Tuhan yang tidak lalai menepati janjiNya. Kasih sayang dan rahmatNya bagi dunia yang sudah dijanjikanNya sejak semula, terbukti nyata di dalam peristiwa Natal.

Dengan apakah kita akan memaknai Natal? Bukankah lebih bermakna jika kita mengingat lagi bahwa Allah adalah Juruselamat? Atau terus menerus mengharapkan perbuatan-perbuatan besarNya atas setiap masalah kita? Atau merasakan besar kesetiaanNya? Dan bukankah hal-hal tersebut tidak bisa digantikan dengan sepotong baju baru dan sekaleng kue? Selamat Natal!***

Wednesday, November 29, 2006

TIDAK PERLU GENGSI

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Galatia 5:24)

Tergiur iklan yang dilancarkan produsen Jepang, orang Eskimo terpikat untuk membeli lemari es. Awalnya mereka menertawakan orang Jepang, “anda jualan lemari es, kami gudang esnya.” Orang Jepang menjawab, “Anda mau disebut sebagai bangsa yang maju dan beradab? Salah satu ciri bangsa yang maju dan beradab adalah memiliki lemari es di rumahnya.” Karena tersinggung, akhirnya orang Eskimo memborong produk lemari es buatan Jepang. Pertanyaannya, untuk apakah orang Eskimo membeli lemari es? Untuk menyimpan sandal dan sepatu!

Demikianlah orang Eskimo itu membeli kulkas, bukan karena kebutuhan, tetapi karena gengsi. Mereka terhina disebut bangsa yang terbelakang jika tidak memiliki lemari es. Kitapun kadang-kadang melakukan hal yang sama, meskipun dalam konteks yang berbeda. Demi memenuhi tuntutan gengsi, tak jarang kita mengorbankan nilai-nilai kebenaran.

Melihat tetangga membeli barang baru, nafsu tak mau disaingi kita muncul ke permukaan. Kita langsung berkata, “Memangnya dia saja yang bisa membeli barang itu? Aku juga bisa membeli dan memiliki barang yang lebih baik.” Segala upaya, termasuk berhutang, lalu kita kerahkan. Bukannya bahagia, akhirnya kita malah terjebak hutang.

Mari kita kembangkan kebiasaan mengucap syukur untuk apa saja yang Tuhan percayakan kepada kita. Kalau memang batas kemampuan kita hanya segitu, tak perlu gengsi. Lebih baik hidup sederhana tetapi menikmati, daripada hidup mewah tetapi dikejar perasaan bersalah. [from: RA]
TAK KENAL MENYERAH

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah…” (Filipi 3:13-14)

Philipus Raturuhit adalah seorang guru honorer di Manokwari Papua. Ia telah mengabdikan dirinya selama 15 tahun. Rasa cintanya kepada dunia pendidikan telah membuatnya betah mengabdi di pedalaman Papua meski hanya Rp. 250.000,- honor tiap bulannya. Dengan honor itu, ia harus mencukupi kebutuhan pribadinya setiap bulan.
“Uang itu tidak cukup. Untung sejak masuk di sini saya tanam pisang dan membuka ladang yang tidak terlalu luas untuk menanam sayur dan umbi-umbian. Masyarakat di sini menerima saya seperti saudara sendiri, sehingga saya betah. Kalau tidak betah pun tidak ada pilihan lain. Sekali datang ke sini, sulit sekali ke luar,” ujarnya kepada wartawan. Kasih sayang kepada anak didiknya membuat Philip tetap bertahan dan tak menyerah dalam keadaan serba kekurangan itu.
Dunia pelayanan di ladang Tuhan sangat membutuhkan orang-orang seperti Philip. Pribadi yang tangguh menghadapi tantangan dan terus maju meski banyak rintangan. Ia berfokus kepada masa depan anak-anak didiknya.
Pelayanan yang dipercayakan kepada kita membutuhkan orang-orang dengan tanggung jawab besar. Pekerjaan ini sungguh mulia untuk ditukar atau dihargai dengan uang. Adalah anugrah kalau kita yang tidak ada apa-apanya ini terlibat di dalam pekerjaan Tuhan. Jangan menyerah dan berhenti di tengah jalan. Bukankah begitu? [JP]
MASIH ADA HARAPAN

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Dalam “Cast Away”, aktor Tom Hanks berperan sebagi Chuck Noland, seorang pegawai jasa pengiriman barang FedEx. Dalam sebuah ekspedisi, pesawat yang ditumpanginya mengalami gangguan mesin. Pesawat nahas itu akhirnya terjatuh di tengah laut. Noland sendiri terdampar di sebuah pulau kecil dan terpencil seorang diri.
Untuk mengusir kesepiannya, selama berhari-hari ia berusaha mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan. Tentu saja hal utama yang dirindukannya adalah keluar dari pulau itu dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Meskipun sudah lama terdampar di pulau itu, Noland tak kehilangan harapan. Karena harapan itu juga, ia tak putus berusaha sampai akhirnya mendapatkan pertolongan dari sebuah kapal yang melintas di pulau itu.
Kehidupan Kristen sering diperhadapkan dengan masalah yang sama. Iblis berusaha menghancurkan harapan kita sehingga kita berputus asa. Iblis menanmkan sebuah nilai bahwa sudah tidak ada pertolongan lagi. Tidak perlu kita berharap banyak. Akhirnya, menyerah adalah jalan terakhir yang diambil.
Tentu saja Alkitab tidak mengajarkan demikian. Apalagi kalau kita melihat bahwa janji Tuhan adalah janji kemenangan. Karena itu, singkirkan sedikit apapun keinginan dan rencana untuk menyerah. Masih ada harapan di depan sana. [JP]

Sunday, November 26, 2006

DOA MENGATASI KEMUSTAHILAN

“Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau…” (2 Raja-Raja 20:6)

Menghitung hari menghadapi eksekusi mati, bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. Pengalaman itu pastilah menegangkan dan membuat depresi. Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus Da Silva yang mengalami hal itu, akhirnya meregang nyawa di hadapan regu tembak, 22 September 2006. Segala upaya sudah mereka lakukan untuk terhindar dari hukuman mati ini. Mulai dari naik banding hingga meminta grasi kepada presiden. Tetapi hasilnya nihil.
Hizkia hampir mengalami peristiwa serupa. Nabi Yesaya bin Amos memvonisnya bahwa ia akan mati. Kalau nabi yang berbicara, pastilah hal ini merupakan kebenaran yang tidak bisa dibantah. Tetapi Hizkia memiliki keputusan lain. Ia berseru kepada Tuhan, menangis dan memohon agar terbebas dari vonis itu. Ia memilih jalan doa daripada berusaha dengan kekuatannya sendiri.
Alhasil, Tuhan mengabulkan permohonannya. Usianya bahkan diperpanjang lima belas tahun lagi. Ditambah lagi dengan bonus bahwa kota yang didiaminya akan dilindungi dari serangan musuh.
Sahabat, doa yang dinaikkan Hizkia telah menerobos kemustahilan. Sebagai orang percaya kita diberi hak istimewa untuk hidup dalam mukjizat Allah. Mukjizat memang tidak terjadi begitu saja, tetapi selalu diawali dengan doa orang percaya. Setebal apakah tembok yang menghadang kita? Setinggi apakah benteng yang harus kita lalui? Serumit apakah masalah yang harus kita selesaikan? Kunci utamanya adalah doa yang dinaikkan dengan hancur hati dan iman yang sungguh-sungguh. Dan doa kita akan mengatasi kemustahilan. [JP]
KETULUSAN SEBUAH DOA

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3)

Alkisah, seorang anak kecil sedang bermain di pinggiran hutan. Ia tak sadar kalau seekor singga lapar sedang mendekatinya. Begitu singa itu mendekat, tidak ada hal lain yang ia lakukan kecuali berdoa. Dan doanyapun keliru. Ia hanya hafal satu-satunya doa yang diajarkan guru Sekolah Minggunya. Ya, seuntai doa anak kecil sebelum makan. Iapun berseru kepada Tuhan dalam doa di tengah bahaya yang mengancamnya. “Tuhan Yesus, terima kasih untuk berkat-Mu ini. Haleluya, Amin!” serunya. Sejurus kemudian, si singa pergi menjauh. Sungguh ajaib. Bahkan doa yang salah dinaikkan pun bisa mendatangkan mukjizat. Tentu saja Tuhan mengetahui ketulusan dan kepolosan anak itu.

Tidak jarang kita menaikkan doa yang ‘politis’ sifatnya. Kalau kita sedang berdoa di depan orang yang kita hormati, tiba-tiba saja doa kita menjadi puitis. Kita selipkan juga di dalam doa itu, kalimat-kalimat yang sedikit menyanjung-puji. Sayangnya bukan Tuhan yang dipuji, tetapi orang yang kita hormati itu.

Doa yang benar, diarahkan kepada tujuan yang benar. Doa yang berkuasa adalah doa yang disertai dengan ketulusan. Dijauhkanlah kiranya doa-doa kita dari hanya sebatas ucapan bibir semata. Biarlah doa kita lahir dari sebuah ketulusan. [JP]
KEMENANGAN SEJATI

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yakobus 1:14)

Dengan satu contekan kecil, sebenarnya Paolo Di Canio bisa mengantarkan West Ham United memenangi pertandingan melawan Everton di laga England Premier League. Ia berdiri bebas di depan gawang karena kiper Everton yang bertabrakan dengan pemain lawan tengah mengerang kesakitan. Saat itu pertandingan memasuki masa injury time dengan skor 1-1.

Bukannya menendang bola ke arah gawang, Di Canio malah memungut si kulit bundar dan berlari ke arah wasit. Ia meminta sang pengadil menghentikan pertandingan karena cedera kiper itu. Dari erangannya yang keras, dia yakin bahwa cederanya serius. Bagi sebagian orang, ini mungkin perbuatan naif dan sok sosial. Tetapi itulah Di Canio. Dengan sportifitas tinggi, ia lebih mementingkan manusia daripada sebuah kemenangan.

Pertandingan di atas mungkin berakhir imbang. Tetapi sesungguhnya kemenangan sejati telah diraih oleh Di Canio. Setidaknya ia menang atas egoismenya sebagai seorang pemain sepak bola yang haus kemenangan. Ia menang atas nafsunya untuk menari dan bergembira di atas penderitaan orang lain. Sebuah sikap fair play yang dimiliki pemain profesional sekelas Di Canio.

Belajar dari kisah di atas, mari kita raih kemenangan sejati dengan terlebih dahulu ‘mengalahkan’ diri sendiri. Mengontrol ego dan hawa nafsu dengan menyelaraskannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai egoisme kita malah menghancurkan kehidupan kita sendiri. [JP]

Wednesday, November 08, 2006

MENJEBOL KEMAPANAN

Masih ingat slogan iklan sebuah produk meubel, “Kalau sudah duduk lupa berdiri?” Realitas inilah yang kini tengah dihadapi gereja. Reformasi yang dipelopori Marthin Luther abad ke-XVI itu barangkali hanya pemantik awal dari gerakan pembaharuan yang akan terus berlangsung di dalam gereja selama berabad-abad.

Kita sepakat dengan Hieraclitus yang mengatakan bahwa tidak ada yang konstan di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Ya. Hanya perubahanlah satu-satunya hal yang tidak berubah di dunia ini. Dan ini adalah sebuah peringatan. Bahwa kemudian ada orang yang tidak setuju dan tidak mau berubah, itu masalah yang berbeda.

Allah yang Dinamis
Berbeda dengan konsep kepercayan paganisme (penyembah berhala), Allah dalam kekristenan adalah Pribadi yang dinamis. Ia bukan Allah yang tinggal diam sebagaimana patung atau benda sesembahan lainnya. Tuhan kita adalah Allah yang dinamis.

Karena Ia Allah yang dinamis, ia menyukai proses. Kehidupan manusia sebagai ciptaan termulia pun merupakan sebuah proses. Dibentuk di dalam kandungan, dilahirkan, menjadi kanak-kanak, remaja, pemuda dan seterusnya sampai dewasa. Allah tidak menghendaki umatNya berhenti pada satu titik dan berkata ‘cukup’ atau ‘puas’ kemudian tidak mau bertumbuh lagi.

Lihatlah bahwa Ia menuntut kita untuk, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2). Itu berarti Ia adalah Allah yang tidak menghendaki stagnasi. Kemandegan dalam penjara kemapanan bukanlah ide yang berasal dari Allah.

Gereja dan Reformasi
Tanpa bermaksud menghakimi, ada banyak gereja masa kini yang puas dengan apa yang telah dialami dan dihasilkan. Pada titik tertentu, kepuasan itu memang penting untuk mensyukuri pertolongan Tuhan. Eben Haezer. Tetapi jika kepuasan itu membuat gereja berhenti, pada gilirannya kepuasan itu justru akan menjadi mesin penghancur yang efektif bagi gereja sendiri. Kehancuran, boleh jadi, bukanlah sebuah usaha sistematis dari luar. Tetapi justru sebuah proses pembusukan yang datangnya dari dalam.

Itu sebabnya gereja perlu mengikuti pergerakan Tuhan. Apa yang menjadi kehendak dan rencanaNya bagi gereja harus terus-menerus dicari. Goal akhir menjadi seperti Kristus akan dilewati dalam babak demi babak oleh gereja. Jika bagian demi bagian itu tak diikuti, bukan mustahil gereja akan menjadi institusi yang tidak saja ketinggalan zaman, tetapi juga akan ditinggalkan pengikutnya.

Seberapa Cepat Prosesnya?
Jawaban untuk pertanyaan ini tentu relatif. Cepat atau tidaknya akan bergantung pada respon gereja itu sendiri. Semakin gereja memahami ‘kehendak Allah pada zamannya’, semakin cepat pula proses pertumbuhan ke arah kedewasaannya.

Sebagian orang mungkin menjadi tidak sabar dan menghendaki revolusi. Entahlah, apakah kerinduan ini akan terwujud atau tidak? Agaknya Tuhan memang memiliki waktu tersendiri untuk melakukannya. Kita tidak punya kuasa apa-apa untuk mengusiknya.

Yang perlu dipersiapkan gereja, --dalam pengertian ‘orang’, bukan hanya institusi— adalah sikap sedia untuk menghadapi setiap perubahan. Kesiapan itu meliputi pemahaman seutuhnya mengenai kehendak Allah. Bukan sekedar ‘latah’ mengikuti arah angin tanpa memahami latar belakang permasalahannya. Kerinduan berubah yang berasal dari sekedar ‘latah’ dan dibumbui suasana emosional belum tentu berasal dari Tuhan. Salah-salah malah akan membuktikan bahwa gereja memang tidak siap berubah.

John Stott, seorang teolog Inggris mengatakan, “Yang paling penting dalam kehidupan ini adalah mengetahui kehendak Tuhan dan berjalan dalam kehendakNya itu!” Pemahaman kita akan kehendak Tuhan sangat dipengaruhi oleh hubungan yang kita bangun denganNya. Semakin intim dengan Tuhan, semakin kita mengenal kehendakNya.

Itu sebabnya, daripada Tuhan membongkar kemapanan kita, ada baiknya kita yang lebih dulu menyelaraskan diri dengan pergerakanNya.***

Tuesday, September 26, 2006

Pdt. DR. Dorothy Irene Marx
IMAN BEKERJA SAMA DENGAN LOGIKA


Bagi Dorothy, iman adalah sesuatu yang sulit didefinisikan. Kehadirannya dalam kehidupan orang percaya bisa dilihat melalui komponen-komponen yang berkaitan dengannya.

Lima Komponen Iman
Setidaknya ada lima komponen yang disebut Dorothy berkaitan dengan iman. Pertama, iman berkaitan erat dengan ketaatan. Abdi Tuhan yang sudah mengabdikan diri selama lebih dari 50 tahun di Indonesia ini kemudian menyebut Abraham sebagai contoh. Menurut kesaksian Alkitab, Abraham berjalan dalam ketaatan karena imannya. “Ia menunggu lama untuk mendapatkan Ishak sebagai anak perjanjian, tetapi ia taat ketika Tuhan meminta mempersembahkan anaknya itu,” ujar doktor jebolan Universitas Tubingen, Jerman ini.
Kedua, keyakinan bahwa Allah itu baik dalam apa yang dilakukan-Nya. Menurut Roma 8:28, Allah bekerja dalam ‘segala sesuatu’ untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya. Orang Kristen yang memiliki iman kepada Allah tidak kesulitan melihat dan memercayai pekerjaan Allah dalam hal-hal yang kelihatannya negatif. Iman membantu orang percaya untuk melihat sesuatu yang positif di balik hal-hal negatif.
Ketiga, beriman berarti berpegang kepada kesetiaan Allah. “Ada unsur ujian dalam bagian ini,” papar Dorothy lagi. Tuhan menguji orang-orang yang dikasihi-Nya agar pengalaman imannya lebih meningkat.
Keempat, iman disertai pengabdian. Lebih lanjut dosen di STT Bandung dan beberapa perguruan teologi di tanah air ini mengatakan, “Iman yang benar tidak akan keluar dari jalur kehendak Allah. Salah satu kehendak Allah adalah agar orang-orang percaya mengabdikan diri dalam pelayanan kepada-Nya.”
Kelima, iman yang ditindaklanjuti dengan penyerahan diri. Menurut Dorothy, kelima aspek ini bisa dilihat sebagai tanda apakah seseorang telah menjalankan imannya dengan benar atau tidak.

Iman VS Logika?
Selama ini kita sering mendengar pendeta berujar, “Jangan pakai akal, pakailah iman saja untuk terima jawaban dan pertolongan Tuhan,” ketika mengkhotbahi jemaatnya. Seakan-akan akal adalah sesuatu yang bertentangan dengan iman atau sesuatu yang menghalangi iman bekerja. “Meskipun memiliki ‘wilayah kerja’ yang berlainan, menurut saya iman dan nalar itu tidak bertentangan. Malah tidak jarang keduanya bekerja sama,” imbuh pengarang buku 'Itu kan Boleh?' dan 'Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa' ini. Abraham menggunakan rasionya dan mengerti bahwa Allah sanggup berbuat sesuatu ketika ia mempersembahkan Ishak. Dan hal ini tidak bertentangan dengan imannya.
Iman adalah pemberian Allah di satu sisi –karena terdaftar sebagai salah satu karunia rohani di dalam 1 Korintus 12-, namun juga merupakan respon manusia di sisi yang lain. Respon manusia itulah, menurut Dorothy, yang kemudian akan membedakan tentang iman yang besar dan kecil. Agar iman hidup dan aktif dalam diri orang percaya, lima komponen itu perlu dilihat dan dipertimbangkan.***
ATHAUW
TEKUN BERKARIER, SETIA BERBAKTI

Tersedot magnet sukses di kota besar, Athauw (38) bertekad meninggalkan Ciamis dan mengadu nasib di Bandung pada akhir dekade 80-an. Ia jenuh menjadi pengangguran yang menghabiskan waktu dengan mabuk dan judi. Meski tak memiliki cukup bekal, niat sudah telanjur dicanangkan.

Tak seperti kebanyakan keturunan Tionghoa, pria bernama lengkap Ho Tow Fa ini termasuk orang yang berkantong tipis. Belum lagi SBKRI tak ia miliki. Memulai usaha menjadi sesuatu yang sulit bukan main. Tak ada pilihan lain, ia lalu mengawali ‘karier’ dengan menjadi kuli angkut pada sebuah bandar oli. Menaik-turunkan drum menjadi kegiatan sehari-hari yang ia akrabi. Athauw juga sempat menjadi pelayan toko dan tukang tagih keliling.

Perjumpaan dengan seorang teman lama menjadi babak baru dalam perjalanan Athauw. “Dia yang mengajak saya ke gereja dan diperkenalkan dengan dunia pelayanan,” ujarnya mengenang. Sejak itu ia memiliki keyakinan baru bahwa sukses hanya dapat diraih jika usaha disertai penyerahan kepada ‘Yang di Atas’. Di gereja pula ia akhirnya bertemu dengan Lily Suciawati yang kemudian dipersunting menjadi istri.

Teman hidup punya, pelayanan ada, tapi sukses masih gelap. Selepas nikah Athauw malah menganggur lagi. Jadilah Lily yang bekerja untuk menjaga agar dapur tetap berasap. Kondisi ini memicu Athauw untuk berusaha meminjam modal ke sana-sini. “Sulit sekali mendapat modal. Mana ada orang percaya kepada saya? Mereka selalu bertanya tentang jaminan apa yang bisa saya berikan untuk mengembalikan pinjaman,” paparnya.

Di lain pihak kerohanian Athauw makin terpupuk. Penyerahan total kepada Tuhan menjadi semangat untuk menghadapi hidup yang sarat beban. Dalam doa-doanya ia memohon agarTuhan buka jalan.

Tak lama, ada beberapa pengusaha dari Jakarta tiba-tiba mengajaknya bekerja sama dalam membuka toko. Athauw tak langsung mengiyakan, meski ia hanya diminta memasok saham 10%. Tak ingin membuang kesempatan, ia berjibaku untuk mengantongi modal. Karena tak satupun orang meminjami uang, ia mengikuti arisan bulanan dan mendapat kesempatan kedua untuk mendapat modal. Sisa uangnya ia simpan di bank agar bulan-bulan berikutnya tetap bisa membayar.

Toko bahan-bahan kimia makanan mulai bergulir. Alih-alih untung, delapan bulan awal perjalanan toko itu malah dibebani dengan masalah. Athauw seperti ditinggal sendirian. Tapi ayah Milka Gabriella dan Ribka Josephine ini tak menyerah. Toko itu akhirnya ditawarkan kepadanya untuk dikelola sendiri. Kembali ia terbentur dengan masalah dana. Tapi entah dari mana, keberanian muncul untuk mengambil alih toko dan mengelolanya sendiri. Dia mengajukan penawaran agar diijinkan untuk mencicil pembayarannya dalam beberapa bulan.
Ditemani istrinya, Athauw tekun mengurus ‘mesin uang’ itu. Ketaatan berbakti pun dipertebal. Alhasil, utang bisa ditutup dan perjalanan toko makin sehat. Tak berhenti di situ, ritme hidup juga mulai lebih teratur. Kini ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga, menikmati berkat rumah dan kendaraan pribadi. Dan yang terpenting, ia tak menyurutkan semangat untuk berbakti dan berbagi.*** (dimuat di BAHANA, Oktober 06)

Tuesday, August 15, 2006

MAS HENDRO

Mas Hendro telah membantuku melihat bahwa Tuhan memperhatikan kebutuhan-kebutuhanku, sekecil apapun itu. Karena jaketku telah lusuh dan butut, aku berniat untuk mencari penggantinya. Mulailah aku menyusuri Bandung, kota seribu outlet.

Adalah 'OttenOne' sebuah outlet di pangkal Jl. Dr. Otten, namun kini telah bangkrut. Ada sebuah jaket yang menurutku bagus dan cocok dengan selera. Apalagi warnanya biru dengan strip putih di lengan. Pas.

Sayangnya uang di kantong yang tidak pas. Alhasil, harus kutunda keinginan untuk memiliki jaket baru. Tentu karen aharus menunggu supaya dompet menebal. Tiga-empat berlalu, entah kenapa, keinginan akan jaket itu terlupa. Mungkin karena kesibukan yang mulai menggunung sampai memikirkan jaket pun tak sempat.

Dalam sebuah kesempatan memimpin pujian pada ibadah gereja, mujizat terjadi. Pada jeda menjelang masuk ibadah kedua, seorang pria berkacamata menghampiriku. Pria itu duduk di deretan bangku depan pada ibadah pertama tadi. Dan dia bukan anggota jemaat di gereja tempatku berbakti.

"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ujarnya. Tanda tanya mulai terbubuh di benak, "Ada apakah gerangan?" Sejurus kemudian dia menyodorkan tas plastik putih berisi barang seukuran kardus mie yang dibungkus koran. "Ini untuk Anda," paparnya seraya bergegas pergi. Waktu itu sedang heboh bom di berbagai tempat. "Mungkinkah ini bom juga?" aku bergumam. Masih diliputi kegamangan, kubuka bungkusan itu harap-harap cemas. Jika benar bom, tamatlah riwayatku dan juga gereja tempatku berbakti.

Kejutan berlanjut. Setelah kubuka ternyata isinya jaket! Anehnya, jaket itu sama persis dengan yang kucoba di OttenOne beberapa bulan silam. Bukan hanya jaket, sepotong kemeja dan dasi pun ada di dalamnya. Hati berkecamuk dan air mata meleleh... Dengan cara seperti inikah Tuhan menolong dan memperhatikan kebutuhan kecilku?

Satu setengah tahun kemudian....
Tanpa disengaja aku bertemu dengan pria pemberi bungkusan yang setelah berkenalan aku tahu bahwa namanya Hendro. "Koq Mas Hendro bisa memberi saya jaket. Apa Mas tahu kalau saya memang membutuhkannya?" tanyaku penasaran. Dia kemudian juga menyatakan keheranannya. "Aku lagi nyetir mobil sepulang kantor. Ketika melintas di OttenOne ada dorongan yang kuat untuk memarkir mobil dan masuk outlet itu," paparnya. Akhirnya Mas Hendro membeli jaket, baju dan dasi yang menurutnya harus ia berikan kepada seseorang yang belum diketahuinya. Hari minggu itu ia beribadah di gerejaku dan dorongan kuat itu kembali hadir untuk memberikan bungkusan yang telah disiapkannya itu.

Demikianlah Mas Hendro telah menunjukkan kepadaku bahwa pertolongan Tuhan bisa datang dengan berbagai cara. Bahkan yang tak pernah terpikirkan sekalipun.***

Monday, August 07, 2006

KETIKA YESUS DIHINA

Karena memiliki harga diri, tak seorangpun mau dihina. Respon seseorang yang dihina bisa beragam. Mulai dari tersenyum sinis hingga marah dan bahkan membunuh pihak yang menghinanya.

Penyanyi Iwan Fals pernah diprotes umat Hindu karena dituduh melakukan penghinaan terhadap agama Hindu berkaitan dengan gambar sampul albumnya, Manusia ½ Dewa. Umat Muslim sedunia berdemonstrasi untuk memprotes keras pemuatan kartun dan karikatur yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad, junjungan mereka di beberapa media Eropa.

Bagaimana dengan penghinaan terhadap Yesus? Beberapa hal ini bisa disebut sebagai contoh. Opera “Jesus Christ Superstar” melukiskan Yesus seperti orang tolol dan badut yang diejek. Dilukiskan pula percintaan Yesus dengan eks pelacur, Maria Magdalena, dalam penghinaan yang luar biasa. Film “The Love Affair of Jesus” melukiskan Yesus sebagai perampok bank yang terlibat dalam skandal percintaan. Rock opera “Hair” mementaskan kemaksiatan dosa Sodom dan Gomora (homosex) dan diakhiri dengan adegan penyaliban Yesus dengan wanita-wanita telanjang menari mengelilingi salib. Dan seorang wartawan berkata, “Sebetulnya panggung yang paling cocok ialah dia dalam gereja”. Film “The Last Temptation of Christ” (1998) yang disutradarai Martin Scorsese menggambarkan Yesus turun dari salib dan menikahi Maria Magdalena lalu membangun keluarga dan menikmati hari tua. Lalu pada masa tua setelah sadar dia ditipu Lucifer, Yesus merangkak menuju salib untuk menebus dosa.

Buku-buku yang menyerang ketuhanan Yesus juga terus bermunculan akhir-akhir ini. Sejak heboh DaVinci Code garapan Dan Brown yang meremehkan inti iman Kristen tentang Kristologi, serangkaian buku lain lalu muncul di pasaran. Setidaknya ada ‘Selamatkan Yesus dari Orang Kristen’ oleh Clayton Sullivan yang juga mempermasalahkan ketuhanan Yesus. Lalu ada Injil Yudas yang idem dito. Daftar ini belum termasuk penghinaan terhadap-Nya melalui media lain, seperti internet, CD/VCD, dll.

Apakah sebagai orang Kristen kita geram dan marah? Secara jujur, ya. Tetapi ada teladan luar biasa dari Tuhan Yesus sendiri untuk meresponi penghinaan, bahkan penganiayaan.

Pertama, mendoakan. Dalam terminologi Yesus, para pengejek dan penghina itu tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sebab sebenarnya bukan merekalah sumbernya. Mereka hanya alat yang digunakan oleh si jahat untuk menjalankan misinya. Doa yang sama diucapkan Stefanus sesaat sebelum meregang nyawa karena dirajam batu. Itu sebabnya kita wajib mendoakan pengejek-pengejek itu agar diampuni Allah.

Kedua, apologetika tanpa kekerasan. 1 Petrus 3:15 memberi petunjuk kepada kita tentang memberi pertanggunjawaban iman secara ‘lemah lembut’ dan ‘hormat’. Alkitab tidak pernah mengajarkan dan membenarkan cara-cara kekerasan. Karena yang diserang oleh para pengejek adalah wilayah kepercayaan (iman), jawaban yang kita berikan haruslah berkaitan dengan hal-hal yang membuka wawasan mereka.

Ketiga, pembinaan ke dalam. Para Rasul yang menulis surat, entah kepada jemaat atau pribadi, selalu menyisipkan petuah untuk berhati-hati terhadap pengajar sesat yang sering disebut juga sebagai pengejek. Bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahaya, hal ini tidak disangkal oleh para Rasul. Tetapi nasihat yang terpenting adalah ‘melawan’ dengan memperkokoh kehidupan Kristen dengan semakin berakar di dalam firman-Nya. Semakin dalam kita tertanam, semakin sulit ejekan-ejekan terhadap Kristus menggoyahkan iman kita.***

Tuesday, July 04, 2006

MENGUNDURKAN DIRI

Kesebelasan Inggris dan Brasil sudah pulang. Impian mereka dikandaskan tim ‘Samba Eropa’ Portugal dan ‘Ayam Jantan’ Perancis. Tak hanya di negaranya, kedua kesebelasan ini ditangisi juga oleh seluruh pendukungnya di berbagai penjuru dunia.

Menyusul kegagalan membawa pulang piala dunia ke negeri asalnya, serangkaian pengunduran diri terjadi. Dan ini fenomena yang wajar jika sebuah kegagalan terjadi. Tetapi ini di luar negeri, bukan di Indonesia. Sekali lagi, bukan di Indonesia.

David Beckham mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ‘komandan lapangan’ tim Inggris sesaat setelah tiba kembali di negeri ‘three lions’ itu. Ban kapten ia relakan dipakai orang lain sebagai sebuah bentuk pertanggung jawaban, atau paling tidak pengakuan, bahwa ia telah gagal memenuhi harapan publik Inggris untuk merebut piala dunia.

Sven-Goran Eriksson bahkan jauh-jauh hari sudah mengatakan bahwa even dengan motto “A time to make a friend” ini adalah peluang terakhirnya menggarap tim Inggris. Ia juga kemudian mengundurkan diri. Bahkan cercaan sempat muncul dari beberapa orang dan diarahkan kepadanya. Pelatih asal Swedia ini dianggap tak becus mengantarkan Inggris ke tangga juara, padahal inilah saat ‘generasi emas’ itu.

Si botak Roberto Carlos pun segera pamitan dari tim Samba. “Di tim nasional Brasil, kisah tentang saya sudah berakhir,” ujarnya. Ia mundur beberapa saat setelah timnya dipukul Perancis 1-0 dalam babak perempat final. Banyak kalangan menilai bahwa ini ‘kutuk’ bagi Brasil karena meninggalkan pola permainan cantik (sepakbola indah) semata-mata demi mengejar kemenangan.

Begitulah. Sepakbola di luar sana telah mengajari kita tentang berani berbuat dan berani bertanggung jawab. Sementara itu, sepanjang hidup kita telah diracuni oleh para pemimpin bangsa dengan semangat ‘tinggal glanggang colong playu’ di negeri sendiri.

Alih-alih mundur, para pemimpin culas yang telah berbuat salah itu justru repot mencari cara untuk membela diri. Pengacara direkrut, hukum diperkosa, kebenaran dipelintir dan… akhirnya bebas. Kapankah budaya mengundurkan diri setelah gagal bisa merasuki bangsa ini? Wallahuallam.