Thursday, March 05, 2009

INSPIRASI AYAM BOB SADINO

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:” (Amsal 6:6)

Siapa tak kenal Bob Sadino? Pengusaha ini amat terkenal karena gaya hidup nyentrik-nya. Ia tak betah berbusana resmi, tetapi kemana-mana selalu bercelana pendek. Konon, rapat dengan anggota dewan pernah dibatalkan gara-gara Bob akan menghadiri undangan rapat itu dengan bercelana pendek.

Tetapi bukan ‘keanehan’ Bob yang satu itu yang akan kita bahas. Kisah suksesnya sebagai seorang enterpreneur-lah yang lebih bermanfaat bagi kita. Bob berprinsip bahwa sebagai suami, ia harus menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kala itu ia tinggal di Belanda dan berpenghasilan lebih kecil dibanding istrinya. Ia pun membawa istrinya, yang bergaji menjanjikan di Belanda, hijrah ke Indonesia dan merintis usaha dari nol. Pria yang gemar berkuda inipun menjadi sopir taksi, bahkan menjadi kuli bangunan pun sempat dilakoni. Taksinya ditabrak orang hingga hancur, sementara dari kuli bangunan ia hanya berpenghasilan Rp. 1000/hari. Mana cukup? Semua usaha itu akhirnya kandas di tengah jalan.

Suatu kali seorang temannya mengajaknya beternak ayam. Dari usaha itu lantas Bob berpikir, “Jika ayam saja bisa memperjuangkan hidup, mencapai target berat badan dan produktif menghasilkan telur, mengapa saya tidak?” Inspirasi itulah yang membuatnya tekun menggeluti usaha yang dikerjakannya. Relasi terus bertambah, usaha kian berkembang. Ia pun berbisnis garam, merica dan juga merambah wilayah agrobisnis. Kini ia menjadi pengusaha terkemuka di tanah air.

Dari banyak pelanggannya, ia belajar untuk mengikis sikap arogan sebagai pengusaha, sebaliknya ia terus belajar untuk menjadi pelayan bagi customer. Ia mengubah feodalisme menjadi servanthood. Jika kita ingin mengekor kesuksesan Bob, sahabat, ketekunan dan kerelaan melayani adalah kuncinya. Mari kita kembangkan dua sikap ini sebagai kebiasaan hidup kita untuk melangkah menuju sukses. [JP]
URAPAN PENGAJARAN

“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana penurapan-Nya mengajar kamu…, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” (1 Yohanes 2:27)

Banyak orang menafsirkan teks di atas secara keliru. Mereka berpikir bahwa seseorang tidak perlu mendapat pendidikan teologi karena Roh Kuduslah yang akan langsung mengajar setiap orang dengan firman-Nya. Orang Kristen tak perlu repot-repot diajar oleh orang lain. Menurut saya, pemahaman tersebut kurang tepat.

Apa yang ditulis Rasul Yohanes dalam bagian ini bukan merupakan larangan bagi orang percaya untuk belajar dari orang lain. Jelas bahwa dalam konteksnya, rasul yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus ini sedang berbicara tentang antikristus, guru-guru palsu dan penyesat. Jadi ketika ia berbicara mengenai ‘orang lain’, jelas bahwa yang dimaksudnya adalah guru-guru atau pengajar-pengajar sesat itu. Pengajaran mereka tidak bisa menggantikan pengajaran dari Yang Kudus, tentu melalui rasul-rasul dan orang-orang yang dipilih-Nya dengan karunia mengajar.

Sebuah situs berita di internet melansir bahwa jumlah aliran sesat yang berkembang di Indonesia berkisar pada jumlah 250. Itupun hanya untuk agama tertentu saja. Belum lagi jika aliran sesat dalam Kristen dimasukkan, jumlahnya pasti akan bertambah. Penyesatan disebarkan melalui berbagai media dan yang paling efektif adalah media tulisan (baca: buku). Secara tidak langsung, buku-buku itu telah ‘mengajar’ setiap pembacanya untuk mengikuti ajaran yang ada di dalamnya. Dalam hal inilah firman Tuhan mengatakan agar kita senantiasa waspada.

Roh Kudus adalah Pribadi Allah sendiri yang berdiam di dalam hidup kita. Salah satu karya-Nya adalah memberi kita urapan pengajaran agar kita memahami kebenaran yang kita terima. Agar kita tak disesatkan, kita memohon-Nya memberi penerangan bathin. Dan satu hal yang tak kalah penting: kita tetap tinggal di dalam Dia. [JP]
BANG-BING-BUNG, YUK KITA NABUNG…

“…ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” (Amsal 6:8)

Lagu Bing Beng Bang yang digubah Titik Puspa menjadi begitu populer beberapa tahun silam. Penggalan liriknya, “Bing-beng-bang, yuk kita ke bank. Bang-bing-bung, yuk kita nabung. Tang-ting-tung, hei jangan dihitung, tahu-tahu kita nanti dapat untung…” Lagu ini mengajak masyarakat untuk gemar menabung, menyisihkan harta yang dimiliki dan tidak terjebak dalam gaya hidup boros.

Hari-hari ini kami sedang mengajar Jeremy, anak kami yang baru berusia 2 tahun, untuk membiasakan diri menabung. Istri saya membelikannya celengan berbentuk binatang bebek. Setiap ada koin pecahan Rp 500, kami berikan ke Jeremy untuk dimasukkan ke celengan. “Ayo Jer, kasih makan bebeknya,” demikian ujar mamanya sambil mengulurkan beberapa koin kepadanya. Jeremy pun dengan senang memasukkan koin demi koin yang didapatnya.

Jika dihitung, mungkin jumlah akhirnya tidak seberapa. Tetapi menanamkan nilai-nilai itu yang jauh lebih penting. Nilai untuk tidak menghabiskan setiap berkat yang dipercayakan oleh Tuhan, sebaliknya dengan bijak mengelolanya. Menabung tentu saja bukan bentuk ketidakpercayaan akan pemeliharaan Tuhan, tetapi justru untuk mengelola berkat itu dan disesuaikan dengan kebutuhannya.

Penulis Amsal dalam ayat di atas memberi sebuah pembelajaran dari dunia binatang, dalam hal ini semut. Koloni hewan yang acap menjadi simbol makhluk lemah itu justru mencatatkan sebuah petuah bahwa persiapan untuk masa depan adalah sesuatu yang penting. Karena itu, sahabat, bijaksanalah mengelola berkat Allah. Prioritaskan Allah melalui persembahan, membayar apa yang menjadi kebutuhan rutin kita dan tentu saja jangan lupa menabung. Bang-bing-bung, yuk kita nabung… [JP]